Rajasa

Rajasa
The Baby Girl Born



Kelahiran jabang bayi yang dinantikan tiba. Edelweis bisa melahirkan dengan selamat. Seorang bayi perempuan mungil.


Semua persiapan mereka menjadi nol begitu bayi perempuan mereka lahir.


Teori dan praktek seperti langit dan bumi. Apalagi ini anak pertama Edelweis sehingga semua mengandalkan maternal instingnya.


Orientasi Edelweis berubah total. Semua berpusat pada putrinya. Semua teori tinggal lah teori. Malika Elma Rajasa.


Ketakutan seorang ibu adalah tidak memahami apa yang dirasakan dan dilalui anaknya.


Belum pernah Edelweis merasakan rasa cinta sekaligus takut sebesar itu.


Tekanan sehabis melahirkan membuatnya menderita baby blues tanpa disadarinya.


Setiap kali Malika menangis. Anxiety menyerangnya. Dirinya menjadi panik. Hanya ada satu di dalam pikirannya. Malika kenapa? Bagaimana agar Malika menjadi nyaman dan menghentikan tangisnya?


Rajasa berusaha membantu tetapi kerap ditepis Edelweis.


"Tenanglah! Kau jangan panik begitu! Bayi menangis pasti ada penjelasannya."


"Iya, tapi apa?"


"Menurut buku ini, bayi bisa menangis karena lapar, haus, bak dan bab, bosan, ngantuk, sakit, kesal, marah, sedih,...."


"Yang mana? Kau jangan kebanyakan teori. Kenapa dia menangis bisa kau jelaskan?"


"Dia sudah makan dan minum.Tidak mungkin karena lapar dan haus. Pampersnya juga kering. Dia tidak bak dan bab. Dia juga sehat. Apakah kau bosan? Marah? Kesal? Sedih?" Rajasa bertanya pada bayinya.


"Mana bisa dia menjawab pertanyaanmu?" Edelweis berdiri dan berjalan sambil mengendong bayinya. Malika berhenti menangis.


"Seperinya dia ingin digendong?"


"Yeah! Langsung berhenti tangisnya."


Malika sangat suka berada dalam gendongan ibunya. Dia juga sangat menyukai ASI ibunya.


Dia tidak menyukai susu formula dan menolak makanan yang diberikan padanya walaupun dia sudah bisa memakan makanan pendamping ASI.


Hidup Edelweis berubah total. Semua rencana dan persiapan berantakan.


Menyusui Malika dan menggendongnya selalu karena Malika bau tangan membuatnya tidak bisa melakukan apa pun selain mengurus Malika.


Dia tidak dapat mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris. Cuti melahirkannya habis dan keadaannya menyedihkan. Jam tidur yang tidak bisa diatur. 


Matanya hitam karena kurang tidur. Moodnya terganggu. Mengalami depresi setelah kelahiran bayinya. Juga anxiety.


Tidak satu pun bisa mencerna semua persiapan yang sudah dilakukan.


"Kau tidak bisa bekerja sebagai sekretarisku kalau keadaanmu seperti ini." Sahut Rajasa melihat keadaan Edelweis.


"Aku harus bagaimana?"


"Serahkan Malika pada asistent rumah tangga atau baby sitter atau kau minta tolong adik dan ibumu?"


Semua saran Rajasa tidak berhasil karena Malika hanya mau bersama ibunya.


"Kau berhenti bekerja saja. Bagaimana?"


"Bagaimana dengan kau kalau aku berhenti bekerja?"


"Sejak Malika lahir. Aku mengurus semuanya tanpa bantuanmu. Di rumah aku diurus asistent rumah tangga kita sedangkan sejak kau melahirkan aku dan Roy mengambil sekretaris lain sebagai cadangan. Rencananya untuk membantumu. Tapi sepertinya kau tidak bisa melakukan apa pun selain mengurus Malika.


Edelweis menangis. Baby bluesnya kumat. Depresi pasca melahirkan.


"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa. Mala bisa mengurusku dengan baik."


"Nama sekretaris barumu, Mala?"


"Yeah. Nurmala Wijaya."


"Lengkap sekali kau menyebut namanya." Edelweis gagal menyembunyikan kecembu- ruannya. 


Rajasa memeluk Edelweis dengan mesra,"Jangan cemburu seperti itu dong! Aku dan Roy tidak mungkin mengerjakan pekerjaan kami berdua tanpa bantuannya."


"Apakah dia masih gadis?" Tanya Edelweis.


"Single parent. Dia sudah janda. Anaknya satu. Masih balita. Dia sangat membutuhkan pekerjaan. Aku dan Roy tidak tega. Ternyata pekerjaannya bagus. Dia biasa bekerja sebagai sekretaris. Suaminya menyuruhnya berhenti. Setelah berhenti. Suaminya tidak menafkahinya lahir batin. Pekerjaan lamanya sudah diisi orang lain. Dia bekerja serabutan. Selain hasilnya tidak mencukupi. Dia tidak bisa menggaji orang untuk membantunya menjaga anaknya. Sehingga anaknya terpaksa dititipkan ke tetangga atau saudara perempuannya atau ibunya."


"Kau merasa terintimidasi? Suaminya tidak bertanggung jawab dan main gila dengan wanita lain. Apa pilihannya?"


"Oh!" Edelweis menutup tangannya, "Kasihan sekali!"


"Kau akan menyukainya jika bertemu dengannya. Sangat efisien, ramah dan juga hangat."


"Kau memujinya!" Airmata Edelweis kembali menetes.


Rajasa memeluk isterinya yang berubah menjadi sangat sensitif setelah melahirkan.


"Aku bukan memujinya. Aku hanya mengatakan apa adanya. Aku tidak ingin kau mengkhawatirkan aku. Tidak usah memikirkan rumah dan kantor karena semua sudah ada yang mengurusnya. Aku hanya ingin kau mengurus Malika."


"Baiklah! Terima kasih, sayang."


"Sama-sama." Rajasa mengecup pucuk kepala Edelweis.


Tidak hanya rutinitas bekerja Edelweis berubah pasca kelahiran putrinya. Hubungan suami isteri mereka juga berubah drastis.


Mereka sudah tidak pernah melakukan hubungan suami isteri setelah Edelweis melahirkan.


Edelweis selalu dalam keadaan lelah, kurang tidur dan depresi. Penampilannya juga berubah jauh. Tidak lagi merawat diri.


Bau badannya juga kerap menyengat karena bau susu ASI yang amis dan keringat. 


Edelweis juga kesulitan meninggalkan bayinya untuk mandi. Karena bayinya sangat menempel dengan ibunya.


Harus mencuri waktu untuk keperluan mandi dan sholat.


Malika akan menangis kencang jika ibunya terpaksa meninggalkannya sejenak untuk makan, sholat dan mandi.


Asistent rumah tangga dan Rajasa tidak dapat membantunya. Karena Malika hanya menginginkan Edelweis yang menggendongnya.


Tangisnya langsung berhenti begitu Edelweis menggendongnya.


Tangis Malika begitu kencang.Edelweis tergopoh dari kamar mandi. Menyelesaikan mandinya yang jauh dari sempurna karena tidak tahan mendengar tangisan putrinya.


Menyabuni tubuhnya secepat kilat. Tidak sempat memakai body lotion dan semua hal yang biasa dia gunakan.


Dengan rambut yang masih terbungkus handuk. Mengkeramas rambutnya yang sudah mulai berminyak dan lepek 


"Serahkan dia padaku!" Edelweis mengembangkan tangannya.


Tangis Malika mereda begitu mendeteksi ibunya menghampirinya. Langsung berhenti ketika dirinya berpindah ke gendongan ibunya.


"Kau langsung diam?" Senyum Edelweis mengembang, "Aku harus mandi sebentar. Tubuhku sangat lengket dan bau." Edelweis mencium putrinya dengan lembut. Memberikan asinya kembali.


Keadaannya sangat menyedihkan pasca melahirkan. Untuk mengurus dirinya sendiri dia sangat kerepotan. Apalagi mengurus suami dan yang lainnya.


Edelweis sangat bersyukur karena Rajasa sangat pengertian.


Semejak kelahiran buah hati mereka. Edelweis kerap diterpa rasa bersalah karena tidak bisa melayani suaminya.


Rajasa sendiri tidak pernah memaksa dan sangat mengerti keadaan isterinya. 


Teori tinggal teori. Tidak satu pun yang bisa diterapkan pada Malika. 


Memiliki salah jam tidur dan terbalik. Bangun malam hari dan siang hari tertidur nyenyak.


Tidak mau susu formula dan makan mpasi. Bau tangan dan hanya mau digendong ibunya.


Kehidupan Edelweis berubah seratus delapan puluh derajat.


Belum depresi pasca melahirkan, anxiety dan gangguan panik yang dideritanya setelah kelahiran Malika.


Rajasa sendiri semakin lama. Semakin sibuk dengan pekerjaannya. Pulang larut malam. Tenggelam dalam kesibukannya sendiri.


Edelweis juga lebih banyak menghabiskan waktu di kamar Malika.


Mereka berdua mendesain kamar tersebut sedemikian rupa. 


Selain box bayi. Dilengkapi dengan tempat tidur queen bed yang akan ditempati Malika setelah dia tidak memerlukan boxnya.


Box bayi hampir tidak pernah dipakai. Karena Malika selalu bersama ibunya di tempat tidurnya.


Kesukaannya selain menyusu adalah mengempeng pada payudara ibunya. Praktis pekerjaan dan rutinitas keseharian Edelweis hanya menyusui dan mengurusi Malika.