Rajasa

Rajasa
Pre-School



Edelweis menahan rasa hatinya mendengar perkataan ibunya. Dia mencubit Amarilis dengan kencang karena membocorkan rencananya bersama Ryan.


“Awww!!!” Jerit Amarilis.


“Kalian ini sudah tua. Masih saja tengkar!”


“Sakit bu!” Seru Amarilis.


“Ibu sudah tua. Kalian bukan anak kecil lagi. Apa perlu kalian dijewer?” Ujar ibu kesal.


“Aku yang dicubit. Kenapa jadi aku yang dimarahin?” Protes Amarilis.


“Kakakmu mencubit kan pasti ada sebabnya. Mana mungkin dia mencubit mu tanpa alasan?”


“Dia gak suka bu kalau aku membocorkan padamu. Rencananya dan Ryan ingin menikah setelah bercerai.”


“Astaga!” Ibunya mengusap jantungnya.


“Bu! Ibu tidak apa-apa kan?” Tanya Basil cemas.


“Tidak apa-apa. Kakakmu ndak punya perasaan. Aku sudah mau mati nduk! Jangan siksa aku dengan kelakuanmu. Jika kau harus bercerai juga. Jangan menikah dengan suami orang. Aku ndak kuat.”


“Baiklah, bu. Akan kupikirkan. Aku bisa tinggal bersama kalian lagi kan?”


Ibunya menganggukkan kepalanya, “Lebih baik memang kau kembali tinggal bersama kami. Supaya tidak ada yang mengganggu. Kami juga bisa mengawasi mu dengan lebih baik. Menjadi janda ndak mudah, nduk. Banyak godaannya.”


Edelweis memilih diam dan tidak melanjutkan percakapan yang bisa memicu emosi ibunya. Bisa fatal untuk jantung ibunya.


Dia sendiri kalau bukan karena berniat balas dendam dan melampiaskan sakit hatinya pada Nurmala. Enggan menikah lagi. Karena merasa lebih nyaman bersama kedua buah hatinya dan keluarganya. Berharap bisa kembali fokus bekerja. Merasa tenang menitipkan Amalia dan bayi yang tengah dikandungnya kepada Wina dan keluarganya.


Hatinya terlalu sakit. Membiarkan pengkhianatan Rajasa dan Nurmala. Dia ingin memberikan pelajaran pada Nurmala bagaimana kesakitannya saat Nurmala melukainya.


Aku akan membalas luka dengan luka. Seperti halnya gigi dibalas gigi. Nyawa dibayar nyawa. Get even.


Memikirkan Ryan yang sangat baik padanya. Tulus mencintainya. Hatinya juga tidak tega menolak niat baik Ryan. Apalagi dia juga bisa menjadi ayah sambung yang baik buat kedua anaknya.


Malika sangat menyukainya. Sikapnya yang lembut, menawan serta kebaikan hatinya akan meluluhkan keluarga. Mereka tidak akan menikah sampai restu ibunya turun. Mereka tetap menjalin hubungan tetapi pernikahan hanya terjadi saat Ryan sudah berhasil menaklukkan hati ibunya. Dia yakin tidak akan sulit bagi Ryan untuk menaklukkan ibunya. Karakternya yang baik, santun dan lembut nyaris memukau siapa pun yang mengenalnya. Bahkan, Nurmala mantan selingkuhan suaminya. Mencintai Ryan sepenuh jiwa dan hatinya. Perfect revenge!


Mereka turun melihat pre-school yang terlihat sangat hommy untuk anak-anak. Terlihat anak-anak berlarian ke sana kemari.


Amalia sepertinya sangat tertarik dengan sekolah tersebut. Memiliki banyak fasilitas untuk anak bermain. Bebas bergerak.


Basil dan Amarilis bermain bersama Malika. Membuat Malika sangat senang dan bahagia. Mereka berfoto sambil tertawa dan bermain bersama.


Amalia bermain bola dengan Basil dan Amarilis. Wajahnya yang ceria penuh tawa. Membuat yang melihatnya ikut bersemangat.


Bosan bermain bola. Dia bermain ayunan bersama Amarilis. Kemudian bermain panjatan di awasi Basil.


Edelweis dan ibunya berbicara dengan kepala sekolah yang sedang berada di ruangannya.


“Sekolah kami memfasilitasi anak-anak yang kinestetik, berkebutuhan khusus dan juga memotivasi anak-anak yang cenderung tidak memiliki insiatif atau pasif.” Kepala sekolah menjelaskan panjang lebar bagaimana sekolah mereka dimulai. Visi misi sekolah. Berbagai pencapaian dan progress anak secara psikologis, motorik dan kognitif.


Ibunya Edelweis lebih banyak mendengarkan. Sementara Edelweis selain menyimak juga sesekali mengajukan pertanyaan.


“Anak saya diobservasi dulu?” Tanya Edelweis.


“Itu sudah menjadi standart sekolah kami. Bukan bermaksud menseleksi anak. Karena pada dasarnya anak-anak tidak bisa diseleksi. Mereka memiliki proses, minat bakat, potensi dan karakter yang berbeda-beda. Sekadar untuk memastikan kesiapan anak untuk bersekolah. Menjalani aktifitas kesehariannya di sekolah. Perkembangan anak akan optimal jika distimulasi dengan baik dan tepat.”


“Maksudnya?” Edelweis agak kesulitan mencerna penjelasan yang panjang dari kepala sekolah.


“Anak harus disekolahkan pada saat dia menunjukkan kesiapan atau mencapai usia masuk sekolah. Jenis sekolahnya disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologis, motorik dan kognitif anak.”


“Maaf saya masih belum mengerti.”


“Anak-anak cenderung kinestetik sehingga mereka relatif lebih nyaman dengan sekolah yang bisa memfasilitasi kebutuhan kinestetik mereka. Tetapi tidak semua anak seperti itu. Ada pula anak-anak yang cenderung pasif. Pada dasarnya setiap anak bisa disekolahkan dimana saja. Akan tetapi jika ingin pertumbuhannya optimal.  Sekolahkan anak sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan psikologis, motorik dan kognitifnya.”


“Baiklah.  Kesimpulannya?”


“Untuk mengurangi stress pada anak. Jangan membebani mereka dengan hal yang justru bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pilih sekolah yang sesuai dengan perkembangan anak. Sangatlah penting. Dan jika anak belum siap bersekolah sedangkan usia mereka belum mencapai usia maksimal masuk sekolah. Hendaknya orang tua bersabar.”


Malika tampak sangat menyukai sekolah yang sedang mereka kunjungi. Bermain mainan yang ditaruh di atas pasir. Sibuk memasukkan pasir ke dalam ember kecil dengan menggunakan skop kecil mainan.


Amarilis dan Basil mengobrol sambil mengawasi Malika yang sedang asyik bermain.


“Bermain pada anak seperti halnya bekerja pada orang dewasa. Merupakan hak dan kebutuhan mereka.”


Edelweis dan ibunya menyimak perkataan kepala sekolah. Sejujurnya Edelweis tidak terlalu paham dengan informasi yang baru didengarnya dari kepala sekolah. Semua hal yang baru baginya.


“Di sekolah ini, mengandalkan kerjasama sekolah, anak dan orang tua. Kami menyediakan layanan parenting bagi orang tua sehingga bisa lebih memahami dan bekerja sama dalam pengasuhan anak.”


“Layanan parenting?”


“Kursus atau seminar parenting untuk orang tua. Menambah wawasan dalam pengasuhan anak. Diharapkan akan ada kesesuaian antara orang tua, anak dan sekolah dalam mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak.”


“Yeah. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Sedangkan setiap orang tua wajib mengasuh dan mendidik anak mereka dengan baik. Tidak berlaku otoriter atau pun permisif. Melainkan autoratif. Anak dilibatkan dalam mengenali dan memutuskan hal-hal yang berkaitan langsung dengan mereka. Orang tua tidak dilarang memutuskan untuk anak-anak mereka tetapi dengan persetujuan dan penerimaan dari mereka. Bukan dengan pemaksaan apalagi hal-hal yang menimbulkan tekanan atau pun perlawanan yang massive.”


Tukas Kepala Sekolah, “Prinsipnya agresivitas anak bisa berasal dari pola pengasuhan. Walaupun mungkin untuk yang hiperaktif atau berkebutuhan khusus atau anak-anak yang memiliki masalah kepribadian dan karakter. Bisa saja ini berasal dari mereka sendiri. Tetapi dengan pola pengasuhan yang tepat akan menanamkan kebiasaan dan batasan yang baik. Mengembangkan dan menumbuhkan karakter dan potensi anak seperti yang sampaikan tadi.”


“Hum, ya...”


“Pengasuhan yang baik salah satunya seperti halnya burung tidak akan diajarkan apalagi dipaksa berenang. Seperti halnya ikan tidak akan dipaksa berenang.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...