
Sesampainya mereka di rumah Ryan. Mereka turun dari mobil. Malika bersama dengan Wina memasuki rumah Ryan.
Malika langsung mengembangkan tangannya melihat Ryan. Mereka saling berpelukan.
Rajasa menggandeng mesra Edelweis yang sedang hamil tua. Memeluk istrinya erat.
“Kalian seperti sudah seabad tidak bertemu.” Ujar Rajasa pada keduanya.
“Kau akan memiliki adik lagi.” Sahut Ryan pada Malika mengabaikan perkataan Rajasa.
“Benarkah?”
“Yeah, kau akan mendapatkan adik lelaki dari mama dan papamu. Aku dan tante Nurmala juga akan memberimu seorang adik laki-laki.”
“Aku akan memiliki dua adik lelaki.”
“Satu adik, perempuan, Amanda, adiknya Amalia kan adikmu juga.”
“Oh iya.” Sahut Malika tersenyum lebar.
“Aku ingin bertemu Amanda.”
“Ayuk, kuantar ke kamarnya.”
Mereka berdua berlalu dari hadapan Rajasa dan Edelweis.
“Jika tidak ada yang mengenal mereka berdua. Malika dan Ryan dikira ayah dan anak.”
“Ya dan kau omnya.” Sahut Edelweis tertawa renyah.
“Dia mengincar anak dan istriku.”
“Kau tahu itu tidak benar. Dia seorang yang sangat setia dan teguh memegang komitmen.”
“Kau selalu membelanya terus.”
“Karena dia seorang yang baik Dan sangat pengertian.”
“Kau mencintainya?”
“Aku mengagguminya dan mencintaimu.”
“Kau mencintaiku tapi ingin menikahinya?”
“Kau berselingkuh. Berjuta kali kukatakan.”
“Jangan mengungkit yang sudah berlalu.”
“Aku bukan mengungkit. Kau bertanya mengapa aku mencintaimu tapi ingin menikahinya?”
“Aku tahu semua salahku. Tanpa kesempatan kedua tidak mungkin kita bisa memperbaiki semuanya.” Sahut Rajasa mengusap lembut perut istrinya yang semakin membuncit.
“Kadang aku merasa menuntutmu di luar batas kemampuanmu. Aku ingin menerimamu apa adanya. Tetapi hatiku sakit. Aku harus bagaimana?”
Rajasa memeluk istrinya dengan erat. Mengusap rambut Edelweis. Serta merta air mata Edelweis tumpah rush.
“Aku mencintaimu. Ingin memaafkanmu. Tapi aku juga takut kau menyakitiku lagi.”
Rajasa menjauhkan kepala Edelweis. Mengecup dahi, kedua mata, hidung dan bibirnya.
“Aku selalu mencintaimu. Bagaimana pun aku menyakitimu. Cinta dan hatiku hanya untukmu. Aku tidak akan meninggalkanmu, Malika dan bayi yang kau kandung.”
“Aku harus membiasakan diri untuk kau sakiti?” Air mata Edelweis kembali meleleh.
Ryan berjalan keluar dari kamar bayi bersama Malika. Mendatangi Rajasa dan Edelweis yang sedang menangis
“Kau bermainlah bersama Amalia.”
Malika mematuhi perintah Ryan. Berjalan mencari Amalia.
Ryan menghampiri Rajasa dan Edelweis.
“Mengapa kau membuatnya menangis?”
“Dia sedang hamil. Dikuasai hormon.”
“Kau tidak usah cari alasan.”
“Kau tahu bagaimana wanita. Selalu mengungkit dan mempermasalahkan masalah yang sama. Aku sudah meminta maaf dan dia selalu mengungkitnya. Aku harus bagaimana?”
“Kau tahu. Semua ada konsekuensinya. Kau sudah berlaku tidak setia. Jalanin konsekuensinya. Istrimu tidak mempercayaimu lagi. Kau harus mendengar dia selalu mengungkit kesalahanmu. Jika kau tidak ingin menjalani konsekuensinya. Tahan dirimu dari melakukan hal yang bisa menyakitinya.”
Rajasa terdiam.
“Mudah bagimu berbicara.” Ujarnya kesal.
“Kau seorang yang egois. Sehingga semua tidak ada yang mudah bagimu. Kau menikahi Edelweis karena mencintainya dan kau tidak mampu setia. Sedangkan aku menikahi Nurmala karena tanggung jawab dan aku mampu setia. Kau masih ingin mengatakan aku hanya bisa berbicara.”
“Kau tidak bisa menyamaratakan orang lain.”
“Aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan denganmu. Takut emosiku menjadi terkendali. Kau tahu bahwa istriku tidak keberatan jika aku mempoligaminya dengan istrimu. Aku belum bertanya pada istrimu apakah menyetujuinya atau tidak. Semata, aku ingin menjaga perasaan mereka berdua. Serta tidak ingin menebar benih kebencian di antara keduanya. Tapi jika kau tidak becus menjadi suami dan selalu menyakiti hati istrimu.”
“Apa maksudmu?” Sahut Rajasa dengan wajah marah dan tidak suka.
“Kau tahu persis apa maksudku. Perlakukan istrimu dengan baik atau aku akan melakukan apa yang harus kulakukan.”
“Kau jangan sombong!” Ujar Rajasa marah. Tangannya mengepal kuat menahan ledakan emosinya.
“Aku bukan sombong. Aku tidak suka melihat wanita menangis. Akan kuhapus dengan tanganku sendiri Dan kuukir senyum di bibirnya.”
“Kau tidak lihat berapa bahagia dan cerianya istriku? Justru kau yang membuat istrimu menangis. Karena kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik.”
“Kau sok tahu!”
“Kau brengsek!”
“Kumohon kalian jangan bertengkar. Kalian akan merusak suasana acara.”
Ryan dan Rajasa saling bertatapan dengan geram.
“Ryan sebaiknya kau menemani Nurmala.” Edelweis mengambil inisiatif.
“Kau tidak apa-apa.”
“Kau menangis.”
“Aku belum bisa melupakan pengkhianatannya. Kau tidak usah khawatir dia memperlakukanku dengan buruk. Dia berusaha memperbaiki kesalahannya. Hanya saja hatiku sakit. Jiwaku terluka. Semua ini tidak mudah bagiku. Setiap kali. Aku mencoba memaafkannya. Video itu kembali terbayang di benakku.”
“Kau harus belajar memaafkannya. Untuk kebaikanmu sendiri.” Ujar Ryan lembut.
Mata Edelweis mengaca, “Aku berusaha memaafkannya tetapi semuanya terasa sangat sakit.”
Ryan melihat Edelweis menjadi tidak tega.
“Kau jangan seperti itu. Tidak ada manusia yang sempurna.”
“Kau sempurna.”
“Aku juga tidak sempurna. Buktinya aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu.”
“Kau tahu yang kumaksudkan. Kau bisa setia pada pasanganmu walaupun kau tidak mencintainya.”
Percakapan mereka diputus oleh Nurmala yang merasa sangat terganggu melihat Ryan memperhatikan Malika dan Edelweis.
“Sayang! Acara baby shower kita.”
“Oh iya. Baiklah.”Ryan menatap lurus ke arah Edelweis, “Kumohon, berdamai dengan keadaanmu. Berbahagialah kembali. Kau tahu pasti tidak ada yang sempurna. Termasuk aku. Maafkan suamimu. Berjanjilah padaku.”
“Sayang!”
“Ok!”
Ryan membalikkan tubuhnya meninggalkan Rajasa dan Edelweis mengikuti langkah istrinya.
Dia akan memberikan pidato untuk menyambut para tamunya.
“Para hadirin. Terima kasih atas kehadirannya. Untuk merayakan baby shower dan selamatan empat bulanan bayi kami. Alhamdulillah, Allah mempercayakan bayi lelaki kepada kamu berdua. Semoga bisa menjadi anak yang sholeh serta menjaga kedua saudara perempuannya serta ibunya.”
Para yang hadir bertepuk tangan.
“Menantikan jagoan kecil merupakan hal yang sudah dinantikan kami sekeluarga. Kami sangat bersyukur Allah mengaruniai kami dua bayi berturut-turut dengan jenis kelamin yang berbeda. Menjadi orang tua merupakan hal yang paling istimewa di dalam hidup. Refleksi cinta tanpa batas. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada undangan semua. Selamat menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Have fun!”
Para tamu bergerak untuk menikmati hidangan. Acara selamatan diselenggarakan setelah acara baby shower dan menjelang sore.
Acara baby shower diisi dengan games. Sang ibu membuka kado. Makan dan minum.
Acara gamesnya sangat menghibur hati. Mulai menyebutkan nama pampers, susu dengan memperlihatkan produknya. Menebak beragam ekspresi bayi melalui slide.
Lomba memasang popok dengan menggunakan boneka bayi. Memandikan bayi juga dengan menggunakan boneka bayi.
Suasana berubah seru. Melihat games dan lomba yang berlangsung. Saat acara pembukaan kado oleh sang Ibu juga merupakan acara yang menarik.
Acara berlangsung dengan lancar sampai dengan pengajian empat bulanan. Doa dilantunkan dan sedekah dibagikan kepada kaum dhuaha serta anak yatim.
“Semoga acara ini membawa keberkahan, kebaikan, kebahagiaan serta mempererat silaturahim di antara kita.” Ryan menutup pidatonya.