
Nurmala merasakan dirinya tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik dan bijaksana terutama dalam urusan cinta.
Cinta pertamanya mengajarkan bahwa cinta bukan hanya sebatas memuaskan mata apalagi dahaga. Tanggung jawab dan kesetiaan adalah esensi dari cinta itu sendiri.
Cinta menjadi tanpa makna tanpa tanggung jawab dan setia. Hanya sebatas pemuas dahaga.
Cinta yang kedua mengajarkan. Ketulusan dibutuhkan. Tanggung jawab tidak hanya berupa materi dan pemenuhan kebutuhan batin tetapi juga ketulusan. Kebutuhan batin merupakan kebutuhan dasar tetapi bukan berarti menjadi alasan untuk bertahan dalam satu hubungan. Tanpa adanya ketulusan. Semua akan terasa sulit untuk dipertahankan apalagi diteruskan. Semua yang ada di dalam pernikahan menjadi beban.
Pernikahan itu sendiri beban. Buah hati yang lahir dari pernikahan itu juga menjadi beban. Cinta menjadi tanpa makna tanpa ada ketulusan di dalamnya. Serupa tapi tak sama dengan pernikahannya yang pertama.
Pernikahannya yang ketiga mengajarkan esensi dari pernikahan. Bukan cinta atau nafsu yang mengikat sebuah pernikahan. Melainkan komitment.
Pernikahan bisa bertahan karena pemenuhan hak dan kewajiban. Pernikahan tidak berarti pemuasan kebutuhan biologis semata. Walaupun hal itu termasuk salah satu tujuan pernikahan dilangsungkan.
Yang membuat sebuah pernikahan bertahan karena pasangan berkomitmen dalam menjaga kelangsungannya.
Melalui komitment. Tanggung jawab, kesetiaan, pemenuhan hak dan kewajiban dijalankan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ketulusan dalam menjalani sebuah pernikahan dibutuhkan. Karena pernikahan tidak selalu kesempurnaan tetapi bagaimana bisa menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses menyempurnakan pernikahan itu sendiri.
Kasih sayang antar anggota keluarga juga mesti terjalin. Melihat Ryan menyayangi Amelia seperti putrinya sendiri. Membuat Nurmala sangat bahagia dan diterima keberadaan mereka berdua satu paket oleh Ryan.
Dia merasa Ryan mengajarkannya untuk tumbuh. Hanya saja, sayangnya pernikahan mereka hanya akan berlangsung seumur jagung. Karena pernikahan dilangsungkan sebagai kamuflase untuk menutupi kehamilannya.
Tetapi kalau dia boleh jujur. Ryan adalah lelaki idamannya. Suami impiannya. Tapi sayangnya, hatinya hanya untuk Edelweis dan bukan dirinya.
Ryan mengajarkan makna ketulusan dan dedikasi. Cinta dimaknai begitu indah dan suci.
Bersama Ryan seperti memiliki harapan baru. Dihargai, dihormati dan disayangi sebagai pasangan.
Pasangan bukan dimaknai sebagai eksploitasi. Atau manipulasi. Tetapi seseorang yang harus dihargai, dihormati dan disayangi keberadaannya.
Kasih sayang dan perhatian yang tulus. Menggugah segenap perasaannya. Terus terang, dia sudah apatis tentang cinta.
Cinta merupakan wajah yang penuh luka dan duka. Membuat mati rasa. Karena terasa begitu mengintimidasi dan melelahkan.
Eksploitasi dan manipulasi adalah dua topeng cinta yang membuatnya ragu akan cinta itu sendiri.
Cinta membuatnya terpaksa melindungi dirinya dari rasa sakit. Dari semua kepedihan juga kesedihan serta kemarahan.
Cinta meneteskan luka demi luka. Dalam hatinya yang sesungguhnya rapuh. Tetapi dia membalutnya dengan hati sekuat besi. Pengalamannya akan cinta mengajarkannya untuk tidak mempercayai wajah cinta yang memperdaya.
Karat hati tidak bisa ditolak. Tetes demi tetes luka yang ditorehkan cinta. Membuat hati besinya terkelupas. Ryan bagaikan cat yang bisa menutupi semua karat cinta yang ada.
Perut Nurmala semakin membesar. Tidak terasa mereka sudah menikah tujuh bulan lamanya. Dua sampai tiga bulan lagi mereka akan berpisah.
Ryan mengecup lembut perut Nurmala yang membuncit. Mengelusnya mesra.
"Jangan seperti itu. Aku mengira kau menginginkan kehadirannya dan mencintaiku juga kedua buah hatiku. Begitu anak ini lahir. Kita akan bercerai." Sahut Nurmala pedih. Dia tidak merasakan hal ini ketika bercerai dengan kedua suaminya terdahulu. Mengapa terasa berat berpisah dengan Ryan?
"Aku memang menyayangimu dan anak-anakmu. Bagaimana pun kau istriku. Anak-anakmu walaupun bukan darah dagingku. Tetapi aku sangat menyukai anak-anak."
"Seandainya, kau tidak mencintai Edelweis. Apakah kita akan bercerai?"
"Aku tidak tahu."
"Mengapa tidak tahu?"
"Memang tidak tahu."
"Apakah kau akan meninggalkan kami seandainya kau tidak pernah mengenal Edelweis?"
"Entahlah! Mungkin aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku sudah merasa kalian semua bagian dari keluargaku."
Wajah Nurmala memanas menahan haru. Matanya mengaca.
"Kau tidak mungkin bersama Edelweis."
"Pak Rajasa sudah menyesal dan berjanji tidak akan melakukannya lagi."
"Kau mempercayainya?"
"Entahlah. Tapi kurasa dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya."
"Dia menjauhimu karena kehamilanmu. Seandainya kau tidak hamil. Apakah dia akan melepaskanmu?"
"Apa maksudmu?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Kami sudah tidak berhubungan lagi."
"Karena kau hamil. Dia tidak ingin semuanya terbongkar. Bukan karena dia menyesali perbuatannya dan berusaha memperbaikinya."
"Kau salah! Kami sudah tidak berhubungan. Kehamilanku tidak disengaja. Aku tidak membawa pilku karena kupikir dia hanya ingin berbicara."
"Apakah begitu caranya mengatakan perpisahan? Kalian masih berhubungan. Kau hamil dan baru semuanya berhenti. Kau ingin aku menilainya seperti apa?"
"Kenyataannya semua sudah berakhir."
"Entahlah! Semua membingungkan untukku. Aku hanya ingin melindungi Edelweis tetapi belum tahu bagaimana caranya."
"Kupikir kau harus memberikan kesempatan pada mereka dan kita. Itu akan menyelesaikan permasalahan."
"Tidak ada masalah yang bisa selesai jika menyangkut trust issue."
"Aku…" Nurmala menelan kata-katanya kembali.
"Kau apa?"
"Hmm, tidak. Aku tidak apa-apa. Tapi menurutku, kau terlalu berlebihan menanggapi sesuatu. Tidak ada masalah. Kau buat menjadi masalah." Nurmala berusaha mengungkapkan perasaannya. Tetapi dia hanyalah seorang wanita. Pada akhirnya harus menelan semua kata-katanya.
Dia tidak memiliki muka untuk mengatakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
"Kau jangan banyak berpikir. Kau sedang hamil tua." Ryan mengecup dahi Nurmala.
"Bisakah aku, Amalia dan bayi yang kukandung hidup bertiga?"
"Tentu bisa! Kau wanita yang kuat dan mandiri. Terpenting, jangan kau ulangi lagi. Jika nanti kau menikah lagi. Jangan memilih suami orang lagi."
Nurmala menganggukkan kepalanya," Aku tidak ada rencana menikah lagi."
"Terserah saja. Bagaimana nyamannya dirimu. Kalau dengan tidak menikah lagi. Kau bisa lebih fokus dengan pekerjaan dan anak-anakmu. Sebaiknya memang kau tidak menikah lagi."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku belum tahu tapi aku akan menjaga Edelweis. Aku akan mengawasi Rajasa dan memastikannya tidak menyakitinya lagi. Atau aku akan merebut Edelweis dari sisinya."
"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Nurmala. Hatinya merasa resah dan sedih.
"Kau kenapa?" Ryan memegang dahi Nurmala.
"Aku tidak apa-apa. Kehamilanku membuat hormonku tidak stabil." Air mata menetes menuruni kedua belah pipinya.
Ryan meraih tubuh Nurmala dan merengkuhnya. Sesuatu yang hangat mengalir melalui aliran darah Nurmala. Menumpahkan seluruh tangis dan bebannya pada pelukan Ryan.
"Lepaskan saja semua bebanmu." Ryan mengusap rambut Nurmala. Membelai punggungnya dengan lembut.
Nurmala menumpahkan semua tangisnya. Semua beban yang menghimpitnya seakan berebut keluar.
Banyak yang berkata wanita makhluk yang lemah dan harus dilindungi. Tapi pada kenyataannya, wanita makhluk yang harus melindungi diri mereka sendiri dan harus tetap kuat. Walaupun mengalami eksploitasi dan manipulasi.