
Edelweis hamil lagi. Hal itu membawa kebahagiaan bagi mereka berdua. Tetapi sekaligus hal yang dilematis.
Malika berulah membuat Rajasa merasa tidak betah di rumahnya. Malika mencemburui kehamilan Edelweis.
Sehingga hanya mau dipegang Rajasa atau Edelweis. Kesibukannya bekerja membuatnya sangat lelah dan ingin beristirahat di rumahnya tanpa gangguan.
Tidak ada cara lain selain melarikan diri ke pekerjaan. Bekerja ke luar kota atau luar negeri. Berharap Malika mau kembali bermain dengan pengasuhnya seperti sebelumnya.
Rajasa sendiri kerap meluangkan waktu sendiri. Di sela-sela kesibukannya bekerja di luar kota dan negeri.
Dia hanya menginginkan waktu untuk dirinya sendiri. Hanya itu.
Pesanan kuenya tertukar dengan pesanan kue seorang gadis yang sangat cantik juga seksi.
Rajasa menelan ludahnya. Kesukaannya mengejar para gadis sebelum menikah. Pengalamannya berselingkuh dengan Nurmala. Membuat adrenalinnya bergejolak.
"Maaf nona, kue itu punya saya."
"Bukan. Saya memesannya barusan."
"Ini nomor antrian saya. Bisa liat nomor antriannya?"
Gadis itu memakan kuenya tanpa rasa berdosa.
Duh! Sukur cakep. Rutuknya dalam hati.
"Maaf, saya belum makan siang."
"Saya juga." Sahut Rajasa tersenyum lebar, " Boleh saya duduk disini?"
"Silahkan. Mau?" Gadis di hadapannya menyodorkan kue beserta sendoknya, "Kita makan berdua aja gimana?"
"Gak usah, saya nunggu aja."
"Lama. Ini nomor antrian saya. Gak apa-apa. Makan aja. Lagian ini kan juga punya anda. Saya yang ambil kue anda." Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Rajasa terpesona melihat senyum gadis di hadapannya. Lesung pipit mengintip di kedua belah pipinya. Dagunya juga memiliki belah. Mata kucingnya terlihat indah. Dihiasi alis hitam seperti semut beriring. Belum rambut hitamnya yang tebal dan mengombak. Kecantikan yang sempurna.
Hidung bangirnya berpadu sempurna dengan bibir seksinya. Diatasnya tipis tetapi di bawahnya penuh. Sungguh menggoda. Tubuhnya tinggi tapi keliatan sangat berisi. Benar-benar sangat menggoda iman. Dia lupa menyebutkan kaki jenjang putihnya. Roknya yang di atas paha menampakkan keindahan kedua kakinya yang sangat indah.
Pikirannya melayang jauh menembus angkasa. Banyak yang berkata sebelum menikah. Istri adalah wanita yang paling cantik tetapi begitu menikah. Semua wanita cantik kecuali istri. Hmm….
Kebiasaan lamanya kambuh. Keinginan mengejar wanita cantik dan menggoda mereka. Seperti membuatnya tidak mampu menahan diri. Bagaimana pun dia seorang lelaki tulen. Kebiasaannya mengejar para gadis menghilang begitu dia mengenal Edelweis. Tetapi sekarang?
"Sendirian?" Tanya Rajasa.
"Gak!"
"Sama siapa?"
"Kamu!"
Rajasa tergelak. Tidak hanya cantik tapi juga pandai menggoda. Imannya semakin rapuh dan imronnya semakin meronta.
"Kok ketawa?"
"Ditanya sendirian apa gak? Jawabnya kok sama aku?"
"Ya udah, banyakan deh!"
"Sama siapa aja?"
"Gak liat satu kafe orang semua?"
Rajasa kembali tertawa. Ketika seorang gadis cantik melucu. Semuanya seperti berlipat kali rasanya. Lebih lucu sejuta kali lipat.
Mereka mengobrol di sela makan siang mereka. Tanpa sengaja mereka memesan makanan yang kurang lebih sama. Minumannya saja yang berbeda.
"Kebetulan! Sepertinya kita berjodoh." Canda Rajasa.
"Makanan yang kita pesan kan emang best seller disini. Berarti kita jodoh dengan hampir semua orang disini."
Rajasa kembali tertawa. Lagi-lagi pepatah berkata benar. Lihat anak orang, ingat anak di rumah. Lihat istri orang lupa istri di rumah.
"Masih gadis atau sudah janda?"
"Masih." Jawab gadis itu cuek.
"Masih apa maksudnya?"
"Masih aja."
Rajasa tergelak.
"Masak sih?"
Rajasa menganggukkan kepalanya. Sejenak semua kepenatan rumah tangga dan pekerjaannya menghilang.
Pada saat seperti ini. Dia berharap dirinya belum menikah. Sehingga bebas kembali melakukan hobinya seperti sebelum menikah. Mengejar para gadis.
Handphone gadis di hadapannya berbunyi. Dia mengangkatnya.
"Ngapain sih kamu nelpon-nelpon terus? Selingkuh gak mau ngaku? Pokoknya aku minta putus!" Gadis didepannya mematikan handphonenya.
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa!"
"Pacar kamu ya?"
"Gak usah diomongin bikin illfeel."
Tanpa sengaja mereka menjadi dekat satu sama lain. Rajasa menyembunyikan status pernikahannya. Mengaku sebagai lajang sehingga gadis tersebut mau menjalin hubungan dengannya.
Ketika saatnya dia akan kembali dari tugas kerjanya. Baru mengakui status pernikahannya tetapi semuanya sudah terlanjur.
Perselingkuhannya kali ini lebih aman. Selain berbeda negara. Gadis yang dipacarinya tidak ingin memiliki anak. Beragam alasan dikemukakan.
"Kau tidak masalah aku penganut childfree?"
"Malah kebetulan."
"Benarkah?"
Seperti pucuk dicinta ulam tiba.
Perselingkuhannya dengan Nurmala berakhir salah satunya karena kehamilannya.
"Aku tidak keberatan kalau kau tidak ingin memiliki anak."
"Anak akan menjadi beban bagiku. Hidupku masih panjang."
"Hmm, yeah, aku setuju."
Tidak akan ada yang dapat mengendus apalagi mencium perselingkuhanku kali ini.
Rajasa kembali ke rumahnya dalam keadaan lebih segar. Dengan sabar dia meladeni Malika. Tidak lupa berterima kasih dengan kebaikan Ryan yang membantu Edelweis mengurus Malika selama kepergiannya keluar negeri. Bertemu seorang gadis Indonesia yang sangat cantik di luar negeri. Bagaikan durian runtuh.
Rajasa mengatur jadwal pekerjaannya keluar negeri sebulan sekali selama seminggu.
Edelweis tentu tidak merasa curiga sama sekali. Apalagi sikap Rajasa semakin baik, perhatian dan sabar.
Mempercayai suaminya seratus persen. Kesepakatan di antara mereka sangat jelas. Pernikahan mereka berakhir jika salah satu dari mereka berselingkuh.
Rajasa merasa menemukan keseimbangan setelah bertemu dengan Kinanti. Mahasiswi Australia yang berasal dari Indonesia.
Pergaulan di luar negeri mengubahnya dari gadis polos lugu memegang adat ketimuran. Menjadi gadis yang luwes. Mengadopsi budaya barat serta terbiasa dengan pergaulan bebas. Safe *** dan childfree adalah nilai-nilai yang dipegangnya selama berada di negeri orang.
Tidak berencana kembali ke Indonesia apalagi menikah dengan orang Indonesia.
"Mengapa kau tidak mau kembali ke Indonesia?" Sahut Rajasa memeluk mesra Kinanti setelah sesi pergumulan panas mereka.
"Aku tidak cocok dengan budaya di sana."
"Kau kan orang Indonesia?"
"Tapi aku sudah tidak memegang adat timur lagi. Aku akan mengalami penghinaan dan juga pelecehan kalau di sana. Tidak akan ada yang mau menikahiku. Kau tahu betapa munafiknya lelaki Indonesia. Mereka suka bermain perempuan tetapi tetap saja ingin menikahi perawan."
"Tidak semua seperti itu. Banyak juga yang berpikiran terbuka. Tidak mengutamakan keperawanan. Lebih praktis."
"Bagaimana dengan kehidupan bebas dan childfree? Semuanya tabu di sana? Kupikir sebaiknya aku tetap disini. Menyelesaikan kuliahku. Bekerja. Have a boy friend and childfree."
"Kau tidak ingin menikah sama sekali?"
"Entahlah. Kalau menemukan seorang pria yang benar-benar istimewa dan spesial. Mungkin akan kupertimbangkan."
"Aku ingin menikahimu tapi tidak bisa. Aku sudah memiliki seorang istri. Apakah kau ingin menjadi istri keduaku?"
"Nope. Aku tidak ingin merusak pernikahan orang lain. Di Australia melarang poligami. Kau bisa dipenjara jika melakukannya. Sedangkan aku tidak ingin kembali ke Indonesia. Beside, I don't believe with marriage. It just a piece of paper. After all you have to find and connect to your soulmate in the true interaction, feeling and emotion."
"Wanita pintar dan cantik sepertimu. Membuat dunia yang sunyi menjadi lebih berwarna." Rajasa ******* habis bibir kemerahan basah milik Kinanti. Mereka kembali saling bergumul panas. Ruangan menjadi saksi biksu. Dinding tak bertelinga mendengar deru nafas dan ******* mereka berdua yang silih berganti.