
Edelweis sedang menemani Malika makan sambil bermain saat telepon di apartementnya berbunyi.
“Selamat pagi…”
“Selamat pagi, mam...”
Pengacara Rajasa menelponnya.
“Ada perkembangan kasus suami anda.”
Jantung Edelweis nyaris berhenti berdetak. Dengan nada gugup dia berkata, “bagaimana perkembangan kasus suami saya?”
“Kami sudah menemukan dua pria yang sering mendatanginya. Mereka memang tidak tinggal di negara bagian yang sama.”
“Apa yang kalian temukan? Apakah salah satu dari mereka adalah ayah dari janin yang dikandung wanita laknat tersebut?”
“Sayangnya bukan. Test DNA menunjukkan tidak satu pun dari mereka merupakan ayah dari janin yang dikandung wanita tersebut.”
“Siapa ayahnya?”
“Kami belum menemukan mantan kekasihnya.”
“Dia bersembunyi?”
“Entahlah. Kami sudah mendatangi tempat tinggalnya nihil. Para tetangga sudah lama tidak melihatnya. Bahkan sebelum pembunuhan terjadi.”
“Apa maksud anda?”
“Sebelum pembunuhan terjadi. Para tetangga wanita yang terbunuh memang melihat ada tiga pria yang sering mendatangi apartement wanita tersebut. Termasuk mantan kekasihnya. Tetapi tetangga dari mantan kekasihnya sudah lama sekali tidak melihat mantan kekasihnya tersebut di tempat kediamannya."
“Wanita tersebut kemungkinan berhubungan dengan tiga orang tersebut. Apakah suamiku terlihat mendatangi gadis tersebut?”
“Mereka tidak pernah melihat suami anda lama sekali. Tetapi mereka mengenali bahwa suami anda memang pernah mendatangi gadis tersebut. Tetapi itu sudah lama sekali.”
“Aku tahu suamiku brengsek tetapi dia bukan seorang pembohong. Dia mengatakan menjalin hubungan dengan wanita tersebut. Saat aku dan Ryan merencanakan pernikahan kami berdua. Aku bermaksud menggugat cerai suamiku saat itu.”
“Ya, seperti itu lah. Tetapi walaupun mereka sudah tidak berhubungan lagi. Tapi wanita tersebut meminta pertanggungjawaban suami anda.”
“Mungkin karena kekayaan yang dimiliki suamiku.”
“Bisa jadi. Atau mungkinkah wanita itu mencintai suami anda?”
“Dia tidak akan berhubungan dengan pria-pria lain. Jika mencintai suamiku. Terutama mantan kekasihnya. Mengapa mereka masih berhubungan. Kemungkinan dia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya.”
“Kau benar. Mantan kekasihnya seorang pengangguran. Tidak memiliki pekerjaan tetap. Serabutan. Sangat berbeda dengan suami anda. Mapan.”
“Aku sudah bisa menduga wanita macam apa yang menjalin hubungan dengan suamiku. Dia hanya memanfaatkan kemapanan suamiku.”
“Kedua lelaki yang berhubungan dengannya..." Sahut Pengacara dengan suara menggantung.
“Ada apa dengan kedua lelaki tersebut?”
“Mereka berhubungan erat dengan kuliah serta pekerjaannya.”
“Maksudmu?”
“Mereka yang memback up wanita tersebut sehingga bisa kuliah serta memiliki pekerjaan yang dimilikinya saat itu."
“Astaga!”
“Keduanya menceritakan mengapa mereka bisa memiliki hubungan dengan korban. Yang satu berkaitan dengan kuliahnya sedangkan yang satu dengan pekerjaannya.”
“Aku sangat membenci wanita itu. Sekaligus mengasihaninya.”
“Anda wanita yang sangat baik, lembut juga pintar.”
“Aku adalah istri yang gagal. Tidak mampu membuat suamiku setia. Dia menduakanku dengan sekretarisnya. Sekarang dengan wanita hamil yang terbunuh akibat suruhan pembunuh bayaran yang disewa suamiku.”
“Kemungkinan tekanan dalam pernikahan kalian terlalu berat. Setidaknya mungkin bagi suamimu. Sampai mengkhianatimu berulang kali. Kau sendiri ingin menggugat cerai suamimu serta berniat menikah lagi dengan orang lain. Kemungkinan kalian berdua sedang menghadapi tekanan yang sangat berat dalam pernikahan kalian.”
“Entahlah. Tetapi seharusnya dia tidak menyakitiku. Membuatku ingin membalas semua perbuatannya padaku. Pengkhianatan adalah hal yang terkejam yang bisa kau lakukan pada orang yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya padamu.”
“Kadang hidup memang penuh liku dan kompleksitasnya. Seperti wanita yang terbunuh. Dia tampak bisa mencapai kehidupannya dengan baik. Tetapi pengorbanan yang dia lakukan?”
“Itu bukan pengorbanan. Dia memanfaatkan situasi. Memanfaatkan orang-orang yang bisa menolongnya untuk mencapai tujuannya. Menggunakan tubuhnya.”
“Saat ini, aku tidak bisa berpikir berat. Pikiranku sangat lelah. Aku harus mengkonsumsi obat dari psikiaterku.”
“Jangan banyak berpikir nyonya. Kurasa cukup yang sudah kusampaikan mengenai perkembangan kasus suami anda.”
“Terima kasih tuan. Untuk informasinya.”
“Baik nyonya. Aku akan mengabarkan kalau ada perkembangan lagi menyangkut kasus suami anda. Kami sedang mencari keberadaan mantan kekasih dari korban.”
Edelweis meletakkan teleponnya. Air mata kembali mengalir di kedua pipinya.
“Ma, kenapa kau menangis?” Tanya Malika.
“Aku kelilipan. Kau bermain dengan Wina ya? Aku ingin istirahat.”
Malika menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Win, temani Malika bermain. Nanti saja memasaknya. Aku ingin istirahat. Kalau tidak sempat masak. Beli saja makanan.”
“Baik, bu.”
Wina menyelesaikan masakannya. Mematikan kompor. Bergegas mendatangi Edelweis dan Malika.
“Aku mau ke taman.”
“Tanya mama boleh atau tidak.”
“Ma, aku ke taman dengan kak Wina.”
“Baiklah. Kau ingin bermain di taman?”
“Yeah. Aku ingin bermain di taman. Membeli ice cream dan lamington.”
“Baiklah. Pergilah bersama kak Wina.”
Malika memeluk dan mencium ibunya.
Edelweis memasuki kamarnya. Meminum obatnya dari psikiaternya. Tidak lama tertidur.
Rajasa menatapi nasibnya. Kebodohannya kali ini berimbas fatal. Menyesali kebodohannya menjalin hubungan dengan Kinanti.
Pengacaranya menjelaskan mengenai keseharian Kinanti. Terutama hubungannya dengan lawan jenisnya.
Kinanti tidak hanya berhubungan dengannya dan mantan kekasihnya. Melainkan juga dengan dua pria lainnya.
Yang membuatnya terkejut. Kinanti bisa mendapatkan pekerjaan dan melanjutkan pendidikannya karena bantuan kedua pria tersebut.
Tetapi sayangnya, tidak satu pun dari mereka yang menjadi ayah biologis dari janin yang sedang dikandung Kinanti.
Pengacaranya sedang melacak ayah biologis dari janin tersebut. Dia dan kedua lelaki tersebut bukan lah ayah biologis dari janin tersebut.
Mungkinkah mantan kekasihnya? Atau Kinanti berhubungan dengan pria lain yang belum diketahui identitasnya.
Kinanti tidak ingin menikah. Dia ingin hidup bebas. Bisa menjalin hubungan dengan siapa pun. Untuk kepentingannya.
Mengapa dia berubah begitu hamil? Membohonginya bahwa janin tersebut adalah bayinya?
Dia tidak bisa mendapatkan jawabannya. Karena Kinanti sudah tewas. Tidak bernyawa.
Kau yang ngotot tidak ingin menikah. Tetapi kau sendiri yang memaksa minta dinikahi. Berbohong bahwa bayi itu milikmu. Kau tidak peduli aku dan Edelweis bisa bercerai karenamu. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau mengancamku? Bukan menceritakannya secara keseluruhan.
Aku bisa memikirkan jalan keluar untukmu. Selama kau mau bekerja sama dalam mengatasi masalah.
Tapi semua sudah menjadi bubur. Rajasa sedang menghadapi persidangannya. Mengapa kau tiba-tiba berubah? Membohongiku tengah mengandung janinku?
Seandainya, kau tidak memaksa juga mendesakkku. Mungkin saat ini kau masih hidup. Aku akan membantumu membesarkan anakmu. Tidak perlu membohongiku. Apalagi memaksaku bertanggung jawab untuk sesuatu yang bukan milikku. Seandainya, bayi itu milikku. Aku akan memberikan sejumlah kompensasi.
Mungkin aku tidak bisa menikahimu tetapi aku bisa membantumu membesarkan bayi yang kau kandung. Mengapa kau mesti berbohong padaku?Hingga semua tragedi ini terjadi...