
Edelweis dan Tia memasak lontong orani. Makanan khas Banjarmasin cocok untuk sarapan pagi.
Kuah lontong orani berwarna kemerahan. Mereka mencampurkan telur dan ikan gabus ke dalamnya. Dimakan dengan ikan asin tenggiri yang ditaruh ke dalam toples.
Mereka sarapan sambil membicarakan tekhnis pekerjaan mereka.
"Hutan Kalimantan termasuk paru-paru dunia karena 40,8 juta hektar luasnya." Ryan membuka pembicaraan.
"Angka deforestasi di Kalimantan dari tahun 2000-2005 adalah 1,23 juta hektar."Timpal Rajasa, "artinya 673 hektar hutan di Kalimantan mengalami deforestasi kurun waktu tersebut."
"Apa topik yang akan kita angkat untuk dokumentasi deforestasi di sini?" Tanya Edelweis.
Tia bersiap menuliskan ringkasan pembicaraan mereka.
"Issue pembukaan lahan untuk kelapa sawit masih sama dengan di Aceh. Hanya saja disini industri kayu juga turut mempersempit hutan alami." Sambung Rajasa.
"Berkurangnya luasan dan kualitas hutan di Kalimantan menjadi ancaman serius bagi kehidupan. Termasuk berbagai jenis satwa langka di Kalimantan. Antara lain orang utan, bekantan, beruang madu dan berbagai jenis owa. Satwa ini terjepit karena penyempitan lahan dan perburuan liar."
Edelweis menyendok lontong yang sudah dipotong-potong. Mengambil ikan gabus, telur, sambal dan ikan asin tenggiri.
Mengangsurkan piring yang berisi lontong orani kepada Rajasa.
"Aku juga mau dong, lontongnya. Kayaknya enak." Timpal Ryan.
Edelweis berbalik ke arah meja makan ingin mengambilkan lontong untuk Ryan.
"Sayang!"
"Apa?"
"Sini dong, suapin!"
"Sebentar dong! Aku mau ambil lontong buat Ryan. Kamu kan bisa makan sendiri?"
"Kamu ngapain ngambilin lontong buat Ryan? Suami kamu kan aku bukan dia?" Sahut Rajasa jutek.
"Bro! Gitu aja cemburu!"Sahut Ryan tertawa.
"Lo ngapain nyuruh bini gue ngambilin lontong buat lo?"
"Edelweis! Aku ambil sendiri aja. Terima kasih, ya?" Sahut Ryan.
"Kamu kenapa sih? Kayak anak kecil banget. Keterlaluan!" Wajah Edelweis merah menahan marah.
"Kamu ngapain kecentilan ngambilin lontong buat Ryan?"
"Memang kenapa aku gak boleh ngambilin buat Ryan?"
"Dia kan punya kaki. Bisa ambil sendiri."
"Kamu juga bisa nyuap sendiri."
"Kamu gak liat kerjaanku numpuk?"
"Memang aku juga gak punya kerjaan?"
"Kalian kok jadi ribut sih? Ngapain sih kamu marahin Edelweis? Aku yang minta tolong sama dia. Kalau kamu gak suka. Bilang baik-baik. Gak usah kayak gitu."
"Aku suaminya. Berhenti berlaku seperti guardian angelnya."
"Aku hanya tidak ingin kau menekannya. Itu saja."
"Aku tidak menekannya. Aku hanya mengingatkan prioritasnya."
"Baiklah! Aku salah dan minta maaf. Jangan seperti itu lagi padanya. Ok?"
Edelweis menyuapi Rajasa yang sibuk meneliti proposal pembuatan dokumentasi yang sedang ditelitinya.
"Minum, sayang…."
"Teh atau kopi atau air putih?"
"Air putih."
Edelweis beranjak menuju meja mengambil air putih.
Rajasa meminum air putihnya.
"Aku juga mau teh."
"Manis atau tawar."
"Manis dong, kayak kamu."
"Gak lucu! Aku gak suka kamu kayak gitu sama Ryan."
"Aku gak suka kamu memperhatikan siapapun selain aku."
"Ryan kan bukan orang lain. Dia selalu membantu kita. Di saat hubungan kita sulit dan kau seperti itu kepadanya."
"Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kau memperhatikan siapapun selain aku. Dia bisa minta tolong yang lain. Kenapa harus kau? Ada Tia atau yang lainnya. Atau ambil sendiri, kan bisa?"
"Kamu kok posesif begitu?"
"Aku tahu Ryan selalu bersikap baik padamu. Dia selalu bisa memahamimu. Menjadi guardian angel bagimu. Aku bukan malaikat. Aku merasa terintimidasi dengannya."
"Egomu terlalu besar. Itu saja sebenarnya. Kau bukan tidak bisa memahamiku. Tapi tidak mau. Kau tahu Ryan tidak akan pernah menjadi ancaman bagimu. Dia tidak akan pernah merusak hubungan kita. Sampai kapan pun. Kau tahu kau bisa mempercayainya. Dia tidak akan mengkhianatimu."
"Kau tahu bagaimana sikap dan pendapatku."
"Tentu. Your my bossy husband."
"Thank you, my secretary wife."
Secara tekhnis, Edelweis memang isteri sekaligus sekretaris bagi Rajasa.
Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan sekretaris dilakukan dengan sangat baik oleh Edelweis.
Sebagai isteri, Edeleweis sangat memperhatikan kebutuhan Rajasa.
Menjadi sekretaris memudahkannya mengenali semua kebutuhan Rajasa tidak hanya dalam hal pekerjaan tetapi juga kesehariannya.
Apa yang dia suka dan tidak suka. Karakternya. Serta hal lainnya.
Seperti biasa mereka kembali ke rumah untuk makan siang sebelum melanjutkan pekerjaan mereka sampai dengan jam tiga siang.
Dilanjutkan kembali di rumah sampai jam delapan malam mereka baru berhenti dan beristirahat.
Edelweis lebih banyak berdiam diri di hari itu. Bahkan dia tidak meluangkan waktu mengobrol dengan Tia sebelum tidur. Langsung memasuki kamarnya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sambil menunggu Rajasa memasuki kamar mereka. Mengerjakan pekerjaannya dengan menggunakan lap topnya.
Rajasa memasuki kamar dan mengganti pakaiannnya dengan pakaian tidur.
"Hari ini kau tidak banyak bicara."
"Aku sariawan." Sahut Edelweis singkat sambil terus mengetik laporan yang sedang dikerjakannya.
"Kau tidak mengobrol dengan Tia."
"Malas."
"Tumben."
Edelweis tetap berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya.
"Kau marah padaku?"
"Buat apa aku marah padamu? Buang-buang energi."
"Masalah Ryan. Kau masih marah."
"Untuk apa kau membahas itu lagi?"
"Karena sejak itu kau berubah jadi diam."
"Memang aku bisa mengeluarkan pendapatku."
"Kau memaksakan bukan mengeluarkan."
"Ya sudah, tidak usah dibahas lagi. Aku memaksa kan?"
Rajasa menyingkirkan lap top dari hadapan Edelweis.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau sedang berbicara denganku. Fokuslah!"
"Jangan memancing pertengkaran!"
"Ini pertengkaran kita yang pertama sejak kita menikah dan karena Ryan."
"Kau mengambinghitamkan dia untuk sifat egois, dominan juga posesifmu?"
"Sebegitu pentingkah Ryan bagimu?"
"Pertanyaanmu tendensius. Aku mau tidur!" Edelweis bersiap menarik selimutnya.
"Aku tidak ingin hal ini berlarut. Salah kah aku tidak ingin isteriku melayani orang lain selain aku?"
"Aku hanya mengambilkan makanan dan bukan hal lain yang dilarang agama. Kau berlebihan."
"Tetap saja tidak pantas. Aku tidak ingin dia meminta tolong padamu seenaknya. Seakan kau…"
"Jika cara berpikirmu tidak kau ubah. Aku khawatir kita akan terus bertengkar untuk masalah sepele seperti ini."
"Ini bukan masalah sepele buatku."
"Kau cemburu dan tidak masuk akal."
"Aku hanya memintamu mematuhiku tanpa rasa kesal. Ikhlash lah mematuhiku."
"Kau menuduhku dan Ryan memiliki perasaan khusus. Tentu saja aku kesal. Seandainya, kau menganggap Ryan sama seperti yang lain. Tidak akan seperti itu."
"Dia selalu bisa memperlakukanmu dengan baik. Sesuai dengan keinginanmu. Bagaimana menurutmu kalau kau menjadi aku?"
"Mungkin kau bisa belajar darinya. Untuk menurunkan egomu. Lebih berempati."
"Kau tahu setiap orang memiliki karakter mereka sendiri. Kelemahan dan kelebihan."
"Aku tidak ingin membahas ini lagi. Ok? It's not going anywhere."
"Aku tidak ingin kau dan Ryan terlalu dekat."
"Kita satu pekerjaan dan rumah. Selalu bersama-sama. Kau ingin aku memusuhinya?" Wajah Edelweis menunjukkan kemarahannya.
"Aku ingin kau menjaga jarak dengannya."
"Aku tidak bisa menerima caramu."
"Aku harus bagaimana lagi?"
"Aku tidak tahu! Aku tidak suka dengan caramu tersebut. Kau menyinggungku dan membuatku marah. Aku merasa kau tidak mempercayaiku dan Ryan. Seolah menganggap kami akan menikammu dari belakang."
"Bisakah semuanya menjadi lebih simple? Aku hanya ingin kau mematuhiku?"
"Aku ingin kau mempercayaiku!"