
Banyak yang mengatakan. Jika pasangan berselingkuh jangan memaafkan. Karena itu sama saja dengan membiarkan dia mengulangi kembali.
Walaupun ada juga yang memaafkan dengan pertimbangan anak dan tidak ada pasangan yang sempurna.
Tapi bagaimana, jika tidak ketahuan?
Edelweis merasa rumah tangganya sangat sempurna dan bahagia.
Perhatian Rajasa yang sangat penuh kepadanya dan Malika membuatnya semakin mencintai suaminya.
Tampan, mapan, dermawan dan setia pada pasangan. Merupakan sesuatu yang mungkin sulit dicari bandingannya.
"Aku tidak percaya dengan apa yang kudapatkan." Ujarnya pada Ryan ketika membantunya mengurus Malika. Saat Rajasa sedang keluar negeri mengurus pekerjaannya.
Seminggu sekali setiap bulan Ryan menggantikan Rajasa yang pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaannya.
"Aku senang melihat kau bahagia." Ujar Ryan tulus.
"Its to good to be true."
"Yeah! Wanita yang baik untuk pria yang baik. Kau sangat setia pada suamimu. Sangat berdedikasi pada keluarga kecilmu. Tentu kau juga berhak mendapatkan yang terbaik."
"Sejujurnya, kau yang terbaik. Tetapi takdir menentukan aku bersama Rajasa."
"Yeah! Aku tidak bisa membahagiakanmu seperti Rajasa membahagiakanmu."
"Jodoh di tangan Tuhan. Kau sangat memahamiku. Kita tidak pernah sekali pun bertengkar. Kau selalu tahu bagaimana memperlakukanku. Tapi takdir kita hanya sebatas teman dan sahabat."
"Banyak yang mengatakan bahwa pasangan memang kebalikan dari kita. Sedangkan sahabat adalah seseorang yang menyerupai kita."
"Sahabat juga lebih langgeng daripada pasangan. Pasangan bisa bercerai sedangkan sahabat abadi."
"Yeah! Kau benar."
Rajasa sendiri merasa hidupnya semakin lengkap sekaligus dilematis. Hubungannya dengan Kinanti. Membuatnya merasa lebih seimbang dan bergairah.
Satu sisi dia tidak ingin kehilangan Edelweis dan menghancurkan rumah tangga mereka.
Tetapi dia juga tidak bisa menahan dirinya dari kebiasaan bertualang memburu wanita cantik, muda dan seksi.
Mengubah kebiasaan sangat sulit. Apalagi jika kondisi sangat mendukung dan mendorong.
Berumah tangga sama dengan menerima kekurangan pasangan. Cinta yang awalnya menggebu dan seperti satu-satunya.
Perlahan menjadi berubah. Edelweis masih sama perhatiannya seperti dulu. Malah mungkin semakin bertambah terutama terhadap Malika.
Tidak ada keraguan bahwa Edelweis adalah ibu yang sangat baik. Tapi sebagai istri. Kehidupan rumah tangga mereka seperti halnya. Orang yang setiap hari diberi makanan yang sama.
Walaupun sangat menyukai menu yang disajikan. Tetapi setiap hari dan saat?
Kemungkinan lainnya kebiasaannya mengejar gadis-gadis sebelum bertemu Edelweis. Membuatnya sangat merindukan kebiasaan lamanya tersebut. Wanita makhluk yang indah dengan beragam rupa, bentuk dan rasa. Hmm….
Ditengah kejenuhan rumah tangganya. Apalagi Malika kerap membuat ulah. Semua hal tersebut mendorong kebiasaan lamanya kembali.
Kinanti tidak hanya cantik, muda tetapi juga seksi. Ditambah kepintarannya. Membuatnya menjadi semakin sempurna.
Apalagi dengan prinsip hidupnya childfree dan tidak menikah. Membuatnya menjadi pribadi yang energik, smart, awet muda, cantik dan dinamis.
Paket lengkap.
Tidak hanya itu dia juga pandai mengamankan dirinya. Safe ***.
"Aku harus menjaga diriku dari penyakit kelamin dan aids. Kau harus menggunakan ****** if you want having *** with me." Sahutnya tegas.
Argumen lainnya yang menambah kekaguman Rajasa adalah.
"Rajin cek up ke dokter kandungan. Tidak hanya untuk wanita hamil atau abortus aja. Tapi juga untuk membersihkan organ intim. Pap smear. HPV."
"HPV? HPH kali?"
Tawa Kinanti berderai. Deretan gigi putih terlihat dari sela-sela bibirnya yang berwarna pink dan basah.
Hari itu dia tidak mengenakan make up. Tapi wajahnya tetap saja cantik. Justru semakin cantik. Karena kulitnya yang kenyal seperti bayi terlihat sangat natural.
"Itu mah Hak Pengelolaan Hutan. Human Papillomavirus Vaccine."
"Ohhhh…apa tuh?"
"Panjang kalau diomongin."
"Tapi intinya kamu higienis dan steril ya?"
"Begitu lah. Aman."
Tawa keduanya berderai.
"Tapi bisa jadi gak aman kalau sampai istriku tahu."
"Istrimu suka ke Australia."
"Gak sih."
"Darimana dia tahu?"
"Penerawangan?"
Tawa keduanya kembali berderai.
"Mengapa kau menikahi istrimu?"
"Cinta tentu saja. Aku sangat jatuh cinta kepadanya."
"Kau mencintainya tapi juga mengkhianatinya."
"Apa itu?"
"Wanita tidak akan melupakan pria yang mengkhianatinya. Aku tidak ingin dia melupakanku."
Tawa Kinanti pecah,"Itu benar-benar alasan!" Pipinya menegang karena terlalu banyak tertawa, "Apa yang kedua?"
"Aku bertemu dengan seseorang yang mengingatkanku akan kebiasaanku yang dulu."
"Siapa orangnya?"
"Tentu saja kau!"
"Itu kambing hitam namanya. Tapi alasan-alasan juga sih!"
Keduanya kembali tertawa.
"Jika aku menuntutmu menikahiku. Apakah kau akan menceraikan istrimu?"
"Tentu tidak."
"Kau tidak menyukaiku?"
"Bukan begitu. Aku dan istriku memiliki keluarga yang harus kami jaga. Hubungan kita kan tanpa status dan ikatan. Why bother?"
"Aku hanya bertanya. Aku juga tidak tertarik untuk menikah. Seperti yang kubilang, aku tidak percaya pernikahan. Lihatlah kau! Sudah menikah tapi masih mendua."
"Pernikahan untuk membangun keluarga sedangkan perselingkuhan untuk membangun gairah."
Keduanya kembali tergelak.
Edelweis sendiri semakin tenggelam dengan kesibukannya menjaga Malika sekaligus kehamilannya.
Ryan membantunya mengatasi Malika.
"Kau tidak boleh membebani mamamu seperti itu. Mamamu hamil. Nanti adiknya keluar. Kau tidak jadi memiliki adik."
"Biar saja!"
"Katanya ingin punya adik."
"Sudah tidak mau lagi."
"Tidak boleh cemburu seperti itu pada adik. Kau akan sendirian kalau tidak memiliki adik."
"Biar saja!"
"Tidak punya teman di rumah."
"Aku benci adik."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka."
"Mamamu tetap menyayangimu. Walaupun sekarang kau harus berbagi perhatian mamamu dengan adikmu. Tapi mamamu tetap sayang padamu."
Malika menatap Ryan.
"Kau tidak percaya dengan om?"
Malika menatap wajah Ryan kembali.
"Kau rugi kalau tidak mau punya adek. Sendirian. Kalau kau memiliki adik selain bisa bermain bersama juga belajar berbagi."
"Aku tidak mau berbagi."
"Kau akan sulit memiliki teman nanti."
"Aku tidak mau teman." Ujar Malika keras kepala.
Ryan dengan sabar memperlihatkan youtube tentang sekolah dan teman.
"Apakah kau suka apa yang kau lihat?"
Malika menganggukkan kepalanya.
"Sebentar lagi kau akan bersekolah dan belajar berteman." Ryan juga memperlihatkan youtube tentang adik.
Malika memperhatikannya dengan seksama.
"Bagaimana?"
Malika terdiam. Kemudian membuka suaranya, "Aku ingin punya adik."
"Jangan ganggu mamamu dan bermain dengan pengasuhmu. Ok?"
Malika menganggukkan kepalanya. Dan semua kembali seperti semula.
"Oh! Ryan! Terima kasih atas bantuanmu!" Seru Edelweis.
Rajasa pun sangat berterima kasih pada Ryan.
"Kau selalu bisa mengatasi Malika. Kupikir, kau akan jadi cinta pertamanya ketika dia remaja nanti. Bukan aku." Ujar Rajasa.
"Dia sudah seperti anakku sendiri. Kau tenang saja!"
Semua sudah kembali seperti semula. Tapi Rajasa enggan melepaskan hubungannya dengan Kinanti. Afterall, Kinanti dan Edelweis berada di negara yang berbeda. Itu akan sangat aman.
Hati kecilnya sesekali didera rasa bersalah pada istrinya. Mengkhianati janji suci mereka. Mempertaruhkan ikatan suci mereka untuk sebuah petualangan yang menguji adrenalinnya.
Seringkali perselingkuhan sama pentingnya dengan pernikahan itu sendiri. Dilematis bukan?