Rajasa

Rajasa
The Murderer



Polisi memborgol tangan Rajasa. Menjelaskan perbuatan pidana yang dilakukannya. Hak-haknya selaku tersangka.


Semua mata di airport memandangnya sepanjang perjalanannya menuju mobil polisi.


Rajasa masih kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.


Sesampainya di kantor polisi. Rajasa mengganti pakaiannya seperti yang diminta dan dimasukkan ke dalam sel.


“Can I call my lawyer?”


“You can call you lawyer after the examination.”


“I want call my lawyer during the examination. I didn’t want to give any information without my lawyer.”


Selama pemeriksaan Rajasa memilih bungkam seribu bahasa. Dia memiliki hak untuk diam dan tidak mengatakan apa pun.


Para penyidik mendesaknya dan dia tetap bungkam.


“I want my lawyer.”


Karena Rajasa bersikukuh untuk tidak mengatakan sesuatu. Rajasa diijinkan untuk menghubungi pengacaranya.


Pengacaranya mendampinginya selama proses penyidikan. Rajasa memberikan semua keterangan yang dibutuhkan melalui pengacaranya.


Para penyidik menanyakan tentang alibinya. Hubungannya dengan korban pembunuhan. Menanyakan juga hubungannya dengan pelaku pembunuhan yang notabene pembunuh bayaran.


“Aku ingin kau mencari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.” Ujar Rajasa pada pengacaranya.


“Kau tidak tahu sama sekali?”


“Aku tidak tahu apa pun. Aku akan pulang menemui istriku di Indonesia. Polisi menangkapku. Kau bisa mengecek alibiku di hotel.”


“Aku sudah mengecek  hotel kau menginap. Alibimu memberatkan karena statusmu incognito. Ada cctv di dekat lorong kamarmu yang menunjukkan kapan kau keluar kamar serta masuk kembali ke kamar.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Seorang gadis dibunuh dalam keadaan hamil.”


“Apa hubungannya denganku?”


“Polisi menemukan bahwa yang membunuhnya pembunuh bayaran yang disuruh olehmu.”


“Aku tidak mengerti.”


Pengacaranya memberikan sejumlah foto yang menunjukkan pemeriksaan polisi atas seorang mayat yang dikenalinya sebagai Kinanti.


Pembunuh bayaran yang disewanya langsung bekerja. Rajasa termangu. Tetapi bagaimana polisi bisa mengetahui bahwa dia yang menyewa pembunuh bayaran tersebut.


“Lelaki yang membunuhnya ditemukan tergeletak di dekat mayat wanita yang terbunuh.” Sambung pengacaranya.


“Apa?” Sahut Rajasa dengan wajah terkejut.


“Sidik jari pada senjata yang digunakan serta pelurunya semua cocok.”


“Apakah dijebak?”


“Apa maksudmu dijebak?”


“Bagaimana mungkin pembunuhnya ada di sana? Tidak melarikan diri?”


“Polisi sudah memeriksa tubuhnya. Ditemukan minuman keras dan morfin. Kemungkinan pelaku membunuhnya dalam keadaan dipengaruhi minuman keras dan narkoba.”


“Maksudmu?”


“Kemungkinan dia pingsan karena kandungan alcohol dan morfin yang ada dalam aliran darahnya.”


“Bisakah kau atur pertemuanku dengan pelaku? Apa yang membuat polisi menyangka aku yang menyewa dan membayar pembunuh bayaran tersebut.”


“Good question! Seseorang tidak meninggalkan identitasnya memberikan rekaman pertemuan serta suara yang berisi pertemuan antaramu dengan pembunuh bayaran tersebut kepada polisi. Atas dasar tersebut mereka menangkapmu.”


“Astaga!  Apa maksudmu?”


“Aku sedang menyelidikinya.”


“Kau ingin mengatakan dia memberikan semua bukti ke polisi sebelum melakukan pembunuhan itu. Serta meminum alkohol dan menggunakan morfin sebelum membunuh?”


“Sementara asumsinya demikian.”


Wajah Rajasa merah padam menahan amarah.


Aku menyewa seseorang yang sangat idiot. Seandainya aku tahu dia seorang pecandu alkohol dan narkoba. Aku tidak akan mau menyewa apalagi membayarnya. Damn idiot!


“Aku harus pergi sekarang. Aku akan menyelidiki kasusmu lebih lanjut. Mengatur pertemuanmu dengan pelaku. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak ingin kau mengatakan apa pun ke polisi  tanpa didampingi aku. Aku tidak ingin mereka menyalahgunakan atau memanfaatkan keterangan yang kau berikan.”


“Yeah. Aku memang tidak ingin mengatakan apa pun tanpa pendampingan lawyer.”


“Yeah. Itu sudah benar. Aku pergi dulu.”


“Baiklah.”


“Bisakah aku meminta tolong padamu?”


“Apa itu?”


“Apa maksudmu? Istrimu tidak mengetahui perselingkuhanmu dengan wanita yang terbunuh?”


“Aku akan menceritakan semuanya. Aku memang berselingkuh dengannya tetapi kami sudah tidak berhubungan lagi. Aku memutuskan kembali kepada istriku dan meninggalkannya.”


“Lalu?”


“Dia menelponku memberitahukan bahwa dia mengandung bayiku.”


“Aku baru saja mendapatkan dokumen  kasusmu dan belum kuteliti semuanya. Baiklah, aku akan memeriksa serta meneliti kembali kasusmu. Serta mengecek semua keteranganmu. Aku akan menghubungi istrimu. Tidak usah khawatir.”


“Baiklah, terima kasih. Aku tidak ingin dia menjadi khawatir. Aku akan membereskan semuanya.”


“Baiklah. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Aku akan menemuimu kembali untuk kelanjutan pemeriksaan kasusmu.”


“Yeah.”


Rajasa kembali ke selnya. Menyadari kebodohannya menyewa pembunuh bayaran yang sangat ceroboh.


Bagaimana aku menjelaskannya pada Edelweis? Mengapa aku selalu membuat masalah dalam rumah tangga kami? Kami baru saja berbaikan. Semua keindahan ini akan terengut kembali. Dan itu karena kebodohanku sendiri!


Kinanti memang sudah tidak menjadi duri dalam daging lagi dalam hubungannya dengan Edelweis. Tidak bisa lagi mengancamnya apalagi menyakiti istrinya.


Aku tidak pernah berhenti mencintaimu walaupun hanya sedetik. Tetapi selalu ada hal yang membuat hubungan kita terjeda.


Aku tidak tahu, mana yang lebih besar. Cinta atau kebodohanku?


Pikirannya melayang pada Edelweis, Malika dan bayi yang dikandung Edelweis.


Aku sangat mencintai kalian semua. Aku berjanji sebesar apa pun badai yang menimpa kita semua. Kupastikan tidak akan menerpa apalagi menghempaskan kalian semua. Aku akan menjaga serta melindungi kalian. Bersamaku, kalian akan baik-baik saja. Aku berjanji!


Edelweis mengelus lembut perutnya yang semakin membuncit. Usia kandungannya memasuki delapan bulan.


Malika sangat senang menciumi perut ibunya. Mengajak adiknya mengobrol.


“Adek! Cepet keluar dong! Di perut mama kan sempit. Emang adek gak bosen di sana?” Celoteh Malika.


Edelweis tertawa gemas.


“Adekmu belum bisa mendengar sayang.” Ujar ibunya.


“Kata siapa?” Malika menempelkan telinganya di perut ibunya.


“Mungkin adikmu bisa mendengar tetapi belum mengerti maksud perkataanmu. Tapi ya tidak apa-apa. Namanya juga usaha. Kau sudah tidak sabar ya ingin melihat adikmu?”


Malika menganggukkan kepalanya.


“Kau harus sayang padanya jika dia sudah keluar dari perut ibu.”


Malika menganggukkan kepalanya. Edelweis mengecup pucuk kepala putrinya. Membelai bahunya dengan lembut.


“Kau akan membantuku menjaganya kan?”


Malika menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Gadget Edelweis berbunyi. Nomor yang tidak dikenal.


“Selamat siang.”


“Selamat siang.” Jawab Edelweis.


“Saya, Matthew dari kantor pengacara di Australia.”


“Oh iya, sir, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?”


“Suami anda sedang menghadapi masalah hukum di Australia.”


Perut Edelweis mendadak tegang. Keringat dingin mengucur dari dahinya.


“Masalah apa pak?”


“Bisakah ibu ke kantor saya? Saya akan jelaskan semuanya. Ibu tidak usah khawatir. Ini tidak seperti yang ibu bayangkan.”


“Baiklah, saya akan ke kantor bapak. Bisakah saya meminta alamatnya?”


“Saya akan sent lewat whatsapp.”


“Baik pak.


“Baik, bu. Ditunggu kedatangannya.”


Edelweis menutup gadgetnya. Perutnya yang menegang membuatnya kesakitan. Mengelus lembut perutnya yang membuncit berusaha menenangkan jabang bayinya yang mendadak bergerak aktif.


Aku harus menenangkan diriku dulu sebelum menenangkan bayi yang kukandung.


Edelweis menarik nafas panjang. Mengatur nafasnya. Perutnya merileks. Perlahan rasa sakit serta tegangnya semakin berkurang.


 


 


... ...