Rajasa

Rajasa
The Affairs



Yang membuat kebanyakan laki-laki ketika berkhianat tidak merasa bersalah. Karena berpikir mereka hanya memanfaatkan wanita tersebut untuk kepentingan mereka. Tidak bermaksud menghancurkan rumah tangga mereka.


Wanita tersebut hanyalah sebagai alat pemuas nafsu. Bukan cinta. Jika cinta pun selama mereka bisa berbuat adil. Poligami bukan lah dosa. Secara perasaan, menyakiti hati wanita tetapi secara tekhnis pernikahan selama berlaku adil. Hal itu tidak jadi masalah secara logika laki-laki.


Rajasa bisa saja tertarik kepada Nurmala. Sebagai wanita yang mandiri, pandai mengatur urusannya dan penyayang terhadap anaknya. Tubuhnya juga sintal dan seksi. Walaupun wajahnya biasa saja. Tidak terlalu cantik. 


Dia tidak ingin menyakiti isterinya. Edelweis belum tentu bahagia jika dia berpoligami. Bisa merasa terintimidasi walaupun dia berlaku adil. Memperhatikan dan memenuhi hak Edelweis dengan baik. Bagi wanita, poligami menyakiti hati mereka. Mereka ingin menguasai suami mereka untuk diri mereka sendiri. Walaupun mereka tidak bisa melayani atau memenuhi hak suami.


Seperti saat  ini, saat Malika mendominasi ibunya tanpa menyisakan kesempatan bagi Edelweis untuk memperhatikan dan memenuhi hak dirinya.


Nurmala sendiri yang sudah trauma dengan pernikahan sebelumnya. Memilih hubungan tanpa status yang diikat dengan pernikahan untuk menghindari dosa zina.


Sebagai muslimah dia juga takut kena azab Allah kalau melakukan zina. Tetapi dia juga tidak siap menjalani pernikahan yang sesungguhnya. 


Tidak ingin menyakiti hati Edelweis. Tidak yakin juga jika menikah lagi, apakah pernikahan tersebut akan berhasil? Bagaimana kalau gagal lagi? Hanya menambah sakit hati?


Hidupnya bersama Amelia sudah sangat sempurna. Yang dia butuhkan dari Rajasa hanya materi dan nafkah batin. Rajasa sendiri membutuhkan penyaluran biologis. Mereka saling memanfaatkan satu sama lain.


Mobil yang diberikan Rajasa kepadanya. Digunakan untuk berjalan-jalan dengan Ara. Belanja bulanan. Jika mereka ke dokter dan keperluan lainnya.


Kontrakannya tidak jauh dari kantor sehingga dia cukup berjalan kaki. Apartementnya juga tidak jauh dari kantor tetapi dia tidak berpikir untuk pindah ke apartement demi kenyamanan Amelia.


Dia juga tidak ingin hubungannya dengan Rajasa diketahui orang lain apalagi kalau sampai tersebar di lingkungan tetangganya.


Saat ini dia agak terlambat datang ke apartementnya. Ada pekerjaan yang membuatnya harus berada di ruangannya lebih lama. 


Rajasa menunggu dengan resah di dalam apartementnya. Pintu apartement terbuka. Nurmala memencet pinnya.


"Kau baru datang?"


"Maaf, aku terlambat. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku juga membeli makanan untukmu. Kau makan saja dulu. Aku mandi dulu. Bagaimana?"


"Jangan lama-lama!"


Nurmala menuju dapur. Mengambil piring, mengisi piring dengan kue-kue basah yang dibelinya.


Lemper,  kue ****, sus, tahu isi, serabi dan risoles.


Membeli nasi terpisah dengan lauknya. Menuangkan nasi, sayur lodeh, ikan sambal ijo, dendeng balado dan perkedel ke dalam  mangkok-mangkok.


Nurmala menghidangkan semua makanan ke meja. Menyiapkan piring, sendok garpu dan gelas berisi air putih.


"Aku makan dulu sambil menunggumu mandi." Perut Rajasa terasa sangat lapar. Semakin lapar melihat makanan yang terhidang di meja makan.


Nurmala menganggukkan kepalanya.


Rajasa membuka piringnya. Mengisinya dengan sayur dan lauk pauk.


Nurmala bergegas mengambil handuk. Menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya. Membalurkan body lotion sesudah mandi.


Pikiran Rajasa melayang pada Edelweis yang semakin hari semakin kacau. Membuatnya tidak bernafsu untuk menyentuhnya seandainya isterinya tidak didominasi Malika.


Dia masih mencintai dan menyayangi isterinya juga Malika. Hanya saja nafsunya menguap melihat keadaan isterinya tersebut.


Hubungannya dengan Nurmala membuatnya bisa bersabar dan tidak mempermasalahkan keadaan isterinya.


Seandainya tidak ada Nurmala tentu tekanan hidupnya semakin bertambah. Beban pekerjaannya dan kebutuhan biologisnya yang selalu menekan dan mendesaknya minta disalurkan dan dipenuhi.


Nurmala berjalan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Bermaksud memasuki kamarnya dan menyiapkan dirinya.


"Kau mau kemana?" Tegur Rajasa dengan mata berkabut.


"Ke kamar."


"Tidak usah!"


"Tidak usah?"


Rajasa berjalan mendekati Nurmala. Memeluk tubuhnya dan menggiringnya menuju sofa.


"Kenapa?"


"Nanti juga dibuka lagi, kan?" Sahut Rajasa.


Rajasa membalikkan tubuh Nurmala. Menarik handuknya ke bawah hingga jatuh ke lantai. Sehingga tubuh Nurmala terlihat seluruhnya.


Bukit kembarnya yang terlihat penuh dan kenyal. Seakan menggoda dan membangkitkan hasratnya.


Bau harum sabun mandi memenuhi hidungnya.


"Tapi aku belum pakai parfum."


"Tidak perlu." Sahut Rajasa memainkan kedua *********** bergantian yang menyebabkannya meloloskan *******.


Rajasa membaringkan tubuh Nurmala di sofa. Meninggalkan jejak kepemilikannya. Memasuki Nurmala yang sudah berada di puncak birahinya. Akibat sentuhan-sentuhan Rajasa.


Mereka saling memberikan kenikmatan dan memuaskan satu sama lain.


"Kau sudah meminum pilmu kan?"


Nurmala menganggukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Nurmala, Rajasa langsung memuntahkan spermanya di dalam liang rahim Nurmala.


Selesai mendapatkan pelepasannya. Rajasa bangkit. Masuk ke kamar Nurmala dan tidur nyenyak seperti bayi. Tubuhnya sangat lelah sehabis menyetubuhi sekretarisnya. Lelah sekaligus rileks juga sangat nikmat.


Selesai bercinta, Nurmala melilitkan handuknya kembali ke tubuhnya. Berjalan ke meja makan. Mengisi perutnya yang lapar.


Membalikkan piringnya. Mengisinya dengan sayur lodeh dan ikan sambal ijo.


Selesai makan. Membereskan peralatan makan. Membersihkan meja dan memasukkan sisa makanan ke kulkas.


Mandi kembali, menyiapkan diri dan bersiap kembali ke kantor. Meninggalkan Rajasa yang sedang terlelap di kamarnya.


Menenggelamkan diri di pekerjaannya. Dia bermaksud ingin mengambil kuliah lagi. Kelas karyawan.


Sudah membicarakannya dengan Ara. Menawarkannya menginap di rumahnya. Sehingga dia bisa berkonsentrasi kuliah di kelas karyawan yang diambilnya.


Memiliki hubungan tanpa status membuatnya bebas memutuskan dan mengatur hidupnya. Tidak memerlukan persetujuan atau apa pun. 


Dia berkeinginan berkarir di luar negeri. Membawa Amelia ke sana. Menyekolahkannya di luar negeri. Memberikan yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


Terbiasa mengatasi persoalannya sendiri. Membuatnya terbiasa berpikir pragmatis. Tidak terbiasa dengan retorika. 


Mereka tidak pernah mengobrol apalagi saling mencurahkan kehidupan dan persoalan mereka masing-masing.


Selain tidak ada romantisme. Juga tidak ada perasaan di antara mereka.


"Aku menyukai hubungan yang praktis. Tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing." Tegas Rajasa.


Nurmala tidak mengatakan sepatah kata pun. Menyetujui setiap patah kata yang diucapkan Rajasa.


Sesampai di kantor. Nurmala menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.


Rajasa sendiri yang tertidur lelap hampir satu jam lamanya. Terbangun. Tubuh dan pikirannya terasa lebih segar.


Bangun dari tempat tidur. Mengambil handuknya yang di sediakan di lemari.


Membersihkan tubuhnya. Menyiapkan diri dan berangkat ke kantor.


Setengah jam lagi. Dia akan memimpin rapat. Dirinya bergegas keluar dari apartement Nurmala. Berjalan menuju kantornya.


Sesampainya di ruangannya. Nurmala sudah menyiapkan segalanya. Mereka berjalan ke ruang rapat.


Nurmala membagi-bagikan dokumen yang sudah difotokopi.


Rajasa membuka rapat. Membahas agenda rapat. Nurmala membuat notulen rapat.