Rajasa

Rajasa
Four Eyes



Rajasa mengajak Ryan bertemu empat mata. Ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara Ryan, Nurmala dan istrinya.


Mereka makan siang bersama. Mengendarai mobil Rajasa. Mencari tempat yang jauh dari kantor dan sepi sehingga nyaman untuk berbicara empat mata.


Sesampainya di rumah makan yang tampak lengang. Keduanya mencari tempat dekat dengan kolam ikan dan suara air terjun buatan.


“Kita nyaris keluar kota.” Ujar Ryan.


“Tidak apa-apa. Ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Apa itu?”


“Kita pesan makanan dulu. Memang kau tidak lapar dan haus.”


“Menerkam mu hidup-hidup menghilangkan rasa lapar ku.”


Rajasa tertawa.


“Horor juga becanda nya orang kelaparan. Mendadak kanibal.”


Rajasa memesan seekor ikan gurame yang digoreng kering dan dibentuk kipas. Sambel terasi cobek. Cumi yang digoreng crispy. Udang berukuran jumbo saos padang. Kepiting saus tiram. Nasi putih hangat di dalam bakul. Sayur tumis genjer dan karedok. Dua buah air kelapa muda di batok. Seporsi otak-otak yang dibakar dengan daun pisang beserta cocolan sambal kacangnya. Seporsi tahu berontak. Seporsi pisang goreng kipas crispy. Seporsi bola ubi kopong.  Dua buah air mineral botol dingin


“Kau mau bicara apa sih?” Tanya Ryan.


“Aku minta kau jawab dengan jujur.” Sahut Rajasa.


Makanan pembuka mulai berdatangan. Otak-otak, tahu berontak, pisang goreng crispy dan bola ubi kopong. Beserta welcome drink berupa teh manis hangat dua gelas dan air mineral botol dingin dua buah.


Rajasa mencomot otak-otak. Membuka bungkus daun pisangnya. Mencocolnya dengan sambal kacang.


“Kau mau bicara apa sih?” Ryan mengambil pisang goreng crispy kipas yang mengundang selera.


“Ada apa kau dan Edelweis? Mengapa kau batal bercerai? Malah memiliki anak dengan Nurmala? Kau sudah tidak mencintai istriku?”


Ryan nyaris tersedak. Rajasa menyodorkan botol air mineral.


“Minum dulu!” Ujar Rajasa.


“Kau vulgar sekali!”


Rajasa tertawa lebar.


“Kita kan teman. Lebih enak berterus terang.”


“Aku dan Nurmala suami istri sama saja seperti kau dan Edelweis.”


“Kukira kau tidak tergiur dengan Nurmala.” Rajasa kembali tertawa sedangkan Ryan tersenyum kecut.


“Kau sedang membicarakan istriku.”


“Kau cemburu?”


“Kau seorang lelaki dan juga suami. Kau tahu bahwa istri adalah harga diri suami.”


“Maafkan aku! Aku dan Nurmala sudah sangat lama tidak berhubungan. Sebelum kau menikahinya. Hubungan kami sudah selesai.”


“Amanda tidak akan tahu bahwa kau adalah ayah kandungnya. Dia hanya mengenaliku sebagai ayahnya.”


“Its okay! Aku gak masalah.”


“Lalu apa yang ingin kau tanyakan?”


“Mengapa kau berubah pikiran? Apakah kalian sedang menyusun strategi baru?”


“Strategi apa?”


“Mana aku tahu? Kalian berdua begitu kompak. Tiba-tiba pecah kongsi.”


“Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istriku. Memangnya salah? Dosa?”


“Justru berpahala. Seharusnya kau melakukannya sejak menikah dengan Nurmala. Apa yang merubah pikiranmu? Kau bertengkar dengan Edelweis?”


Ryan enggan menceritakan saat dia salah mengambil obat di tas Nurmala. Yang membuatnya kehilangan kendali terhadap Nurmala. Membuat Nurmala menangis karena merasa diperkosa olehnya.


Dirinya begitu malu jika mengingat kejadian tersebut.


“Memang kau bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrimu?”


“Hmm, gak sih...”


“Nah ya udah! Apa anehnya?”


“Kupikir kalian bertengkar.”


“Kau tahu aku dan Edelweis tidak mungkin saling bertengkar. Kami saling memahami satu sama lain. Komunikasi kami berdua juga sangat baik. Sempurna!"


“Kau menciumnya di rumah makan.” Ujar Rajasa tanpa tedeng aling-aling.


Wajah Ryan merah padam.


“Kau memata-matai aku dan Edelweis?”


“Dia istriku. Aku berhak mengetahui apa pun tentangnya. Jelaskan tentang ciuman itu.” Ada nada marah di dalam nada suara Rajasa.


“Ciuman pertama dan terakhir.”


“Aku tidak mungkin bisa bersamanya. Nurmala mengandung anakku dan semua impian tentang pernikahan kami berdua berakhir selamanya."


“Semacam ciuman pertama sekaligus perpisahan?”


“Yeah.”


“Jangan harapkan aku bisa mengerti. Kau tidak seharusnya menyentuh istriku sama sekali. Kami belum bercerai. Mungkin tidak akan bercerai. Hanya Tuhan yang tahu."


“Maafkan aku! Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Edelweis bingung. Apakah aku mencintainya atau tidak. Karena aku menghamili Nurmala. Dan tidak bisa menikahinya. Kupikir, itu satu-satunya cara untuk membuatnya mengerti.


“Kali ini ku maafkan tetapi jika kau ulangi jangan harap aku membiarkanmu hidup.”


“Aku tidak bermaksud melanggar kehormatan istrimu. Kalau kau jadi aku. Apa yang akan lakukan ketika wanita yang sangat kau cintai meragukan cintamu?”


“Yeah, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Walaupun aku brengsek tapi aku tidak pernah menyentuh wanita yang sudah menikah alias istri orang.”


“Itu karena Edelweis istrimu. Seandainya dia istriku?”


Rajasa terdiam sejenak. Menghela nafasnya, “Ok, I got your point. But, please, don’t do it again if you don't want to see my dark side.”


“Yeah, sorry. Kau harusnya bersyukur. Aku dan Edelweis tidak akan bisa bersama.”


“Yeah, tentu aku sangat bersyukur. Kau saingan terberat ku. Sahabat sekaligus rival.”


“Yeah. Aku akan mempercayakannya padamu. Jika kau mengkhianati kepercayaanku. Aku tidak segan mematahkan lehermu.”


“Walaupun kau kehilangan pekerjaanmu?”


“Jangankan pekerjaan. Walaupun aku harus kehilangan nyawaku.”


Rajasa memandang Ryan dengan wajah yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


“Mengapa kau sangat mencintai istriku?”


“Dia wanita yang sangat menarik. Aku langsung jatuh cinta saat melihatnya. Satu-satunya wanita yang ingin ku dekati dan miliki. Aku dan Edelweis seperti teh dan gula sedangkan kau dan dia seperti minyak dan air. Apa yang kau harapkan?”


Rajasa mencomot tahu berontaknya. Menyeruput teh manis hangatnya.


Pelayan mulai membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan.


“Bagaimana kalau kita makan dulu? Sambil aku memikirkan jawabannya. Lapar membuatku sulit berpikir.”


Ryan tertawa melihat sahabat sekaligus rivalnya tersebut.


Rajasa menyendok nasi putih hangat dari bakul. Mencubit daging ikan gurame yang disiram dengan saus tomat, sambal, saus tiram, kecap asin dicampurkan ke tumisan bawang putih lada serta irisan bawang bombay, paprika merah, hijau dan potongan nanas.


Mengambil udang, kepiting, karedok dan tumis genjer. Menyeruput air kelapa muda batoknya.


“Aku sudah mulai bisa berpikir sekarang.” Sahut Rajasa.


“Yeah, aku juga.”Diamini Ryan.


Keduanya tertawa lepas.


“Wanita tidak mengerti bahwa bagi pria, *** tidak selalu identik dengan cinta.”


“Yeah. Mungkin karena wanita selalu berhubungan *** dengan orang yang mereka cintai.”


“Yeah. Buat mereka jika berhubungan *** sudah pasti sepaket dengan cinta. Padahal buat pria tidak selalu demikian.”


“Yeah. Aku bermaksud hanya berhubungan *** dengan wanita yang kucinta. Tapi kau lihat sendiri? Aku tidak mungkin berhubungan *** dengan wanita yang kucintai."


"Kecuali kalau kau mau diiris tipis-tipis seperti potato chips."


Ryan tertawa sementara Rajasa tersenyum kecut.


“Yeah, seperti yang kukatakan. Bagi pria, *** dan cinta tidak selalu ada di tempat yang sama.” Lanjut Rajasa.


“Kupikir, aku sudah seperti pria kebanyakan sekarang.” Ujar Ryan.


“Memang kau homo?” Sahut Rajasa.


Keduanya tergelak.


“Sialan! Maksudku, aku tidak berhasil mewujudkan keinginanku memiliki wanita yang kucintai dan hanya menyentuhnya saja. Bukan yang lain.”


“Kita tidak tahu masa depan.” Ujar Rajasa.


“Aku tidak akan meninggalkan Nurmala dan bayiku yang sedang dikandungnya. Aku bukan kau.” Ujar Ryan.


“Aku bukan bermaksud meninggalkan mereka. Aku mencintai Edelweis. Dan hanya anak-anak yang lahir dari rahimnya yang menjadi keturunanku.”


“Kau brengsek sekali!”


 


 


 


 


... ...