
Edelweis merasa bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan impiannya.
Seperti bayi yang baru dilahirkan dan menghirup udara bebas. Atau seperti narapidana yang mendapatkan hari pembebasannya.
Dia membuka jendela kamarnya. Menatap seakan tak percaya. Udara segar semilir memasuki kamarnya. Matanya begitu nyaman memandang sekitarnya walaupun dia harus mengakui seandainya tidak ada deforestasi , pemandangannya akan semakin indah. Benarlah, dia berada di pecahan surga.
Begitu, orang menggambarkan Indonesia yang kaya tidak hanya dengan sumber daya alam, tanah yang luas dan subur tetapi juga hutan yang merupakan paru-paru dunia.
Sejenak dia melupakan semua hal yang buruk yang menimpanya. Jiwanya seakan berkata, dia telah sampai pada hari kebebasannya.
Kupandang hempasan pepohonan
Yang tersebar di depan mata
Di sana sini tampak kerusakan
Seperti wanita tua yang mulai
Kehilangan rona kecantikannya
Tapi ku dapat melihat
Sisa kecantikan masih tersisa
Deforesasi bagaikan premature aging
Hutan perawan berubah menjadi janda tua renta yang masih menyisakan keelokan tubuhnya
tetapi mulai kehilangan sinar cahaya kemudaannya
Kutiba pada hari kebebasanku
Dimana yang ada hanyalah diriku, jiwa serta hatiku....
Tak ada yang lain.....
Tak ada gundah apalagi nestapa
Yang ada hanyalah bahagia....
Semata....
Mungkin yang dirasakan semua pendaki gunung adalah merasakan kepuasan tersendiri ketika berhasil memanjat dan mencapai puncak.
Seperti itu pula, perasaannya saat ini menggapai sesuatu yang harus
ditebus dengan segala jerih payah juga tekad untuk menggapainya.
Setelah sholat subuh dan merapikan kamarnya. Edelweis keluar kamar menuju dapur. Dia bermaksud membuat nasi goreng dari sisa nasi. Membuat kopi dan teh.
"Kau sudah bangun?"
"Seperti yang kau lihat."
"Ada yang bisa kubantu?"
Edelweis menghentikan kegiatannya dan menatap lurus pada Rajasa.
"Kau banyak berubah."
"Kau juga."
"Masak?"
"Terlihat lebih dewasa."
"Kau juga."
"Kubantu ya?"
"Kau membersihkan rumah saja. Bagaimana?"
"Baiklah!"
Mereka membahas kegiatan mereka hari itu sembari sarapan pagi.
"Selamat datang, Edelweis. Selamat bergabung!"
"Terima kasih, Ryan. Rajasa dan semua yang menjadi bagian dari tim. Dimohon kerja samanya."
"Apa rencanamu hari ini?"
"Mengikuti arahan tim tentu!"
"Baiklah, aku ingin kau mengulas mengenai deforestasi berdasarkan data yang sudah kukumpulkan bersama Rajasa. Bagaimana?"
"Baik!"
"Aku juga ingin mengajakmu melihat wilayah yang sedang kita garap. Aku ingin mengetahui pendapatmu mengenai tingkat kerusakannya."
"Baik."
"Yang lain teruskan pekerjaan seperti biasa. Belum ada tugas baru. Laporan diserahkan pada aku dan Rajasa."
"Rajasa sudah membersihkan rumah, Edelweis juga sudah memasak. Sisanya mencuci piring dan membereskan yang masih berantakan."
Sementara Ryan dan yang lainnya mengerjakan pekerjaan mereka. Edelweis dan Rajasa berbincang mengenai perencaan pekerjaan yang akan mereka lakukan.
"Ada pesanan video dokumentasi deforestasi untuk sekolah dasar, smp dan sma. Bagaimana menurutmu?"
"Untuk anak sd tentu harus lebih banyak visual. Mungkin diselipkan lagu. Anak smp sudah mulai banyak narasi dan sma sudah pasti lebih banyak."
"Aku setuju."
"Kupikir kita juga perlu membuat semacam modul kegiatan untuk mereka? Sehingga kita bisa tau sejauh mana pemahaman mereka?"
"Ya, kau benar."
"Tentu untuk anak sd akan ada lebih banyak foto dan gambar. Pilihan ganda. Sedangkan untuk smp dan sma lebih banyak uraian dan teks."
"Bagaimana pesanan untuk yayasan lingkungan dan pemerintahan?"
"Itu yang sedang dikerjakan sekarang ini. Ryan mengatakan padaku bahwa opinimu kurang tegas tapi kau sudah perbaiki."
"Aku tidak ingin menimbulkan pro dan kontra."
"Hal itu nyaris tidak terhindarkan mengingat emosi sebagian orang memang sengaja mencari hal seperti itu."
"Aku berusaha memberikan pendapat yang bisa menengahi."
"Tapi deforestisasi ini masalah yang sangat serius. Ketika memang ada yang tidak bisa kita toleransi, kau harus mengatakannya dengan tegas dalam tulisanmu sehingga tidak menimbulkan bias apalagi celah."
"Kau tahu kan kebutuhan ekonomi dan pembangunan?"
"Tapi itu tidak bisa jadi alasan mengabaikan lingkungan. Aku dan Ryan sedang meneliti kerugian dan berapa cost yang dihabiskan untuk menebus kerusakan lingkungan. Apa saja kemubaziran yang ada karena eksploittasi tidak selalu sesuai kebutuhan. Pengaturan memang dibutuhkan. Kita tidak bisa menghindar dari itu. Pendidikan harus menghasilkan sesuatu yang memang berguna dan bermanfaat buat semuanya."
"Bagaimana menangani dampak ekonomi dan pembangunan tersebut?"
"Dengan perencanaan yang lebih hati-hati. Mungkin sedikit rumit tetap bisa menjadi solusi bagi semuanya."
"Apakah kalian sudah siap? Kita berangkat sekarang!"
Ryan mengunci pintu rumah dan mereka bersiap untuk memulai aktifitas pekerjaan mereka hari itu.