Rajasa

Rajasa
Competition



Kebencian dan persaingan antara Edelweis dan Nurmala merebak. Saling memperebutkan Ryan.


Nurmala sudah menyusun sebuah rencana jitu. Dia yakin bisa mengalahkan Edelweis dengan telak.


Ryan tidak memiliki pengalaman apa pun dengan wanita. Hal itu menguntungkan Nurmala. Sehingga Ryan tidak akan mampu mengendus akal bulusnya.


Seperti petikan  lirik lagu Barbara Streinsend, Woman in Love.


I am a woman in love


And I do anything


To get you into my world


And hold you within


Its a right I defend


Over and over again


What do I do?


Bedanya, dia tahu apa yang akan dia lakukan. Hanya saja semua berpulang pada nasib baik.


Kelahiran bayinya semakin dekat dan dia menggunakan kehamilannya untuk mengendalikan Ryan.


“Kau bisa kan menemaniku ke dokter.”


“Kau sendiri saja ya? Aku mau menemani Edelweis.”


“Aku bisa melahirkan kapan saja.”


“Apa maksudmu melahirkan kapan saja?”


“Kelahiran bayiku dalam hitungan hari.”


“Baiklah, aku akan menemanimu.”


Ryan membatalkan janjinya dengan Edelweis.


“Kelahiranku semakin dekat sebaiknya kau mengantarkanku pulang dan pergi. Aku bisa....”


“Yeah, kau bisa melahirkan kapan saja.”


Ryan mengantar Nurmala ke rumah sepulang bekerja dan bermaksud ingin berkunjung ke rumah Edelweis.


“Kau ingin kemana?”


“Edelweis.”


“Aku ingin minta tolong bisa?”


“Apa?”


“Punggung dan pinggangku sangat pegal. Tolong pijat aku.”


“Hmm, baiklah.”


Cinta itu bukan untuk diperebutkan. Baik Nurmala mau pun Edelweis memahami hal itu. Tetapi dalam keadaan saling membenci dan takut. Maka persaingan akan muncul.


Edelweis yang melihat Ryan tampak beralih kepada Nurmala juga berpikir keras. Sebagai sesama wanita, memahami persaingan tersembunyi di antara mereka berdua.


Wanita licik! Kau sudah merebut suamiku dan sekarang kau ingin merebut Ryan dariku. Kau gunakan kehamilanmu. Kau tahu kalau Ryan tidak akan tega kepadamu.


Edelweis memutar otaknya untuk membalas perbuatan Nurmala. Bingo!


Seperti biasa menjelang kelahiran Nurmala. Ryan akan meminta ijinnya untuk menemani Nurmala.


“Baiklah. Istrimu memang sepertinya sangat membutuhkan perhatianmu.”


“Yeah, kehamilannya sudah semakin tua. Bisa kapan saja melahirkan. Kuharap kau mengerti.”


“Tentu. Tidak usah khawatirkan aku.”


“Kau baik-baik saja kan?”


“Tentu. Hanya saja tidak seperti biasanya Malika rewel dan kau tahu jika dia sedang tidak bisa diatasi siapa pun.”


“Astaga! Kau bisa keguguran kalau terlalu lelah.”


“Tidak apa-apa. Aku dan Rajasa akan bercerai. Kalau janin yang kukandung gugur, akan lebih baik untuk semuanya.”


Ryan memutuskan untuk membawa Nurmala menemui Edelweis.


“Aku tidak bisa beristirahat di rumah Edelweis.”


“Malika sedang rewel. Aku tidak bisa membiarkan Edelweis kelelahan dan kalau nanti dia keguguran bagaimana?”


“Ada suami dan pengasuh anaknya.”


“Kau tahu mereka kerap tidak bisa melakukan apa pun terhadapnya.”


“Baiklah, aku bersama Ara saja.”


“Kau bisa bersama Ara?”


“Mau bagaimana lagi? Daripada kau memaksaku ke sana."


Permainan tarik menarik antara Edelweis dan Nurmala membuat Ryan terjepit di antara mereka berdua.


Ryan tidak memahami bahwa keduanya sedang berusaha merebut perhatian dan mendominasinya.


Sampai satu ketika Rajasa membocorkannya dan Ryan memahami apa yang sedang terjadi.


“Kau kenapa? Keliatan kusut?” Tanyanya pada Ryan di kantor.


“Nurmala sudah dekat waktunya melahirkan sedangkan Edelweis kerepotan mengatasi Malika. Keduanya sedang hamil dan membutuhkan perhatian. Kapan pun mereka bisa melahirkan jika ada kondisi yang mendorong.”


Rajasa tertawa kecil.


“Kau menertawaiku?”


“Apa maksudmu?”


“Apakah kau sebodoh itu?”


“Apa maksudmu?”


“Mereka saling berebut perhatianmu.”


“Astaga! Tidak mungkin.”


Kontan Rajasa tergelak.


“Mungkin betul keduanya memang sedang membutuhkan bantuan dan perhatianmu. Apalagi kau kan sangat suka memperhatikan istri orang lain." Sahut Rajasa tajam.


Wajah Ryan memerah.


“Kalau kau bisa mengatasi keluargamu mana mungkin aku ikut campur?” Tukas Ryan kesal.


“After all apa urusanmu kalau aku tidak bisa mengatasi keluargaku sekali pun?”


“Malas aku bicara denganmu.”


“Kau kan tinggal bilang bahwa istriku prioritasmu. Dan kau sudah menunggu sekian lama agar kami bercerai.”


Ryan menarik kerah Rajasa.


“Kau sangat menyebalkan.”


Rajasa tertawa.


“Apa kau akan mempoligami mereka berdua? Sepertinya keduanya tidak akan melepaskanmu begitu saja. Dan kau akan terjepit di antara mereka berdua.”


“Apa maksudmu? Aku mengurus pekerjaanku dan mereka berdua seperti saat ini.”


Rajasa menganggukkan kepalanya. Tersenyum jahil.


“Jika kau bercerai dengan Edelweis dan aku sudah menceraikan Nurmala. Dia kan sedang mengandung anakmu. Maka bertanggung jawablah sebagai lelaki.” Ujar Ryan.


“Dia istrimu saat ini. Secara kasat mata. Kau ingin merebut istri orang lain. Menyodorkan istrimu sebagai penggantinya.”


Ryan menonjok wajah Rajasa.


“Kau benar-benar sangat menyebalkan!”


“Kau tidak usah takut. Ketika wanita bersaing dan saling memperebutkan. Artinya mereka akan berusaha saling menyingkirkan satu sama lain. Sampai kau memilih salah satu dari mereka karena tidak tahan berada dalam kondisi tersebut. Jika memang mereka tidak keberatan kau menduakan mereka. Mereka akan saling bantu dan meringankan satu sama lain. Bahkan bersahabat dan bersaudara. Saling menyayangi.”


“Apa maksud perkataanmu?”


“Tebak dan cerna sendiri!”


Ryan memandang wajah Rajasa kesal. Tetapi mulai memikirkan perkataannya.


“Kau sangat tidak berpengalaman dengan wanita. Jangan terlalu naive. Siapa yang kau pilih dari keduanya? Jika mereka bertekad ingin memperebutkanmu.”


“Aku tidak ingin diperebutkan.”


“Kebanyakan lelaki memang menginginkan semuanya. Tetapi jika mereka tidak mau. Tentu kau tidak bisa apa-apa.”


“Tentu saja aku akan memilih Edelweis.” Tukas Ryan.


“Yeah, kita lihat saja nanti.”


“Apa maksudmu?”


“Semua baru dimulai dan belum selesai. Kita lihat saja akhirnya nanti seperti apa.”


“Aku sudah meminta bu Winda mengurus perceraianku dan Edelweis. Dan kau tahu bagaimana portofolionya. Aku juga sudah mengatakan terus terang pada Nurmala.”


“Yeah. Sepertinya kau memang akan mendapatkan keinginanmu. Tapi tetap saja segala sesuatunya kalau belum mencapai finish. Anything can happened.”


“Betul. Tapi sebaiknya kau jangan bermimpi. Aku dan Edelweis sudah memiliki rencana dan bertekad semua akan berakhir seperti yang kami inginkan. Kau sebaiknya menyingkir.”


“Well, we’ll see....”


“Jangan keras kepala! Aku tidak akan mengulangi kebodohanku. Menyerahkannya kepadamu.”


“Memang kau saja yang belajar dari kebodohan? Aku juga tidak akan mengulangi kebodohanku menyakiti hatinya. Aku akan memperlakukannya sebagaimana dia ingin diperlakukan.”


“Baiklah, aku percaya padamu. Tapi sayangnya, dalam mimpi!”


Rajasa mengeraskan rahangnya.


“Kita lihat saja nanti. Takdir akan berpihak pada siapa.”


“Yeah!”


Ryan tercenung memikirkan perkataan Rajasa. Dirinya memang sangat kerepotan menghadapi polah Edelweis dan Nurmala. Dan tidak mengira mereka seperti itu karena memperebutkan cintanya.


Bagaimana aku memahamkan Nurmala kalau aku memilih Edelweis sejak awal. Apakah dia memanfaatkan rasa tidak tega dan kasianku melihat keadaannya saat ini?


Bagaimana aku cara menolak permintaannya untuk memijat punggung dan pinggangnya yang pegal? Bagaimana pun aku seorang lelaki normal. Aku nyaris tidak sanggup menahan diriku melihat tubuh putih mulusnya.


Sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Yes!