
Prahara yang menimpa rumah tangganya membuatnya bingung. Apalagi Ryan dan Roy memberikan masukan yang sangat berbeda.
Ibunya sendiri memberikan pandangan yang sama dengan Roy. Begitu pun dengan kedua adiknya.
“Kita sudah menjadi keluarga. Setiap pernikahan pasti memiliki masalah.” Ujar ibunya yang diamini oleh kedua adiknya, “Tidak ada seorang pun yang bisa menerima Malika dan anak yang sedang kau kandung selain ayah kandungnya sendiri.”
Edelweis termangu mendengar perkataan ibunya. Sepertinya, ibunya salah. Ryan bisa menjadi ayah yang lebih baik dari pada Rajasa. Bahkan Rajasa bisa mengasuh Malika dengan baik karena bantuannya.
Hatinya menjadi bimbang. Perkataan Ryan terngiang di telinganya. Kau ingin berbahagia kembali dan berdamai dengan masa lalumu. Atau bertahan menelan kebencian. Seperti api dalam sekam?
Pilihan yang sangat sulit. Sebagian hatinya menginginkan perceraian tetapi sebagian lagi menginginkan rumah tangga yang dibangunnya bersama Rajasa tetap utuh. How come?
Seandainya, Rajasa tidak pernah mengkhianatinya. Tentu dia tidak akan berada di dalam masalah sepelik ini. Sepolemik ini.
Apakah dia bisa memaafkan pengkhianatan Rajasa dan berdamai dengan hal itu? Atau seperti yang Ryan katakan seperti api dalam sekam. Menyimpan kebencian seperti bom molotov yang bisa meledak kapan pun?
Pengkhianatan adalah menyangkut trust issue. Pondasi dalam rumah tangga yang paling essensial. Apakah dia bisa mempercayai Rajasa lagi? Tidak mencurigainya? Berubah menjadi paranoid dan gila?
Memutuskan menerima Rajasa yang memiliki hobi mengejar gadis-gadis sebelum mereka menikah saja sudah membuatnya ragu. Apalagi ternyata keraguannya terbukti. Apa yang harus dia lakukan?
Edelweis menelpon Ryan.
“Aku sangat bingung. Bisa kah kau kemari?”
“Kau dimana?”
“Rumah.”
“Baiklah!”
Edelweis bergegas membersihkan tubuhnya. Mengenakan pakaian rumahnya. Menguncir rambutnya.
Berjalan menuju dapur dan membuka kulkas yang nyaris melompong. Mengambil beberapa butir telur. Memecahkannya ke dalam mangkuk kaca. Menuangkan susu, gula dan terigu ke dalamnya. Memasukkan sedikit baking soda. Mengocoknya. Membuat adonan yang kental. Mengoles pan datarnya dengan butter. Menuangkan adonan demi adonan di atasnya.
Bel berbunyi. Edelweis berjalan membuka pintu dan mempersilahkan Ryan untuk masuk. Keduanya berjalan menuju dapur.
Edelweis mengangsurkan piring berisi pancake ke arah Ryan.
“Terima kasih.” Ryan mengambil Syrup coklat. Menuangkan ke atasnya bergantian dengan syrup caramel.
Edelweis menuangkan syrup blueberry dan caramel ke atas pancake miliknya.
“Kau baru bangun?” Tanya Ryan sambil menatap ke arah jam dinding. Menunjukkan pukul sebelas pagi, “Baru sarapan?”
“Yeah! Aku tidak bisa tidur.”
“Yeah! Apa yang ada di dalam pikiranmu?”
“Roy memberikan saran yang berbeda denganmu. Keluargaku juga berpendapat sama.”
“Kau sendiri bagaimana? Tidak usah pikirkan saranku atau Roy atau keluargamu.”
“Aku tidak tahu. Semua ada kurang dan lebihnya. Membuatku bingung.”
“Bisakah kau memaafkan Rajasa?”
“Tentu tidak!”
“Apa yang menahanmu mengajukan cerai padanya?”
“Kau tahu pertimbanganku.” Ujar Edelweis memotong pancakenya, menyuapnya dan mengunyahnya perlahan.
“Jika Rajasa mengulanginya lagi. Apa yang akan kau lakukan?”
“Ok! Aku tahu maksudmu! Aku tidak mungkin membiarkan diriku menjadi gila. Aku akan mengajukan cerai.”
“Kau tidak bingung lagi?”
Edelweis menggelengkan kepalanya, “Thanks!”
“Your welcome.”
Memutuskan adalah sesuatu yang sangat sulit. Menetapkan pikiran lebih sulit lagi.
Dengan menguatkan hati. Edelweis mengurus perceraiannya. Aku tidak ingin hidup dalam ketidaktenangan. Mencurigai. Bersikap paranoid. Atau membiarkam diriku dibodohi. Aku akan berada di dalam pusaran emosi.
***
Rajasa menatap wajah Roy dengan resah.
“Dia tetap ingin mengajukan cerai.”
“Hormatilah keputusannya. Dia pasti memiliki alasan.”
“Aku tahu. Tapi segala sesuatu ada konsekuensinya.”
“Dia sudah memikirkannya.”
“Kau tidak sungguh-sungguh menolongku!”
“Kau bicara apa? Tidak ada satu pun yang bisa tahan dengan pengkhianatan. Jika terbalik keadaannya? Apa yang akan kau lakukan?"
“Kau dan Angela bisa bertahan. Kau bisa saja pergi meninggalkannya.”
“Aku memang sudah pergi meninggalkannya.”
“Apa yang menahanmu?”
“Angela tidak ingin melepaskanku.” Roy enggan menceritakan ancaman Angela.
“Mungkin kau bisa mengancamnya dengan hak asuh atau harta gono gini?”
“Apa maksudmu?”
“Dia akan kehilangan semuanya jika bercerai darimu.”
“Memang bisa seperti itu?”
“Aku tidak tahu. Kau akan membuatnya semakin kacau. Dan mungkin kau bisa mengendalikannya."
“Kau berharap dia membatalkan gugatan cerainya. Jika aku ancam seperti itu?”
“Yeah.”
Rajasa menatap Roy dengan wajah termangu.
“Apakah akan berhasil?”
“Aku tidak tahu. Apa kau memiliki cara lain?”
Rajasa menggelengkan kepalanya.
***
“Dia mengancamku akan mengambil hak asuh anak dan tidak memberikan uang sepeser pun jika aku mengajukan cerai.” Sahut Edelweis dengan suara terisak.
“Kau tenanglah! Aku akan ke sana.” Ryan menutup teleponnya dan bergegas menuju kediaman Edelweis.
Edelweis tampak kacau. Matanya sembab. Wajahnya pucat.
“Apa yang harus kulakukan?” Edelweis menyedot ingusnya dengan tissue.
“Berebut hak asuh dan harta gono gini dalam perceraian itu biasa.”
“Apa maksudmu biasa? Bagaimana kalau aku kehilangan semuanya?”
“Apa alasannya dia merebut hak asuh anak darimu?”
“Bagaimana kalau dia menyogok hakim?”
“Bagaimana kalau kau proses saja dulu semuanya? Seharusnya dia tidak bisa mengambil hak asuh anak dari tanganmu. Yang berselingkuh dia bukan kau.”
“Yeah! Kau benar.”
“Aku akan mempublikasikan kalau dia menyogok hakim. Bagaimana?”
“Apa maksudmu mempublikasikan?”
“Aku tidak melihat jalan lain. Agar persidangan bisa berjalan dengan wajar dan adil.”
“Aku akan mengalami banyak tekanan.”
“Kita jalani saja dulu semua apa adanya. Bagaimana?”
Edelweis menganggukkan kepalanya.
Pikirannya kacau. Prahara rumah tangganya menguras seluruh energinya.
Dirinya menyangsikan bisa menang melawan Rajasa. Tetapi dia juga tidak memiliki pilihan lain.
Membayangkan terus berada di dalam pernikahannya yang menyerupai neraka. Membuatnya tidak memiliki pilihan selain mencoba memperjuangkan semuanya. Sebelum menerima apa ketetapan takdir atasnya.
Memfokuskan diri pada hal yang ingin dilakukannya saat ini. Mengurus perceraiannya.
Berdasarkan hukum yang berlaku, anak di bawah umur akan berada di bawah pengasuhan ibunya.
Yang dapat membuat hak asuh anak beralih pada ayahnya. Jika dia menelantarkan anak. Apakah karena kesibukannya. Atau karena prilaku yang tidak baik seperti berzinah, mengkonsumsi narkoba atau minuman keras. Berjudi. Semua tindakan yang tidak bertanggung jawab lainnya dan berpotensi menelantarkan anak.
Masalah nafkah anak. Jika dia tidak berhasil memenangkan gugatan gono gini. Tidak berarti hal itu bisa melepaskan tanggung jawab ayah terhadap anak setelah perceraian berlangsung.
Aku dapat mengajukan agar Rajasa menanggung seluruh biaya pemeliharaan anak berdasarkan pasal 105 KHI.
Masih menurut pasal yang sama, 105 KHI sebab ibu kehilangan hak asuh anak adalah sebagai berikut:
- Seorang ibu berprilaku buruk.
- Seorang ibu yang masuk ke dalam penjara.
- Seorang ibu tidak dapat menjamin kesehatan jasmani dan rohani anaknya.
Hak asuh anak akan beralih kepada ayahnya jika sang ibu memiliki kelakuan yang tidak baik dan tidak cakap untuk menjadi seorang ibu terutama mendidik si anak. Pemberian hak asuh mendasarkan pada kebaikan si anak.
... ...
... ...