
Ada yang berbeda dengan Rajasa semenjak berjauhan dengan Edelweis.
Perasaannya semakin nyata. Kebiasaannya mengejar dan menggoda para gadis pun berubah.
Apakah dia semakin dewasa atau memang sudah menyadari akan kesejatian perasaan cinta?
Dia menangani proyek dokumenternya dengan Ryan secara serius dan fokus.
"Kau dapat salam dari Danum."
"Danum siapa?"
"Kalian berkenalan seminggu yang lalu dan dia mengundangmu ke rumahnya dan kau mengiyakannya."
"Astaga! Maksudku pasti berbasa-basi. Bagaimana mengatakannya supaya tidak salah menangkap? Apakah salah kalau aku mengatakan, terima kasih tawarannya, lain kali saja ya, aku ke rumahmu?"
"Kau banyak berubah! Biasanya kau paling tidak tahan kalau melihat perempuan cantik atau pipi licin?"
"Mungkin aku mengalami semacam alter ego?"
Ryan tergelak.
"Kau sangat suka menertawaiku. Memang apa yang lucu?"
"Tidak ada! Melihatmu menjadi dewasa mungkin jadi terlihat lucu bagiku. Berubah drastis."
"Tidak juga! Kau saja berlebihan."
Rajasa tekun menyunting dokumentasi yang sedang mereka kerjakan.
" Mengapa kau menyukai Edelweis?" Ryan menyodorkan toples kue yang ditolak oleh Rajasa karena sedang kosentrasi mengerjakan pekerjaannya.
"Entahlah! Kau sendiri kenapa menyukainya?"
"Dia baik, ramah dan hangat serta menerima orang lain apa adanya. Tidak sombong. Tidak suka membeda-bedakan orang. True color."
"Sama!"
"Kau hanya bisa meniru!"
"Kenyataannya memang demikian. Apalagi kalau dia mengurusiku. Aku merasa seperti suaminya."
Ryan tergelak.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, dia akan menjadi isteri yang baik."
"Yeah. Aku setuju."
"Sejak bercakap-cakap dengannya ketika makan siang bersama." Ryan memasukkan tangannya ke toples mengambil cemilan ringan tersebut.
"Wow! Kupikir kau sangat sulit jatuh cinta? Belum pernah aku melihatmu menyukai seorang gadispun. Kupikir, maaf, kau homo!" Rajasa tergelak," Aku sempat takut dekat-dekat denganmu!"
"Kupikir juga begitu. Tetapi begitu bertemu dengan Edelweis, terjadi begitu saja."
"Apakah dia tahu kau menyukainya?"
"Tentu tidak. Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman. Menghadapi kau dan Roy saja kemungkinan dia sudah sangat kewalahan."
"Haruskah aku mencemburuimu? Aku tidak ingin bersaing denganmu. Kau terlalu baik. Kau seperti sangat memahaminya."
"Tentu saja. Karena aku sangat mencintainya."
"Eh!"
Ryan tergelak melihat reaksi Rajasa.
"Tenang saja! Aku tidak seperti kalian berdua. Aku tidak mau memaksakan cintaku dan aku percaya bahwa jodoh sudah ada yang mengatur. Kalau dia jodohku pasti Allah akan beri jalan tapi kalau bukan pasti akan diberi ganti yang lebih baik."
Rajasa menepuk-nepuk bahu Ryan. "Kau orang baik!"
"Memangnya kau tidak baik?"
"Maksudku, kau tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dan membuat mereka nyaman terutama wanita yang kau cintai. Aku tidak bisa membayangkan seandainya Edelweis menolakku apakah aku bisa bersikap ksatria seperti dirimu. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangannya bahkan memikirkannya pun aku enggan."
"Kupikir semua orang yang mencintai akan berlaku seperti itu. Aku hanya tidak ingin melihatnya bingung. Wanita itu sangat perasa dan halus perasaannya. Berbeda dengan lelaki yang selalu tahu apa yang mereka inginkan tetapi tidak dengan wanita apalagi jika memanfaatkan kelemahannya tersebut. Aku hanya ingin dia benar-benar mengetahui siapa yang benar-benar dia inginkan dan cintai. Itu saja!"
"Maksudmu, dia mencintai kita bertiga?"
"Tentu tidak! Pasti yang dicinta hanya satu tapi karena wanita makhluk yang mudah menyayangi maka mereka akan cenderung ingin menyenangkan semuanya sedangkan hak itu kan tidak mungkin."
"Mungkin saja kalau ke Tibet. Di sana bisa poliandri. Aku berbagi Edelweis dengan kau dan Roy?"
Tawa mereka meledak.
"Kau tau mengapa wanita sebaiknya dengan orang yang mencintainya daripada dicintai?"
"Benarkah?"
"Jika ada dua pilihan, yang satu dicintai tetapi selalu menyakiti sedangkan yang satu tidak dicintai tetapi tidak pernah menyakiti? Bagi seorang wanita lebih baik memilih orang yang tidak pernah menyakiti karena cinta mereka pasti bisa tumbuh jika memang orang tersebut mencintai tanpa menyakiti. Dan berapa banyak perempuan berpaling dari cintanya karena tidak tahan merasa disakiti?" Mungkin sebelum memiliki rasa cinta mendominasi tetapi ketika sudah bersama maka yang jadi patokan sudah bukan rasa cinta lagi tetapi rasa menghormati, menghargai dan menyayangi akan menentukan apakah cinta akan tumbuh subur atau tandus atau gersang."
"Kau benar. Cinta itu perasaan. Memelihara dan merawat itu pekerjaan sedangkan mempertahankan dan berlaku setia adalah komitmen."
"Itu dia! Cinta adalah tanggung jawab. Konsisten dan konsekuen dengan apa yang kau rasakan."