
Seorang lelaki menyantap burgernya dengan lahap. Matanya terlihat lelah. Seperti kurang tidur.
Jacketnya terlihat kumal. Wajahnya cukup tampan apalagi dengan cambang yang mulai tumbuh memenuhi wajahnya.
Hidupnya tidak menentu. Kesempurnaan fisiknya tidak berjalan sebanding dengan keberuntungannya.
Hidupnya terlihat sangat tidak mudah. Wajahnya menyorotkan kesedihan juga ketidakbahagiaan.
Merogoh sakunya untuk membayar makanannya. Selembar uang kumal diserahkan pada penjual makanan.
Bermaksud membersihkan tubuhnya di toilet umum. Mencuci bajunya menggunakan mesin cuci coin.
Bergegas menuju stasiun mengambil pakaian bersihnya. Bermaksud mencukur bulu-bulu rambut yang mulai memenuhi wajahnya.
Setelah membersihkan tubuhnya. Terasa lebih segar. Bergegas menuju mesin cuci yang menggunakan koin mencuci baju termasuk jacketnya.
Dia tidak mandi serta mencuci baju setiap hari. Menghemat uangnya. Lebih baik digunakan untuk membeli makanan.
Sudah hampir setahun dia hidup luntang lantung. Memutuskan untuk tidak menyewa flat. Tinggal di jalanan.
Matanya memanas. Mengingat sesuatu yang membuatnya bersedih. Menghapus air mata yang mengalir turun begitu saja.
Semua barang-barangnya tersimpan rapi termasuk sebuah surat yang merupakan hal yang sangat berharga dalam hidupnya.
Dia menemukannya secara tidak sengaja. Surat tersebut menyelip di antara buku harian milik seseorang yang sangat dicintainya.
Sudah menjadi kebiasaannya. Membaca buku tersebut secara diam-diam sampai dia menemukan surat tersebut.
Pikirannya melayang. Dia sudah kehilangan saat-saat indah sekaligus menyedihkan dalam hidupnya.
“Sampai kapan kita seperti ini?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau tidak tahu? Kupikir, kita harus mengakhiri semuanya? Kita ada di kutub yang berbeda.”
“Mengapa kau selalu mempermasalahkan hal yang hampir tidak bisa diubah?”
“Kau yang tidak mau mengubahnya.”
Hubungan mereka pasang surut membuat frustasi sampai semuanya menjadi tidak terkendali.
“Untuk apa kau datang lagi?”
“Untuk apa kau menjalin hubungan dengan banyak orang?”
“Banyak orang?”
“Aku tidak bisa mengertimu.”
“Kau pikir aku bisa mengertimu?”
“Apa salahnya kau menambah aku di dalam listmu?”
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin penjelasan tentang semuanya.”
“Aku tidak bisa hidup sepertimu. Aku harus melanjutkan hidupku.”
“Hidup seperti apa?”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang hidup. Untuk apa aku menjelaskan padamu.”
“Setidaknya kau sudah berusaha menjelaskan.”
“Kau pikir full schoolarshipku turun dari langit?”
“Kau menjual dirimu?”
“Menjual adalah istilah yang sangat kasar juga merendahkan.”
“Whatever! Tell me more…”
“Kau pikir pekerjaan bisa datang dengan sendirinya?”
“Omg! Siapa lelaki yang sering menghabiskan waktu denganmu? Sepertinya dia orang baru.”
“Dia memiliki masalah dengan istrinya. Aku memiliki masalah denganmu!”
“Kau benar-benar keterlaluan!”
Hubungan mereka yang seperti benang kusut serta tidak memiliki kepastian. Sekaligus menjadi candu satu sama lain. Toxic but addicted.
“Kau harus pergi dari apartemenku sebelum Jum’at.”
“But, why?”
“Rajasa akan mengunjungiku Jumat malam. Aku tidak ingin kalian baku hantam. Dia akan menghabiskan weekendnya di Australia. Dia akan menjemputku membawaku menginap di apartementnya keesokan harinya."
“Namanya Rajasa?”
“Apa pentingnya mengetahui namanya?”
Tidak bisa digambarkan perasaannya. Harga dirinya jelas sudah tidak ada. Semua harus dijalanin apa adanya.
Bahkan saat dia harus menerima bogem mentah dari pria yang bernama Rajasa.
Pergulatan mereka yang sangat panas terjadi di apartement milik kekasihnya. Jika bisa dia mengatakan demikian.
Dirinya ditarik begitu saja dari sofa tempat mereka sedang bercinta. Tak ayal bogem mentah melayang ke arah wajahnya.
Wajahnya lebam. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Kemarahan jelas tergambar di wajah pria yang sedang menghajarnya.
Lelaki bernama Rajasa tersebut langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Dia tidak mengatakan akan mengunjungiku. Dan ini weekdays.”
Dia mengusap darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Mereka melanjutkan pergulatan panas mereka.
Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dompetnya sudah mulai menipis. Jika dia tidak mendapatkan tambahan uang kemungkinan dia harus menghubungi keluarganya.
Kartu ATM milik kekasihnya sudah hampir kosong. Jumlah uang yang cukup banyak tetapi tetap saja akan terus berkurang saat digunakan tanpa ada tambahan uang mengganti uang yang sudah digunakan.
“Apa maumu?”
Pertengkaran mereka kembali memanas. Semua bayangan berkelebat di kepalanya. Semua sudah tidak ada tetapi dia masih saja bisa mengingatnya. Saat-saat menyakitkan. Saat-saat membahagiakan. Semua teraduk menjadi satu.
“Aku juga tidak tahu!”
“Tidak usah banyak berpikir! Jalani saja semua apa adanya!”
Saat dia memutuskan untuk berhenti menyewa flat. Hidup di jalanan. Jika beruntung mendapatkan pekerjaan yang mengharuskannya menginap. Dia akan memiliki tempat tinggal untuk sementara waktu tanpa harus mengeluarkan uang untuk membayarnya.
Atau jika ada tawaran pekerjaan. Mereka menyediakan mess dan makanan. Seperti mendapat berkah dari langit.
Hidupnya yang nomaden serta berpindah-pindah. Hubungan mereka tetap berjalan. Walaupun putus sambung. Tetapi hubungan beracun tersebut menyerupai candu bagi mereka berdua.
Semua sudah berakhir. Dengan akhir yang mungkin tidak bisa ditebak sebelumnya. Sangat mencengangkan. Sangat mengejutkan. Semua terjadi begitu saja.
Puncaknya menemukan surat yang menjelaskan semuanya.
“Kita benar-benar harus menghentikan hubungan kita selamanya.”
“Aku bosan membahas hal ini.” Ujarnya sebal.
“Aku serius.”
“Apalagi kali ini?”
“Aku hamil.”
“Aku akan menikahimu jika tidak ada yang mau menikahimu.”
“Kau tahu kita tidak bisa menikah.”
“Itu katamu. Kau yang tidak mau menikah denganku.”
“Kehidupan apa yang kau janjikan atau berikan padaku?”
“Aku tahu untuk mengurus diriku sendiri saja aku sudah sangat kerepotan. Tetapi setidaknya aku memiliki niat baik. Kau satu-satunya wanita di dalam hidupku.”
“Aku ingin yang terbaik untuk anak ini. Mengertilah!”
“Memangnya aku akan menyiksa anak itu? Aku akan menyayanginya. Seperti darah dagingku sendiri.”
“Hidup kita berdua sangat kacau. Aku tidak ingin dia mengalami mimpi buruk dalam hidupnya. Aku ingin memberi serta mengenalkannya keindahan dunia.”
“Memangnya apa rencanamu?”
“Aku akan menikah dengan Rajasa.”
“Dia ayah dari anak itu? Pria yang menghajarku. Yang mengganggu pergelutan panas kita?”
“Tutup mulutmu! Jangan mengacaukan segalanya. Lakukan sesuatu untukku. Menjauhlah. Menghilang dari kehidupanku.”
“Memangnya kau bisa hidup tanpa aku?”
Pertengkaran yang berakhir dengan pergumulan yang membuat mereka nyaris kehabisan nafas.
“Aku sedang hamil.”
“Yeah…so what?”
“Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak ini.”
“Setidaknya, dia akan membuat semuanya menjadi lebih mudah bagimu!”
“Kau memang brengsek!”
“Aku tidak ingin mendengar ini!” Dia menyambar pakaian juga mengenakan celananya. Beranjak pergi keluar dari apartement.
Pepatah mengatakan bahwa pantang bagi seorang lelaki untuk menangis. Tetapi apa yang dapat dia lakukan?
Dia hanya manusia biasa. Memiliki perasaan juga akal sehat. Bukan benda mati. Batu maupun dinding.
Batu atau dinding tidak akan merasakan apa pun saat dihantam bulldozer. Tidak akan merasakan kesakitan ketika sesuatu mengenai mereka.
Reruntuhan tidak berarti bahwa mereka merasakan kehancuran maupun kesakitan.
Jiwanya meronta. Hatinya seperti tercabik-cabik. Hidup itu indah bagi pelangi. Juga mereka yang melihat pelangi.
Hidup itu juga indah bagi mereka yang berada di taman bunga. Tapi coba tanyakan pada mereka yang berada di lautan sampah atau genangan lumpur hisap?