
Edelweis memasuki kantor pengacara yang direkomendasikan Ryan. Memutuskan kembali tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Menggugat cerai Rajasa.
Seorang wanita sedang menunduk menulis sesuatu dengan lap top menyala di sebelahnya.
“Ibu Winda?” Tegur Edelweis.
Wanita tersebut mengangkat wajahnya dan tersenyum,”Betul,bu. Silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin mengurus perceraian saya.”
“Apa alasan ibu bercerai?”
“Suami saya berselingkuh dengan sekretarisnya.”
“Apakah ibu memiliki bukti?”
Dengan gemetar, Edelweis menyerahkan handphone milik Rajasa yang berisi bukti perselingkuhan di dalamnya.
“Apa tuntutan ibu di dalam perceraian yang ibu ajukan?”
“Harta gono gini dan hak asuh anak.”
“Baiklah. Coba ibu ceritakan kronologisnya.”
Winda mendengarkan dan menyimak cerita Edelweis.
“Baiklah. Saya akan coba memproses gugatan cerai ibu. Tetapi saya menyarankan sebelum mengajukan gugatan cerai sebaiknya menempuh perdamaian terlebih dahulu.”
“Saya enggan berdamai dengan suami saya.” Sahut Edelweis dengan keras kepala.
“Kita cari tahu dulu apakah perceraian ini memang tidak terhindarkan atau tidak. Banyak kasus perceraian justru berakhir dengan penelantaran anak. Ibu sendiri tidak bekerja bukan?”
Edelweis menganggukkan kepalanya.
“Hal itu juga akan jadi masalah di dalam membesarkan anak.”
“Karena itu saya mengajukan gugatan harta gono gini.”
“Begini bu, hak asuh anak di bawah dua belas tahun memang berada di bawah pengasuhan ibu. Tetapi kalau ada indikasi penelantaran anak atau ada kondisi-kondisi yang meragukan. Maka hak asuh bisa berpindah kepada ayahnya.”
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Kita akan menempuh jalan damai dulu. Bernegosiasi. Apa tuntutan ibu kepada suami ibu? Mediasi adalah langkah yang memang harus diambil sebelum memutuskan bercerai. Kalau masih bisa didamaikan maka hal itu yang akan ditempuh.”
“Anda tidak mengerti. Suami saya berselingkuh.”.
“Saya sepenuhnya mengerti. Penyebab perceraian terbesar adalah perselingkuhan, kdrt dan ekonomi.”
“Jika anda meminta saya menerima perselingkuhan suami saya, anda mimpi!”
“Mediasi ditempuh terlebih dahulu. Apalagi di dalam pernikahan juga ada anak. Gugatan cerai yang diajukan istri harus mendapatkan persetujuan suami atau pengadilan.”
“Suami saya tidak ingin bercerai.”
“Berarti ibu harus mendapatkan persetujuan dari pengadilan. Seperti yang saya katakan. Sebelum bercerai. Akan dimediasi terlebih dahulu. Jika gagal baru proses perceraian diteruskan dan diputuskan pengadilan.”
“Baiklah.”
“Saya akan menghubungi suami atau pengacara suami ibu untuk membahas hal ini.”
“Baiklah. Terima kasih.”
“Saya akan menghubungi ibu kembali. Sementara kita cukupkan pertemuan kita sampai di sini.”
“Baik, bu.”
***
Rajasa menerima gugatan cerai Edelweis melalui pengacaranya. Mereka akan menempuh mediasi sebelum memutuskan proses perceraian diteruskan atau tidak.
“Aku tidak ingin bercerai dari istriku. Aku memikirkan putriku dan juga bayi di dalam kandungan istriku. Menurutku keputusan istriku sangat emosional. Kemungkinan hormonnya sedang tidak stabil karena dia sedang hamil.”
“Apa alasanmu menolak gugatan cerai istrimu?” Tanya pengacaranya di seberang telepon.
“Sedang dalam keadaan hamil. Sehingga dipengaruhi hormon. Istriku tidak bekerja. Walaupun aku mengabulkan permohonan harta gono gininya. Jika dia tidak bekerja dan tidak bisa mengelola uang. Menurutmu apa yang akan terjadi?”
“Aku merasa keputusannya bercerai dipengaruhi pihak lain. Aku ingin kau memeriksa Ryan. Aku juga ingin Roy bersaksi.”
“Baiklah.”
“Aku juga ingin mengangkat tuduhan berselingkuh antara Ryan dengan istriku. Hal ini akan menjadi senjata untuk mengambil alih hak asuh anak dan menolak gugatan harta gono gini. Ryan akan menceraikan istrinya setelah melahirkan. Kau bisa mengcrosscek dengan kesaksian istrinya. Aku ingin dia bersaksi. Kau bisa melihat korelasinya kan? Menceraikan istrinya setelah melahirkan. Kemudian menikahi istriku. Apakah menurutmu mereka pantas mendapatkan hak asuh anak dan harta gono gini.”
“Bagaimana dengan perselingkuhanmu dengan istri Ryan?”
“Hal itu sudah lama berlalu. Aku sudah tidak melakukannya lagi. Justru sekarang istriku dengan Ryan.”
“Baiklah. Aku akan menyusun argumen penolakan gugatan cerai istrimu. Apa yang kau tawarkan untuk mediasi?”
“Membatalkan gugatan cerai yang diajukan istriku tentu. Kalau dia memaksa maka aku akan mempermasalahkan hubungannya dengan Ryan. Keinginan Ryan menceraikan istrinya dan menikahi istriku. Hal itu akan menjadi dasar beralihnya hak asuh atas anak dan pembatalan hak gono gini harta pernikahan. Aku juga ingin kau mempermasalahkan keadaan istriku yang tidak bekerja dan mampu mengelola uang.”
“Kau ingin aku mendiskreditkan istrimu?”
“Yeah. Mempermasalahkan inkompetensinya dalam mengasuh anak dan mengelola uang. Aku ingin kau menyusun argumen agar pengadilan mengerti bahwa jika perceraian ini dilakukan dan hak asuh anak dipaksakan kepada ibunya. Akan terjadi penelantaran anak. Secara pengasuhan dan keuangan. Sehingga hak asuh anak dan pembagian harta gono gini menjadi tidak relevan.”
“Hmm, baiklah.”
“Mengenai perselingkuhanku dengan sekretarisku. Kau bisa meminta kesaksian dari mereka yang bekerja di rumahku bahkan istriku sendiri. Apakah dia menjalankan kewajibannya sebagai istri dalam rentang waktu tersebut?”
“Apa yang hendak kau katakan?”
“Istriku tidak memenuhi kebutuhanku. Aku berselingkuh bukan tanpa alasan. Dia ikut bertanggung jawab terhadap perselingkuhan yang aku lakukan.”
“Kau seperti sedang mencari pembenaran.”
“Itu faktanya. Aku tidak mencari pembenaran. Aku tidak pernah berselingkuh sebelum istriku mengabaikan kebutuhanku.”
“Apa yang hendak kau katakan?”
“Aku ingin dia bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan terhadap rumah tangga kami. Perselingkuhan tersebut sudah berakhir sejak dia kembali menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kau bisa mengcrosscek dengan sekretarisku. Istri Ryan saat ini. Aku ingin kau menyusun argumen. Betapa tidak relevannya. Mengajukan gugatan cerai pada saat perselingkuhan berakhir. Perselingkuhan yang disebabkan kesalahan istriku sendiri. Dan sekarang dia ingin mendapatkan hak asuh dan harta gono gini sekaligus peresmian hubungannya dengan Ryan. Setelah Ryan resmi menceraikan istrinya.”
Pengacaranya menyimak penjelasan Rajasa. Mencatat point-pointnya.
“Kau menginginkan mediasi dan menolak gugatan cerai yang diajukan istrimu padamu?”
“Yeah!”
“Aku akan mengcrosscek semua pernyataanmu kepada mereka yang bekerja di rumahmu, istrimu, Ryan, Roy, ibu mertuamu dan kedua adik iparmu.”
“Jangan lupa istri Ryan. Sekretarisku.”
“Yeah.”
“Aku akan mendiskusikan dengan pengacara istrimu mengenai jadwal mediasi.”
“Kau bisa bertanya mengenai jadwalku pada sekretarisku. Kau atur saja jadwalnya dengan sekretarisku.”
“Yeah! Aku juga akan meminta kesaksian dari saksi ahli mengenai kondisi kejiwaan istrimu.”
“Yeah!”
“Kupikir kondisi kejiwaan, pengabaikannya akan kewajibannya sebagai istri saat perselingkuhan berlangsung dan hubungannya dengan Ryan. Hal itu bisa menjadi argumen untuk menolak gugatan cerainya.”
“Yeah! Kau harus meyakinkan pengadilan bahwa gugatan cerainya tidak berdasar. Bahkan bisa beresiko menimbulkan penelantaran anak. Bahkan bisa menyebabkan kondisi emosi dan kejiwaan istriku menjadi tidak stabil."
“Yeah! Lack of incompetence. Aku membutuhkan detail. Ceritakan padaku secara rinci. Apa yang terjadi ketika perselingkuhan itu terjadi. Saat kau memutuskan menghentikannya. Saat istrimu mengajukan gugatan cerai. Sejak kapan istrimu memiliki hubungan dengan Ryan.”
“Ryan memang selalu mencari celah dan kesempatan di dalam rumah tanggaku. Dia memang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Jika Roy berusaha menghalangi keinginan istriku untuk bercerai sedangkan Ryan sebaliknya. Kau bisa mengcrosscek sendiri pernyataan yang kubuat ke Roy dan Ryan.”
“Yeah!”
... ...