Rajasa

Rajasa
The Battle



Ryan mendengarkan dengan emosi penjelasan Edelweis.


“Pengacaraku mengatakan sebaiknya berdamai. Karena Rajasa terpaksa melakukan poligami tersebut dan pernikahan sirinya sudah berakhir.”


“Aku tidak percaya pengacara yang kurekomendasikan padamu. Bekerja serampangan.” Ujar Ryan kesal.


“Dia juga mengatakan bahwa pengacara Rajasa mempermasalahkan mengenai kepatutan jika kau bercerai kemudian menikahiku?” Sambung Edelweis.


“Apa urusannya? Aku berhak menceraikan dan menikahi siapa pun yang kukehendaki.”


“Aku kurang mengerti masalah ini. Tapi hal itu tidak patut.”


“Lebih baik kau ganti pengacara saja Mengurus perceraian apa susahnya? Suamimu berselingkuh. Kau mengugat cerai. Lalu apa masalahnya? Buat apa mencampuri urusan rumah tanggaku?”


“Akan kupikirkan saranmu. Untuk mengganti pengacara. Aku tidak tahan jika harus meneruskan pernikahan ini.”


***


Hubungan Ryan dan Rajasa menegang. Rajasa tidak mampu mengendalikan emosinya. Mengajak Ryan untuk berbicara berdua.


“Mengapa kau mencampuri urusan Edelweis denganku?” Tanyanya pada Ryan.


“Kau memanipulasi orang lain untuk kepentinganmu sendiri. Aku sudah membantumu mengatasi permasalahanmu. Menikahi mantan istri sirimu karena mengandung benihmu. Edelweis menemukan video perselingkuhan kalian berdua. Dia ingin bercerai darimu. Kau tidak menghormati keinginannya.”


“Keinginan apa? Kau jangan naive. Aku dan Edelweis memiliki tanggung jawab.”


“Aku akan menjadi ayah Malika. Aku bisa menjadi ayah Amelia. Mengapa aku tidak bisa menjadi ayah Malika?”


“Ayah Amelia tidak bertanggung jawab. Tidak mampu bertanggung jawab. Kau tidak bisa menyamaratakan.”


“Ayah Malika mungkin bisa bertanggung jawab secara materi. Tapi bagaimana dengan kebahagiaan immateri? Anak bisa berbahagia kalau ibunya berbahagia?"


Rajasa menarik krah baju Ryan, “Kau jangan ikut campur urusanku. Aku sudah mengatasi semuanya. Kau tahu itu dengan pasti. Kau mau menceraikan istrimu. Bukan urusanku. Tapi jangan memaksa istriku meminta cerai dariku dan menghancurkan rumah tanggaku.”


“Bukan aku yang menghancurkan rumah tanggamu tapi perbuatanmu sendiri.”


“Apa motifmu menolongku? Mengapa kau berbalik menyerangku?”


Ryan mendorong tubuh Rajasa,” Karena aku tidak mempercayaimu. Aku menyesal mau membantumu! Aku ingin memperbaiki semuanya!”


“Jangan bodoh! Kau akan menghancurkan semuanya!”


“Jangan mengancamku!”


“Aku tidak mengancammu! Tapi coba kau pikirkan semua! Jangan mengambil keputusan sendiri! Apa kau sudah mengkonsultasikan semua ke para pengacara?”


“Mereka hanya bekerja untuk kepentinganmu!”


“Bukan kepentinganku! Kepentingan anak-anakku.”


“Aku tidak akan menolongmu lagi. Kau benar-benar keterlaluan. Egois!”


“Sejak kapan kau menolongku? Kau hanya mencari waktu yang tepat untuk menusukku dari belakang.” Gantian Rajasa yang mendorong Ryan.


“Aku hanya memikirkan Edelweis dan anak-anaknya. Kau tidak ada di dalam prioritasku. Jika kau menyakitinya. Tidak becus mengasuh anak-anakmu. Maka kau akan berhadapan denganku!”


“Memangnya kau siapa? KPAI juga bukan! Jangan sok peduli! Sebaliknya, kau sedang menghancurkan rumah tangga dan keluarga orang lain.”


“Aku tidak harus meladenimu! Aku akan melawanmu di pengadilan.”


“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Rajasa.


“Aku akan membongkar siapa ayah biologis dari anak yang dikandung Nurmala.” Ryan tersenyum sinis.


“Kau mau memaksakan pengakuan anak?”


“Aku ingin kebenaran terkuak. Alasan aku menikahi Nurmala adalah untuk menutupi aibmu. Melindungi rumah tanggamu dari kehancuran.”


Rajasa meninju Ryan sampai hidungnya mengucurkan darah. Ryan membalas meninju dagu Rajasa. Memar membayang di dagu Rajasa.


“Apa maumu? Kau ingin memerasku?” Rajasa kembali memukul Ryan.


“Jika aku tidak mengisbat pernikahan tersebut. Tidak mengakuinya maka tidak ada yang bisa memaksaku untuk mengakui anak tersebut sebagai anakku. Walaupun kau melakukan test dna.” Rajasa kembali memukul Ryan, “Jangan macam-macam denganku! Kalau kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu. Dan kupastikan kau tidak akan bisa diterima bekerja dimana pun. Kau dengar aku! Dimana pun!”


Ryan terdiam. Memandang Rajasa dengan wajah marah, “Kau memang brengsek!”


“Kau akan melindungi Edelweis dan Malika dengan apa jika kau tidak memiliki pekerjaan?”


Ryan melayangkan bogem mentahnya sekuat tenaga. Sudut mata Rajasa robek dan mengucurkan darah, , “Kau memang brengsek!” Maki Ryan.


“Kau jangan mengacaukan keadaan! Kita sudah sepakat bahwa kau akan menutupi aibku dan Nurmala. Mengapa sekarang kau berbalik? Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan meyakitinya lagi. Seandainya, dia tidak menemukan video itu. Dia tidak akan pernah tahu mengenai hubunganku dengan Nurmala. Kau tahu persis bahwa semua sudah berakhir. Mengapa harus dipermasalahkan lagi?”


“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak bisa mempercayaimu. Sekali lancung ke ujian. Seumur hidup orang tidak akan percaya!” Seru Ryan.


“Tidak ada gading yang tidak retak. Manusia yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan tetapi mereka yang mau memperbaiki kesalahannya.” Ujar Rajasa.


“Aku tidak akan mengemis pekerjaan padamu! Aku akan mencari jalanku sendiri. Aku akan mengajak Edelweis bekerja menemaniku di hutan. Kau memintanya meninggalkan hutan karena memikirkan Malika. Tapi aku berbeda! Aku bisa menjaga mereka berdua di hutan!”


“Kau....”


“Kau harus tahu bahwa tidak semua bisa kau beli dengan uang!” Ryan meninju perut Rajasa. Hingga Rajasa terhuyung.


“Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan apa pun. Kau merusaknya, bersiaplah untuk membayarnya!” Ryan kembali memukul Rajasa.


“Jika kau mencintai maka kau tidak akan mengkhianati!” Ryan kembali memukul Rajasa.


“Nilai lelaki dari janji dan perkataannya. Jangan menjadi banci!” Seru Ryan.


"Kau melupakan sesuatu!" Ujar Rajasa dengan nada melemah.


"Aku tidak melupakan apa pun!" Tukas Ryan.


"Kau melindungiku dan Nurmala agar Edelweis tidak mengetahui semuanya. Kau sudah sepakat membantuku menutupi semuanya. Edelweis tidak sengaja melihat video itu? Mengapa kau berbalik dan ingin membongkar semuanya?"


Ryan terdiam.


"Kau menyesal membantuku? Kau mencari kesempatan dalam kesempitan? Atau sengaja menggunting di dalam lipatan?" Tukas Rajasa.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak bisa mempercayaimu!" Ujar Ryan.


"Faktanya, aku dan Nurmala memang sudah berakhir. Kau yang sekarang menjadi suaminya. Walaupun kau menceraikannya. Aku tidak akan memungutnya kembali! Semua sudah berakhir. Aku mengatakan sejujurnya bahwa semua terjadi karena istriku tidak bisa memenuhi kebutuhanku!" Seru Rajasa.


"Kau tahu hal itu tidak bisa dijadikan alasan. Apalagi kau tahu, dia tidak bisa menjalankan kewajibannya karena harus mengurus anakmu. Kau mengganjarnya dengan pengkhianatan! Kau manusia atau bukan?" Tukas Ryan.


"Manusia bukanlah malaikat. Manusia juga bukan setan. Manusia melakukan kesalahan. Tetapi mereka juga melakukan perbaikan. Kau berbalik dan akan mengacaukan semuanya!"


Ryan terdiam. Termangu. Menarik nafasnya dan berkata lirih, "Jangan mempersulit! Aku tidak ingin Edelweis semakin sakit jika dia tahu aku membantumu menutupi aibmu dengan Nurmala. Lepaskan dia! Selamanya kau tidak akan mampu membahagiakannya. Dia akan terluka mengingat pengkhianatan yang kau lakukan. Kau berjanji tidak akan mengulangi. Aku yakin sebelum kau menikahinya kau memberikan janji yang sama tetapi ternyata kau mengingkarinya!"


"Jangan pisahkan aku dari istri dan anak-anakku!"


Ryan terdiam. Matanya menatap tajam, "Kita lihat saja nanti!"