
Kelahiran Amanda membawa suasana baru. Amalia, Nurmala, Ryan dan Ara sangat senang menyambut kehadiran Amanda.
“Amanda cantik seperti ibunya.”Puji Ryan tulus yang membuat wajah Nurmala memerah.
“Kedua anakmu menuruni kecantikanmu. Mereka seperti kembar walaupun tidak dilahirkan secara bersamaan. Hanya saja Amanda memiliki kemiripan juga dengan Rajasa. Menuruni mata dan hidung Rajasa. Sisanya menuruni parasmu.”
Ryan menggendong Amanda sambil menciumnya lembut. Amanda baru selesai menyusu pada ibunya.
Seandainya, mereka menikah sungguhan. Mungkin dia tidak usah berpikir panjang untuk menikmati tubuh Nurmala yang kerap menggoda dirinya.
Apalagi sejak melahirkan dan menyusui. Ryan kerap diberikan pemandangan yang membuatnya menjadi panas dingin. Menahan dirinya agar tetap bisa mengontrol seluruh syaraf-syarafnya agar tetap berada di tempatnya masing-masing.
Payudara Nurmala yang putih, bulat dan kenyal. Senantiasa terbuka. Karena bolak balik harus menyusui Amanda. Belum lagi bagian tubuhnya yang kerap terbuka dan tersingkap jika dia tertidur menemani Amanda.
Tubuhnya yang lebih montok setelah melahirkan. Membuatnya mudah berkeringat. Walaupun air conditioner ruangan menyala. Sehingga terpaksa mengenakan pakaian seadanya. Tipis dan cukup pendek. Daster di atas lutut sedikit yang kerap semakin naik begitu Nurmala merebahkan dirinya. Tidak hanya ****** ******** saja yang mengintip tetapi juga paha mulusnya kerap tersingkap.
Ryan juga tidak bisa meninggalkan Nurmala seorang diri. Tidak tega melihatnya mengurus Amanda sendirian. Mereka bergantian menjaga dan mengurus Amanda di saat tengah malam.
Sepulang kerja. Ryan langsung membersihkan diri dan tidur. Setelah segar dia bergantian dengan Nurmala yang sudah seharian penuh mengurus Amanda. Jika Amanda terbangun tengah malam atau dini hari. Selama bukan menyusu. Ryan bisa membantu Nurmala mengurus Amanda. Jika Amanda haus. Ryan membuatkan susu formula untuknya dibandingkan harus membangunkan Nurmala yang sedang tertidur lelap melepas penatnya.
Mereka memang sepakat memberikan ASI dan formula. Terutama saat Nurmala sedang tidak bisa menyusui Talia. Apakah karena sedang istirahat atau mandi atau sholat. Atau sedang keluar rumah.
Mengganti pampers nya yang basah apakah karena pup atau pipis. Atau terbangun karena merasa tidak nyaman. Menepuk-nepuk bokongnya atau mengusap-usap punggungnya atau kepalanya. Membuat Amanda nyaman dan kembali tertidur.
Ryan kembali meneruskan tidurnya setelah Amanda mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Pada saat seperti itu dia dipaksa melihat keadaan Nurmala. Yang sangat menggoda hasratnya. Untuk lelaki normal seperti dirinya. Merupakan hal yang tidak mudah. Mengendalikan diri dan hormonnya agar bisa tetap seimbang. Dan tidak lepas kontrol.
OMG, aku merasa semakin sulit mengendalikan diriku. Masa iddah nya sudah berlalu. Dia juga sudah tidak nifas lagi. Sudah dalam keadaan suci. Aku, suaminya dan dia, istriku. Tapi semua tidak semudah itu. Aku ingin menikahi Edelweis dan melindunginya. Aku ingin hidup bersama wanita lain yang bukan dirinya. Apa yang harus kulakukan? Dirinya membatin frustrasi.
Tubuh Nurmala menggoda hasratnya. Sedangkan cintanya pada Edelweis memaksanya untuk tetap setia. Menjaga cintanya untuknya. Agar mereka bisa bersama selamanya.
Menjadi lelaki sangat tidak mudah terutama ketika hasrat dan cinta tidak berada di tempat yang sama. Hasratnya bersama Nurmala sedangkan cintanya dimiliki Edelweis.
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku hanya manusia biasa. Penuh noda dan dosa. Juga hina.
Aku tidak ingin menyakiti keduanya. Juga tidak bisa meninggalkan keduanya. Apalagi melepaskan keduanya. Tapi aku tidak bisa memiliki keduanya. Atau melepas salah satu dari mereka. Sungguh merupakan dilema....
Aku tidak mungkin berbicara hak. Ketika hak tersebut menyemai luka di hati keduanya. Terutama Edelweis yang tidak akan mungkin mau membagi dirinya bersama Nurmala.
Manusia penuh dengan dilema. Karena kerap logika dan perasaan tarik menarik seperti halnya perlombaan tarik tambang.
Tidak usah memikirkan sesuatu yang justru akan mengganggu pikiran sedangkan yang diputuskannya tetap saja sama. Karena pada akhirnya, semua menimbang pada kondisinya.
“Kau kenapa?” Tanya Nurmala membuyarkan lamunan Ryan.
“Aku melihatmu kelelahan. Tertidur lelap. Seharian mengurus Amanda. Maafkan aku tidak bisa membantu dan menemanimu mengurus Amanda sepanjang hari.”Ryan mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.
“Kau kan mesti bekerja.”
“Aku senang kau bisa mengerti keterbatasan kondisiku.”
“Kau lelaki yang sangat baik, penuh perhatian dan bertanggung jawab. Seandainya, kita bertemu lebih dulu. Sebelum kau mengenal Edelweis.”
Ryan memeluk tubuh Nurmala dengan sangat erat. Bau lavender menguar dari tubuh Nurmala yang harum. Bau parfum kesukaannya, “Itu yang namanya takdir.” Bisiknya lembut di telinga Nurmala.
Air mata Nurmala menetes. Ryan mengusap air bening yang membasahi pipi Nurmala yang halus dan mulus. Baby skin nya membuat kecantikannya semakin memukau. Ryan baru menyadarinya justru di saat mereka akan berpisah.
Kecantikan seorang wanita dewasa yang terjebak dalam performance baby face yang merupakan perpaduan yang sulit ditepis pesonanya.
Edelweis dan Nurmala memiliki kekhasan kecantikan mereka sendiri. Tidak dapat dibandingkan satu sama lain.
Edelweis memiliki kecantikan yang meneduhkan. Wajahnya enak dipandang dan tidak membosankan untuk dilihat.
Tutur katanya yang halus dan sikapnya yang lembut merupakan daya tariknya yang paling kuat. Inner beauty terpancar dari dalam dirinya. Ayu dan elegance. Kecerdasan, kebaikan dan kelembutan yang memancar seperti mata air yang jernih.
Dirinya langsung jatuh cinta pada saat mengenal Edelweis pertama kali. Sikap Edelweis yang ramah, baik dan hangat membuat hatinya menjadi lumer begitu saja. Mereka memulai pertemanan dan persahabatan mereka begitu rupa.
Amanda menggeliat membuyarkan lamunannya. Ryan tersenyum menatap Amanda yang terbangun dan tampak haus. Bergegas membuat susunya. Menuangkan susu yang sudah ada di tempat susu yang tersusun tiga. Kemudian menuang air panas dalam dispenser dalam botol susu. Mengocoknya. Kemudian mencampurnya dengan air normal. Sehingga susunya tidak terlalu panas dan bisa langsung diminum.
Amanda tampak haus. Meminum susunya dengan lahap. Menghabiskannya tanpa sisa. Ryan menggendong dan memeluknya. Kemudian menepuk-nepuk bahunya untuk menghilangkan gumoh.
Ryan meletakkan Amanda disamping ibunya yang sedang tertidur lelap. Buah dada Nurmala yang tampak semakin montok akibat menyusui menyembul diantara kedua bra menyusuinya. Kancing dasternya terbuka begitu saja. Sangat merepotkan bolak balik mengancingkan.
Ryan menelan ludahnya. Mengulurkan tangannya perlahan. Mengelusnya lembut. Dan kemudian menarik tangannya secepat kilat.
Nurmala tampak mengigau dan menggumamkan sesuatu.
Hum...uh...hum...
Menggerakkan tubuhnya. Membuat dasternya semakin tersingkap. ****** ******** tampak menyembul dan mengintip diantara kedua pahanya yang saling membuka.
Jantung Ryan berdebar sangat keras. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Oh Tuhan! Apa yang sedang terjadi padaku?
Sesuatu seperti terasa sangat mendesak dan seperti akan meledak. Celananya mengetat dan mendadak menjadi penuh.
Mengambil nafas panjang. Menutup matanya dan berusaha mengatur nafasnya dengan baik.
“Tarik, tahan dan keluarkan...”