
Wajah Rajasa memucat. Jantungnya berdebar sangat keras. Keringat dingin mengucur dari dahinya.
“Apa maksudmu kau hamil?”
“Hamil. Mengandung apalagi?”
“Darimana kau tahu itu bayiku? Kau juga berhubungan dengan mantanmu.”
“Aku tahu pasti ini benihmu. Jangan lari dari tanggung jawab.”
“Aku dan istriku kembali rujuk. Hubungan kami memasuki fase yang sangat indah. Dia memaafkanku dan memberikanku kesempatan kembali.”
“Kau harus bertanggung jawab!” Teriak Kinanti.
“Kau yang tidak ingin menikah. Sekarang kau hamil. Anak yang kau kandung adalah anak luar nikah. Walaupun kita menikah anak tersebut tidak akan bisa menjadi anak sah.”
“Apa maksudmu? Ini darah dagingmu!”
“Seharusnya kau pikirkan sebelum memutuskan. Kau sendiri yang tidak ingin menikah. Jika kau hamil Maka siapa pun tidak akan bisa menjadi ayah anak yang kau kandung. Selamanya dia anak zina dan hanya memiliki hubungan perdata denganmu.”
“Kau brengsek!”
“Aku akan mengirim sejumlah uang untuk kompensasi.”
“Aku bukan pengemis! Aku bisa memenuhi kebutuhan anakku dari hasil kerjaku. Aku ingin dia memiliki keluarga yang lengkap. Hanya itu yang kuminta.”
“Sayangnya aku tidak dapat memberikannya selain uang. Aku tidak ingin istriku merubah pikirannya. Aku sangat mencintai Edelweis. Hubungan kami selalu up and down. Aku tidak akan membiarkan satu pun menghalangi perdamaian kami berdua.”
“Aku akan membocorkan semua pada istrimu! Biar dia tahu suami macam apa yang dinikahinya.”
“Kau akan menyesal jika melakukannya.”
“Kau mengancamku?”
“Aku tidak bermaksud mengancammu tetapi kau memaksaku untuk menghentikanmu menghancurkan rumah tanggaku!”
“Aku bukan pelakor! Aku tidak pernah merebutmu dari istrimu. Kau sendiri yang mengejar dan menginginkanku!”
“Rumah tanggaku dalam masalah. Istriku menjauhiku. Hampir menikah dengan sahabatku. Kau hanya pelampiasan hawa nafsu dan frustasiku!”
“Aku tidak percaya! Kau yang memintaku menikahimu!”
“Aku tidak ingin berzina. Bukan berarti aku ingin terikat bersamamu selamanya.”
“Aku tidak mau mendengar omong kosongmu! Jika kau tidak segera kemari dan menikahiku. Kau lihat saja apa yang akan kulakukan!”
“Jangan berani mengancamku atau kau akan menyesal!”
“We’ll see!” Ujar Kinanti dengan nada marah sembari menutup teleponnya.
Rajasa menutup gadgetnya. Berjalan memasuki rumah.
“Ada apa? Kau dan Roy memiliki masalah?”
“Bukan apa-apa. Dia menawari bisnis tetapi aku masih ragu.”
“Tidak usah terlalu hitung-hitungan dengan sahabat sendiri. Roy tidak mungkin mengkhianati kepercayaanmu. Seharusnya kau membantunya.”
Rajasa mengecup dahi Edelweis mesra.
“Kau tenang saja ya? Sepertinya aku harus ke Australia dalam waktu dekat. Ada sesuatu yang sangat penting harus kulakukan.”
“Aku ikut boleh ya?” Sahut Edelweis dengan nada manja,”bulan madu.”
Rajasa memeluk Edelweis mesra. Menciumi dahi dan kedua matanya.
“Sejujurnya, aku sangat ingin mengajakmu. Mengulangi bulan madu kita. Tetapi perutmu semakin besar. Aku tidak ingin sesuatu menimpa jagoan kecilku.” Rajasa mengulum bibir istrinya. Memagut dan ********** membuat keduanya terengah.
Tiba-tiba Edelweis mengaduh.
“Kau kenapa?”
“Perutku. Sepertinya dedek menendang perutku.”
Rajasa mengusap lembut perut istrinya yang semakin membuncit.
“Dia semakin besar dan aktif. Sabar ya, sayang…”
Edelweis menganggukkan kepalanya. Sambil mengusap perutnya berusaha menenangkan si jabang bayi yang bergerak aktif.
“Kapan kau akan ke Australia?”
“Secepatnya. Ada urusan yang harus kuselesaikan.”
“Benarkah?” Tanya Rajasa tertawa melihat wajah Edelweis yang memerah.
“Kau melahirkan masih beberapa bulan lagi.”
“Tetap saja. Kalau ada kau. Aku merasa lebih nyaman dan terlindungi.”
“Bilang saja kau merindukanku.” Ujar Rajasa kembali tertawa.
“Pokoknya aku ingin kau secepatnya kembali.”
“Iya. Aku juga tidak ingin pergi kalau urusannya tidak mendesak. Aku melakukan kecerobohan. Aku harus mengatasi semuanya. Sehingga tidak menimbulkan masalah.”
“Mengapa kau sangat gegabah?”
“Konsentrasiku terpecah. Rumah tangga kita dilanda prahara. Kau akan menikah dengan Ryan apa pilihanku?”
Edelweis memeluk Rajasa dengan erat.
“Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuat kekacauan di dalam pernikahan kita. Hatiku sangat sakit saat menemukan videomu dengan Nurmala.”
“Kau tidak menangkapku basah tetapi melihat video dimana hal itu sudah berlalu. Hal itu sangat tidak adil untukku.”
“Apa maksudmu menangkapku basah dan menemukan videomu. Apa bedanya?”
“Kau tidak akan marah mendengarkan penjelasanku?”
“Kau berselingkuh. Seumur hidup aku tidak akan mampu melupakan walaupun aku mau.”
“Aku tahu, aku sudah menyakiti hatimu dengan sangat dalam. Aku tidak akan membela diriku. Tetapi aku juga ingin kau belajar dewasa. Melihat masalah ini secara keseluruhan. Atau kita tidak akan menemukan jalan keluar dari masalah kita. Atau kita akan memutuskan sesuatu yang akan kita sesali.”
“Apa maksudmu? Kau tidak sedang membrainwash aku kan?”
“Apa gunanya aku membrainwashmu?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir. Aku terlalu takut kau mengulangi lagi. Menyakitiku kembali.”
“Jika kau menangkapku basah. Artinya saat itu aku memang sedang menduakanmu. Tapi ketika hal itu terjadi di bawah tekanan kondisi. Bagaimana halnya orang yang mencuri karena lapar?”
“Aku tidak ingin kau mengulanginya lagi. Hanya itu.”
“Itu yang ingin kukatakan. Jika kau terus saja menjadikan video tersebut sebagai rujukan.” Rajasa menghela nafasnya,” Kau akan melihat bahwa aku terus saja melakukan perselingkuhan.
Rajasa menggenggam tangan Edelweis dan mengusapnya lembut, “walaupun kenyataannya aku sudah tidak melakukannya lagi.” Rajasa meletakkan tangan istrinya di pipinya, “ ingin memperbaiki. Menata pernikahan dan keluarga kita lebih baik lagi.”
Rajasa menatap wajah Edelweis, “jika kau tidak melihat persoalan secara proposional maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berbahagia kembali.”
Rajasa menurunkan tangan Edelweis dari pipinya, “Malika dan bayi yang kau kandung akan kehilangan kita berdua.” Menarik nafasnya dan melanjutkan perkataannya, “aku dan kau akan memiliki kehidupan masing-masing. Tentu berbeda jika kita menjadi keluarga yang utuh.”
“Jangan sakiti aku lagi.” Air mata Edelweis mengalir dari kedua belah pipinya.
“Tidak ada manusia yang sempurna. Manusia yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan. Melainkan mereka yang mau memperbaiki kesalahannya.” Ujar Rajasa.
“Jika aku sudah berhenti menyakitimu dan berusaha memperbaiki. Tetapi kau masih merasa tersakiti. Apa yang bisa kulakukan? Tuhan saja tidak bisa mengubah takdir yang sudah terjadi. Apalagi manusia? Kita bisa mengubah yang belum terjadi. Sedangkan yang sudah terlanjur terjadi? Memaafkan, berusaha melupakan serta berdamai dengan kenyataan. Tidak ada cara lain.”
“Kapan kau akan ke Australia?”
“Secepatnya. Mengapa?”
“Bawa boneka koala dan kangguru buat Malika. Coklat Haigh’s.”
“Hanya itu?”
“Yeah.”
“Baiklah. Kau tidak ingin buku tentang suku Aborigin?”
“Yeah, I would love too …”
“Yeah, aku juga akan membawa boomerang, madu manuka dan kacang
Macamadia.”
“Aku ingin kau tidak menyalahgunakan kepercayaanku.” Ujar Edelweis tegas.
“Tidak akan selama kau juga tetap menggunakan akal sehatmu serta bersikap bijaksana juga adil.”