
Hubungan Edelweis dengan Rajasa membaik. Edelweis akhirnya luluh melihat kesungguhan suaminya memperbaiki keretakan rumah tangga mereka berdua.
Apalagi jauh di dasar hatinya. Dia memang sangat mencintai suaminya. Hanya saja sifat suaminya yang kurang dapat dipercaya dalam hal wanita. Membuatnya kerap marah apalagi setelah terbukti tidak setia kepada rumah tangga mereka.
Setelah perang dingin di antara mereka hubungan suami istri di antara mereka kembali mencair dan menghangat kembali.
Rajasa tidak perlu memaksa atau merengek untuk meminta haknya kepada Edelweis.
Luluhnya hati serta perasaan Edelweis membuatnya kembali melayani suaminya dengan sepenuh hati.
“Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat. Kau tidak akan mengulanginya lagi.”
“You have my words.” Sahut Rajasa, “aku sudah mengatakannya padamu. Aku didesak keadaan. Bukan sengaja mengkhianatimu. Kumohon padamu. Penuhi kewajibanmu sebagai istri apapun yang terjadi di antara kita.”
“Kehamilanku semakin besar. Bagaimana kalau terulang lagi seperti saat Malika?”
“Kita sudah tahu solusinya. Kita harus cari baby sitter untuk membantumu mengurus bayi kita. Daripada rumah tangga kita kembali terkena prahara. Aku bukan malaikat. Aku juga memiliki kebutuhan. Kumohon kau bisa dan mau mengerti.”
Rajasa merasa sangat bahagia karena rumah tangganya kembali utuh. Sangat bersyukur Nurmala dan Ryan menjadi suami istri yang sesungguhnya.
Dia dan Ryan sama-sama akan memiliki anak lelaki. Kemungkinan besar anak-anak mereka akan bersahabat seperti halnya mereka berdua.
Hubungan Edelweis dan Rajasa menjadi lebih manis serta mesra lebih daripada sebelumnya.
Rajasa kerap memberikannya surprise. Seperti pagi ini, Edelweis dikejutkan dengan sarapan pagi yang dibuat sendiri oleh Rajasa. Diantar ke tempat tidur.
“Selamat pagi, sayang…” Sapa Rajasa mesra sambil mengecup mesra dahi istrinya.
Edelweis membuka matanya. Mengembangkan senyumnya.
“Apa ini?”
“Sarapan pagimu. Toast with butter and garlic. Sausages. Scrambled eggs.”
“Hmm, yummy…” Edelweis meneguk jus jeruknya. Turun dari tempat tidur mencuci kedua tangannya serta membasuh wajahnya.
Menaiki tempat tidurnya. Memulai sarapan paginya. Memegang toast dengan tangan kanannya. Mengigitnya serta mengunyahnya. Kemudian menusuk sausages dengan garpu. Dicocol dengan mayonnaise dan saus sambal.
Menyendokkan scrambled eegsnya dengan garpu. Rasa butter dan garlic yang menyatu pada toast.
“Kau tidak makan?”
“Aku mau mandi dulu. Setelah kau selesai sarapan dan mandi. Aku ingin kau menemaniku sarapan. Setelah itu kita ke kamar. Aku ingin memberikan hadiah kejutan padamu.”
“Apa itu?”
“Bukan kejutan kalau kukatakan sekarang.”
“Baiklah.”
“Kau sudah jarang ke Australia? Sepertinya tidak pernah lagi.”
“Buat apa aku ke Australia?” Tanya Rajasa menyibak rambut Edelweis.
“Mana aku tahu? Kau kan yang sering mondar mandir Indonesia -Australia.”
“Saat itu aku bermaksud pindah ke sana. Tidak tahan melihatmu dan Ryan merencanakan masa depan kalian.”
“Kalau sekarang?”
“Ryan tidak jadi bercerai dengan Nurmala. Bahkan mereka akan memiliki bayi lelaki seperti kita.” Sahut Rajasa sambil mengusap lembut perut buncit istrinya, “aku merasa memiliki kesempatan kedua. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Percayalah padaku. Aku hampir kehilanganmu, Malika dan jagoanku yang berada di dalam perutmu.”
Mata Rajasa mengaca, “Kau tidak tahu rasanya seperti apa.”
Edelweis memeluk suaminya. Mengecup pipi Rajasa.
“Maafkan aku. Tidak bermaksud membuatmu bersedih apalagi memisahkanmu dari Malika dan janin yang sedang kukandung. Pahami berapa sakit hati dan kecewanya aku dikhianati olehmu.”
Rajasa mencerukkan wajahnya ke leher istrinya.
“Aku mengerti. Aku sudah melukai dan membuatmu marah juga kecewa.”
“Kita tidak usah bahas hal yang menyakitkan tersebut. Nokhtah hitam dalam pernikahan kita. Semoga tidak terulang lagi.”
“Selesaikan sarapanmu. Aku juga ingin sarapan tapi mandi dulu biar segar.”
“Baiklah.” Edelweis melanjutkan sarapannya. Sementara Rajasa menyambar handuknya. Bergegas menuju kamar mandi.
Edelweis meneruskan sarapannya sambil menunggu Rajasa selesai mandi. Kehamilannya yang mulai membesar memang seringkali membuatnya mudah lapar.
Selesai Rajasa membersihkan dirinya. Gantian Edelweis menuju kamar mandi. Membilas serta membersihkan tubuhnya.
Mereka berdua turun ke bawah menuju dapur. Rajasa duduk di peninsula.
“Kau mau makan apa?”
“Nasi goreng telur mata sapi setengah matang pakai sosis dan bakso.”
“Baiklah. Tunggu sebentar, tuan …” Edelweis mencium pucuk hidung suaminya mesra.
Membuka kulkas mengambil nasi dari rice cooker yang dilengkapi warmer. Mengeluarkan bumbu nasi goreng dari laci tempat bumbu. Mengambil bawang merah dan putih kupas juga lada. Diblender. Menambahkan garam dan kaldu jamur.
Menumis bumbu hingga harum. Menambahkan irisan bawang merah untuk menambah harum. Memasukkan telur yang sudah dikocok lepas, sosis dan bakso yang sudah dipotong-potong. Kemudian menambahkan nasi yang sudah dicampur rata dengan kecap. Menambahkan bumbu nasi goreng sebagai sentuhan akhir.
“Ini tuan ganteng, nasi gorengnya…”Sahut Edelweis tersenyum lebar.
“Terima kasih istri cantikku.” Ujar Rajasa sembari mengelus perut Edelweis.
“Kau tidak ikut makan?”
“Masih kenyang.”
“Kapan jadwalmu kontrol?”
“Dua hari lagi.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Kau tidak lelah?”
“Lelahku hilang begitu bertemu denganmu dan jagoan yang ada di dalam perut mamanya.”
“Apakah kau mencintai kami semua sebesar itu?”
Rajasa menggelengkan kepalanya. Menjawab, “ Lebih besar lagi…”
Edelweis memeluk suaminya. Mencium leher suaminya. Berbisik lirih, “Maafkan aku, membuatmu sedih dan bingung karena sikap kekanak-kanakkanku.”
“Kau tidak salah. Aku yang brengsek. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Manusia yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi mereka yang mau memperbaiki kesalahannya.” Ujar Edelweis dengan bijak.
“Terima kasih, sayang. Atas pengertianmu. Kau tidak hanya cantik diluar tetapi juga di dalam.”
Wajah Edelweis memerah.
“Aku tidak berbohong.”
“Beautiful liers.” Ujar Edelweis.
“Beautiful you…” Sahut Rajasa.
Edelweis benar-benar merasa wajahnya semerah tomat. Apalagi dengan aliran darah yang menghangat mengaliri kedua pipinya.
Edelweis membuka kulkas menuangkan jus apel ke dalam gelas. Meletakkannya di samping Rajasa.
“Minum dulu, supaya tidak seret.” Ujar Edelweis sembari menyodorkan gelas berisi jus.
Rajasa mengambil gelas. Meminumnya hingga setengah gelas.
“Segar sekali.”Ujar Rajasa.
“Yeah.” Sahut Edelweis,”jus apel memang paling enak diminum dingin.”
Edelweis membuka kulkas. Mengupas buah pepaya dan melon. Memotongnya dengan ukuran satu suapan mulut. Meletakkan garpu di atas piring yang berisi potongan buah.
Menuangkan kuah fla.di atas potongan buah tersebut. Serta mengiris satu potong puding coklat dan vanilla. Dipotong kotak-kotak kecil. Dicampurkan dengan potongan buah tersebut.
“Pencuci mulutmu.” Ujar Edelweis menaruh piring berisi potongan buah dan puding yang disiram fla di atasnya.
“Kau harus membantuku menghabiskannya. Buah dan agar bagus buat pencernaan ibu hamil. Seringkali sembelit selama rentang masa kehamilan.” Ujar Rajasa yang diikuti dengan anggukan kepala Edelweis tanda setuju.
Edelweis menyediakan dua sendok dan garpu. Agar mereka bisa menikmati pencuci mulut mereka berdua.
Saat mereka menikmati pencuci mulut. Handphone Rajasa berbunyi.
“Aku ke kolam renang sebentar. Menerima telpon dari Roy.”
Edelweis menganggukkan kepalanya. Sesampainya di kolam renang.
“Ada apa kau menghubungiku?”
“Kau tidak pernah menyambangiku lagi. Mengapa kau tidak pernah mengunjungiku lagi di Australia.”
“Hubungan kita tanpa status. Bisa berakhir kapan saja. Kau sendiri yang ingin kita tidak menikah.”
“Ada yang ingin aku sampaikan.”
“Apa itu?”
“Aku hamil.”