Rajasa

Rajasa
Konspirasi



Clara menatap nyalang pada Samuel. Menampar pipi pria itu kuat-kuat.


"Mengapa kau telanjangi dia? Banjingan tengik! Kau mencari kesempatan dalam kesempitan?"


"Aku heran pada kalian berdua."


"Apa maksudmu?"


"Angelina menelponku. Dia meminta semua foto dan video yang aku ambil diberikan padanya. Kalau editan, dia tidak akan membayarku sepeserpun."


"Angelina menelponmu?"


"Siapa yang membayar semuanya?"


"Tentu, Angelina!"


"Kau menyuruhku mengedit sedangkan Angelina minta yang asli. Siapa yang harus kupatuhi?"


"Dia gadis baik-baik."


"Aku tau tapi aku membutuhkan uangku. Kau tidak usah khawatir. Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Aku hanya menginginkan uangku dibayar."


"Angelina sangat membencinya!"


"Gadis menyedihkan itu menjadi tumbal kemarahan Angelina. Mengapa dia begitu membenci gadis itu."


"Mantan suaminya tidak mau kembali kepadanya."


"Mantan suaminya menyukai gadis menyedihkan itu?"


"Itulah faktanya!"


"Aku tidak akan melewatkan Angelina untuk gadis semacam itu."


"Apakah Angelina mencurigaiku?"


"Aku tidak tau. Dia hanya mengatakan bahwa jika foto dan video yang kuberikan hasil editan, dia tidak akan membayar sepeserpun."


"Apakah dia memberontak?"


"Aku memukulnya dengan benda tumpul sampai pingsan kemudian kusuntikkan obat tidur dan penenang supaya dia tenang dan tidak mengganggu pekerjaanku."


"Aku kasihan sebenarnya kepadanya. Tapi apa dayaku? Angelina, sahabatku. Dia sudah seperti saudara bagiku."


"Aku tidak ingin ikut campur masalah kalian. Aku hanya ingin uangku."


"Maaf, aku sudah menamparmu."


"Tidak apa-apa. Wajar kau salah paham. Aku sendiri merasa bersalah melakukannya. Dia seperti gadis bodoh yang lugu. Bukan orang jahat. Menyedihkan dan menyebalkan mungkin iya tapi dia tidak jahat."


"Angelina tidak bisa kunasehati. Aku bisa apa? Rasa sakit hatinya begitu besar. Sebelum terbalaskan semua rasa dendamnya dia tidak akan berhenti."


Angelina merasa bebannya berkurang separuh melihat kepergian Edelweis. Hatinya merasa puas.


Rencana selanjutnya, bagaimana dia dapat membuat Roy kembali ke pelukannya?


Dia melihat keseharian Roy yang sibuk bekerja mengurus usahanya.


Semenjak kepergian Edelweis. Roy banyak menghabiskan waktunya seorang diri. Tidak mendekati wanita manapun.


Mengapa Edelweis bisa merubahnya seperti itu? Setaunya, Roy tidak bisa hidup tanpa mengejar wanita atau menghabiskan waktu bersama wanita. Apakah sekedar makan bersama atau mengobrol.


Angelina memutuskan menelpon Roy.


"Halo, siapa ini?"


"Aku, Angelina! Makan siang, yuk!"


"Terima kasih atas tawaranmu tapi aku tidak bisa."


"Mengapa?"


"Aku sibuk."


"Kau masih marah padaku?"


"Kau menghancurkan karir Edelweis, Rajasa dan aku. Apa yang kau harapkan?"


"Karirku merosot! Aku tidak punya pilihan lain. Kontrak yang dijanjikan padaku tiga kali lipat."


"Kau hedon dan matrelistis!"


"Kau sendiri banyak berubah setelah mengenal Edelweis."


"Jangan berani kau sebut namanya!"


"Sesakral itu?"


"Ah! Kau tidak tahu kelakuan gadismu dibelakangmu."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada!"


"Apakah kau dalang dari video dan foto-foto itu?"


"Apa kau tau sesuatu?"


"Kau yang tidak mau makan siang denganku."


"Baiklah! Jam berapa?"


" Dua belas di tempat biasa."


"Baiklah!"


Mereka bertemu di tempat yang dijanjikan. Roy terlihat lebih matang dan dewasa. Jantung Angelina berdesir.


Mereka baru berpisah belum sampai sebulan tapi banyak perubahan yang terjadi pada Roy.


"Apakah kau sudah lama menunggumu?"


"Aku baru tiba."


"Kau ingin pesan apa?"


"Sama saja denganmu."


"Aku pesankan menu favoritemu, ya?"


"Terserah."


"Mengapa kau begitu membenciku?"


"Kau berselingkuh dariku, meminta cerai padaku, menghancurkan karirku, Edelweis dan Rajasa. Belum cukup daftar dosa dan kejahatanmu?" Roy memandang Angela dengan wajah muak.


"Aku cemburu pada Edelweis!"


"Apa hubungannya dia dengan perselingkuhanmu? Dia tidak pernah berusaha merebutku darimu walaupun jika dia mau, dia mampu melakukannya."


"Kau berubah semenjak mengenalnya."


"Berubah baik. Aku lebih menghargai kebenaran apa adanya dan setia pada apa yang kuyakini. Katakan saja, apa yang kau ketahui tentang Edelweis?"


"Ah! Kau sangat tidak sabar. Kau harus paham setiap wanita sama saja."


"Itu bukan urusanmu! Katakan saja!"


"Kau sangat tidak sabar."


"Apa yang kau ketahui tentang Edelweis?"


Angelina menyerahkan sejumlah foto.


"Kau dapat darimana?"


"Tidak perlu tau sumbernya. Aku menyelamatkannya untukmu dan Edelweis." Bual Angelina.


"Kau ingin aku berterima kasih padamu?"


"Kau dan Rajasa bersaing untuk mendapatkannya bukan? Kau bisa gunakan ini untuk memenangkan Edelweis."


"Aku tidak bisa!"


"Mengapa?"


"Edelweis mencintainya."


"Edelweis jatuh cinta pada Rajasa?"


"Itu yang dia katakan padaku."


"Kau patah hati?"


"Bukan urusanmu!"


"Biar aku yang melakukan untukmu."


"Aku tidak segan meninjumu walaupun kau seorang wanita kalau berani melakukannya."


"Aku tidak percaya kau melepasnya begitu saja."


"Apa maumu?"


"Kita rujuk!"


"Kau selalu seenaknya. Kau pikir hatiku bisa seenaknya kau permainkan?"


"Kau selalu kembali padaku. Kenapa kali ini tidak?"


"Karena aku sudah muak padamu!"


Roy bangkit dari kursinya.


"Kau mau kemana?"


"Aku sudah kenyang! Silahkan nikmati makan siangmu sendiri. Kalau kau berani menyebarluaskan foto atau video atau apapun tentang Edelweis, aku tidak segan membunuhmu! Kau dengar itu!"


Roy berjalan meninggalkan Angelina seorang diri.