
Semenjak kepergian Edelweis, ada yang hilang mengisi harinya. Roy masih setia mengunjungi tempat-tempat yang kerap dikunjunginya bersama Edelweis.
Hatinya gundah karena tidak bisa mengetahui siapa yang membuat foto-foto tersebut.
Dia enggan bertanya pada Angela. Tidak ingin berhubungan dengan Angela walaupun hanya sekedar bertemu muka.
Angela, obsesi a life timenya tapi sering berlaku seenaknya. Puncaknya, berselingkuh, menghancurkan karirnya, Rajasa dan Edelweis serta meminta cerai darinya. Dia tidak tahu, dari sudut pandang mana dia masih bisa mempertahankan Angela?"
Apakah Angela semakin cantik? Tentu saja! Tapi tidak hanya cantik apalagi kalau sudah sering menyakitinya seperti itu.
Seringkali dia merasa, Angela seperti memegang bulu kuduknya. Seperti tengkuk kucing yang dipegang kuduknya membuatnya kerap tidak berdaya. Sehingga kalau tidak perlu, tidak ingin dia berurusan dengan Angela."
Tidak tahu dimana salahnya. Mungkin mata, hati dan jiwanya, pertama kali bertemu dengan Angela seolah seluruh dirinya tertarik oleh magnet yang sangat kuat.
Angela masih sangat lugu, polos dan juga cantik. Membuatnya sangat terpesona. Dia tidak dapat melupakan bagaimana dia jatuh cinta dan terobsesi dengannya.
Angela juga sangat baik dan setia kawan. Berwajah bidadari, berhati malaikat dan memiliki sifat selembut sutra.
Tidak tau apa yang merubahnya dan kapan dia mulai berubah. Tapi yang pasti, Roy tidak dapat melepaskan diri dari Angela, selalu setia menunggunya.
Apakah kekasihnya yang pertama mulai merubahnya atau setelahnya?
Dia sendiri sibuk mengejar wanita-wanita yang sudah matang dan tidak menyukai perawan karena mereka begitu pemalu dan sangat kaku. Tidak asik diajak mengobrol, jalan atau menghabiskan waktu. Sangat membosankan. Bercerita seputar diri mereka sendiri dan bagaimana para pria menyukai dan mengejar mereka.
Sedangkan dia menyukai topik yang menarik dan smart jokes. Deep talk. Edelweis pengecualian.
Apakah dia merindukan Edelweis?
Sangat. Apakah dia jatuh cinta padanya? Kemungkinan besar iya.
Apakah dia patah hati karena Edelweis memberikan hatinya pada Rajasa? Sejujurnya, dia tidak tahu.
Kehadiran Edelweis dapat mengalihkannya dari obsesinya terhadap Angela.
Edelweis sebagaimana namanya, lambang keabadian. Jika Angela berubah maka Edelweis tidak.
Seringkali pikirannya melayang. Sedang apa Edelweis, Ryan dan Rajasa. Seandainya dia tidak memiliki bisnis yang harus diurus tentu dia ingin bergabung bersama mereka akan lebih menyenangkan.
Dia memilih menekuni bisnisnya. No woman no cry.
Menghabiskan waktu seorang diri dengan melakukan aktifitas yang disukainya dan menjadi mood booster.
Merambah bisnisnya. Dengan ketekunannya dia bisa menambah outlet hampir setiap bulannya.
Dengan kesibukannya tersebut waktunya habis untuk bekerja dan me time.
Dia sudah menyiapkan oleh-oleh untuk para sahabatnya. Menghadiahkan Ryan dan Rajasa kaus sablon buatannya.
Untuk Edelweis dia membawakan seperangkat alat sholat dan sajadah.
Angela terus menelponnya memintanya agar mau meluangkan waktu dengannya. Hatinya dongkol.
Dengan malas dia meraih gadgetnya.
"Ada apa sih, Angela?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Mengapa kau menolakku?"
"Kau itu wanita. Tahu malulah sedikit. Mengejar-ngejar lelaki. Aku sudah berulang kali bilang, aku tidak minat denganmu. Ilfeel!"
"Kau jangan seperti itu, dong!"
"Kau kenapa sangat suka memaksa?"
"Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya padaku. Kembalilah, padaku!"
"Tidak mau! Aku sudah muak denganmu!"
"Aku akan menebus kesalahanku."
"Benarkah?"
"Benar, aku berjanji!"
"Pegang kata-katamu!"
"Baik!"
"Dengar aku!"
"Apa sayang?"
"Jangan memanggilku, sayang! Aku bukan kekasihmu atau siapapun."
"Baiklah."
"Dengarkan aku! Jangan kau hubungi aku lagi. Mengerti!"
Roy menutup gadgetnya dengan gusar.