
Nurmala sudah seperti candu bagi Rajasa tapi dia berusaha melepaskan diri.
Mereka sepakat untuk mengakhiri hubungan mereka. Mempertimbangkan perasaan Edelweis. Belum taruhan rumah tangganya yang akan hancur seketika.
Bagaimana pun dia tidak ingin rumah tangganya hancur. Walaupun poligami adalah haknya. Dia juga bisa berlaku adil tapi tidak menjamin bahwa Edelweis mau menerima dan tidak minta cerai darinya.
Perasaan perempuan jika sudah tersakiti. Mereka bisa meninggalkan apa pun termasuk orang yang paling mereka sayang dan cintai.
Perempuan adalah makhluk yang unik mereka bisa menerima keadaan apa pun kecuali jika disakiti perasaannya dan dikasari.
Pengkhianatan adalah penyebab hancur dan kandasnya mahligai pernikahan.
Melepaskan Nurmala adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Nafsu adalah candu sedangkan perasaan adalah ikatan yang terjalin antara suami isteri.
Seorang suami yang tidak setia bukan berarti berhenti mencintai istrinya. Justru perasaan cintanya semakin besar. Karena diwarnai rasa bersalah.
Rajasa tidak ingin hubungannya terendus Ryan dan Edelweis. Seolah memberikan Ryan kesempatan bersama Edelweis setelah mereka berdua bercerai.
Ryan adalah sosok yang didamba Edelweis. Sosok suami yang ideal dan bisa membuatnya nyaman serta tenang.
Tidak ada pengkhianatan karena sepertinya Ryan hanya mencintai Edelweis. Walaupun dia tidak pernah mengatakannya tetapi bisa dirasakan betapa besar perhatian dan cintanya kepada istrinya.
Entahlah, apakah dia cemburu atau memang demikian adanya?
Wanita sendiri makhluk yang sulit dimengerti dan sedikit rumit jika sudah menyangkut perasaan nyaman dan tenang.
Semua wanita yang tersakiti lebih memilih bercerai daripada mengerti hak suaminya untuk berpoligami.
Kebanyakan dari mereka tidak menikah lagi. Entah karena trauma atau memang tidak bisa menemukan sosok yang bisa menyamai mantan suami mereka.
Sebagian lagi, menikah lagi dengan orang yang mencintai, memahami serta menerima mereka dengan baik. Orang itu adalah Ryan.
Rajasa menyangsikan Edelweis hidup menjanda setelah bercerai darinya. Kemungkinan, dia memberikan serta membuka jalan bagi Ryan dan Edelweis untuk hidup bersama.
Rajasa juga sangat menikmati perannya sebagai ayah. Malika anak yang sangat menggemaskan dan membuat kangen.
Melihat Malika sangat menurut pada pengasuh, ibunya dan juga Ryan membuatnya takjub.
Satu sisi, Malika akan menolak apa pun yang tidak dia setujui. Tetapi ketika sisi penurutnya muncul membuatnya kagum.
"Mengapa dia sangat sulit menurut padaku?" Sahut Rajasa gemas.
"Karena kau enggan menurutinya. Kau ingin dia selalu menurutimu."
"Aku tidak mengerti."
"Apa yang kau kehendaki dari Malika saat ini?"
Rajasa melihat jam menunjukkan pukul empat sore, "Mandi."
"Bagaimana kau memintanya mandi?"
Rajasa menatap Malika," Ayo kita mandi!"
Malika termangu melihat wajah ayahnya. Tidak mengerti. Rajasa membawanya ke dalam kamar mandi dan terdengar tangisan dan penolakan Malika.
"Dia menolak mandi!" Ujar Rajasa.
"Kau mendiktenya. Malika tidak suka didikte. Kau lupa sifat siapa yang dia turunkan?" Sahut Ryan tertawa geli.
"Tidak mungkin sifatmu. Kalau sampai anakku menuruni sifatmu. Aku akan mencurigai istriku berselingkuh denganmu."
Ryan tergelak, "Tentu saja sifatmu! Malika sangat mirip denganmu. Kau sangat tidak masuk akal. Jika aku memang ingin menikah dengan istrimu. Mengapa harus berselingkuh? Kenapa tidak kutikung saja? Halal toyiban paling kau aja yang jadi sakit hati dan sawan."
"Tidak lucu!"
"Memang tidak. Yang lucu itu kau!" Ryan kembali tertawa,"Berikan padaku."
Rajasa menyerahkan Malika ke dalam gendongan Ryan.
Ryan mengajak Malika bercanda dan mengobrol.
Mendekatkan Malika pada mainan-mainan yang suka digunakannya ketika mandi.
Malika berusaha meraih mainan bebek. Ryan membantunya mengambilkannya. Dia juga menginginkan bola-bola kecil.
Ryan mengambilkan bola-bola kecil dan menaruhnya di bak mandi. Mengisi bak mandinya dengan air hangat.
Memasang pelampung pada kanan kiri tangan Malika, "Apakah kau mau masuk ke bak?"
Malika menggoyang- goyangkan kakinya. Menunjukkan tidak sabar ingin memasuki bak mandinya.
Ryan meletakkan Malika di dalam bak mandinya. Malika tampak senang bermain dengan mainan bebek dan bola-bola yang ada di bak mandi.
Dengan santai, Ryan menuangkan sabun cair ke tangannya. Menyabuni Malika yang sedang asyik bermain.
"Hmm, so tricky!" Ujar Rajasa.
Ryan tergelak, "Bukan tricky. But make her happy and the rest is very easy!"
Edelweis menuju kamar mandi Malika, dengan tangan penuh tepung, berkata pada keduanya," Kalian ingin pie buah atau ayam?"
"Buah!"
"Ayam!"
Sahut keduanya nyaris bersamaan.
"Yang mana?" Tanya Edelweis.
"Ayam!"
"Buah!"
"Kubuat dua-duanya saja!" Sahut Edelweis.
"Kenapa masih kau tanyakan? Kalau kau ingin membuat keduanya?" Ujar Rajasa gusar.
"Kau suka ayam atau buah?" Tanya Ryan pada Rajasa.
"Ayam."
"Buat saja pie ayam. Aku suka keduanya." Sahut Ryan.
"Baiklah!" Edelweis membalikkan badannya. Berlalu menuju dapur.
"Kau bisa memperlakukan anak dan istriku dengan baik." Ada nada cemburu dan tidak suka dibalik nada Rajasa.
"Buat apa cemburu? Aku dan istrimu tidak ada apa-apa. Lebih baik kau belajar mengenal karakter putrimu dengan lebih baik. Emosinya bisa lebih nyaman dan positif. Tumbuh kembangnya juga bisa lebih baik dan sehat."
Rajasa memperhatikan Ryan memperlakukan putrinya, "Kau membuatnya sangat nyaman."
"Kau juga bisa. Asal mau menurunkan egomu dan mau mengerti. Jangan memaksakan kehendakmu. Hal itu akan membuatnya marah juga takut. Dia juga nanti akan menjadi anak yang tidak percaya diri, penakut dan pemarah."
"Sepertinya kau cocok menjadi psikolog anak."
"Setiap orang bisa menjadi psikolog anak asalkan mereka mau memperhatikan kebutuhan anak-anak mereka. Tumbuh kembangnya. Sama saja setiap orang bisa menjadi dokter asalkan mereka juga memiliki perhatian dalam masalah ini. Tentu saja untuk hal-hal yang sifatnya umum bukan terlalu detail atau spesifik."
"Seharusnya kau menemui kami lebih cepat." Ujar Rajasa. Dirinya menyesali pengkhianatannya dengan Nurmala.
"Aku tidak ingin berhenti dari pekerjaanku. Kau tau bagaimana aku sangat mencintai pekerjaanku. Tapi aku tidak tahan tekanannya."
"Yeah! Berikan Malika padaku setelah kau selesai memandikannya. Aku ingin mengenakan pakaiannya."
"Ketika kau memakaikannya pakaian. Ajak dia mengobrol dan becanda. Selama tidak menimbulkan bahaya, jika kau bisa mengikuti keinginannya. Ikuti saja. Tidak usah takut kau bersikap memanjakannya. Jika keinginannya baik dan tidak berbahaya. Misal dia ingin warna kuning sedangkan kau ingin pink. Untuk apa dia mengikutimu? Yang mau pakai baju kan dia? Kecuali kalau dia menginginkan sesuatu yang berbahaya seperti ingin lompat dari atas tangga, meminum sabun cair dan hal berbahaya lain. Tentu kau harus melarangnya dan biasakan dengan cara yang nyaman. Jangan memaksakan egomu padanya apalagi kalau tidak ada urgensinya. Biarkan anakmu bebas bergerak dan memilih jika tidak ada hal yang berbahaya atau buruk menimpanya."
"Baiklah!" Ujar Rajasa mengambil Malika dari gendongan Ryan.
Rajasa membungkus putrinya dengan handuk, "Kau ingin pakai baju apa, sayang?" Tanya Rajasa, menoleh kepada Ryan, "Sudah benar caranya?"
"Sempurna!" Ryan membulatkan jempol dan telunjuknya sambil tersenyum lebar.