Rajasa

Rajasa
Family



Menikah dengan Ryan. Membuat Nurmala dan Amalia memiliki keluarga baru yang utuh.


Ryan sangat memperhatikan mereka berdua. Ara dianggapnya seperti adiknya sendiri.


Sikapnya yang hangat, perhatian, penyayang dan baik hati. Membuat suasana seisi rumah berubah drastis.


Amalia sangat menyukai ayah barunya. Dirinya segera beralih dari Ara begitu ayahnya tiba atau sedang berada di rumah.


Ryan sendiri tidak pernah merasa keberatan. Karena dirinya memang sangat menyukai dan menyayangi anak-anak.


"Jangan terlalu dekat pada Amalia." Nurmala mengingatkan, "Aku tidak ingin dia kehilanganmu saat kita nanti berpisah."


"Kau tenang saja! Selama kita berhubungan baik. Semua akan baik-baik saja."


"Kau tidak mengenal Amalia. Apa kau lupa ketika dia berebut boneka dengan Malika?"


"Jangan terlalu serius! Semua anak-anak begitu saat mereka menginginkan sesuatu."


"Aku tidak ingin dia kecewa dan terluka. Aku belum pernah melihat Amalia menyukai seseorang seperti dia menyukaimu. Bahkan ayah kandungnya sendiri tidak bisa dekat dengannya. Dia tidak suka dan betah di dekat ayahnya sendiri. Lihatlah, bagaimana kalian berdua? Seperti ayah dan anak." Tukas Nurmala yang sangat mengkhawatirkan anaknya.


"Malika sendiri juga tidak dekat dengan ayahnya sebelumnya. Banyak yang seperti itu. Kasih sayang itu tidak selalu satu paket dengan hubungan darah. Harus diusahakan. Mungkin ayahnya tidak pernah benar-benar mencoba dekat dengan anaknya."


Ryan menikmati peran barunya. Sifatnya yang memang mudah menyayangi sesama. Membuatnya mudah menjalani apapun yang sifatnya berbagi kasih sayang, perhatian juga empati.


Dia menganggap Nurmala dan Ara seperti adiknya sendiri. Amalia sudah seperti anaknya sendiri. 


Nurmala merasa kehadiran Ryan sangat berbeda. Dalam kehidupannya dan Amalia. Tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus. Tidak dari mantan suaminya mau pun Rajasa.


Pernikahannya dengan mantan suaminya. Merupakan keputusan yang sangat emosional. Cinta buta.


Usianya masih sangat muda. Dimabuk cinta. Tidak mengerti jika cinta tidak sekedar berbicara perasaan dan nafsu. Tetapi juga tanggung jawab, kesetiaan juga ketulusan.


Pernikahannya berakhir dengan kecewa. Karena selain tidak bertanggung jawab, dominan, posesif juga tidak setia.


Pil pahit dalam hidupnya mengenal cinta. Perasaan sejuta warna yang berakhir dengan racun berbisa yang sangat mematikan.


Cinta tidak lagi indah seperti pelangi di langit biru. Melainkan seperti ular aneka warna yang bisa mengigit setiap saat.


Trauma dan terluka sudah pasti. Patah hati tak perlu ditanyakan lagi. Jika tidak ada Amalia. Hidupnya akan semakin hancur dan berakhir dengan tragedi.


Pernikahan kedua dilangsungkan secara siri. Lagi-lagi dia mengalami rasa kecewa. Hanya dimanfaatkan sebatas tubuhnya saja. 


Tidak ada keinginan untuk merusak rumah tangga orang lain. Dia sendiri menyadari hubungannya dengan Rajasa berlandaskan azas saling memanfaatkan satu sama lain.


Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya. Dia berharap Rajasa bisa menyayanginya dan juga mencintainya. Walaupun pernikahan mereka hanyalah bayangan dari pernikahan yang sesungguhnya.


Sebagai wanita, sangat sulit menepis perasaan yang mulai tumbuh. Kekecewaan kembali mendera dirinya. Rajasa tidak mau mengakui anaknya sama sekali. Dan yang paling menyakitkan. Memintanya mengugurkan buah hati mereka berdua.


Bagi Rajasa, anak tersebut hanyalah pelampiasan nafsu tanpa melibatkan cinta apalagi kasih sayang.


Tetapi bagi dirinya. Sebagai seorang ibu, semua anak yang lahir dan tumbuh dalam rahimnya adalah sama.


Rajasa meminta sahabatnya untuk menikahinya. Menutupi aib dan juga agar tidak terendus istrinya.


Dia terlihat sangat mencintai istrinya. Setiap kali mereka bertemu. Yang dibicarakan hanya istrinya. 


Seistimewa apakah Edelweis? Sampai Rajasa dan Ryan sangat menjaga dan melindunginya dari rasa sakit?


Cemburu dan iri kerap membayangi hati dan pikiran Nurmala. Betapa tidak adilnya dunia memperlakukan kami berdua. Satu dipenuhi dengan cinta, perlindungan serta kasih sayang sedangkan yang lainnya manipulasi, kebohongan dan tipuan.


Melihat kebaikan dan ketulusan Ryan. Seperti oase di padang pasir. Ryan tidak pernah bersikap kasar apalagi kejam kepadanya. Menghormati juga menyayanginya tentu dalam konteks pertemanan, persahabatan dan persaudaraan. Tidak mengambil keuntungan sedikit pun. 


Kau pria yang sangat baik. Kau bisa saja merendahkan, menghina, berlaku kejam maupun memanfaatkanku untuk kepentinganmu. Tetapi kau tidak pernah atau berpikir untuk melakukannya.


Aku berharap kita bertemu lebih awal. Mungkin semuanya akan berbeda. Seandainya, aku hanya menemukan satu lelaki dalam hidupku. Dan itu kau. Tentu aku tidak akan mengalami kekecewaan dan kesakitan seperti yang kualami.


Aku tahu hatimu hanya milik Edelweis. Aku tak akan mampu menyainginya. Tetapi seandainya, kau mau menjadikan aku pengganti dirinya. Walaupun hati dan jiwamu sepenuhnya miliknya, aku rela. Karena aku tahu, walaupun cintamu bukan untukku. Kau akan tetap bersikap tulus, baik, setia dan bertanggung jawab padaku.


Kau tahu batas mencintai dan berlaku setia. Kau juga tau batas menyayangi dan menyakiti. Kau juga mengerti arti menghargai dan menghormati serta berempati. Aku merasa nyaman bersamamu. Karena kau merupakan sosok ayah dan saudara yang baik. Kita tidak bisa berbicara apalagi mengangankan cinta. Tetapi kemanusiaan adalah bukti kesetiaan seorang manusia terhadap fitrah dan nuraninya.


Cinta bukan sebatas aksara. Tetapi memiliki makna dan juga kata kerja. Hanya mereka yang berjiwa ksatria dan mulia. Yang mampu memaknainya.


Ketika seorang lelaki yang bertaqwa menikahimu. Jika dia mencintai maka dia akan menyayangimu. Dan jika dia tidak mencintaimu maka dia akan menghormatimu. 


Jika bukan karena Edelweis. Apakah pernikahan ini akan berakhir?


"Kau melamun!" Tegur Ryan.


Nurmala tersentak kaget. Pikirannya melayang kemana-mana. Dirinya dipenuhi aneka emosi, perasaan dan takut.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Ini untukmu." Ryan mengangsurkan sebuah bingkisan yang dibungkus kertas kado yang sangat bagus.


Amelia memegangi kaki ayahnya. Menggelayut manja.


"Apa ini?"


"Kau buka saja."


Nurmala membuka bingkisan tersebut. Sebuah kotak. Didalamnya terdapat sebuah dompet yang sangat bagus dan sebuah gantungan kunci untuk kendaraan.


"Dompetmu sudah lusuh. Sudah waktunya diganti. Kunci mobil dan stnk sebaiknya kau masukkan ke dalam gantungan kunci. Jadi satu."


Air mata Nurmala meleleh.


"Kenapa kau menangis?"


Nurmala menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa. Mengapa kau begitu baik padaku?"


"Aku tidak ada maksud apa pun. Kulihat dompetmu sudah lusuh. Kunci dan stnk mobilmu tidak kau masukkan ke dalam gantungan kunci. Kalau kau tidak menyukai hadiahku. Aku meminta maaf."


"Aku suka hadiahmu. Hanya saja mengapa kau berlaku begitu baik padaku dan Amalia? Aku tidak ingin ketika nanti kita berpisah semua terasa sulit."


"Kau sedang hamil. Sehingga mudah terbawa perasaan. Kau sendiri kerap menyiapkan aku makan dan memperhatikan semua kebutuhanku. Kupikir hadiah kecil tidak akan bisa membayar perhatian dan kebaikanmu."


"Aku melakukannya karena memang sudah kewajibanku."


"Aku juga sama. Kewajiban moral. Jadi tidak usah dibahas apalagi dibesarkan. Ok?"


Nurmala menganggukkan kepalanya.