Rajasa

Rajasa
Resah



Perceraian mereka semakin dekat. Nurmala dilanda rasa gelisah.


Dirinya dikuasai api cemburu dan cinta. Melihat bagaimana Ryan kerap memperhatikan Edelweis membuatnya gila.


"Mengapa kau yang harus menemaninya? Ada suaminya?"


"Rajasa sedang keluar negeri. Edelweis sedang hamil muda."


"Malika kan punya pengasuh?"


"Tidak tahu apa yang terjadi dengan Malika. Mengetahui ibunya mengandung adiknya. Pengasuhnya kewalahan. Karena Malika seperti mencemburui jabang bayi yang ada di dalam perut Edelweis."


"Tapi tetap saja mereka bukan urusanmu." Ujar Nurmala dengan nada cemburu.


"Kau kenapa sih?" Ryan membelai bahu dan perut Nurmala. Membuatnya ingin menangis. Airmatanya mengalir begitu saja.


"Hormonmu lagi gak stabil ya?" Ryan memeluk Nurmala. Menepuk-nepuk bahunya lembut, "Sebentar lagi kau akan melahirkan. Jangan banyak pikiran apalagi bersedih."


Tangis Nurmala semakin pecah. Baju Ryan basah dengan air matanya.


"Maafkan aku ya? Tidak bisa menemanimu hari ini. Edelweis kewalahan menghadapi Malika. Walaupun ada pengasuh. Aku khawatir dia keguguran. Kalau tidak dibantu."


Nurmala menganggukkan kepalanya. Hatinya masih diliputi kecemburuan. Tapi sepertinya keputusan Ryan tidak bisa diganggu gugat.


Hari itu pertama kalinya, Nurmala pulang sendiri. Karena Ryan langsung menuju rumah Edelweis sepulang bekerja.


Nurmala menangis sesegukan dalam grab car yang dipesannya. Dia merasa begitu nelangsa.


Dadanya terasa panas. Bagaimana pun dia adalah seorang istri. Ryan adalah suaminya.


Pernikahan mereka semakin lama tidak seperti sandiwara. Terutama baginya. Semua perhatian Ryan adalah nyata.


Ryan masih enggan menyentuhnya. Selain berkeyakinan bahwa masa iddahnya setelah melahirkan. Ryan tidak ingin memanfaatkannya untuk kepentingannya.


Mereka mulai sering bersitegang mengenai hal ini.


"Kau itu laki-laki normal atau bukan?" Ujar Nurmala kesal.


"Tentu normal!"


"Aku istrimu."


"Aku tidak menikahimu secara sungguh-sungguh! Kau kan tau semua kamuflase."


"Maksudmu pernikahan kita tidak sah?"


"Aku tidak tahu. Masa iddahmu kan belum habis."


"Tapi rukun nikah kita sah kan?" Nurmala melupakan harga dirinya sebagai wanita. Dia seorang istri. Memiliki hak dan kewajiban terhadap suaminya. Begitu juga sebaliknya.


Ryan adalah seorang pria yang baik. Suami yang sempurna. Dia tidak ingin melepaskannya. Dia akan memperjuangkan pernikahan mereka untuk kebahagiaan mereka semua.


"Kupikir sah. Tapi aku tidak bisa menyentuhmu kalau massa iddahmu belum berakhir."


"Kita menikah sudah lebih dari empat bulan."


"Kau hamil. Massa iddahmu setelah melahirkan."


"Kau akan menjalankan kewajibanmu sebagai suami. Setelah aku melahirkan?"


"Aku tidak tahu. Jangan mendesakku."


"Aku tidak bermaksud mendesakmu. Tapi kita sudah menikah. Memiliki hak dan kewajiban satu sama lain."


"Aku akan menceraikanmu setelah kau melahirkan. Aku tidak ingin memanfaatkanmu untuk kepentinganku. Aku menghormati dan menghargaimu sebagai wanita. Mengertilah. Jangan merendahkan dirimu sendiri."


"Semenjak aku menjadi istri siri pak Rajasa. Aku sudah tidak memiliki harga diri. Aku merasa kau menyelamatkan harga diriku sebagai wanita. Hidup menjanda sangat tidak mudah. Mengertilah!" Nurmala menundukkan wajahnya dalam-dalam. 


Dia nyaris menelan kembali semua kata-katanya. Tetapi dia yakin bahwa Ryan adalah lelaki dan suami yang baik. 


Yang bisa melindunginya, Amalia dan juga bayi di dalam perutnya.


"Tapi aku mencintai wanita lain. Itu tidak akan adil untukmu."


"Tidak semua cinta itu bisa memiliki. Kau tidak mungkin bisa menikahi Edelweis. Kau tahu itu. Mengapa kau menyiksa dirimu sendiri? Kau berlaku baik padaku. Sudah cukup bagiku."


Ryan memandang Nurmala dengan gamang. Tidak terbersit dalam pikirannya. Menikahi Nurmala dalam arti sebenarnya. Dia hanya membantu mengatasi dilema yang ada. Itu pun dia lakukan demi melindungi Edelweis. 


Dia tidak ingin Edelweis sakit hati. Bersedih. Hatinya pasti terluka. Perasaannya tersayat mengetahui ketidaksetiaan suaminya.


"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu. Maafkan aku."


Nurmala memandang Ryan dengan wajah kesal, " Aku hanya menuntut hakku sebagai istri."


"Tidak usah kau ulang terus. Aku juga sudah tau. Tapi bagaimana pun. Aku istrimu. Orang yang paling berhak atasmu."


"Yeah! Tapi kita juga sudah sepakat akan bercerai saat kau melahirkan. Pernikahan ini bukan sesungguhnya. Aku hanya membantu kau dan Rajasa mengatasi masalah kalian."


"Aku merasa perhatianmu. Bukan sandiwara. Aku tahu kau tidak mencintaiku. Hanya ada Edelweis di hatimu. Aku sudah dua kali menikah.  Cinta bukan segalanya. Bahkan kerap membawa luka. Kebaikan dan ketulusan yang menjadi pondasi dalam berumah tangga."


"Aku…."


"Aku ingin kau memikirkan semua ucapanku. Aku, Amalia dan bayi yang kukandung membutuhkanmu. Untuk menjaga dan melindungi kami semua."


Hatinya tidak bisa tenang. Membayangkan perhatian yang dicurahkan Ryan kepada Edelweis.


Kurasa, Edelweis berlaku culas. Mencari alasan agar bisa berdekatan dengan Ryan. Apa yang harus kulakukan? 


Ryan yang bergegas menuju rumah Edelweis sepulang kerja. Disambut Malika yang sangat senang melihat kehadirannya.


Malika menghambur ke arahnya. Meninggalkan ibunya. Tengah mengelus perutnya. Sedikit nyeri karena Malika menduduki perutnya.


"Om!" Teriak Malika dengan nada melengking. Mereka saling melempar tawa.


Malika melingkarkan tangannya di leher Ryan. Ketika Ryan menggendongnya.


"Jangan ganggu ibumu! Ada adik di dalam perut ibumu."


"Aku tidak mengganggu. Aku mengajak mama bermain."


"Ibumu tidak bisa terlalu lelah. Apa kau mau kehilangan adikmu?"


Malika menggelengkan kepalanya. Tetapi tetap saja dia tidak memahami maksud perkataannya sendiri.


"Main sama om aja ya?"


Malika menganggukkan kepalanya.


"Save by the bell!" Sahut Edelweis dengan gembira, "Terlambat lima menit, aku sudah berada di ugd."


Mereka tergelak.


"Aku berusaha secepat kilat sampai sini. Berapa lama Rajasa pergi?"


"Satu minggu. Kau kan sekantor dengannya?"


"Aku jarang bertemu dengannya di kantor. Apalagi semenjak menikah semakin jarang."


"Yeah, kau sekarang memiliki keluarga yang harus diperhatikan. Bagaimana rasanya menikah?"


"Happy lah!"


"Aku senang mendengarnya. Aku yakin kau suami yang baik dan sempurna. Anak sambungmu menyukai dan menyayangimu."


"Aku menyukai anak-anak. Kupikir mereka juga menyukaiku."


"Istrimu tidak marah kan kau ke sini membantuku mengurus Malika?"


"Tentu tidak. Kau kan sudah mengenal Nurmala."


"Yeah! Istrimu seorang wanita yang baik dan cekatan dalam bekerja. Rajasa sangat terkesan dengannya. Kau jangan cemburu ya? Tidak ada apa-apa di antara mereka."


Ryan menatap wajah Edelweis lama.


"Kau kenapa? Kau membuatku jengah."


"Aku hanya ingin tahu. Seberapa besar rasa cinta dan percayamu pada Rajasa?"


"Aku sangat mencintai dan mempercayai suamiku."


"Aku tidak bisa membayangkan jika Rajasa mengkhianatimu. Apakah kau akan memaafkannya?"


"Memaafkan satu keharusan. Apalagi kami memiliki Malika. Tapi mungkin aku tidak akan bisa bersama lagi dengannya."


"Mengapa?"


"Aku tidak ingin memaksa seseorang yang tidak mencintai dan menghargaiku untuk tetap bersamaku. Aku tidak ingin hidup dalam kepura-puraan. Aku dan Rajasa masih bisa menjadi saudara atau sahabat atau teman."


"Jika dia menyesal dan ingin memperbaiki?"


"Aku tidak pernah mempercayai orang yang mengkhianati janji yang mereka buat sendiri. Bagiku semua sudah berakhir. Tidak akan ada yang kedua. Jika mencintai yang pertama."


"Jangan terlalu keras pada dirimu. Manusia bukan malaikat. Siapa pun bisa melakukan kesalahan. Terpenting mereka mau memperbaikinya dan tidak mengulanginya lagi."


"Aku akan memaafkan semua kesalahan kecuali pengkhianatan."