Rajasa

Rajasa
Pursuit



Rajasa meratapi nasibnya di penjara. Belum ada hal yang bisa meringankan apalagi melepaskan dirinya dari tuntutan hukum pembunuhan yang ditujukan padanya.


“Kau menyewa pembunuh untuk membunuhnya.” Ujar Edelweis saat mengunjungi suaminya.


“Dia ingin menghancurkan rumah tangga kita.” Sahut Rajasa, “aku tidak memiliki pilihan lain.”


“Bukan dia yang menghancurkan rumah tangga kita. Tapi ketidaksetiaanmu. Jangan mengkambinghitamkan orang lain.” Tukas Edelweis tegas.


“Kau tidak tahu tekanan yang sedang kuhadapi.  Kau mengabaikanku. Aku memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.”


“Kau egois. Hanya memikirkan tekanan yang kau hadapi. Bagaimana denganku? Aku juga memiliki kebutuhan yang harus kupenuhi. Tetapi aku bisa menahan serta mengalah. Demi Malika.”


“Seharusnya kau bisa mengatur waktumu atau meminta bantuan agar bisa membagi perhatianmu dengan lebih proposional. Sehingga kau bisa memperhatikan serta memenuhi kebutuhanku juga. Aku memerlukanmu juga. Sama seperti Malika.”


“Baiklah. Itu salahku. Tidak memperhatikan kebutuhanmu. Terlalu fokus pada Malika. Tapi mengapa kau mengganjarku dengan pengkhianatan? Kesalahanku terlalu fokus pada Malika tetapi kau mengganjarku dengan pengkhianatan?”


“Aku bukan mengganjarmu dengan pengkhianatan. Bahasamu memojokkanku. Aku memiliki kebutuhan. Aku memanfaatkan keadaan Nurmala untuk kepentinganku. Tidak terbersit dalam pikiranku. Mengganjarmu dengan pengkhianatan. Aku tahu kau sudah sangat bersusah payah untuk anak kita. Aku tahu seharusnya aku menahan diri dan bersabar. Tapi aku bukan malaikat. Manusia biasa. Jika kesalahanku adalah memaksa memenuhi kebutuhanku tanpa persetujuanmu. Aku minta maaf. Aku sudah memperbaiki semuanya. Dengan mengakhiri semuanya.”


“Yang membuatku semakin sakit hati. Kau berulangkali mengkhianatiku!” Ujar Edelweis marah.


“Aku tidak berulang kali mengkhianatimu. Kau marah saat menemukan pengkhianatanku. Kau tidak mau melayaniku. Aku harus bagaimana? Kau melakukan hal yang sama lagi padaku. Mengabaikanku. Hanya saja kali itu karena amarah serta sakit hatimu karena mengetahui pengkhianatanku padamu.”


“Kau mau aku bagaimana? Perasaanku terluka. Hatiku sakit. Aku bukan bermaksud menghukummu tapi kau membuatku mati rasa!”


“Aku tahu kau terluka. Tapi aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Walaupun semua karena aku yang menyebabkan keadaan menjadi kacau. Tapi aku juga punya perasaan. Kau berencana menikah dengan Ryan. Kau juga mengabaikanku. Aku kembali berada dalam tekanan. Aku bukan membela diri. Seandainya, kau tetap menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Dan tidak memperkeruh masalah dengan rencana menikahi sahabatku. Apa kau pikir aku akan melukaimu lagi?”


“Kau sangat pintar beretorika. Kau ingin aku mentolerir kesalahanmu. Sehingga kau bebas melukai serta menyakitiku!” Air mata Edelweis merembes dari kedua pipinya.


“Kumohon! Jangan menangis. Aku tidak tahan melihatmu menangis. Maafkan aku…Aku berjanji ini yang terakhir kalinya. Walaupun bumi menimpaku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan setia kepadamu. Selamanya. Sampai akhir hayat hidupku.”


“Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak dapat kau penuhi.”


“Kau tidak mempercayaiku?”


“Aku berusaha mempercayaimu tetapi selalu berakhir mengecewakan diriku sendiri.”


“Berjanjilah padaku. Apa pun yang terjadi. Kau tidak pernah mengabaikanku.”


“Aku wanita. Jika perasaanku tersakiti dan terluka. Sangat sulit bagiku untuk mengkompromikan perasaanku.”


“Woman from Venus while man from Mars. Maybe there is so many differences between us. But still, don’t put our ego on our top list. Try to understand and receive each other differences. Make a harmony from disharmony.”


“I can not promise anything. You hurt me so deep. Breaking my trust to you…”


“Dia membohongiku. Seandainya, dia tidak berbohong. Mungkin dia masih hidup saat ini. Aku tidak tahu mengapa dia membohongiku?”


“Pengacaramu sedang melacak keberadaan mantan kekasihnya. Mereka mencurigai bahwa dia mengandung bayi mantan kekasihnya.”


“Yeah, sepertinya begitu. Aku tidak menyangka dia berhubungan dengan dua pria lain. Selain aku dengan mantan kekasihnya.”


“Aku tidak ingin membicarakan wanita laknat tersebut.” Tukas Edelweis marah.


“Baiklah. Kita bicara yang lain. Sudah sampai mana kasusku?”


“Belum ada hal yang meringankanmu. Pembunuh bayaran yang kau sewa pingsan di dekat korban. Sidik jarinya ada di pistol di genggaman tangannya. Hanya ada satu peluru yang ditembakkan menembus jantung wanita tersebut . Peluru itu berasal dari senjata milik pembunuh bayaran yang kau sewa.”


“Aku tidak ada harapan lolos?”


“Menurut keterangan pembunuh bayaran yang kau sewa. Dia pingsan. Dia tidak bisa mengingat saat dia menembak korban. Pembunuhan tersebut berbeda dengan semua pembunuhan yang pernah dia lakukan sebelumnya.”


“Apa maksudmu?”


“Dia tidak bisa memastikannya karena hasil test menunjukkan bahwa kadar alkohol dan morfin di dalam darahnya sangat tinggi.”


“Maksudmu dia membunuh tanpa sadar? Tidak bisa mengingat apa pun karena mengkonsumsi miras dan morfin dalam jumlah banyak?”


“Apa maksudmu?”


“Entahlah. Dia sendiri juga tidak yakin. Bisa saja itu hanya perasaannya saja.”


“Jika aku membusuk di penjara. Sebaiknya kau menikah lagi.” Ujar Rajasa.


“Kau bicara apa? Aku tidak memikirkan apa pun. Selain anak-anak kita. Tidak usah berpikir macam-macam.”


“Aku tidak bisa membersamaimu. Kau bisa menikahi Ryan.”


“Kau jangan ngawur. Jika kau tidak mengkhianatiku. Mana mungkin aku memiliki rencana seperti itu. Ryan dan Nurmala sudah berbahagia. Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka.”


“Kau akan membesarkan anak-anak seorang diri?”


“Tidak usah banyak berpikir. Fokus saja pada kasus hukum yang menimpamu.”


“Aku tidak ingin kau kesulitan membesarkan anak-anak sendiri.”


“Ada Wina yang membantuku. Ada ibu, Amarilis dan Basil. Aku tidak sendirian.”


“Kau juga masih muda. Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Jika aku tidak bisa membahagiakanmu. Mungkin ada orang lain di luar sana yang bisa melakukannya.”


“Kau jangan ngawur! Kau pikir mudah menikah lagi? Bagaimana jika anak-anak kita jadi tidak bisa terurus?”


“Apa maksudmu?”


“Memang memiliki keluarga baru. Artinya aku bisa seenaknya? Siapa yang harus kudahulukan?”


“Maksudku Ryan atau yang seperti Ryan. Tidak akan menyia-nyiakanmu dan anak-anak. Pengertian."


“Jangan menambah rumit masalah. Sebaiknya kita fokus pada kasus yang sedang menimpamu.”


“Tidak ada harapan sama sekali.” Ujar Rajasa lesu.


“Pembuktian di persidangan belum selesai. Hakim belum menjatuhkan putusannya. Kita belum menemukan mantan kekasih korban.”


“Apakah ada bedanya? Seandainya, Kinanti mengandung anak mantan kekasihnya. So, what? Itu bukan kejahatan. Tetap saja aku masuk penjara karena memerintahkan pembunuh bayaran untuk membunuh korban.”


Pengacara Rajasa memutuskan mengejar mantan kekasih korban. Berharap orang tersebut sebagai saksi kunci yang bisa memecahkan kasus tersebut.


Keterangan bahwa yang bersangkutan sudah lama tidak tinggal di tempat tinggalnya. Membuatnya memutar otaknya. Dimana dia harus melacaknya. Melalui credit card yang digunakannya? Meminta bantuan polisi untuk mencarinya. Menyewa detektif swasta.


Menelusurinya melalui keluarganya yang sudah lama tidak berhubungan dengannya.


“Dia hanya sesekali menghubungi kami jika dia membutuhkan uang “ Ujar salah satu anggota keluarganya.


“Bisakah menghubungiku? Aku membutuhkan alamatnya yang baru. Keterangannya untuk memecahkan kasus hukum klienku sangat dibutuhkan.”


“Baiklah…”