
Edelweis memutuskan untuk berkonsultasi dengan pengacara Rajasa sehubungan dengan kasus yang menimpa suaminya tersebut.
“Aku merasakan ada kejanggalan.” Ujar Edelweis.
“Kejanggalan apa?”
“Mengapa pembunuh tidak segera melarikan diri? Malah pingsan di tempat kejadian?”
“Kami sudah memeriksanya. Di dalamnya ada alkohol juga morfin yang cukup tinggi.”
“Untuk apa dia mabuk Dan mengkonsumsi narkoba sebelum membunuh?”
“Tidak semua pembunuh bayaran bisa nyaman dengan pekerjaannya. Jika mereka merasa berlawanan dengan hati serta perasaan mereka. Kebanyakan mereka mengkonsumsi alkohol atau morfin.”
Edelweis termenung mendengar perkataan pengacara suaminya.
“Bisakah aku bertemu dan berbicara dengan pelaku?”
“Baiklah. Aku akan mengatur jadwal pertemuanmu dengannya.”
“Terima kasih. Aku hanya ingin memastikan semuanya tidak ada yang terlewat.”
Edelweis menemui pelaku yang didakwa menjadi tersangka bersama suaminya.
Edelweis mengamati orang tersebut dari balik kaca mata hitamnya.
Wajahnya terlalu lembut jika dikatakan sebagai pembunuh bayaran. Baby face.
“Benarkah suamiku membayarmu untuk membunuh wanita jahannam tersebut?” Edelweis enggan menyebut nama wanita yang sudah menyakiti hatinya dengan sangat dalam.
“Iya, nyonya.”
“Kau tidak kelihatan seperti pembunuh. Apalagi pembunuh bayaran.”
“Maksudmu?”
“Kau tidak kelihatan jahat atau kejam.”
“Menjadi pembunuh pembayaran adalah pekerjaan saya. Bukan hobi saya. Saya membutuhkan uangnya bukan berarti saya menyukai pekerjaannya.”
“Apakah setiap kau akan membunuh kau mengkonsumsi alkohol dan morfin?”
Pria tersebut menunjukkan wajahnya. Kemudian mengangkat wajahnya kembali. Menatap Edelweis.
“Seperti yang saya katakan. Saya tidak menyukai pekerjaan saya. Jika saya tidak mengkonsumsi sedikit alkohol dan morfin. Saya tidak bisa melakukan pekerjaan saya.”
“Kau overdosis. Ditemukan pingsan tergeletak dengan senjata di tanganmu. Menurutku, kau pembunuh bayaran yang sangat tolol!”
“Saya merasa hanya mengkonsumsi sedikit alkohol dan morfin seperti biasanya.”
“Maksudmu hasil laboratorium salah? Jika kau hanya mengkonsumsi sedikit mengapa bisa pingsan?”
“Saat menengak minuman serta menyuntikkan morfin. Saya tidak mengukur seberapa banyak yang saya konsumsi.”
“Jadi?”
“Entahlah. Biasanya, saya tidak pernah seperti itu. Mungkin kali itu saya agak kelebihan dosis tanpa disadari. Apa mungkin karena saya ingin membunuh wanita hamil?”
“Kudengar dia mengandung anak iblis!”
“Maksudmu, nyonya?”
“Wanita itu sepertinya sangat nakal. Tidak hanya berhubungan dengan suamiku saja. Kemungkinan dia juga berhubungan dengan iblis. Dia berbohong saat berkata bahwa dia mengandung benih dari suamiku”
“Benarkah nyonya? Tetapi mengapa?”
“Itu yang sedang diselidiki oleh pengacara suamiku. Mengapa wanita iblis itu harus membohongi suamiku?”
“Mungkinkah, dia mengincar harta kekayaan suami anda?”
“Mungkin saja. Mana ada wanita iblis jahannam mau dengan suamiku. Seandainya dia miskin? Kau tahu bagaimana matreliastisnya mereka.” Ujar Edelweis dengan nada pilu.
“Menurutku, suami anda sangat mencintai anda serta tidak ingin kehilangan anda juga anak-anak kalian berdua.”
“Jika dia mencintaiku. Dia tidak akan tega mengkhianatiku.”
“Lelaki seringkali tergoda atau tergelincir. Tapi bukan berarti mereka tidak mencintai pasangan dan anak-anaknya. Apalagi suami anda tidak hanya rupawan tetapi juga hartawan.”
“Menurutku, itu bukan alasan. Jika dia sungguh-sungguh mencintaiku. Dia tidak akan mampu berpaling dengan wanita manapun. Sekali pun secantik bidadari. Jika hatinya milikku tidak akan ada satu pun yang mampu memalingkannya dariku.” Ujar Edelweis tegas.
“Bukan bermaksud menasehati. Hidup tidak bisa hitam putih. Suami anda menyewaku untuk membunuh wanita tersebut. Adalah bukti tidak terbantahkan bahwa dia mencintai anda juga anak-anak anda.”
“Cinta bagi seorang lelaki tidak selalu sama dengan nafsu. Mereka bisa saja berhubungan dengan wanita tanpa cinta. Jika mereka mencintai. Mereka akan melindungi dan tidak melepaskan. Bisa jadi suamimu berkhianat karena dorongan nafsu. Tetapi yang dirasakannya padamu sesuatu yang sejati. Karena dia enggan melepaskanmu.”
Edelweis terdiam. Enggan meneruskan pembicaraan yang sepertinya tidak akan ada ujungnya karena perbedaan persepsi diantara mereka berdua. Selamanya wanita dan pria tidak mungkin memiliki persepsi yang sama mengenai makna cinta, kesetiaan juga kebersamaan.
Bagi wanita cinta berarti setia juga kebersamaan mutlak. Sedangkan bagi lelaki setia adalah tanggung jawab. Kebersamaan adalah relatif terutama jika mereka memiliki lebih dari satu pasangan. Setia, cinta dan kebersamaan adalah tanggung jawab dan berlaku adil.
Jika sudah demikian, mana mungkin bisa ketemu. Kecuali menyamakan persepsi atau memahami persepsi masing-masing.
“Aku masih tidak habis pikir. Mengapa kau gegabah pingsan di dekat korban sambil memegang pistolmu. Apa ada yang belum kau ceritakan padaku? Aku merasa ada yang aneh. Kau pembunuh professional. Segegabah itu?”
“Ada yang belum kukatakan.”
“Apa itu?”
“Aku tidak ingat saat menembak korban.”
“Apa maksudmu tidak ingat?”
“Biasanya aku bisa mengingat dengan jelas saat aku menembak korbanku. Tapi tidak kali ini.”
Edelweis terdiam. Berpikir keras.
“Mungkinkah karena kau overdosis?”
“Aku tidak yakin akan hal ini. Apalagi dengan ditemukan kandungan alkohol dan morfin yang cukup tinggi dalam darahku. Bisa saja kesaksianku tidak dipercaya apalagi aku sendiri menyangsikannya. Karena kondisiku meragukan.”
“Kau bisa mengatakannya padaku.Apa saja!”
“Aku merasa ada yang menyemprotkan sesuatu.”
“Apa maksudmu menyemprotkan sesuatu?”
“Entahlah. Aku sendiri tidak yakin.”
“Bagaimana sebenarnya kejadiannya? Yang bisa kau ingat tentunya.”
“Aku memasuki rumah korban. Ada seseorang yang menelponku bahwa korban akan menyebarkan bukti perselingkuhannya dengan suamimu. Akan menghancurkan rumah tangga kalian. Aku bergegas pergi menuju rumah korban. Sebelum menjalankan tugasku, aku menengak miras dan menyuntikkan sedikit morfin.”
“Lalu?”
“Sesampai di rumah korban. Aku mengendap memasuki rumahnya. Menyelinap masuk melihat korban yang menatapku dengan wajah kaget. Saat aku akan menembakkan senjataku padanya. Saat itu aku seperti merasa ada yang menyemprotkan sesuatu padaku. Pandanganku menjadi gelap dan pingsan.”
“Polisi menemukan bahwa pelurumu sudah meletus. Dan peluru yang menembus jantung korban adalah peluru yang sama dengan pistol milikmu. Apakah kau menembak dalam keadaan pingsan. Tepat mengenai sasaran?”
“Entahlah.”
“Mengapa kau tidak mengatakan bahwa kau seperti merasa ada yang menyemprotkan sesuatu?”
“Bila kau melihat hasil laboratoriumku dan aku mengatakan hal itu. Apalagi aku juga tidak yakin. Apa yang kira-kira disimpulkan orang secara umum?”
Edelweis terdiam sejenak kemudian membuka mulutnya, “kau berbohong!”
“Astaga nyonya! Kau sangat pintar. Aku sangat paham mengapa suamimu enggan melepaskanmu. Kau tidak hanya cantik tetapi juga pintar.”
“Apa gunanya kau memuji sesuatu yang tidak pada tempatnya? Untuk menghiburku? Aku bukan wanita bodoh yang haus pujian. Apalagi mempercayai pujian terutama saat tidak sesuai dengan kenyataan. Suamiku mengkhianatiku dua kali. Jangan katakan sesuatu yang hanya membuatku merasa semakin debil. Masih saja mau bertahan dengan seorang lelaki yang tidak bisa menjadikan aku satu-satunya. Memenuhi hatinya dengan rasa cintanya hanya padaku.” Mata Edelweis memanas. Butir bening membasahi pipinya.
“Maafkan aku nyonya. Aku tidak bermaksud mendeskreditkanmu. Tapi aku memang merasakan bahwa suamimu sangat mencintaimu. Seperti yang kukatakan, seringkali lelaki menganggap setia adalah saat dia tidak memutuskan ikatan percintaan atau pernikahannya dengan seorang wanita. Walaupun wanita tersebut bukan lah satu-satunya. Seperti yang kukatakan nafsu bagi seorang lelaki tidak selalu bermakna cinta.”
Edelweis mengusap air matanya.
“Aku tidak ingin membicarakan hal ini. Semua ini sangat menyakitkanku. Aku bertahan dengan suamiku apakah karena Malika dan bayi yang kukandung.” Ujar Edelweis mengusap perutnya yang membuncit dengan penuh rasa sayang,”atau aku seorang idiot yang mencintainya dengan buta. Dia membuatku bingung dan tak tahu harus bagaimana.”
“Nyonya! Suamimu mungkin melakukan kesalahan tetapi dia tidak membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang lebih bodoh lagi dengan menghancurkan keluarga kalian.”
“Apakah dengan kasus ini. Dia tidak menghancurkan keluarga kami? Dia akan masuk penjara mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Keluarga korban menuntut hukuman seumur hidup. Seandainya, ada hukuman mati di negara ini. Sudah dapat dipastikan mereka menginginkan kematian suamiku untuk membalaskan sakit hati serta kepedihan mereka kehilangan korban. Walaupun aku bukan janda tetapi jika suamiku di penjara seumur hidup? Mana yang lebih baik nasibku dengan para janda?”
“Aku tahu kau sangat sakit hati dengan suamimu. Tetapi percayalah nyonya. Aku juga seorang lelaki. Aku bisa memahami bagaimana seorang lelaki berpikir dan merasa. Bisa membedakan mana emas dan loyang.”