
"Sorry ... i'm sorry, Lula!"
Mendengar kalimat itu, seakan menguatkan apa yang kini ada di kepala Lula. Bayangan Tante Priscilla yang mengenakan kemeja biru dengan wajah jumawa melintas begitu saja. Berarti suaminya berselingkuh? Benar begitu, kan?
Akhirnya tangis Lula pecah di depan Frans. Dia berusaha meredamnya dengan bantal dakron, supaya kedua orang tuanya tak mampu mendengar jeritannya.
"PERGI! PERGI SANA! Enggak usah temui aku lagi!" usirnya si sela tangis. Dikhianati Elkan, Lula masih bisa menerima mengingat status mereka yang masih pacaran. Tapi, dikhianati Frans yang notabene suaminya sendiri, rasanya bagai 24 tulang rusuknya dipatahkan secara bersamaan. Sakit plus nyeri.
"Kamu?" Frans menahan ucapannya. Menatap Lula semakin lekat, bingung juga melihat Lula bisa semenyedihkan ini. "Kamu emang enggak mau maafin aku, Sayang?" tanyanya dengan pelan, takut Lula akan kembali mengeluarkan teriakan kemarahannya.
"ENGGAK! Pokoknya Enggak! aku muak sama Daddy! MUAK!" Lula berteriak lantang, seraya membuang bantal di pelukannya.
"Sayang ... Lula, aku janji enggak akan ngilang lagi! Aku janji besok jemput kamu, kalau perlu sebelum jam pulang aku sudah berdiri di depan gerbang. Jadi, maaf, Sayang ...." Frans merengek, memohon ampun atas kesalahan fatal yang sudah diperbuat. Seharusnya tadi dia mengutus Ibnu untuk menjemput Lula.
"Kenapa kamu pergi dengan dia! kenapa? kenapa? KENAPA! lalu kenapa dia pakai kemejamu, kamu habis main obok-obok'an sama dia kan?! ah, brengsek lu ya! suami apa sih lu!"
"Lula diam dulu, aku jelasin ...." Frans kini paham, kemarahan Lula akibat keberadaan Priscilla di kantornya. "Sini tiduran di pangkuan Daddy!" pintanya lembut, lalu mulai menjelaskan meskipun Lula enggan tidur di pangkuannya.
Melihat Priscilla mengenakan baju yang teramat minimalis, Frans lekas menelpon Ibnu untuk mengambilkan kemeja yang ada di lemari ruang pribadinya. Dia tidak ingin syahwatnya yang masih naik-turun terganggu oleh pemandangan di depannya.
Sialnya, perempuan itu malah ikut masuk ke ruang pribadinya. mengacak-acak, benda-benda yang ada di sana. Priscilla seakan mencari sesuatu yang sudah Frans buang jauh-jauh.
Priscilla pikir pakaiannya yang ada di ruangan sebelah dipindahkan ke ruang kerja Frans yang baru. Jadi—ketika dia membuka lemari dan mendapati pakaian yang bukan ukurannya. Dia pun tersadar jika bukan hanya raga Frans yang pergi, tetapi hatinya pun kini juga bukan untuknya lagi.
"Secepat itu kamu mencintai Lula?" selidik Priscilla.
"Karena dia pantas mendapatkannya."
"Lantas aku?" Priscilla merasa terkalahkan, seakan tenaganya yang dipakai untuk berbicara panjang lebar di acara reuni tempo hari sia-sia.
"Sorry, aku rasa hubungan kita memang seharusnya di akhiri sejak lama. Aku tidak mencintaimu, aku hanya simpati, aku hanya dituntut untuk bertanggungjawab atas perbuatanku di masa lalu. Dan—aku rasa, dua puluh tahun yang lalu, harga yang sangat tinggi untuk mendapatkan sehelai selaput dara. Toh, dulu kita melakukannya juga karena rasa penasaran." meski merasa bersalah, tapi dulu mereka juga melakukannya atas dasar kesepakatan. Dan seharusnya Priscilla tidak menuntutnya lagi, mereka sama-sama diuntungkan kok.
Priscilla meraung di dalam kamar itu, beruntung di dalam ruangan ada Ibnu yang setia menjadi saksi. Jadi Frans tak perlu takut dengan fitnah yang menyebar.
Wanita itu meluapkan kekesalannya, mengacak-acak kamar pribadi Frans. Tak ada yang bersimpati, Frans diam menyaksikan begitupun dengan Ibnu wajahnya justru terlihat jijik mendapati Priscilla seperti itu.
Frans yang khawatir, bersedia menunggu—setidaknya sampai kondisi Priscilla benar -benar stabil. Sampai- sampai, dia merelakan waktu menjemput Lula, demi menemani Priscilla yang tengah tantrum. Ya, katakanlah dia sedang tantrum, karena keinginannya tidak bisa dipenuhi oleh Frans.
"Tenangkan dirimu! hari ini, aku ikhlas meminjami kamu kamar, tidak dengan besok, lusa atau seterusnya. Hanya Lula yang boleh menempati kamar ini!" kata Frans bersiap pergi keluar kamar. Tapi kembali dihentikan oleh suara tangisan Priscilla yang semakin membahana.
Perempuan itu seakan tak terima dengan penolakan yang dilakukan Frans. Namun, setelah sekian lama menangis, di kala tangisnya mulai melemah. Priscilla mengajak Frans untuk berbicara serius.
"Siapa yang kamu cintai?" tanya Priscilla.
"Lula."
"Frans, siapa yang kamu cintai?" ulangnya lebih tegas lagi.
"Qailula Suha."
"FRANS, SIAPA YANG KAMU CINTAI?" kali ini dia berteriak, seakan keberatan dengan jawaban Frans sebelumnya.
"Maaf kalau jawabanku tidak sesuai harapanmu, aku mencintai Lula. Dan please jangan ganggu aku lagi!"
"Apa kamu bahagia?"
"Apa ini bukan scenario untuk menjauhiku?"
"Sama sekali bukan. Kalau perlu kamu ambil pisau, lihat hatiku, hanya ada nama Lula di sini!" Frans menunjuk tepat di bagian hatinya. "kita sudah selesai."
"Tapi, kenapa dia meluk-meluk Daddy? Daddy juga lebih milih dia ketimbang aku! Apalagi tadi di lift, kaya nggak kenal gitu!" Lula masih kesal saat teringat kejadian di dalam lift.
"Dia minta dianterin untuk yang terakhir kalinya. Maaf deh, besok enggak di ulang lagi!"
Lula kini menunduk dalam. "apa calon pelakor itu sudah dipastikan tidak akan muncul lagi?"
"Aku akan mengirimkan penjagaan supaya dia tidak bisa dekat-dekat denganku."
"Kalau begitu, pindahkan semua aset Daddy atas namaku. SEMUANYA!" pinta Lula, tiba-tiba.
"Kok jadi gini? Mau belajar matre?" Frans menatap Lula curiga, rasanya tidak mungkin Zahira mencekoki Lula dengan keinginan buruk seperti ini.
"Enggaklah. Ngapain? Uang suami kan uang aku juga! Dengan begini, kalau ada pelakor yang deketin Daddy, nanti tinggal bilang. Semua aset atas nama istriku, emang kamu mau jadi selingkuhan tapi nggak kukasih apa-apa?"
Karena gemas Frans pun menarik hidung Lula. Berulangkali, hingga Lula bisa tertawa lepas. "Udah, Dad! hidung aku udah bagus."
"Biar tambah maju," sahutnya kini beralih memeluk tubuh Lula. "Udah enggak marah lagi, kan?"
Lula menggeleng cepat. "Tidak." lega rasanya mendengar suaminya enggak lagi berhubungan dengan Tante Priscilla. Ya, semudah itu Lula memaafkan suaminya. Dia hanya butuh penjelasan, kalaupun sadar pria itu salah, Lula hanya butuh pengakuan atas kesalahan yang sudah diperbuat saja.
"Kalau begitu ayo pulang, baju dinasnya belum diangkat. nanti terbang ke rumah tetangga."
"Emang baju dinasnya punya sayap?" tanya Lula dengan raut kepolosannya.
"Ih, pakai lupa! Udah ayo!" ajak Frans sedikit memaksa.
"Gendong!"
"Enggak! kamu berat!"
"Ayaaaahhhh!" Lula berteriak, kalau suaminya enggak mau menggendongnya, ayah Rainer pun siap melakukannya.
Sepertinya, sosok yang dipanggil menguping obrolan mereka berdua. Sampai-sampai detik berikutnya pintu kamar Lula sudah terbuka lebar.
"Ada apa, Sayang?!"
"Gendong!" Lula merentangkan kedua tangannya, layaknya anak kecil yang meminta gendong.
Rainer melirik tajam ke arah sahabat sekaligus menantunya itu. "Badan aja digedein, suruh gendong aja ngaku berat!"
"Kapok!" ejek Lula, ketika berada dalam gendongan Rainer. dia mengalungkan kedua leher di leher Rainer. mengucapakan salam perpisahan tanpa suara ke arah Frans.
"Ayah, aku pulang ya? Udah dijemput sama Daddy." izin Lula yang berada di balik punggung Rainer.
"Kenapa enggak tidur di sini?"
"Enggak. Rumah ayah jelek!" gurau Lula, "tapi ayah, meskipun rumah Ayah jelek begini. Rumah ini adalah tempat yang selalu Lula rindukan."