
Satu kalimat yang dilaporkan anak buahnya, kabar jika saat ini orang itu tidak menemukan Lula di area sekolah membuat Frans lekas meninggalkan ruang rapat. Dia ingin mencari keberadaan Lula, mengingat gadis itu sudah beralih menjadi tanggung jawabnya.
Kenapa harus Jony yang menjemput Lula, kenapa bukan aku saja, sih tadi! kalimat pertanyaan itu turut membumbui, membuat rasa bersalah perlahan muncul dalam diri Frans.
Sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Frans. Dia sudah tidak mungkin menunda rapat yang sebenarnya harus diadakan kemarin. Dan kemarin tahu sendiri, dia harus mengorbankan waktu meeting-nya demi bisa membatalkan kencan Lula dengan kekasihnya itu.
Frans mengeratkan genggaman di stir kemudi. Dia berusaha tenang saat mobil yang dikemudikan terjebak kemacetan. Lalu netranya menyisir ke dashboard, di mana tangannya baru saja menanggalkan ponsel Lula di sana. "di mana kamu!" itu bukan pertanyaan, melainkan kalimat keluhan dari dalam hatinya. “Apa dia kembali rumah Kakek?” petunjuk-petunjuk yang memberitahu di mana keberadaan Lula terus mencuat. Merasa pengunjuk itu benar, Frans pun mengubah arah mobilnya menuju rumah kakek dari Lula.
Mungkin dengan berpura-pura ingin mengambil barangnya yang tertinggal, Frans bisa menemukan posisi Lula saat ini. Berharap kakek Ken tidak curiga dengan hilangnya Lula saat ini.
Namun, Frans hanya bisa menelan pil kekecewaan. Di rumah mewah itu dia sama sekali tidak menemukan Lula. Ia pun segera pamit membawa benda palsu yang digunakan untuk alasan datang.
Langkah Frans semakin lemah saat keluar dari rumah mewah itu. Ya, usahanya memang berhasil memasuki rumah kakek Ken. Sayangnya hasil yang didapatkan, tidak sesuai dengan ekspetasinya.
Tiba di dalam mobil Frans membuang napas kasar. Getaran gelisah mulai hinggap saat sinar matahari perlahan sirna, berganti dengan kegelapan yang terlihat terang oleh sebagian lampu yang sudah menyala.
Dering panggilan suara yang menyala membuat Frans menepikan mobilnya. Melihat nama Silvya tertera di layar, Frans segera menjawab panggilan suara itu.
“Aku sudah berada di teras rumah barumu! Kamu di mana?” sambut wanita di seberang panggilan, sesaat setelah panggilan itu tersambung.
“Aku masih di jalan. Sil, sorry, kita tunda lagi ya pertemuannya. Masalahnya, anaknya lagi enggak ada, dia malah kabur.” Frans dengan berat hati menjelaskan kepada calon guru private Lula yang hendak membantu gadis itu.
“Kemarin sudah batal! dan sekarang mau batalin lagi? Kamu pikir aku punya waktu buat ngladenin permintaanmu berikutnya?”
“Tenang saja, Sil ... Berapapun yang kamu minta aku akan memberikannya. Tapi kamu atasi dulu masalah sepupuku.” Frans berusaha menjelaskan. Tidak mungkin mengatakan jika Lula adalah istri kecilnya kepada teman sekampusnya dulu, karena yang mereka tahu Frans menikah dengan Priscilla.
“Baiklah. Besok aku akan datang lagi sekalian membahas masalah pembayarannya.”
Frans mende-sah kesal, setelah panggilan itu tertutup. Semua ini karena Lula, andai gadis itu mau menunggu sebentar saja di sekolah pasti pertemuan dengan guru private nya berjalan lancar.
Frans melanjutkan perjalanan menuju rumah. Dia sudah berencana menghubungi kontak yang ada di ponsel Lula saat nanti tiba di rumah. Siapa tahu, salah satu dari mereka sedang bersama Lula.
Mobil yang dikemudikan Frans tiba di rumah tepat pukul 7 malam. Tanpa ingin membuang waktu lagi, Frans segera membuka log panggilan. Barisan paling atas tertera nama Elkan. Frans langsung menghubungi pria itu.
Sayangnya si Elkan justru kebingungan karena kebetulan hari ini dia tidak masuk sekolah. Frans bahkan langsung mematikan panggilannya tanpa berniat menjelaskan pada Elkan.
Panggilan pertamanya gagal, dia tidak menemukan Lula. Satu jemari Frans kembali sibuk membuka log panggilan di ponsel Lula. Tidak ada nama lain selain Levin. "Sepupunya Priscilla?" gumamnya. "Tapi bisa saja mereka sedang berdua." Frans ingat benar kejadian pagi itu, saat Levin menghampiri Lula.
Sejurus kemudian, Frans menekan kontak nama Levin siapa tahu Lula tengah bersamanya. Jika benar begitu dia sendiri yang akan menjemput Lula.
“Hallo … ada apa?” sahut pria di seberang panggilan dengan nada sengau, seakan tidak suka di telepon oleh Lula.
“Hallo, Om cuma mau tanya, apa Lula sedang bersamamu?” Tanpa basa-basi, Frans mengatakan maksudnya menelepon menggunakan ponsel Lula.
Namun, Levin tidak merespon sama sekali, membuat Frans semakin mencurigainya. “Hallo Levin! Katakan kalian sedang di mana, aku akan menjemput Lula!”
“Om juga tidak paham. Dia belum pulang dari sekolah. Om khawatir! Hari ini dia tidak membawa ponselnya.”
“Anjir! Main matiin saja!” umpat Frans ketika panggilannya terputus secara sepihak. Kesal, karena Levin bersikap tak sopan padanya.
Kegelisahan enggan pergi, justru rasa itu semakin meningkat seiring jarum jam yang terus bergerak ke kanan. Frans pun memutuskan untuk menghubungi Rainer. Siapa tahu, pria itu mau membantu mencari Lula. Yah, apapun risikonya, Frans merasa siap menerima itu, karena ini memang kesalahannya.
"Ada, apa?" tanya Rainer.
"Di mana?"
"Nggak usah basa-basi deh! katakan mau Lo sekarang, buang-buang waktu gue aja!"
Sepertinya Rainer paham kekalutannya, demi meredam ledakan teriakan Rainer, Frans sedikit menjauhkan ponselnya. "Lula belum pulang ... dari pulang sekolah tadi." Frans langsung menerima umpatan kasar dari seberang panggilan, dia sengaja membiarkan Rainer memakinya, menyadari jika ini memang kesalahannya.
"Kalau kamu nggak bisa mengurus Lula kembalikan padaku!"
Kata nggak bisa yang dilontarkan Rainer seakan menampar Frans, ada rasa tidak terima dikatai seperti itu. "Rain, tenanglah aku akan mencari Lula. Aku akan mendapatkannya malam ini juga!" kata Frans berusaha meredakan amarah Rainer. Lalu memutus panggilan itu, tak ingin membuat temannya itu semakin marah.
Frans semakin gelisah saat hari semakin larut, jangankan menikmati makan malam, untuk meneguk air minum saja rasanya begitu sulit. Ia terus kepikiran tentang keberadaan Lula saat ini. Dia khawatir kejadian 9 tahun yang lalu kembali terjadi.
Gadis itu pernah hilang hampir 12 jam lamanya. Hari itu dia dan Priscilla membawa Lula jalan-jalan. Sayangnya Priscilla yang diliputi perasaan cemburu, justru mencelakai Lula. Wanita itu tega mengurung Lula di salah satu sangkar gondola. Dan Lula ditemukan dalam kondisi demam tinggi, bahkan wajahnya nyaris tak ada aliran darah yang mengalir, pucat pasi.
Sejak hari itu, Frans merasa kehidupan Lula berubah drastis. Gadis itu seperti memiliki trauma akut. Bahkan Lula tidak bisa bertemu dengan orang luar, dan menyebabkan dia tidak bisa masuk sekolah selama beberapa bulan. Hal itulah yang menyebabkan Lula tinggal kelas.
Sejak tragedi besar itu terjadi, semua keluarga besar begitu memanjakan Lula. Bahkan untuk belajar saja, mereka tidak pernah menuntut akan itu. Seolah membiarkan Lula berbuat semaunya. Dan hasilnya, Lula abai dengan pelajaran, hingga menjadi kebiasaan sampai saat ini. Masih mending jika Lula bersama kakek Ken yang memang lebih ketat dalam hal pendidikan. Pria itu ingin Lula sukses dan tidak direndahkan oleh pria di luar sana.
Jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat lima belas menit. Frans yang hendak melangkah menaiki anak tangga terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar deru motor berhenti di depan rumah.
Frans mengubah arah langkahnya, menghampiri siapa yang malam ini mengantar Lula pulang. Rasa bersalahnya melebur, berganti dengan api amarah saat melihat Lula diantar oleh pria yang pagi itu menjemputnya. Dia tahu benar, sebab motor yang digunakan masihlah sama.
“Terima kasih, ya.” telinganya mampu mendengar Lula mengatakan itu seraya memberikan helmnya pada pengemudi motor. Dia semakin kesal melihat Lula tersenyum ramah kepada pria itu.
“Masuk, Lula!” perintah Frans, tegas. Mencegah Lula berbuat hal yang lebih nekad lagi.
“Hai, Dad? Selamat malam ….” Sapa Lula tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia seakan tidak melihat semburat amarah yang begitu nampak di wajah Frans. Dia masuk begitu saja, melewati Frans. Tanpa peduli apa yang akan dilakukan Frans pada Levin.
“Buka helm-mu!” perintah Frans saat melihat pria itu masih berada di atas motornya.
Frans semakin emosi saat melihat pria itu adalah sepupu Priscilla, tangannya mencengkram ujung jaket yang dikenakan Levin. “Jangan dekat-dekat dengan Lula! Sekali lagi aku lihat kamu membawanya pergi! Aku juga bisa berbuat nekad!” kesal, karena waktu di telepon Levin berkata padanya jika dia tidak bersama Lula. Tapi kenyataanya, pria itu justru malam-malam membawa Lula menaiki motor.
“Harusnya Om bilang begitu ke LULA, bukan padaku! Dia yang mendekati aku duluan!” Levin menjawab sama ketusnya, membuat emosi Frans semakin melambung tinggi. Ingin sekali tangannya memukul wajah Levin, tapi rasanya memalukan kalau harus bertarung dengan bocah ingusan seperti dia.