Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Pertemuan Dua Sejoli



Hampir seluruh toko yang ada di lantai tiga sudah Lula masuki. Setiap keluar dari toko, Lula selalu muncul dengan satu barang baru. Entah apa yang direncanakan Lula saat ini! Zola sampai geleng-gelang kepala, melihat tingkah keponakannya itu.


Kini tangan Zola sudah penuh dengan tas belanjaan. Padahal gaun dan sepatunya belum dapat, tapi Lula masih giat sekali memilih baju-baju. “Kamu tumben, milih baju banyak banget!” protes Zola, saat otot kakinya mulai kencang.


Lula tersenyum simpul, seraya memandangi Zola. Kini seragam yang tadi membalut tubuhnya sudah berganti dengan kaus big size milik Zola. Mereka sempat mengganti mobil dan baju terlebih dahulu di apartemen Zola.


“Nanti aku nitip di kamu dulu, ya! kita mampir lagi ke apartemen kamu. Nanti kalau Eyang Ano sudah balik ke rumahnya, baru deh aku ambil! Aku nggak mau dong gelar cucu mantu terbaik, tercoreng gara-gara membeli barang belanjaan yang cukup banyak. Dikira aku hambur-hambur uang suami. Padahal aku sedang menghabiskan uang pemberian kakek!”


Zola memberengut melelahkan menemani Lula belanja. Bisa-bisanya dia melakukan demi sepasang sepatu. Padahal kalau dia minta sama ayah Abhi, pasti juga diberikan. “Buktinya itu fakta, kamu memang BOROS!”


“Yes, kali ini saja! kan katanya mau buat suamiku jatuh cinta. Jadi apapun itu, aku harus melakukannya dong! termasuk merubah penampilanku!”


“Terserah, deh! Nanti kalau usahamu gagal, nggak usah konsul ke aku ya!" kesal Zola. lelah dia dijadikan konsultan. "besok aku mau ke oertopedi, mau ronsen kakiku yang pegal ini!”


“Pijitin Tiara juga bakalan sembuh!”


“Ogah!” sahut Zola ketus.


Lula mengerti dan cukup memahami prinsip Zola, yang memegang teguh, ‘Mendingan nggak punya pacar, dari pada harus kembali ke Mantan.’


Yang Lula takutkan gimana kalau ternyata jodoh Zola itu mantannya, ketelen deh itu air liurnya sendiri. "Tiara cantik Lo, Zol!"


"Bodo'!" mereka kembali melanjutkan langkahnya mengelilingi lantai tiga. “Terus sepatu gue kapan nih dibeli?” Tepat saat Zola mengakiri pertanyaannya itu. Langkah mereka tiba di depan pintu masuk istana sepatu.


“Silakan Om ku yang tampan! Silakan ambil sesukamu. Mumpung sultini sedang berbaik hati!”


Tentu saja Zola bersemangat sekali memasuki istana sepatu tersebut. Dia lekas berlari menuju koleksi sepatu pria. Memilih harga paling mahal dari koleksi yang ada di sana.


Sambil menunggu Zola memilih sepatu, Lula mencoba berkeliling, mencari sepatu yang cocok untuknya. Dia harus tampil sebaik-baiknya besok. Menawan, hingga mereka memberi sambutan meriah atas kedatangannya.


Aku harus terlihat cantik. Supaya mereka pantas menilaiku bersanding di samping Daddy! pikir Lula.


Memikirkan acara besok, Lula baru menyadari satu hal. Jika besok acara jabatan, bukankah itu berarti suaminya akan hadir juga? Mana bisa diwakilkan dirinya? tapi sampai saat ini, bahkan Frans belum muncul!


“Ke mana pria itu pergi? Kalau besok ketemu pasti aku omeli habis-habisan!” gumam Lula sambil menari sebuah high heels dari rak. “Mbak, ukuran 39 ada, kan? tolong ambilkan ya!” Lula memilih heels warna silver, sedikit mencolok mata karena ditaburi gliter kasar di bagian sisinya.


Di saat wanita itu mengambilkan pesanan Lula, Zola kembali menghampiri Lula, menunjukan sepasang sepatu pilihannya. "Ini ya, Lula cantik!"


Lula memeriksa terlebih dahulu pilihan Zola. “Om, serius harganya ini?” tanya Lula, saat melihat bandrol harga sepatu Zola.


“Ya?”


“Enggak sayang, sama duitnya?! kamu kan masa pertumbuhan, nanti dipakai setahun udah nggak muat? Nggak mau nyari yang lebih murah lagi gitu?” rayu Lula, berusaha membatalkan pesanan Zola saat melihat bandrol harga sepatu pilihan Zola seharga dengan satu unit motor. "Itu diskon tiga puluh persen!" Lula menunjuk ke arah papan promo yang tertera di papan.


“Yeee, ogah itu aja! Capek aku muter-muter nyari!”


Lula pasrah, kasihan juga melihat Zola kecapekan karena menemaninya berbelanja. Sebagai harga waktu yang sudah dikorbankan Zola, Lula akan membayar dengan kartu kreditnya saat nanti melakukan transaksi, sebab uang cash-nya sudah tidak cukup lagi.


“Silakan, Mbak!” shopkeeper memanggil Lula, menyerahkan sepatu yang tadi diminta Lula.


“Kamu jangan beli yang itu! nggak pantas!” protes Zola saat melihat Lula hendak mengenakan sepatu warna silver.


“Pakai yang itu!” Zola menunjuk sepatu berhak tinggi dengan warna hitam mengkilap. “Warna hitam lebih masuk dipakai untuk jenis warna apapun! Terlebih kamu bukan tipe gadis pengoleksi sepatu. Jadi beli satu bisa dipakai sampai koyak! Dan warna hitam akan matching dengan warna apapun!” Zola menjelaskan, saat Lula kekeh mencoba warna silver uang sedari tadi menarik perhatiannya. Zola paham Lula bukan gadis yang hobi berbelanja, jadi koleksi pakaian dan tas nya pasti sangat minim.


“Emang gitu, Mbak?” Lula tidak percaya dengan penjelasan Zola, dia sampai bertanya pada wanita yang tadi membawakan sepatu untuknya.


“Benar. Kurang lebih begitu, kecuali mbak pengoleksi. Anda bisa beli warna dan model sesuai dengan warna gaun yang akan digunakan.”


“Itu ada nggak ukuran 39?” tanya Lula, menunjuk sepatu yang tadi dipilihkan Zola.


"Sepertinya masih ada."


“Ya, sudah aku ambil saja!” sahut Lula seraya berjalan meninggalkan area sepatu wanita.


“Enggak, pacar saya selalu tepat milihin barang!” Lula menegaskan, dia tidak menyukai cara pandang wanita itu terhadap Zola. Tidak rela, Zola yang tampan ditatap begitu intens oleh cewek keganjenan seperti dia.


Zola yang paham maksud Lula hanya bisa menahan tawa. Kemudian menuntun Lula ke meja kasir untuk membayar barang yang sudah mereka pilih. "Berlagak seperti pemilik, padahal kalau dipikir-pikir mereka juga tahu kalau kita masih satu turunan!" protes Zola, ketika tawanya sirna.


"Tahu dari mana?"


Zola semakin senang menggoda Lula. Tapi, dia tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini, karena tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab ucapan Lula. Kecuali mereka mengeluarkan KTP dan menunjukan pada shopkeeper itu, karena keduanya sama-sama memiliki nama belakang Damanik.


Cukup lama Lula mengantre di depan meja kasir. Setelah itu tujuan mereka adalah ke tempat gaun. Lagi-lagi Zola yang memilihkan gaun yang cantik untuk Lula yang akan dikenakan ke acara peresmian jabatan suaminya. Baju yang akan membuat Lula terlihat lebih anggun dan dewasa.


Mereka sudah cukup lelah, usai menelusuri toko demi toko yang ada di sana. Bahkan, tak ada satu toko yang terlewat di lantai tiga itu.


“Zola, ke salon situ bentar boleh kali ya? aku mau merapikan rambut!” tawar Lula seraya menunjuk ke arah salon rambut khusus wanita.


Zola melihat ke arah jam yang melingkar tangannya. Sudah jam tujuh malam, berharap salon itu tidak mengantre lama. Jika antre banyak, Lula akan tiba di rumah pukul berapa nanti?


“Janji deh, belanjanya udahan!” rayu Lula ketika melihat tangan Zola sudah penuh belanjaan, terlebih wajah pria itu seakan berat untuk melangkahkan kaki ke tempat yang tadi ditunjuk Lula.


“Ok, tapi beliin roti itu dulu, buat ganjel perut!”


“Zola … nanti kamu boker lagi!” Lula berusaha menolak. Ini sudah malam, dan dia tidak ingin menunggu Zola hanya untuk sekedar nongkrong di toilet.


“Enggak akan! Cuma camilan?!” bantah Zola.


Lula tak kuasa untuk menolak permintaan Zola. Mereka mampir terlebih dahulu ke toko roti, setidaknya Zola bisa menunggu Lula sambil mengisi perutnya dengan roti.


Beberapa roti bagel sudah berada di tangan Lula. Gadis itu menikmati sambil bergumam tentang cita rasa roti tersebut, sedangkan kakinya tetap melangkah menuju salon kecantikan. Zola yang tidak paham tentang jenis-jenis roti dan asal usulnya hanya mengangguk-angguk, sok paham dengan penjelasan Lula.


Beruntung saat memasuki salon kecantikan tersebut, antrean tidak begitu panjang. Bisa jadi, karena sudah malam mereka sudah malas untuk memotong rambut. Tapi tidak dengan Lula, tidak ada lagi waktu lagi selain hari ini. Mengingat hari peresmiannya adalah besok malam.


Namun, satu hal yang membuat langkah Lula sedikit berat untuk maju. Saat telinganya mendengar pertanyaan dari seorang wanita, menanyakan biaya tagihan, sambil di depan meja kasir. Saat mata Lula tertuju ke sumber suara, dia sedikit takjub melihat perbedaan wanita itu. Masih terlihat cantik, dengan model rambut baru yang dibuat sedikit di atas bahu.


Lula ingin menyapa, setidaknya dia memiliki etiket baik sebagai gadis yang ingin merebut hati Frans. Tapi, saat melihat sosok pria muncul dari dalam ruangan. Bukan hanya Lula! Tapi Zola yang berdiri di dekat pintu ikut membeku, gerakan mengunyah rotinya terhenti saat melihat Frans berjalan mendekati Priscilla.


Hati Lula remuk redam, dia baru saja memutuskan hendak memulai hubungan baik-baik dengan Frans. Tapi justru dipukul kenyataan dengan perhatian Frans pada Priscilla. Kepergian Frans tanpa kabar sudah melukai perasaan Lula. Apalagi saat ini, dia justru melihat mereka jalan bersama!


Lula ingin berteriak di depan wajah Frans, menuntut penjelasan tentang hubungan pernikahan mereka! Tapi, dia harus menahannya, tunggu sampai dia tiba di rumah. Lula menoleh sekilas ke arah Zola, memberi isyarat untuk keluar dari ruangan itu, sebelum mereka menyadari kehadirannya.


Tapi terlambat! kaki Lula yang siap terayun maju berhenti seketika saat sapaan dari Priscilla lebih dulu terdengar memenuhi ruangan.


“Hai Lula!”


Lula memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Lalu berbalik menatap keduanya. Bibirnya berusaha tersenyum cerah, meski saat ini matanya bisa melihat bagaimana suaminya terkejut menyadari dia berada di ruang yang sama dengan mereka. Tapi sorot itu perlahan berubah, dan sulit diartikan oleh Lula.


Frans seperti menemukan kebiasaan baru dari sisi lain Lula. Gadis itu begitu misterius untuknya hingga dia tidak mengenal baik diri Lula yang sebenarnya. Melihat kantong belanjaan yang ada di tangan Zola, itu seperti membenarkan apa yang diucapkan Priscilla kala itu. Tentang gaya hidup Lula yang berada di atas rata-rata, hingga dia membutuhkan uang banyak untuk mencukupi kebutuhannya. Dia masih tidak yakin, tapi kenyataan di depannya seperti ini.


“Hai Tante, Dadd!” sahut Lula dengan suara ramah, meski dadanya sudah bergemuruh hebat, mati-matian dia berusaha menahan air matanya supaya tidak gugur. Dia ingin terlihat baik-baik saja saat ini.


“Wah, habis belanja, ya?! banyak banget?!” Priscilla melangkah mendekati Lula.


“Em iya, Tante! Sedang mencoba menikmati hidup, Tan!” balas Lula, dengan anggun.


“Waw! Kalau begitu silakan dilanjutkan! kita duluan ya!” Priscilla mengapit lengan Frans, membawa pria itu keluar dari salon.


Setelah kepergian dua manusia itu, Zola berkata lirih. “Masih berniat mempercantik diri?” tanyanya berusaha menghibur Lula yang sedang menundukan kepala.


“Aaa, jadilah! Tentu, jadi dong!” Lula menggigit kasar roti bagel di tangannya. Meminta hair stylist untuk lekas menata ulang rambutnya.


“Gue teleponin kak Rainer ya! biar dihajar tu orang!” izin Zola, dia tidak tega melihat mata Lula sudah merah karena menahan tangis.