
"Jadi orang baik itu susah ya, Om! Lebih mudah jadi orang jahat, ternyata!" adu Lula, kepada pria yang kini sedang duduk di sampingnya.
Zola tersenyum miring, mata yang semula fokus ke arah buku, kini beralih menatap Lula. Menatap kecantikan Lula yang semakin menampilkan auranya ketika helaian rambutnya diterpa angin sore.
Tangan Zola menepuk lembut kepala Lula berulangkali. "Makanya orang baik hadiahnya surga. Allah tahu, kalau jadi baik itu sulit! Tapi, jangan nyerah!" Zola yang menyadari Lula masih galau berusaha mencairkan suasana. "Lo, kenapa? Udah ngerasa kehilangan kak Frans? Sudah sirna perjanjian kemarin?" tebaknya.
Beruntung sekali suasana taman sore ini sedikit sepi. Jadi, mereka bebas untuk berbagi cerita.
"Bukan! Perasaanku masih sama, kok! Ngapain juga aku jatuh cinta sama dia." Lula berkata dengan suara ketus.
"DIA suamimu, Lula! Ya, wajarlah!" Zola mengingatkan, siapa tahu Lula lupa dengan statusnya yang merupakan istri dari Frans Agung Pagara.
"Gimana dengan ungkapan ini, Zol? Haruskah aku mencoba kalau sudah tahu endingnya bakal seperti apa?" tanya Lula, berusaha meminta pendapat.
"Yakin banget?! Masa iya selama sebulan kalian barengan nggak ada sedikitpun perasaan yang muncul. Kamu lupa kalau punya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati?"
"Kesel gue ngomong sama Lo, Zola! Muter-muter Mulu!" Lula terlihat putus asa, otaknya susah diajak kompromi jika sudah lewat dari pukul tiga sore.
"Justru itu! Lo, yang nggak paham maunya diri Lo tu apa?!" Zola menatap Lula dengan tatapan penuh penilaian. "Sebenarnya, Lo pernah jatuh cinta nggak?" tanyanya penasaran.
"Pernah lah, meski harus bertepuk sebelah tangan." Lula membalas dengan nada malas, dia teringat bagaimana para pria itu mencampakkan dirinya.
Zola tertawa gamang, masalah percintaan Lula dengan Levin dan Elkan dia tahu semuanya. Andai Lula mengizinkannya memberi pelajaran kepada Elkan pasti dengan senang hati dia akan melakukan itu.
"Apa rasanya sama di saat kamu bersama suamimu?" desak Zola semakin penasaran dengan perasaan Lula saat ini.
"Enggak. Jelas beda, Zola! Aku baru beberapa malam tidur sama dia. Dan satu yang ada dalam pikiranku, yaitu cara mengakhiri semua ini." Lula diam menatap bunga-bunga warna putih yang berguguran. "Tapi ...."
"Apa?"
Lula tiba-tiba menoleh ke arah Zola, seakan menemukan hal baru untuk diceritakan. "Tahu nggak sih, Zol! Aku ... Deg-deg-an kalau tidur di sampingnya. Denyut jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Dan itu very-very menyiksa! Aku cuma khawatir kahabisan napas! aku terpaksa menahannya, supaya irama jantungku tidak sampai ke telinganya."
Zola menahan tawa sambil menggeleng-geleng kepala. Dia tidak akan membenarkan bahasa Lula yang campur aduk itu, yang jelas ia hanya fokus pada intinya. "Coba tanyakan lagi pada hatimu, apakah sebaiknya kamu putus atau terus."
"Nyanyi lu?! Itu kan syairnya Abang Judika!" Lula meraih buku dari tangan Zola, menimpuk lengan pria itu.
"Udahlah, lanjut aja, mayan aku punya Abang CEO! Boleh nanti kalau lulus minta kerjaan." Zola memberi saran. "Nggak baik nikah dua kali."
"Gila lu, Om!" Lula cemberut.
"Sekarang bayangin kalau dia pergi jauh dari hidup lo, bakal sesepi apa hidup, Lo! Nyepi deh tiap hari!" Celetuk Zola, terus menerus mengeluarkan kalimat hujatan untuk keponakannya itu.
"Sekarang gue merasa jadi manusia paling bodoh yang terpilih untuk menghuni bumi," kata Lula, yang menyesali tak seharusnya tak mengambil keputusan yang merugikan dirinya.
"Tidak masalah! Tidak papa bodoh, asal kamu punya kemauan untuk merubah hidupmu! Yang penting mulai detik ini, ikuti kata hatimu! jangan mau diatur, Lo berhak menentukan apa yang sebenarnya kamu inginkan."
Lula menganggukkan kepalanya, yakin. Setelah mendapatkan banyak wejangan dari Zola.
"Jadi apa keputusanmu? Ikut kak Rainer sekali untuk selamanya atau tetap bercerai?!" tanya Zola, mendadak penasaran dengan keputusan final yang akan diambil Lula.
"Dia bilang tidak akan kembali pada Tante Priscilla meski berpisah denganku. Jika begitu aku akan berusaha memperbaiki pernikahanku dengannya. Belum terlambat, kan? mungkin kami bisa belajar untuk saling mencintai ke depannya. Dia menerimaku beserta kebodohanku, dan aku akan menerima dia sebagai suami old-ku. Gimana?"
"Jadi nggak papa nih punya suami tua!"
Zola tersenyum lega. "Tarif per-sesi satu juta. Nanti kirim ke rekeningku ya!" Zola mengingatkan.
"Aih, ogah! Aku traktir makan aja! Om Zola mau makan di mana biar Lula yang bayarin?!"
"Bener nih?! Aku milih restoran berkelas ya!"
"Aman, uang Lula di dompet tebalnya segini!" Lula menunjukan uang cash yang baru saja diambil dari mesin ATM. Dan itu uang kiriman dari kakek Ken.
Sang kakek bilang, uang lebihnya buat tambahan bantuin orang yang membutuhkan. Mulai bulan ini kakek Ken tidak lagi mengirimkan uang untuknya lewat ayah. Karena tahu sekarang Lula sudah berkeluarga.
"Tapi sekalian antarkan aku beli baju pesta. Besok ada undangan di acara penting. Katanya, eyang Ano mau mematenkan jabatan Daddy!"
"Wuih, berarti nambah pajak lagi dong! Kalau kamu beliin sepatu yang aku mau, langsung deh aku upload di feed story'."
"Maksud Lo, Lo mau ngendorsin kecantikan gue gitu?! Om apaan sih Lo. Bodoh-bodoh begini, gue udah laku ya! Suami gue kaya!" celetuk Lula dengan emosi yang menyala-nyala.
Kan, kan salah paham! Batin Zola. "Udah naik, ayo! Yang penting makan dulu, beliin sepatu, baru deh beli gaun mewah. Nanti aku pilihkan mana yang cocok buat kamu! Okay, Lula yang tajirnya minta ampun?!"
Mata Lula berbinar, lalu dengan sigap naik ke motor Zola. Memeluk pinggang Zola dengan mesra. Biar saja mereka dikira pacaran itu akan lebih baik bagi orang yang mengabaikan Lula, karena kenyataanya Zola lebih tampan dari mantan dan gebetannya.
Sedangkan Zola merasa risih, takut dikira turun kasta karena mantan kekasihnya jauh lebih cantik. Hanya saja, hatinya sekotor comberan. Tidak seperti Lula yang rajin menolong, peduli dengan orang susah. Itulah manusia selalu memiliki hal baik di balik kekurangannya.
...----------------...
Zola benar-benar memeras uang Lula. Gadis itu sampai harus memandangi bill makannya berulangkali saat hendak melangkah keluar restoran. Gila masa makan berdua habis dua juta?! kesal Lula dalam hati, itu tarif termahal yang pernah ia bayar sendiri.
"Lula, tunggu! Gue kebelet E-og!" cegah Zola, menahan lengan Lula yang hendak membuka handle pintu kaca di depannya.
Langkah Lula terhenti, dia berbalik memandangi Zola yang bersiap memasuki restoran. "Zola, Sayang! Suruh empet dulu! Masa dua juta cuma numpang lewat, suruh nyerap dulu sama lambungmu!"
"Gila, mendingan gue keluarin sekarang dari pada masuk rumah sakit, terus overdosis kena obat pencahar!"
Lula pasrah dia tidak bisa berbuat banyak di sini. Harusnya dia tidak mentraktir di restoran mewah. Dia tahu kelemahan Zola, habis makan pasti boker. Pencernaannya terlalu lancar.
"Sialan bener punya om, hobi boker! Ganti kek hobimu, Zol," celetuknya kesal.
Lula kembali duduk di samping pintu keluar, berusaha membunuh waktu dengan bermain ponsel. Saat ia membuka ponselnya, ada satu panggilan tak terjawab. Dan itu dari eyang Ano. Lula yang mengerti kekhawatiran wanita itu lekas menghubunginya.
"Assalamualaikum, Eyang. Ada apa?" tanya Lula.
"Kamu belum pulang?"
"Em, belum eyang. Lula pergi sama Om Zola. Mau beli ... Beli gaun Eyang! Buat acara besok!"
Wanita di seberang panggilan terbahak, sampai membuat Lula bingung apa yang sedang ditertawakan wanita tua itu. Mungkin Eyang Ano tengah menertawakan kejujuran Lula saat ini.
"Ya, sudah jangan terlalu malam ya! Nanti eyang nggak bisa tidur."
"Siap, Eyang!"
Setelah mengucapkan salam, Lula menutup panggilannya, bersiap pergi karena kebetulan Zola sudah berhasil menyelesaikan acara meeting dengan penghuni perutnya.