Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tenangkan Dirimu



Entah bidadari mana yang kini merasuki diri Lula, yang jelas penampilannya malam ini terlihat begitu memukau. Zola sampai terpesona dengan kecantikan Lula yang kini mengenakan gaun warna hitam. Bahkan, dari raut yang ditunjukan Lula saat ini. Gadis itu seakan tidak percaya dengan rupa wajahnya saat ini.


“Zola! Apa benar, yang dandanin aku biasa dandanin jenazah?” Lula tak meninggalkan tatapannya dari kaca kecil yang ada di tangan. Menggerakan-gerakkan bibirnya, seakan sedang memilih bentuk senyum apa yang hendak ditampilkan nanti.


“Menurutmu?”


“Gue tanya duluan, Zola!” Lula sedikit menoleh ke arah Zola yang sedang fokus dengan arah jalanan. “Gue nggak belajar lagi! yakin nih, pasti hasilnya minus nilaiku!”


Dengan cepat Lula mengganti topik pembicaraan. Dia tidak ingin lagi membahas bagaimana dirinya saat ini, karena takut bedaknya akan luntur jika terlalu banyak berpikir. Zola sendiri tidak merespon, memilih bungkam dari pada ribut dengan Lula.


Kebisuan menemani mereka sepanjang perjalanan menuju hotel tempat acara. Lula mengabaikan getaran ponselnya. Percuma! toh, sebentar lagi mereka akan tiba di lokasi tujuan. Pandangan Lula hanya tertuju ke arah nama Daddy Kesayangan yang berkedip-kedip di layar, membiarkan getaran itu terhenti dengan sendirinya.


Saat mobil Zola sudah berhenti di depan pintu masuk, seorang doorman membukakan pintu untuk Lula. Awalnya, tidak ada yang peduli dengan kedatangan mereka. Mungkin, karena mobil yang mereka tumpangi bukan mobil mewah seperti tamu undangan lain. Jadi, mereka tidak tertarik, siapa yang hadir sekarang ini.


Namun, saat kaki jenjang Lula yang beralaskan sepatu hak tinggi warna hitam itu menyentuh karpet merah, mereka yang berada di loby menatap langsung ke arah kaki putih mulus milik Lula. Menelusuri gaun warna hitam yang memiliki belahan sedikit atas lutut. Wajah mereka tampak kecewa saat pandangannya tiba di hidung panjang milik Lula, seakan bukan dia yang dinantikan saat ini.


Lula ragu untuk melangkah, tatapan mereka seakan mengulitinya hidup-hidup, dan membuat rasa percaya diri yang sedari tadi disusun Lula mendadak runtuh. Satu yang Lula pikirkan, apakah dia melakukan kesalahan, apa make up nya berlebihan?


Lula mengangkat kepalanya saat mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Pandangannya langsung disambut, senyum mekara dari bibir Frans.


Lula menarik napas dalam, mendadak rasa sesak menghimpit dadanya saat teringat ucapan Frans tadi pagi. Tidak kah pria itu merasa bersalah, menuduhnya tanpa bukti? Adakah ucapan maaf darinya malam ini, setidaknya sebelum pesta dilaksanakan!


Belum juga Frans tiba di depannya, tangan Lula perlahan terasa begitu hangat. Zola yang sudah berdiri di sampingnya, menggenggam telapak tangannya erat- erat, membuat senyum pria yang tadi bermekaran mendadak lenyap dalam sekejap. Langkah yang tadi bersemangat pun mendadak melambat.


Flash dari kamera mengejutkan Lula, yang sedang menikmati raut kekecewaan Frans. Beberapa orang ada yang tahu jika Lula adalah anak dari sahabat Frans. Mereka menganggap Lula tamu undangan biasa sama seperti teman dekat Frans lainnya.


"Masuk denganku!" bisik Zola, di samping telinga Lula. Tanpa membantah Lula berjalan mengikuti langkah Zola, membelah kerumunan yang siap mengambil gambar para tamu undangan.


“Itu pak Frans!” teriakan dari beberapa orang yang menyadari kehadiran Frans, mulai mendekati pria itu. Sudah lama mereka menunggu Frans muncul, tapi baru kali ini pria itu berani memamerkan batang hidungnya.


Di mana istri Anda, Pak?


Apa sudah ada tanda-tanda keturunan Pagara akan hadir?


Benarkah, Anda pisah ranjang dengan Nyonya Frans?


Berbagai pertanyaan mengaung-ngaung di samping telinga Lula, membuat langkahnya sedikit melambat karena ingin mendengar jawaban dari suaminya.


“Dia tidak akan mengakuimu, sekarang!” bisikan Zola, seakan menyadarkan Lula dari segala macam rasa penasaran. Dengan mantap mereka berdua memasuki ballroom hotel, mencari keberadaan Eyang Ano. Tanpa melihat tamu yang baru saja turun dari mobil. Nyatanya wanita itulah yang mampu menyelamatkan Frans dari cecaran pertanyaan yang dilontarkan wartawan.


Sinar yang sengaja dibuat temaram, music sopran yang mengalun merdu, menyambut kedatangan Lula dan Zola. Suasana di dalam ballroom sudah terlihat ramai. Bahkan, ada beberapa dari mereka sudah mulai mendatangi lantai dansa.


“Konsepnya Eyang banget, Zol! Kaya era penjajahan?” Lula menilai setiap sudut ruang pesta. "hidangannya pun classic banget!"


“Jaga bicaramu! Sudah anggun-anggun malah clemongan! kalau eyang tahu, apa katanya nanti! Sekali lagi, jaga sikapmu Lula, mereka semua kolega keluarga suamimu!” pesan Zola.


“Siap, kakak!”


Zola melemaskan otot bahunya, entah sebutan apa lagi yang hendak dipakai Lula untuknya. Biarlah yang penting Lula happy, tidak seperti semalam yang menangis di pelukannya.


“Ayahmu tidak akan menghilang! Biasa aja kali Lula!” bisik Zola, mengingatkan.


“Ih diam kamu! aku kan mau bikin ayah shock. Pasti dia tidak mengenaliku!”


Zola hanya was-was mendadak Lula berlari tersandung karpet permadani dan menabrak pelayan. Lalu terjadi keributan di pesta mewah itu.


“Lepas, Om Zola! Aku mau nyamperin Ayah sama Eyang!”


“Iya, sama aku!” Zola sendiri merasa khawatir karena jujur dia tidak mengenal banyak orang.


Saat hampir tiba di dekat Rainer, Lula melepas tangan Zola, beralih memeluk Rainer, erat-erat. “Bunda mana, Yah?!” tanya Lula, dengan suara manja. Tangannya sudah bergayut manja di lengan pria itu.


“Bunda tidak ikut, ayah datang sendirian!” Rainer menjawab singkat dan tegas.


“Kamu sudah besar! Kenapa tidak melakukan ini dengan suamimu!” tegur Eyang Ano, saat melihat Lula bermanja-manja dengan Rainer. Pandangannya mencari-cari keberadaan Frans, tapi tak kunjung menemukan.


“Kan, Lula anak ayah, Eyang! Jadi nggak ketemu sehari saja, seperti satu abad! bawaannya kangen!”


Eyang Ano menggeleng-geleng, takjub dengan sikap Lula yang masih saja seperti ini, seolah bukan gadis yang hampir berusia 20 tahun. “Eyang masih jadi ingat sesuatu. Dulu ayahmu menggendong mu dengan gendongan kanguru, datang ke apartemen Frans, meminta suamimu untuk menjagamu! Karena dia mau tes masuk kedokteran.”


“Serius, Eyang?!” Lula penasaran sekali dengan cerita Eyang Ano. Dia tertarik dengan perjuangan ayah Rainer yang membesarkan dirinya.


“Iya, kamu sampai tidur di atas dada Frans. Awalnya dia menggerutu tidak jelas, karena sebenarnya dia juga ada jadwal kuliah. Tapi, Frans tidak tega ninggalin kamu sama Eyang.” Wanita yang tidak mampu berdiri terlalu lama itu tersenyum cerah. “siapa sangka sekarang gantian kamu yang harus jagain Frans!”


Lula menunduk, ujung high heels yang dikenakan menyenggol sepatu Zola, seolah memberi tanda untuk mengalihkan obrolan.


“Malam ini Lula cantik, kan Eyang?!” Zola turut meminta pendapat.


“Sangat cantik! Cucuku harus selalu cantik, bukan cuma fisiknya. Tapi hatinya juga harus!”


“Iya Eyang!" sahut Lula. "Lula cantik nggak, Ayah?!” tanya Lula meminta pendapat Rainer.


Rainer menatap Lula dengan kening berkerut. “Sejak kapan putri ayah memperhatikan kecantikan?!” selidiknya.


“Aih, Ayah!”


“Iya cantik, sampai tidak ada yang berani menandingi mu!” gumam Rainer, “Siapa dulu ayahnya! RAINER!”


Eyang Ano terbahak, memperlihatkan giginya yang tersisa beberapa biji saja. Mereka ikut tertawa, bukan karena ucapan Rainer, melainkan karena ternyata Eyang Ano, lupa memakai gigi palsu.


Sayangnya, tawa mereka terpaksa sirna setelah kemunculan Frans dari balik tembok penghubung. Perubahan wajah Eyang begitu drastis, yang semula bahagia kini berubah menjadi kesal saat melihat tangan seorang wanita mengapit lengan cucunya.


Bukan hanya Eyang Ano, bahkan tangan dua pria yang berada di sisi Lula sudah mengepalkan tangan, bersiap menghantam wajah Frans.


“Tenangkan dirimu, Rain! Biar Eyang yang mengurus ini!”