Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Piyama & Kolornya



Dua orang itu bangun di detik yang hampir bersamaan. Netra mereka saling mengunci dalam minimnya pencahayaan pagi ini.


Ya, kain gorden masih tertutup rapat, menghalangi sinar matahari yang mencoba menerobos masuk. Lula sendiri, tidak bisa mengingat dengan baik apa yang terjadi setelah acara makan malam di restoran itu. Yang ia ketahui, setelah masuk ke dalam mobil, rasa kantuknya tak mampu dihindarkan. Dia terlelap, tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.


Menyadari tatapan Frans yang sudah berpindah menatap dadanya, Lula mulai salah tingkah, membuka sedikit selimutnya, memeriksa, adakah sesuatu yang hilang? Mahkotanya mungkin? Pikiran Lula mulai li-ar, apakah Daddy sudah memperko-saku, merenggut kegadisan yang ku jaga untuk suami yang kucintai. Lebih-lebih pakaian yang kini sudah berganti, sebagai bukti konkret jika pria itu sudah melakukan—tindakan senonoh terhadap dirinya.


"A—apa Daddy yang sudah mengganti pakaianku?" ketegangan menerpa Lula saat menyadari baju yang dikenakan saat ini. Piyama beserta celana kolornya.


Tangan Lula yang berada di bawah selimut berusaha menyentuh dadanya sendiri, tidak ada apapun selain piyama yang dikenakan. Jika benar Daddy yang melakukan itu ... Dia pasti tahu kalau aku mengenakan push-up bra.


Lula bergerak membelakangi tubuh Frans, mendadak malu saat ketahuan rahasia dirinya diketahui orang lain. Apa yang dia pikirkan? Apa dia pikir aku berusaha menggodanya? pasti sebentar lagi keluar deh, kalimat ledekanya.


"Bukankah, mengganti pakaianmu sudah kulakukan sejak kamu bayi? Dari dulu juga gitu-gitu saja, kaya tv layar datar!" Frans mengambil duduk, menutupi pahanya dengan bantal. Bisa gawat jika alat penangkap sinyalnya mulai terkoneksi.


"Tapi, tapi beda, Daddy ..." rengek Lula, terdengar jelas nada penyesalan dari bibirnya.


"Harusnya sekarang bebas dong! kan kita sudah memegang buku nikah! Dapat cap sah dari departemen agama, pula!" goda Frans diiringi tawa renyah yang membuat Lula semakin tersipu malu.


Melihat Lula semakin rapat menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Frans justru memaksa selimut itu terlepas. Setelah berhasil dia berkata, "Maaf, Daddy semalam galau. Daddy cuma nggak tega membiarkanmu tidur menggunakan gaun itu. Terlalu sempit! nanti kasihan kamu nggak bisa napas!" Memang benar Frans yang mengganti pakaian Lula, dia bahkan terpaksa mandi tengah malam akibat kegiatannya itu. Bagaimana pun juga dia adalah pria normal, disenggol dikit saja tiangnya langsung berdiri tegap.


Tangan Frans memaksa Lula untuk menatapnya. "Sudah sana! Siap-siap pergi ke sekolah, ini sudah hampir pukul tujuh!"


Lula terperanjat mendengar itu, ia langsung berlari menuju kamar mandi. Kebetulan, hari ini mereka tidur di lantai satu. Jadi, memudahkan Lula untuk bersiap. Masa bodoh dengan kewajibannya membuat sarapan, dia bisa saja menunda sarapannya dan menggabungkan dengan makan siang. Dan untuk Frans, dia bisa ambil cuti dulu hari ini. Meminta pria itu untuk sarapan di luar.


Lula tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Dia tidak ingin terlambat pergi ke sekolah. Baru semalam dia berjanji pada dirinya sendiri, bertekad untuk bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Dan tentunya, dimulai hari ini.


"Daddy tidak ke kantor?" tanya Lula, saat melihat Frans masih duduk di atas pembaringan. "Buruan Dad! Lula bisa terlambat!" omel Lula seraya melirik ke arah jarum jam. Dia tidak menyadari jika Frans tengah memerhatikan tubuhnya yang hanya berbalut handuk warna putih. Terekspos punggungnya yang tanpa noda.


Frans menyandarkan kepalanya di papan ranjang. Mendadak kepalanya nyut-nyutan disuguhi pemandangan menggai-rahkan pagi ini. Satu tarikan napas dalam Frans lakukan sebelum berkata, "Daddy ke kantor siang, mau menemui orang yang bekerja di sini dulu." Frans beranjak, tidak bisa dibiarkan begini terus! karena sesuatu di bawah sana mulai menggeliat. "Daddy tunggu di luar, kita bisa berangkat naik motor saja, demi menghindari kemacetan."


Lula menyetujui, dia membiarkan suaminya bersiap, setidaknya untuk sekedar mencuci wajah, atau mengganti pakaian.


Apa dia sedang tidak waras?! kenapa jadi berpenampilan kaya ABG begini sih?! keluh Lula dalam hati, lalu mengajak suaminya berangkat.


Tidak ada obrolan berarti ketika mereka berdua duduk di atas motor. Lula hanya berpesan jika hari ini, dia tidak membuatkan sarapan, dan Frans tidak perlu membayarnya.


"Anggap saja, sebagai bonus, Dad!" ucap Lula, tepat ketika motor yang mereka naiki tiba di depan gerbang sekolah.


“Bye, Daddy! Hati-hati ya, sampai ketemu nanti.” Lula berpamitan sembari melepas helmnya.


Hati kecil Frans terdorong untuk menghentikan apapun yang dilakukan Lula saat, termasuk menggantikan jemari Lula yang kesusahan melepas helm. sayangnya ketika tangannya hendak terangkat, Lula sudah berhasil memberikan helm itu kepadanya.


“Hati-hati, belajar yang rajin!” pesan Frans. Lalu membiarkan Lula menjauh darinya.


Frans masih setia duduk di atas motor. Memastikan lagi, jika hari ini Lula masuk ke kelas meski waktu sudah menunjukan pukul 7 lewat 5 menit.


Sayangnya kali ini, Lula tidak langsung masuk. Dia justru berlari kecil, menghampiri seseorang yang berada di seberang pintu gerbang. Frans terdiam, tangannya sudah merogoh ponsel di sakunya, berniat menelepon Lula supaya segera masuk, tapi gadis itu justru naik ke atas motor, bersama wanita yang tidak dikenali olehnya.


Frans merasa ada yang janggal di sini. Lula membolos. Dia justru main dengan seorang wanita yang kini mengemudikan motor. “Mau ke mana anak ini?!” Frans segera mengikuti arah motor mereka, berharap tidak akan kehilangan jejak. Meskipun pengemudi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Untung juga, tadi naik motor, jika tidak pasti sudah kehilangan jejak mereka." Sengaja membuat jarak saat motor mereka, berhenti di lampu lalu lintas.


Hingga beberapa menit berlalu, motor wanita itu berhenti di depan toko ATK. Lula turun sendirian memasuki toko tersebut. Sedangkan wanita itu masih menunggu Lula di pinggir jalan, rasanya Frans ingin menemui wanita itu. Bertanya ke mana mereka akan pergi. Tapi, hati kecilnya mencegah, dia mulai tertarik dengan kehidupan Lula.


Demi apapun jika ternyata Lula melakukan tindak kriminal. Dia akan mengadukan hal ini pada Rainer. Biar sekalian dimasukin pondok untuk memperbaiki akhlaknya Lula.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Lula kembali muncul. Kali ini tangannya penuh berisikan alat-alat lukis. Frans tidak bisa menebak lagi apa yang hendak dilakukan gadis itu, karena ... sejauh ia mengenal Lula, gadis itu tidak pernah menyukai jenis lukisan manapun.


Frans menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya karena motor itu kembali melaju, dan bukan lagi SMA Barracuda yang menjadi tujuan. Melainkan sebuah bangunan rumah sakit.