
Sepanjang langkah yang dilakukan Lula, melewati koridor sekolah. Bibirnya tak lepas dari senyum simpul. Lucu, sekaligus puas bisa mengerjai suaminya. Bukti kejantanan yang menganggu belahan bokoongnya tadi mampu dirasakan.
“Rupanya pertahanan Daddy setipis tisu!” Itu yang sedari tadi membuat Lula tertawa geli. “Gitu aja kok mau bobo seranjang!” sambungnya mencibir. Pikiran Lula mulai liar, membayangkan sebesar apa tongkat sakti suaminya. Seketika Lula menggeleng kepala. "Jangan Lula, dosa! Jangan mesuum! kamu bukan pemilik hatinya apalagi barangnya!" monolognya seraya melangkah pelan menuju kelas.
Pagi ini, Lula pergi ke sekolah diantar oleh Frans. Pria itu berjanji akan menjemputnya setelah pulang nanti. Tapi Lula tidak ingin berharap, paham jika suaminya orang sibuk, terlebih dua hari dia tidak masuk kantor, pasti pekerjaannya menumpuk.
Lula terus melangkah, tanpa menyapa orang sekitar yang dilewati. Bukan karena dia memiliki sifat sombong, tapi percuma menyapa, yang ada mereka hanya membalas dengan tatapan jijik.
Apa dia tidak cantik? sebenarnya Lula gadis yang banget. Sayangnya, setiap mengenakan kuncir rambut atau pernak -pernik di kepala, selalu mencolok mata.
Lula itu gadis low profile. Berprinsip lebih baik mengumpulkan uangnya untuk membantu mereka. Dari pada dipakai untuk mengikuti gaya zaman sekarang, karena itu tak akan ada habisnya.
Bahkan, baju-baju baru yang sekiranya sedang trend di masa kini yang dibelikan bunda Zahira, memilih mengirimkannya pada yayasan. Lula merasa baju kemarin masih bagus dan pantas dikenakan.
Dulu, setiap dia melangkah sendirian seperti ini akan ada Elkan yang menemaninya. Tiba-tiba muncul di saat waktu yang tepat. Dan sekarang, jangan harap Lula mau berteman dengannya, lebih baik sendiri dari pada punya teman yang cuma bisa menyakiti. Lebih baik sakit fisik dari pada terkena tekanan mental lebih lama lagi. Pikir Lula.
PLAK!
Pukulan kecil di punggungnya membuat Lula terkejut. Baru saja hendak melihat siapa yang memukulnya, satu tarikan kasar membuatnya semakin terkejut.
Lula terseok-seok mengikuti langkah tersangka yang menarik tangannya. “Lepas, ELKAN!” bentak Lula, saat menyadari siapa yang membuat paginya mendadak berubah buruk.
Pria itu tak menggubris permintaan Lula, terus melangkah menuju tempat yang lebih sepi.
“Annjir lu, El! Mau Lo apa sih!?” emosi Lula meledak, tidak terima diperlakukan kasar oleh mantan sahabatnya itu.
“Gue cuma mau Lo bantuin gue!” Elkan mengungkapkan maksudnya usai berhenti di tempat yang lebih sepi.
“Gue nggak mau! Urus sendiri masalah Lo! Lo yang udah bikin rumit! Jadi Lo yang harus menyelesaikan sendiri!”
Mata Elkan terlihat membakar tubuh Lula, emosi sudah membungkus dirinya saat ini. “Kamu mengacaukan, La! SADAR NGGAK SIH!” balas Elkan begitu kasar.
Lula tertawa sumbang, enak sekali dia berkata begitu, apa perlu dia mengingatkan perbuatannya? batin Lula.
“Bukan gue, El! Tapi Lo sendiri yang udah menawarkan diri ke gue! Lo, pikir gue tertarik sama Lo?! Enggak sama sekali! Lo nggak lupa, kan? Siapa yang sudah menyodorkan diri! Bahkan gue nolak Lo dengan alasan nggak mau persahabatan kita rusak! Lo setengah memaksa gue! Kupikir Lo tulus! Tak tahunya Lo hanya sosok singa berbulu domba! Kejam! Dan sekarang jika hubungan percintaan dan persahabatan Lo KANDAS! Itu jangan salahin gue! Buka mata Lo, El! Muak gue sama Lo! Jangan ngejar-ngejar gue lagi! STOP sampai di sini hubungan kita!” suara Lula meninggi di akhir kalimat, emosi dia melihat raut muka Elkan yang terlihat datar. "Kalau dia udah nggak mau sama Lo! itu artinya rasa cintanya sudah tertutup oleh perbuatan buruk yang udah Lo lakuin selama ini!"
Elkan seolah disadarkan, cekalan di pergelangan tangan Lula melemah. Lula yang merasa memiliki kesempatan, lekas menjauh dari Elkan. Namun, baru saja beberapa langkah ancaman Frans menggema memenuhi gendang telinganya.
“Mau bantuin gue atau pernikahan Lo gue bongkar ke sekolah!”
Tentu saja Lula langsung berbalik menatap Elkan, mencari tahu kesungguhan dari ucapan pria itu. Ya, dia sungguh-sungguh mengeluarkan ancaman itu.
“Gue nggak nyangka! Gadis 19 tahun mau-maunya dijadikan pelarian pria yang seumuran bapaknya! Apa tidak ada pria yang mau denganmu?”
Dada Lula bergemuruh hebat, marah, kesal saat mendengar cibiran Elkan. “Jahat Lo, El!”
“Permintaan gue cuma mudah, Lula! Jelasin ke dia supaya dia kembali sama gue! Maka rahasiamu itu juga akan tersimpan rapi.”
Lula bisa menebak siapa yang sudah memberitahu Elkan, siapa lagi kalau bukan si Levin! Lula memejamkan mata. Berusaha memikirkan keputusannya. Bukankah menemui gadis itu sama saja menjatuhkan harga dirinya.
Elkan berlalu begitu saja, meninggalkan Lula di ruang kecil itu. Lula menyandarkan punggungnya ke tembok. Masa bodoh dengan bel masuk yang tengah berbunyi nyaring. Dia masih ingin meredakan gemuruh di dadanya.
‘Hei, Lula belajarlah bijak dalam memilih teman. Tidak semua yang dekat denganmu itu baik! Buktinya Elkan hanya ingin memanfaatkan mu saja!’ kalimat itu seakan muncul begitu saja di kepala Lula.
“Levin! Pasti dia yang sudah memberitahu Elkan!” kepalan di tangannya menguat, tak ada yang bisa kupercaya untuk saat ini. Pikir Lula.
Pikiran tentang Levin sedikit teralihkan saat ponsel di sakunya bergetar, Lula menarik napas dalam setelah mengetahui siapa yang meneleponnya saat ini.
“Ada apa lagi?!” tanya Lula, kasar.
“Heh, marah-marah?! Apa kamu kesulitan mengerjakan tugas, eh tapi ini belum masuk kan?”
Lula kembali menarik napas dalam, berusaha sabar di tengah emosi yang kini menerpa. “Kenapa Daddy?”
“Semangat meraih kebahagiaanmu!”
“Ya terima kasih. Oh, ya Dad, pulang sekolah aku ada urusan. Jadi, Daddy nggak perlu jemput.” Luk berusaha memberitahu sekarang, takutnya nanti lupa mengirim kabar.
“Baiklah kita bertemu di rumah.”
Lula berdehem, tanpa berkata-kata lagi, dia mematikan kontak panggilan. Dia memutuskan untuk masuk kelas, masa bodoh jika saat ini guru yang mengampu sudah memasuki kelas.
Tiba di kelas, Lula menatap malas kursinya, ada Elkan yang sedang duduk manis di samping bangku kosong. Ia pun berusaha mencari teman yang mau bertukar tempat dengannya. Sayangnya tidak ada yang mau, Lula berjalan gontai menuju bangkunya pasrah. Namun, saat melewati meja Levin, pria itu berusaha mencegahnya.
“Duduklah di sini!” pintanya.
“Sayang ...” suara peringatan itu keluar dari bibir kekasih Levin yang duduk di sampingnya. Tidak terima jika Levin bertukar tempat dengan Lula.
“Kamu mau duduk di belakang sama Elkan?” tawar Levin pada sang kekasih.
“Enggak.”
“Ya, sudah kamu duduk sama Lula!”
Lula tidak mau dirinya jadi biang masalah antara Levin dan kekasihnya. Lagian dia juga kesal karena Levin yang sudah membongkar hubungannya dengan Frans pada Elkan.
“Tidak perlu, terima kasih.” Lula meninggalkan bangku Levin, melanjutkan langkahnya ke arah bangku kosong yang biasa ditempati.
Baru satu menit dia duduk. Suara Elkan menyapa kembali. “Jadi, katakan padanya, dengan cara senatural mungkin, kalau kamu tidak mencintaiku, kejadian kemarin hanya prank ....”
Elkan terus bercerita, memberitahu skenario apa yang akan dilakukan Lula. Elkan berpesan padanya untuk berperan dengan bijak. Mungkin, jika Lula berhasil melakukan ini gelar artis pendatang baru terbaik akan dimenangkan olehnya. Pura-pura jadi istri yang mencintai suaminya. Pura-pura ngeprank. Dia akan mendapat gelar Miss drama setelah ini. Kapan aku memerankan diriku sendiri? batin Lula menatap punggung Levin.
“Mulai sekarang pikirkan kebahagiaanmu sendiri, Lula! STOP mikirin kebahagian orang lain.”
Levin seakan sedang berkata begitu padanya dan Lula bertekad ini terakhir kalinya dia mau berbaik hati pada Elkan.