
Seharusnya, Lula sudah pindah beberapa hari yang lalu ke rumah Frans. Tapi karena pria itu masih berada di Singapura, Lula memilih tinggal bersama Rainer terlebih dahulu, berusaha menikmati kebersamaan mereka, selagi bisa.
Sejak pesan terakhir yang pria itu kirimkan, Frans tidak menghubungi Lula lagi. Dia juga enggan untuk mengirim pesan terlebih dahulu, mengingat Frans pergi untuk bekerja. Lula khawatir pesan yang ia kirimkan justru menganggu suaminya.
Sudah dua hari Lula kembali menikmati bangku sekolah. Masa liburannya sudah habis, kini ia berusaha menjalani ujian terberat dalam hidupnya. Yah, bertemu dengan rumus matematika, menghapal kosakata, tentang hukum-hukum fisika. Itu kategori masalah berat bagi Lula, yang memiliki kecerdasan pas-pasan.
“Ini buat, kamu!” sebuah papperbag mendarat tepat di samping tangan Lula. Gadis itu tersadar dari lamunanya, mendongak mendapati pria berkacamata tebal berdiri di samping meja. Yah, itu Elkan, pria itu memang akrab dengan kaca mata tebal, tapi asal kalian tahu, matanya minus bukan karena dia rajin membaca. Tapi karena keseringan nonton Drakor sambil rebahan.
“Apa ini?” tanya Lula, menatap benda di depannya dengan sorot curiga. Dia paham si Elkan baru saja liburan dari rumah eyangnya di Jogja. Ia menebak pasti isinya bakpia pathok, atau gethuk goreng.
“Pakai tanya! Udah buka saja!” perintah Elkan yang membuat Lula tak mampu menolak. Dengan semangat tangannya menarik paperbag tersebut, lalu mengeluarkan isinya.
Detik berikutnya, Lula langsung melemparkan benda itu ke wajah Elkan. “Apaan sih, El?!” bibir Lula cemberut, karena kesal. “Tobi udah wafat ya! bisa-bisanya lo buat aku ingat lagi.” Lula bersungut-sungut, matanya mendadak sayu melihat boneka kura-kura bertuliskan Toby.
Elkan lekas mengambil boneka kura-kura yang sudah terkulai di lantai. Ia turut kesal dengan sikap Lula. Padahal ketika kura-kura bernama Tobi milik ayah Rainer itu meninggal, Lula menangis dua hari, sampai absen libur sekolah, dan sekarang ketika dia berusaha memberikan kenangan tentang tobi. Justru dihempaskan begitu saja. Bukankah itu tidak menghargainya? "Ck, mahal ini, Cucur! biaya bordir namanya saja 50rb!" sungutnya, memanggil Lula dengan panggilan kesayangan.
“Ambil saja sana! Lagian dari pada uang lima puluh ribu buat bordir nama, mending dikasih ke aku buat beli ....” Lula terdiam, dia tidak ingin melanjutkan ucapannya, takut ada yang tahu selain Elkan. Hanya netranya saja mendelik ke arah Elkan, seakan menyayangkan uang 50ribu tersebut.
Elkan lekas duduk di samping Lula. Padahal niatnya ingin bersikap romantis, layaknya oppa di Drakor yang ia tonton. Tapi sayangnya si pemeran wanita enggan menerimanya. Malah membuat harapan untuk memiliki pacar sirna.
Pria itu tidak tahu jika Lula sudah menikah dengan daddy Frans. Jika tahu pasti Elkan akan sangat kecewa terhadap Lula. Mengingat berulang kali Elkan meminta Lula untuk menjadi pacarnya. Tapi Lula selalu saja menolak, beralasan tidak suka dengan Elkan.
Sebagai gadis yang tengah mengalami masa pubertas, sangat normal melewati masa ketertarikan terhadap laki-laki. Tentu Lula juga melewati masa itu, dan satu-satunya pria mampu menarik perhatian Lula adalah pria yang saat ini duduk di bangku paling depan. Si ketua kelas yang cukup pandai dalam bidang akademik.
Lula jarang berbicara dengan pria itu, tapi diam-diam dia selalu memperhatikan setiap gerakan yang pria itu lakukan. Lula memang tidak pernah memiliki kegiatan penting selain melakukan hal bodoh, karena mengagumi si Levin, tapi namanya jatuh cinta pasti sulit untuk dikendalikan. Bukankah, begitu yang namanya jatuh cinta? melihat ujung rambut Levin saja dia bisa tertawa merekah. Aliran darahnya berdesir perih, ingin dekat namun terhalang oleh keadaan.
Lula membereskan seluruh barangnya, ketika guru yang mengampu pelajaran mulai memasuki kelas. Padahal Lula selalu diam memerhatikan saat pak guru menerangkan, tapi dia selalu saja tidak nyambung, harus diulang kembali supaya dia benar-benar paham.
Pernah ia memaksakan otaknya untuk berpikir keras, tapi itu justru membuat kondisi fisiknya drop. Mendadak Lula demam, tubuhnya menggigil, suhu tubuhnya meningkat drastis. Lalu ia seperti kembali ke masa usia sepuluh tahun, di mana dia pernah menangis histeris dalam sangkar bianglala. Hanya orang terdekat yang bisa mengatasinya, saat Lula dibawa ke dokter, beliau bilang jika Lula mengidap delirium.
Sebuah kertas mendekat ke arah Lula, membuat lamunan Lula hancur lebur. Tangan Lula meraih lembaran kertas tersebut. Lagi-lagi pria berkacamata disampingnya kembali mengutarakan keinginannya.
‘Pacaran yok? janji deh, kamu bakal aku enakin.’
“Siapa bilang?” tanya Elkan penasaran.
“Tadi aku dengar dari Pita. Biasalah dia gossip sama ratunya. Kan, si ratu naksir sama Levin, kalau aku duluin sepertinya tidak masalah, kan?” tanya Lula, meminta pendapat.
“Emang apa yang akan kamu lakuin?” tanya Elkan penasaran. Sejenak Lula bungkam, berlagak tengah berpikir keras padahal dia hanya diam melamun, menatap gantungan kunci yang ada di tas Rosiana teman sekelasnya.
“Senyum lo, killer amat, sih, Cur!” cibir Elkan menyadari arti tatapan dan senyuman Lula.
“Kamu lihat saja nanti,” kata Lula. Mendadak ia teringat perjanjiannya dengan daddy Frans. Jika ayah Rainer tidak akan mengizinkan dia pacaran, tapi dengan pindah ke rumah Daddy Frans, semuanya akan berjalan sesuai keinginannya. Dia akan menikmati masa pacaran.
“Aku akan berkencan dengan pria idamanku.”
“Udah, kencan sama aku saja! jangan halu kencan sama Levin! pengagumnya hampir sejuta umat!” rayu Elkan, tapi langsung mendapat hadiah pukulan punggung dari Lula.
Mereka tidak pernah serius untuk mengikuti pelajaran, itulah sebabnya mereka berdua selalu diremehkan oleh orang lain. Karena merasa tidak pernah bisa mengikuti materi dengan baik.
Dua jam mata pelajaran sudah berlalu, pak guru matematika mulai meninggalkan kelas Lula, dan mengizinkan mereka untuk beristirahat.
Suara gaduh mulai mengisi ruang kelas Lula. Tapi segera dihentikan oleh gadis itu yang mendadak berteriak meminta mereka untuk tetap diam duduk di bangkunya.
“Tunggu jangan ada yang keluar dulu! Aku ingin kalian mengesahkan ucapanku!” kata Lula, dia sudah tidak bisa menahan perasaanya, mumpung juga si Levin sedang jomblo mungkin ini kesempatan untuknya. Ia mengayunkan langkahnya ke arah Levin.
Saat Tiba di depan Levin, Lula lekas mengutarakan perasaanya. “Levin, aku suka sama kamu!” kata Lula datar, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, membuat seisi ruangan mendadak hening, tak lama Rosiana tertawa remeh seakan tengah menertawakan Lula.
Begitupun dengan Elkan, pria yang masih duduk disudut ruangan itu menganggap Lula gadis terbodoh dimuka bumi ini. Sedangkan Levin sendiri, dia beranjak dari bangku yang diduduki, menatap Lula dengan lekat. Wajahnya masih saja dingin, penuh wibawa, cocok jadi calon presiden.
“Aku mau kita pacaran, Levin, kamu udah putus sama pacarmu, kan?” Lula berbicara penuh percaya diri, dia tidak peduli jika seisi ruangan itu semakin menganggapnya remeh.