
Usai Zahira keluar dari ruang ICU dokter melarang Frans untuk menemui Ken. Selain hari sudah larut, dokter yang menangani beralasan jika pasien membutuhkan waktu untuk beristirahat supaya proses pemulihan pasien semakin cepat.
Dan pagi ini, Ken Adhitama sudah dipindahkan ke bangsal perawatan. Lula terlihat begitu bahagia dengan perpindahan itu. Dia sampai tak mau jauh-jauh dari brankar sang kakek.
“Kamu harus pegang janjimu, ya! Sekarang kakek sudah sembuh. Kamu bilang mau menginap di rumah kakek satu minggu, kan! Kakek sudah membayangkan kamu masakin nasi goreng sama apa itu ... em, ayam bolognese, pasti kakek akan gendut lagi kalau kamu di sana!” Ken yang terlihat sudah kembali sehat mengingatkan Lula.
Mendengar itu, Frans yang duduk di sofa mendongak menatap dua orang yang saat ini tengah berpelukan. Dia ingin protes karena Lula tidak menceritakan hal itu padanya. Seharusnya dia meminta izin dulu? protes Frans dalam hati. Dia tidak ingin menyuarakan kalimatnya protesnya itu, khawatir Ken akan kembali kambuh.
“Kakek, itu kan karena kemarin kakek sakit. Sekarang Lula sudah bersuami, jadi kakek harus izin dulu sama suami Lula.” Lula beralasan, ingin menolak. Dia sendiri bingung harus melakukan apa di rumah sang kakek, yang begitu mewah bak istana itu tapi hanya beberapa orang saja yang menempati.
“Kalau Frans tidak mengizinkan kamu pergi. Bawalah dia menginap ke rumah kakek. Kalian sudah halal, banyak kamar kosong di sana.” Ken melirik ke arah Frans. Pria itu tidak merespon sama sekali.
“Baiklah, baiklah. Biarkan aku sendiri yang menginap di rumah Kakek.” Lula tidak punya pilihan lain, lebih baik pergi sendiri dari pada harus menginap di rumah sang Kakek dengan Frans. Khawatirnya sang kakek akan tahu tentang rahasianya.
Lula menatap Frans. “Ema—mas, Mas … aku boleh kan menginap di rumah kakek?” tanya Lula. Dia tidak mungkin memanggil Frans dengan sebutan daddy di depan kakek Ken. Bisa ketahuan kalau mereka sedang berpura-pura saling mencintai.
Sedangkan Frans, jantungnya sempat berhenti beberapa detik saat mendengar Lula memanggilnya dengan sebutan itu. Sedikit aneh, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak akan bisa membantah fakta yang mengharuskan Lula mengganti panggilan untuknya. Untung depannya nggak ditambahi ikan? gerutunya dalam hati.
“Boleh kan, Mas?” ulang Lula, memastikan jawaban Frans. Kali ini panggilannya lebih lancar.
“Boleh boleh, saja.” Frans dengan senang hati akan mengizinkan Lula tinggal bersama kakeknya. Dia akan senang sekali jika Lula tidak ada di rumah. Setidaknya hidupnya akan lebih tenang.
“Lula, tolong belikan kakek jus tomat. Kata suster itu bagus untuk kesehatan jantung.” Ken memberikan perintah pada Lula, dia ingin berbicara dengan Frans. Tapi, khawatir cucunya mendengar, dan membela pria itu.
“Ya. Mana uangnya, Kek? Lula tidak sempat membawa dompet. Setelah mendengar kabar kakek jatuh sakit Lula langsung panik, jadi lupa! ini lihat Lula saja masih pakai piyama!” Lula menjelaskan dengan suara manja.
“Kamu pikir kakek sempat mengantongi dompet sebelum terkena serangan jantung? Sama saja Lula! Sudah, sana pergi! Kamu minta bon dulu ke kantin!” balas Ken. Dia memang seperti itu, pria lebih tegas dari ketiga kakeknya. Entah masalah belajar ataupun pergaulan.
“Biar Frans yang pergi, Kakek!” Frans menyanggupi, dia sudah beranjak dari sofa, bersiap meninggalkan bangsal. Mendapati Ken menatapnya tajam, Frans paham jika pria itu ingin berbicara dengannya.
“Biar aku saja, udah Mas Frans temani kakek di sini. Jangan sampai dicabut jarum infusnya ya?!” peringat Lula, dengan ekspresi mengancam.
Frans ingin sekali memakai Lula, bisa-bisanya berbicara seperti itu di depan pak Ken. “Bawa dompetku, aku masih menyimpan uang cash. Sekalian beli sarapan buatku juga.” Frans merogoh saku celananya, lalu menyerahkan dompet kulit itu kepada Lula.
“Kuhabiskan ya?!” goda Lula, merasakan tebalnya dompet Frans.
“Ya, potong gaji,” bisik Frans, berbicara selirih mungkin supaya tidak didengar oleh pria yang kini duduk bersandar di brankar.
“Ish!” tak ingin berdebat lagi, Lula lekas berlalu dari bangsal perawatan meninggalkan mereka berdua. Baru saja menutup pintu ruangan, seseorang berseru memanggil nama Lula.
“Ada apa?" tanya Lula, sejenak menunggu wanita itu menghampirinya.
“Operasinya lancar. Emily sudah dipindah ke ruang perawatan, apa Mbak Lula tidak ingin menemuinya?”
“Di ruang Kencana.” Perawat itu menjawab lirih, sembari berjalan di samping Lula.
Lula mengangguk, “Aku akan berkunjung setelah dari kantin.” Lula menjauh dari perawat yang sudah seperti rekannya itu, Dia harus pergi ke kantin untuk membeli pesanan kakek Ken. Dia tidak boleh meninggalkan kakek terlalu lama, takut Frans akan mencelakainya.
Saat tiba di kantin, Lula memilih banyak camilan untuk dibawa ke bangsal. Jujur dia juga lapar karena belum memakan apapun dari semalam. Tak lupa Lula mengambil buah-buahan segar untuk diberikan pada Emily.
“Sudah belum jus nya, Mbak?” tanya Lula setelah menyelesaikan belanjaannya.
“Belum. Tinggal orange jus –nya.” pelayan yang bertugas menjawab cepat.
Lula memang membelikan orange jus untuk daddy nya. Minuman yang paling sering dipesan ketika mereka jalan-jalan.
Lima belas menit menunggu Lula lekas membayar tagihan belanjaan. “Berapa, Mbak?”
“Seratus delapan puluh tiga.”
Lula membuka dompetnya, memberikan dua lembar uang seratus ribuan. Dia memerhatikan dengan seksama banyaknya kartu debit dan kredit yang ada di dompet milik Frans. Ia cukup tahu jenis-jenisnya, karena kebanyakan sang bunda juga memiliki kartu itu.
Tapi yang membuat Lula betah menatap dompet itu adalah foto kecil yang ada di salah satu slot dompet. Foto sepasang manusia yang terlihat begitu intim. Sepertinya foto itu diambil sudah lama, saat hubungan Priscilla dan Frans baik-baik saja.
Lula yang merasa belum puas berusaha mengambil selembar foto itu. Bibirnya mengulas senyum masam sembari membolak-balikkan foto di tangannya.
“Di mana kamu tante? Nggak kasihan sama Lula ya? aku jadi korban atas kepergianmu, yah walau aku di sini seperti bekerja. Tapi aku tahu ini tidak akan lama,” gumam Lula. Dia lekas kembali memasukan foto itu saat mendengar pelayan kantin memanggil namanya.
“Udah ambil saja kembaliannya, Mbak!” kata Lula saat pelayan mengulurkan uang kembalian kepadanya.
“Aku pikir kamu berdiri di situ nungguin kembalian.” pelayan itu menggoda Lula.
“Kaya nggak kenal aku, saja.” Lula lantas meninggalkan kantin. Baru beberapa langkah, ia justru berpapasan dengan paman Aslan. Pria itu yang menangani pasien bernama Emily.
“Siapa yang sakit, Lula?”
“Kakek Ken.” Lula menjawab cepat.
“Kirain bunda kamu!”
Lula mendadak kesal, dia tahu sejarah percintaan antara sang ayah dengan pria itu. "Doainnya jelek banget!"
Pria itu tertawa lebar, membuat Lula semakin kesal. Dia melanjutkan langkahnya, tidak jadi menanyakan kondisi Emily pasca operasi. Dia harus segera pergi ke kamar Emily, sebelum Daddy Frans mencarinya.