
Satu Minggu yang lalu, Lula sudah berhasil mengikuti ujian Nasional dengan baik. Kini tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan. Harapannya satu yaitu, lulus. Perkara nanti nilainya buruk, dia tidak begitu memikirkannya.
Dan hari ini, setelah empat hari diliburkan, untuk pertama kalinya dia kembali menginjakan gedung SMA Barracuda. Mereka dikumpulkan di lapangan, mendengar pengumuman perihal acara pelepasan kelas XII.
Karena bosan berada di rumah. Lula memilih singgah dulu di sekolah. Gadis itu duduk di bawah pohon katapang yang tumbuh rimbun di sudut lapangan basket. Di tangannya kini memegang permen bentuk love sambil sesekali memasukan ke dalam mulut. Pandangan Lula masih tertuju pada adik kelas yang kini sibuk bermain bola basket. Kebetulan mereka sedang jadwal olahraga.
"Lul, korsa dong?!"
"Ih jijay! (Jijik)" Lula paham bahwa Levin naksir dengan permen di tangannya. Dan dia enggak sudi berbagi air liur dengan Levin.
"Velit (pelit) amat!" balas Levin.
"Liburan nanti mau ke mana kamu, Lul?" tanya Levin yang sudah duduk di sampingnya. Tangannya sibuk memasukan sedotan ke dalam mulut, berusaha menikmati es pop ice yang baru saja dibeli dari kantin.
"Ke Bali. Daddy ngajakin Lula ke Bali. Bulan madu sekalian kerja!"
"Dari dulu, perasaan bulan maduuuu mulu ... kapan jadi bayinya sih? Atau kamu nggak bisa bikin ya, makanya nggak hamil-hamil! kurang tepung apa kurang air?" ledek Levin, pandangannya menghunus tajam, ke arah mereka yang sibuk saling mengoper bola basket.
Lula yang kesal langsung memukul kepala Levin dengan tas di tangannya. Hingga pop ice di tangan pria itu tumpah, berceceran mengenai seragam batik yang kini dikenakan. Tentu saja Levin marah. Selain dahaganya belum tuntas, sayang dengan bajunya yang kotor. "Ganti!" mintanya seraya menengadah.
"Ogah! makanya kalau bicara itu di filter! emangnya bikin cilok, apa?!" kata Lula, lalu menjauh meninggalkan Levin, lari dari tanggung jawab. Sialnya pria itu justru mengejarnya, membuatnya terlibat aksi kejar-kejaran yang membuat semua orang memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Awas ya kalau sampai ketangkap gue cium Lo ya!" ancam Levin dengan teriakan nyaring. Mereka berdua masa bodoh dengan adik kelas yang masih mengikuti jam pelajaran. Levin kesal, dia terus mengejar Lula, saat hampir kena ikatan rambutnya. Lula semakin meningkatkan laju larinya. Jangan salah, Lula pernah mengikuti seleksi lari maraton meski ujung dia tidak terpilih.
Sangking fokusnya Lula menghindari tangan Levin yang nyaris menarik rambutnya, dia sampai lupa dengan dua anak tangga yang ada di samping ruang laboratorium. Kakinya terantuk ujung keramik dan membuat tubuhnya terjatuh.
Levin yang melihat bermaksud menangkap tubuh Lula, tapi terlambat karena Lula sudah jatuh lebih dulu. Lula mengaduh kesakitan. Tapi Levin justru menertawakannya. Seakan tidak peduli dia justru menganggap Lula hanya pura-pura kesakitan saja.
"Levin, aku serius kakiku terkilir!" teriak Lula seraya menunjuk ke arah sepatu hitam yang kini dikenakan. "Ish, sakit, loh, Vin!"
"Enggak usah pura-pura deh Lo!" Levin melirik ke arah dada Lula. Mata nya langsung hijau mendapati sesuatu bewarna merah yang berada tepat di dada Lula. Lidah Levin sudah menyapu bibirnya sendiri membayangkan betapa senangnya jika dia mendapatkan itu.
Menyadari sinyal bahaya yang terpancar dari mata Levin, Lula langsung menutup dadanya dengan kedua tangan. "Pergi, Lo!" semburnya kesal. "Mesum!"
Alih-alih menjauh, Levin justru mengulurkan tangannya, mengambil selembar uang kertas warna merah dari saku seragam Lula. Membuat gadis itu salah tingkah.
"Gue cuma minta ganti! coba Lo nggak kabur, enggak bakalan gue ngejar Lo kaya gini!" setelah berhasil mengambil uang sepuluh ribu dari saku Lula, Levin lantas pergi begitu saja, berjalan menuju kantin.
"Levin! kaki gue beneran sakit!" teriak Lula, mencoba meminta tolong, tapi sepertinya—pria itu tidak peduli padanya.
"Levin, sialan!" Lula mencoba mencari tumpuan, berusaha berdiri supaya tidak menjadi pusat tontonan adik kelasnya saat ini. Namun naasnya, setelah nyaris bisa berdiri tegak, tubuhnya terhuyung, kaki kanannya tidak bisa lagi dipakai untuk berjalan.
Sepanjang langkah pak Samsudin, Lula menggerutu. "Saya telpon dokter dulu, ya! Jangan banyak gerak takutnya ada retak di kakimu!" pesan pak Samsudin setelah berhasil merebahkan tubuh Lula di kasur UKS.
"Ya, Pak!" Lula tidak berani membantah, dia hanya duduk tak bergerak. Menunggu Pak Samsudin yang tengah berusaha menghubungi dokter melalui sambungan telepon.
Tidak lama, pak Samsudin kembali mendekati Lula. "Ada nomor ponsel walimu, Lula? Takutnya butuh tindakan segera!" tanya pak Samsudin.
Lula meremaaas kuat-kuat kain rok yang dikenakan. Tidak mungkin separah ini kan? lagian dia hanya terjatuh dan kaki kanannya melewati anak tangga yang seharusnya ditapaki. "Ini kan cuma keseleo, Pak! kenapa harus pakai wali segala sih? pakai tukang urut saja lah Pak. biar cepat sembuh!" Lula menolak, kalau sampai Daddy Frans tahu bisa gawat. Levin juga bakal kena sanksi berat.
"Ini masalah tulang! sebaiknya kita bawa ke ortopedi." Lula berusaha menolak.
"Lula, untuk Rontgen dan sebagainya, kita kan juga butuh izin karena menggunakan biaya."
Lula kebingungan, dia harus memanggil Daddy? pasti akan kena marah dulu? pikirnya.
Pintu ruang UKS dibuka kasar dari arah Luar. Levin terlihat mendatangi Lula. Dia mendekat memeriksa kaki kanan Lula yang tampak memar.
"Nih, kembalian uangnya!" ujarnya menyerahkan kembalian, lalu menikmati es teh di tangannya.
"Lo kenapa?"
"Kaki gue sepertinya enggak baik-baik saja! kata pak Samsudin harus manggil wali!"
"Lo sih nggak ati-ati!" cibirnya tanpa dosa, lalu menelan pisang goreng yang baru masuk ke mulut.
"Gara-gara Lo tahu enggak. kalau Lo enggak ngejar gue, nggak bakal gue jadi begini!" sembur Lula. Kejadian tadi begitu cepat dan kini dia baru merasakan efek dari perbuatannya. Seharusnya dia memikirkan terlebih dahulu ketika hendak melihat pindah dari rumah itu.
"Gimana Lula? Sudah ada yang datang?" pak Samsudin kembali masuk menghentikan tingkah Levin yang hendak melihat kaki Lula.
"Iya, Pak bentar deh!" kata Lula. Mau tidak mau dia harus menelepon Daddy, Lula tidak ingin membuat panik kedua orang tuanya dengan kabar buruk mengenai kakinya.
Lula meminta Levin untuk mengambilkan ponselnya. Lalu lekas menghubungi Frans.
"Dad! datang ke sekolah, cepat sekarang!" titah Lula saat merasakan panggilan di seberang panggilan.
"Ada apa?"
"Jangan banyak tanya deh, Dad! Daddy buruan ini Lula ada di UKS."
Setelah mengatakan itu, Lula merasakan panggilannya diputus sepihak oleh Frans. "Hallo, Dad?! Dad? malah dimatiin," ucapnya saat menyadari layar ponselnya berubah ke tampilan beranda.