
"Jangan oleng sama pria lain, kalau nggak mau aku kirim pengawal ke sekolah! Jangan lupa makan siangnya dimakan. Aku buatnya dengan penuh perasaan cinta," ucap Frans seraya menahan pergelangan tangan Lula yang hendak turun dari mobil.
Gadis itu sudah bukan gadis lagi, dia sudah merebut dengan paksa mahkota pengantinnya. Frans bahagia, teramat bahagia setelah bisa memiliki Lula sepenuhnya.
"Iyah, Sayang ..." balas Lula, terdengar begitu romantis. Maklum habis belah duren, gelora cintanya masih membara.
"Nanti pulang jam tiga, kan? Tunggu di dalam saja. Nanti kalau aku sudah di depan gerbang baru keluar. Okay?"
"Astaga, kenapa jadi begini?!" keluh Lula, tidak percaya dengan sikap suaminya.
"Terimalah dengan lapang dada! Itu kan wujud nyata dari perasaanku! jangan bosan karena setiap hari kamu akan mendapatkan perhatian seperti ini!" Frans berujar dengan santai.
"Dad—
"Ets! panggil yang BENAR!" protes Frans, memotong langsung saat mendengar Lula melakukan kesalahan dari caranya memanggil namanya. "kita boleh beda usia, tapi jangan seolah-olah, aku ini tidak pantas menjadi imammu! aku masih energik kamu tahu sendiri kan? semalam kamu berteriak minta ampun."
Lula tidak habis pikir, apa setelah belah duren, orang-orang sistem sarafnya juga kejepit? jadi aliran darahnya terhambat dan kinerja otaknya jadi loyo, maunya berpikiran mesum terus!
Bunyi bel yang terdengar, membuat Lula mengurungkan niatnya untuk berdebat. Lebih baik diam dari pada perseteruan itu semakin memanas. "See you next time, Baby ... Jangan lupa dijemur cuciannya, harus kamu! malu tahu nggak sama Fitri! dan lagi jemurnya di kamar saja, biar nggak ketahuan!" pesan Lula sebelum turun dari mobil suaminya.
Semalam mereka benar-benar melewati malam menggairahkan. Frans bahkan tidak peduli jika pagi ini gadis itu harus sekolah.
Melihat Lula sudah melewati gerbang. Frans bergegas meninggalkan lingkungan sekolah, dia harus pulang dulu, sekedar menjemur baju dinas yang semalam dikenakan Lula. atau gadis itu tidak akan pernah mengenakannya lagi karena dia sudah ingkar. Astaga bisa gila hidup dengan Lula. Sikapku jadi tidak wajar! dari CEO jadi suami takut istri gini. Meski bibirnya menggerutu tapi tak memupus niat Frans, tiba di rumah pun dia melaksanakan apa yang tadi sudah dipesan Lula.
Bahkan sebelum berangkat ke kantor Frans mengunci rapat pintunya. Tidak mengizinkan siapapun masuk karena itu ranah pribadi mereka berdua.
Sepanjang hari Frans bekerja, kepalanya hanya terisi nama Lula, dia ingin cepat-cepat jam dua. Lalu bertemu istri kecilnya itu. Waktu seakan berhenti, terasa lama sekali menunggu jam sekolah pulang.
Namun, saat detik-detik itu datang, sang sekretaris mengetuk pintu kerja. Memberitahu jika ada tamu yang hendak menemuinya.
"Aku akan menjemput istriku apa kamu lupa ini jam berapa?"
"Tapi Pak dia memaksa!" Ibnu menyesal saat melihat ekspresi Frans langsung berubah muram. Sepertinya pria itu sudah bisa menebak siapa yang datang hari ini.
Belum juga Frans angkat suara sang tamu sudah memasuki ruangan. Menyapanya dengan pakaian minimalis, menampilkan ukuran dadanya yang tak cukup untuk digenggam. "Mau apa lagi kamu, Priscilla! apa kamu tidak tahu, AKU SUDAH MUAK DENGANMU!"
"Kalau begitu aku bisa membuatmu tidak muak hari ini! aku tahu istri kecilmu itu tidak pandai, jadi kamu bisa datang padaku! sampai kapanpun aku tidak akan hamil anakmu! rahimku sudah diangkat. Kita akan bermain cantik! sembari menunggu Lula hamil dan kamu menceraikannya!" rayuan demi rayuan terus merecoki pikiran Frans. Tawaran menggiurkan tapi jika diterima. Dia harus siap-siap didepak dari keanggotaan Ramones.