
Tidak ada buliran bening yang keluar dari mata Frans, tapi tampak jelas kesedihan yang kini sedang dirasakan. Jauh berbeda dengan Lula, yang sedari tadi menangis hingga matanya terasa begitu pedih. Takut, Lula takut tidak bisa melaksanakan tugas terakhir dari Eyang Ano, yaitu mencarikan istri yang baik untuk Daddy.
Satu tangan kokoh kini sedang mengapit lengan Lula. Menjaganya, kalau-kalau gadis itu pingsan di samping pusara Eyang Ano. Ayah Rainer yang selalu berdiri di samping Lula, sengaja meninggalkan istrinya di dalam mobil supaya bisa menjaga Lula.
Matahari semakin condong ke arah barat. Lula menyaksikan satu persatu dari mereka mulai meninggalkan lokasi. Menyisakan keluarga inti yang masih begitu kehilangan Eyang Ano.
“Papa dan mama pulang dulu!” pamit Ferdinan, pada putranya.
Tidak ada respon dari Frans, pria itu hanya menunduk seakan di atas pusara ada surat perjanjian kontrak proyek dengan keuntungan selangit sedang menanti persetujuannya.
Melihat itu Ferdinan beralih menatap Lula, tangannya berulangkali menepuk pundak gadis yang masih resmi menjadi menantunya. "Tolong dampingi Frans! aku dan mamamu akan pulang terlebih dahulu!" pamit Ferdinan, lalu melangkah menjauh setelah melihat respon dari Lula.
Selama ini, Frans seperti tidak menerima kehadiran wanita baru dalam kehidupan papa Ferdinan. Bahkan, sampai detik ini pria itu enggan menyebut ibu sambungnya dengan sebutan mama.
“Ayah pulang saja, biar Lula di sini menemani Daddy!”
Suara Lula membuat Frans mendongak. Seakan menyadari masih ada mereka di tempat ini. Frans menutupi kesedihannya dengan senyuman tipis. “Kamu belum pulang?” tanya Frans.
“Daddy dari tadi melamun terus! jadi tidak tahu kalau kita ada di sini.” sama seperti Frans, Lula berusaha menutupi kesedihannya, berusaha menghibur pria yang kini masih resmi berstatus sebagai suaminya.
Dessahan napas kasar meluncur bebas dari bibir Frans. Dia kembali mengamati foto Eyang yang masih bersanding di atas pusara, wanita itu sedang tersenyum, terlihat cantik sekali dalam foto itu.
“Tidak ada lagi yang memanggilku hujan!”
Dua orang itu dengan kompak menoleh ke arah Rainer, menyadari jika masih ada orang yang juga kehilangan Eyang Ano selain mereka berdua.
“Bagaimana pun Eyang sudah ku anggap sebagai nenekku sendiri. Sebagai pengganti oma Ella. Aku juga kehilangan kasih sayang dari Eyang.”
“Udah, udah mendingan Ayah pulang! Kasihan bunda sudah nunggu lama di dalam mobil!” usir Lula, kata-kata sang Ayah justru membuatnya semakin sedih. Dia tidak mau air matanya kembali tumpah saat mendengar kata-kata menyedihkan dari sang ayah.
Rainer melirik ke arah Frans dengan sorot tajam. “Jaga putriku! Awas saja kalau kau berani menyakitinya lagi!” pesan Rainer sebelum meninggalkan makam Eyang Ano.
"Aku tidak pernah menyakiti Lula! kita hanya kurang komunikasi," kata Frans. Rainer berdecak kesal, sebelum benar-benar meninggalkan makam.
Di tempat yang sepi itu, kini hanya menyisakan mereka berdua. Sedari tadi, Lula memang tidak berani mendekati Frans, itu lantaran statusnya sebagai istri di atas kertas. Yang mereka ketahui Frans menikahi Priscilla, dan sayangnya wanita yang dikenal sebagai istri Frans tak hadir di rumah duka. Bahkan sampai detik ini, wanita itu tak memperlihatkan batang hidungnya.
“Daddy sedih?” Lula berusaha memecah keheningan. Sebenarnya, tanpa ditanya pun dia tahu suaminya akan menjawab apa. Tapi dia juga bingung hendak menghibur dengan cara bagaimana.
“Tidak. Eyang sudah tua, dia akan menemani suami dan anaknya.”
Lula mengangguk, ternyata tebakannya salah. Lula kembali mengunci bibirnya, membiarkan suara angin mengambil alih suasana sore ini.
“Mau pulang sekarang?” tawar Frans setelah cukup lama mereka saling bungkam.
“Apa Daddy sudah puas?”
“Kita masih bisa datang esok hari.”
Kita? Lula bertanya dalam hati. Kenapa tidak dia sendiri saja! Bukankah hubungan ini akan segera berakhir? Aku, kan nggak mau semakin terbawa perasaan.
“Ayo pulang! Tidak baik terlalu lama menangisi Eyang. Biarkan dia tenang di alam barzah.” Kali ini Frans menggenggam tangan Lula, membuat gadis itu salah tingkah. Tapi alih-alih melepas genggaman tangan Frans, Lula justru setia mengikuti langkah suaminya.
Frans lupa jika tadi ke makam bersama mobil jenazah yang tadi membawa peti mati. Alhasil, saat ini mereka tidak memiliki alat transportasi untuk pulang.
“Kita tunggu Ibnu dulu, aku akan menghubunginya.” Frans meminta Lula duduk di kursi. Sedangkan dia sedikit menjauh, untuk menghubungi Ibnu.
Dari posisinya saat ini, Lula menatap jauh ke arah makam Eyang Ano, rasanya belum rela meninggalkan wanita itu di sini sendirian.
“Masih ingat bunga ini?”
Pertanyaan itu membuat perhatian Lula teralihkan. Dia mendongak menatap suaminya yang sedang berusaha menghiburnya. “Lambang keabadian,” sahut Lula.
Lula tersenyum simpul, mengiringi sang suami yang mengambil duduk di sampingnya.
“Ambil, ini buat kamu!” titah Frans.
Lula meraup bunga semboja pemberian suaminya. Lalu mendekatkan ke lubang hidung, menghirup kuat-kuat aroma menyengat dari bunga tersebut. “Gimana Om Ibnu? Apa bisa jemput kita?”
“Bisa, mungkin lima belas menit lagi akan sampai.”
Lula bungkam lagi, mendadak bingung ketika duduk bersisian seperti ini. Sudah lama ia tidak berduaan dengan suaminya. Jadi, ada rasa canggung yang mendadak muncul dalam dirinya.
Isi kepala Frans kini tengah berperang argument, hatinya ingin sekali memohon kesempatan kedua pada Lula. Tapi lidahnya kelu, enggan bergerak. Tapi, sebelum terlambat apa dia boleh menyatakan niatnya ini? ah, sialan! Apa ini waktu yang tepat? Eyang baru saja tiada. Apa pantas dia membicarakan masalah ini sekarang? “Lula!”
“Ya?”
“Apa kam—kamu ... apa, eh, kamu gimana kabarnya?” ah sialan, kenapa sulit sekali mengatakannya! sesalnya dalam hati.
“Seperti yang Daddy lihat. Lula baik-baik saja.” Lula menjawab singkat. Tapi tidak dengan hatiku, Dad! batinnya kemudian.
Bahu Frans terguncang pelan. Sebenarnya dia cukup tahu dengan kondisi Lula saat ini. “Lula, Daddy mau ngomong serius sama kamu.”
Lula mengangguk, memberi waktu pada Frans supaya mengatakan apa yang sedang menganggu pikirannya saat ini.
Sebelum mengatakan dengan jelas pada Lula, terlebih dahulu Frans membenarkan posisi duduknya. Berusaha membuat nyaman supaya tidak menganggu konsentrasinya.
“Lula, apa masih ad—
“Frans!”
Seruan itu memotong ucapan Frans. Membuat dua orang yang duduk di kursi menoleh ke sumber suara, di mana seorang wanita dengan pakaian hitam yang mencetak lekuk tubuhnya, melangkah menghampiri posisi mereka berdua.
“Kamu?” Frans beranjak dari posisinya, yang langsung disambut pelukan mesra oleh Priscilla. Pria itu membeku, sama sekali tidak membalas pelukan Priscilla.
“Turut berduka atas kepergian Eyang!” gumam Priscilla. Tatapannya mengarah ke Lula, seakan tidak menyukai dengan kehadiran gadis itu di tempat ini.
Lula yang paham dirinya menjadi pengganggu mulai beranjak dair kursi. “Dad, Lula pulang duluan, ya!” pamit Lula yang membuat Frans lekas menjauhkan tubuh Priscilla darinya.
“Lula, Ibnu belum datang!”
“Aku bisa pulang naik taksi, Dad!”
“Tidak. Aku akan mengantarmu, Lula!”
“Frans, udahlah biar saja dia pulang!” Priscilla ikut menimpali.
Lula tersenyum kecut, sambil melanjutkan langkahnya, tidak peduli meski Frans tidak mengizinkannya pergi.
“Lula aku butuh teman!” cegah Frans, yang mampu menghentikan langkah Lula.
“Ada tante Priscilla, Dad!” sahut Lula, sedikit emosi.
“Tapi yang aku butuhkan kamu!” suara tegas dari Frans membuat Lula sedikit berada di atas awan. Terlebih lagi saat tangan kokoh itu kembali bertaut dengan jemarinya, rasanya semakin membuat Lula merasa percaya diri. “Kamu yang aku butuhkan! Mengerti?!” sambung Frans saat pandangan mereka bertemu.
“Frans!”
“Sorry, Ibnu sudah datang, aku harus pulang." Frans menunjuk ke arah mobil putih yang baru saja tiba. "Bukankah kamu hendak mendatangi Eyang? Silakan, beliau tidak akan pindah ke mana-mana, kok! Berbeda dengan aku, sekali kamu meninggalkanku mungkin masih bisa aku bertahan dan tetap menunggumu. Tapi, dua kali kamu meninggalkanku dan membuat keluargaku malu, jangan harap ada kesempatan lagi!”
Priscilla terlihat kesal, mendengar Frans mengatakan itu. Berbeda dengan Lula yang sedang berpikir keras mengartikan kalimat yang baru saja diucapkan suaminya.