Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Kecurigaan Rainer



“Di mana dia?”


Frans yang sedari tadi berada di ruang tengah menoleh ke arah kedatangan Rainer. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya, bahkan melebih dengan dirinya.


“Zahira tidak ikut?” balas Frans dengan pertanyaan.


“Dia juga sedang tidak enak badan. Di mana Lula?”


“Dia sembunyi di bawah ranjang.” Frans menjawab dengan lirih, waspada kalau-kalau Rainer akan langsung mengeluarkan kalimat makian.


Mata Rainer membulat sempurna, kesal juga karena Frans membiarkan putrinya sembunyi di bawah ranjang. Tanpa ingin berlama-lama lagi, Rainer berlari ke arah tangga hendak menghampiri Lula.


“Dia di kamar sini!” cegah Frans, seraya berjalan menuju kamar yang ditempati Lula. Kamar yang ada di lantai satu, sangat jauh dari kamar utama.


Tanpa pikir panjang, Rainer lekas mengikuti langkah Frans. Meski timbul perasaan curiga, dengan apa yang dilakukan Frans dan Lula, dia berusaha mengesampingkan itu. Dia ingin lekas menemui Lula, memeriksa kondisinya.


“Dia ada di dalam!” ucap Frans, seraya membuka pintu kamar. Seketika mereka saling melempar pandang saat mendengar isak tangis terdengar memenuhi kamar.


Tiba di samping ranjang, Rainer membuka rumbai sprei yang menutupi kolong. Helaan napas panjang Rainer lakukan saat melihat kondisi Lula seperti ini.


Kondisi Lula saat ini sedang demam tinggi, bukan hanya tingkahnya yang berubah manja. Lula merasa dia masih berusia 10 tahun, tepatnya setelah kejadian naas yang menimpa dirinya.


“Lula ….” Rainer berusaha menarik perhatian Lula, dia berjongkok, setengah badannya ikut masuk ke bawah kolong ranjang. “Lula, ini ayah!” Rainer menyentuh tangan Lula yang terus bergerak, menghentikan tindakan yang kini dilakukan Lula. Tangan gadis itu bergetar, terasa dingin dan berkeringat. "Ayo ikut ayah!" ajak Rainer setelah berhasil menenangkan diri, dia tidak tega melihat putrinya seperti ini.


“Tante nggak ada, kan? Lula takut Ayah ... ” Lula menahan tarikan tangan Rainer, menolak keluar dari kolong ranjang.


“Enggak ada, cuma ada Ayah!” Rainer berkata bohong demi menenangkan Lula.


Perlahan Lula mau keluar dari kegelapan, kedua tangannya memeluk leher Rainer erat-erat. “Ayah … Lula nggak nakal, kan? Lula selalu nurut sama ayah, Lula anak baik, kan, Ayah!” rancau Lula, menatap mata Rainer dengan mata berkaca-kaca.


Rainer paham kondisi Lula, saat demam dia akan seperti ini. Jadi, sudah biasa dia menangani Lula. “Iya, Lula anak pintar, baik.” Rainer memangku tubuh lula, berusaha menenangkan, bisa dia rasakan ketika kulit mereka bertemu terasa begitu menyengat, hingga aliran darahnya seakan ikut mendidih.


“Kenapa Lula seperti ini lagi. Tadi ketemu ayah tidak apa-apa!” Rainer melirik ke arah Frans yang berdiri tak jauh darinya, pandangan menuduh, menyalahkan pria itu karena lalai merawat Lula. "Jam berapa Lula minum obat?" tanya Rainer pada Frans.


"Lima jam yang lalu."


"Lima jam? Seharusnya kalau dia masih demam, berikan obatnya lagi."


"Tapi dia belum makan, Rain!" Frans ngotot membenarkan pendapatnya.


"Obat demam bisa dikonsumsi sebelum makan! Tidak akan menyebabkan lambung Lula iritasi! Sejauh ini, Lula juga tidak bermasalah dengan lambungnya! Harusnya kamu tahu itu, supaya bisa mengatasi Lula!" kata Rainer sedikit emosi. Dia tidak tahu, jika Frans tidak mengenal baik putrinya.


Frans tak menjawab, dia merasa itu juga salahnya karena tidak mengenali Lula dengan baik. Ia kembali memerhatikan Lula, gadis itu memejamkan mata, bibirnya bergerak mengeluarkan celotehan.


“Ayah ... Tante Cecil jahat! Lula takut, dia mau mengurung Lula lagi. Ayah jangan jauh-jauh dari Lula, ya? Ayah harus temani Lula!” rengek Lula.


Frans semakin dibuat bingung. Kenapa Cecil dilibatkan padahal wanita itu tidak berada di sini. Dia butuh penjelasan, segera!


“Lula naik dulu, yuk! Biar ayah obati!” Rainer memindahkan tubuh Lula ke atas ranjang. Sedikit banyaknya ia cukup paham mengatasi keadaan Lula saat ini. Dia meraih tas kecil yang tadi dibawa, membuka perlengkapan untuk memeriksa kondisi Lula.


“Buka mulutmu!” perintah Rainer yang langsung dituruti Lula. Rainer mengukur suhu badan Lula dengan memasukan termometer ke dalam mulut. Sedangkan tangannya, memeriksa Lula menggunakan stetoskop.


“Lula pasti kecapean, kan? Tadi Lula ke mana saja?” Rainer berusaha menebak, dan Lula tidak menjawab, karena masih terdapat termometer dalam mulutnya.


“Ayah, tadi di sana ada tante Priscilla, dia marah-marah sama Lula. Mau bawa Lula naik lagi.” Lula meraih stetoskop yang ada di tangan Rainer. “Lula mau juga sembuhin orang sakit, Lula kalau sudah besar pengen kaya ayah! Lula pengen jadi dokter!” menekan stetoskop itu untuk memeriksa dada Rainer.


Rainer tersenyum masam, mengusap lembut surai hitam milik Lula, sayangnya mimpi Lula harus pupus karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Pihak kedokteran mana mungkin menerima Lula, yang mengidap gangguan mental. Tak ingin menyesali itu, Rainer lekas mengalihkan pembicaraan. Dia menyimpan stetoskopnya, menjauhkan dari Lula.


“Minum obat dulu, yuk!” Tangan Rainer memberi isyarat kepada Frans untuk mengambilkan obat penurun panas.


“Enggak mau, nanti kalau Lula sembuh ayah pergi? Nanti tante Cecil datang lagi, bawa Lula kabur! Rainer takut ayah!” cegah Lula, dia menolak minum obat.


“Ayah akan ada di sampingmu! Lula nggak boleh takut! Enggak akan ada yang berani menyakiti Lula.” Rainer berusaha membujuk putrinya.


Lula mengangguk pelan. "Ayah sayang Lula, kan?" tanya Lula, dengan suara polos.


"Ya, lebih dari nyawa ayah sendiri." Rainer sedikit menjauh, meraih obat yang diberikan Frans. Setelah memberikan obat itu sesuai dosis, Rainer berusaha menidurkan putrinya.


Seperti biasa Lula bercerita tentang hari-hari di mana dia terjebak dalam ingatan masa lalunya. Kebiasaanya tentang lingkungan sekolah, tentang teman masa kecilnya. Tentang Zola, tentang Lionel, Lula semangat sekali menceritakan itu.


Melihat Lula sudah mulai tenang, Frans melangkah keluar kamar. Dia memilih menjauh, mendekat ke arah taman untuk menenangkan diri.


Hari ini Frans tahu kelebihan Lula, tapi dia juga tahu bagaimana rapuhnya lula saat ini.


Frans merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak rokok yang sejak tadi siang berada di sana. Frans menyalakan sebatang rokok untuk menemani kesendiriannya.


Semakin dirinya tenggelam, dada Frans justru semakin bergemuruh hebat. Dia masih membutuhkan penjelasan tentang semua ini. "Priscilla," sebutnya diiringi tawa lirih. "Kejahatan apa yang sudah dia lakukan?!"


Frans kembali menghisap filter dari sebatang rokok yang masih menyala, bibirnya dengan sengaja mengepulkan asap putih ke udara. Menatap asap yang berarak meninggalkannya, terlihat jelas di tengah gelapnya malam ini.


Tiba-tiba saja, Frans teringat dengan ucapan Lula tadi pagi, sebelum mereka berdua menikmati sarapan di kantin. Tentang rokok, Lula secara tidak langsung memintanya untuk berhenti saat berada di sampingnya. Ia paham kemauan Lula. Bahkan, dalam hatinya sudah berkomitmen untuk melakukan itu. Mengurangi, bukan menghilangkan!


Frans melempar putung rokok dari tangannya. Batang rokoknya masih terlihat panjang, tapi dia justru menginjaknya dengan sekuat tenaga, berusaha mematikan bara api yang masih menyala, melimpahkan perasaan kesalnya pada sebatang rokok itu.


Tidak tega melihat kondisi Lula saat ini. Ada rasa ingin menolong, tapi dia tidak tahu dengan cara apa dia membantu Lula.


Frans menoleh ke balik tubuhnya saat mendengar suara langkah kaki. Pandangannya bertemu dengan Rainer yang juga sedang menatapnya.


“Delirium, biasanya terjadi saat suhu tubuh Lula mengalami perubahan. Dia akan kehilangan control diri, gelisah. Dan berakhir pada masa di mana ia mengalami keterpurukan. Jangan heran kalau besok pagi dia melupakan kejadian malam ini. Aku bahkan pernah merasa kesal, Lula pernah tidak mengenaliku saat dia kambuh!” Rainer berusaha menjelaskan. Dia paham dengan kebingungan Frans saat ini. Yang Frans ketahui, Lula adalah gadis yang malas belajar, hingga membuat dirinya bodoh. Tapi, dia tidak tahu jika keluarga besarnya menyembunyikan itu dari siapapun, termasuk Frans. Alasan yang membuat mereka tidak menuntut banyak terhadap Lula.


“Penyebabnya?” tanya Frans.


Rainer merasa tidak berhak untuk mengatakan ini pada Frans. Dia tidak ingin mendahului Lula. “Aku rasa dari apa yang Lula katakan sudah cukup jelas!” hanya itu yang bisa Rainer katakan, semoga Frans bisa melihat sendiri apa yang terjadi dengan Lula.


“Buatku tidak jelas! Aku tahu ada hubungannya dengan Priscilla. Tapi aku tidak tahu jelas perlakuannya terhadap Lula.” protes Frans, mulai emosi.


“Lupakan! Kami sebagai orang tua sudah melupakannya. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik, merawat Lula, berusaha membantu Lula melupakan masa lalunya.”


“Rain!”


“Aku tidak berhak mengatakan padamu!” kata Rainer dengan nada kesal. Baru hari ini dia mendapati mereka tidur terpisah, dan dia semakin yakin jika Frans menikahi Lula ada maksud tertentu. Bukan karena Lula yang diam-diam mencintai Frans. Tapi karena Lula kembali menjadi korban atas kesalahan Priscilla. Rainer masih berusaha bersabar, membiarkan Lula mengakui sendiri kesalahannya.


“Aku akan bermalam di sini. Aku harus memastikan jika Lula akan baik-baik saja.”


“Ya.” Frans pasrah, tidak berkutik lagi ketika Rainer berkata seperti itu. Dia tidak bisa melakukan apapun lagi selain menuruti ucapannya.