Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Pindah



Tepat setelah suara adzan magrib berhenti berkumandang, Rainer dan Lula baru saja tiba di rumah. Banyaknya pasien yang ditangani Rainer di rumah sakit membuat mereka berdua terjebak dalam kesibukan. Membuat mereka pulang terlambat dari jam biasanya.


“Makan dulu! jangan langsung naik, nanti ketiduran lagi,” pesan Rainer mencegah Lula yang ingin segera turun. “Ayah tahu kebiasaanmu, setelah masuk kamar tidak akan keluar lagi, kecuali sudah pagi.”


“Iya-iya,” sahut Lula, ringan. Setelah mengatakan itu Lula bergegas turun, dia berjalan cepat menghampiri Zahira yang masih sibuk di dapur menyiapkan menu makan malam. Rupanya menu makan malam belum siap, jadi Lula berniat membantu sang bunda.


“Ayah kamu sudah pulang juga, Lula?” tanya Zahira, sambil mencari keberadaan Rainer.


“Iya, itu di depan!”


“Gawat, bunda belum mandi,” keluh Zahira, seraya melepas tali apron yang mengikat tubuhnya.


“Udah, Bunda mandi dulu saja. Biar Lula yang terusin!” Lula mengambil alih kekuasaan dapur, membiarkan Zahira naik ke lantai dua untuk mandi.


Lula paham prinsip ayahnya, pria itu risih jika pulang tapi istrinya belum mandi, masih bau tepung atau ragi, karena sibuk di toko seharian. Dan Lula tidak ingin mendengar perdebatan mereka sore ini.


“Bunda mana?” pertanyaan Rainer membuat Lula menoleh ke arah pria itu.


Kan, tetap saja yang dicari bunda, itulah kebiasaan sang ayah. Padahal Ben juga belum menampakan diri.


“Mandi, Yah.”


“Mandi?” pria itu menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan, kemudian menggeleng pelan.


Mendengar suara hentakan sepatu dari sang ayah, Lula hanya melirik ke arah pria itu. Tampak langkahnya berjalan menuju lantai dua. Terlihat semangat sekali, mungkin hendak menyusul mandi bundanya.


Meski Lula lamban dalam berpikir, tapi dia bukan gadis polos dan lugu. Jika kalian mengira Lula belum pernah menonton film dewasa, itu salah besar. Bahkan dengan beraninya dia menonton dengan Elkan. Itu karena rasa penasarannya yang begitu tinggi. Untungnya hari itu dia terselamatkan karena Elkan mendapat telepon dari ayahnya.


“Jangan sampai jadi adiknya Ben. Awas saja nanti kalau adik ke duaku lahir! Kuadopsi, ntar ya!” celetuknya seraya melirik pintu kamar atas, saat mendengar dentuman pintu yang begitu keras.


Setengah jam berlalu, menu makanan sudah tersedia di atas meja makan. Kini Lula menunggu mereka turun untuk menikmati makan bersama. Karena rupanya, Ben masih menginap di rumah opa Abhi.


Jangan tidur dulu, mungkin tiga puluh menit lagi daddy tiba di rumah ayahmu. [Daddy Kesayangan]


Lula menghembuskan napas kasar saat membaca pesan dari Frans, pria itu mengirimkan pesan padanya sejak pukul 6 sore. Seharusnya dia sudah tiba di rumah sang ayah. Tapi melihat pria itu belum juga menampilkan batang hidungnya, Lula hanya bisa menerima pelanggaran yang tengah dibuat pria itu.


“Kalau dia datang itu petaka, kalau tidak datang adalah keberuntungan untukku.” Lula tersenyum cerah, dia enggan membalas pesan pria itu memilih mencari nomor Rainer.


“Hallo, mau makan malam bareng nggak, Yah? udah siap nih makan malamnya, keburu dingin nanti nggak enak.”


Mendengar jawaban dari ujung panggilan Lula hanya bisa membuang napas kasar, lantaran Rainer memintanya untuk makan terlebih dahulu. Pria itu bilang sedang nanggung.


Lula tidak paham kenapa cairan air matanya tiba-tiba memenuhi kelopak mata. Ada rasa kecewa saat mendengar Rainer memintanya untuk makan sendiri. Ini mungkin akan menjadi makan malam bersama sebelum dia meninggalkan rumah, tapi mereka tetap saja mengutamakan egonya.


Lula memilih beranjak dari kursi, melangkah menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan diri, siapa tahu Frans akan menjemput dan membawanya pulang ke rumah. Tiba-tiba saja ia mengharapkan hal itu terjadi, biar mereka berdua merasa kehilangan karena tak ada dirinya lagi.


Nyaris satu jam berlalu, tidak ada yang mengetuk pintu kamar Lula, memberitahu jika Frans tiba. Sepertinya, Frans tidak akan datang menjemput, karena jam sudah hampir pukul 9 malam. Lula yang merasa sudah mengantuk, mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tidak peduli lagi dengan kejadian di luar kamar, berharap hari akan segera pagi.


“Aku akan bangunin Lula, harus gaji berapa kalau baby sitter nya aja gelarnya doktor!”


“Eh, jangan! Kasihan dia, biarkan dia tidur di sini!” cegah Rainer.


“Enggak. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.”


“Dasar bandit, Lo ya! Dia darah dagingku, aku tidak akan keberatan!”


“Tapi aku suaminya. Aku yang lebih berhak!”


“Suami apaan?! Kalau kamu suaminya nggak bakalan ninggalin Lula demi menemui wanita lain?!”


Terdengar kekehan kecil dari Frans. “Aku kalah deh! Udah ya, aku bangunin dia, atau aku akan mengangkat tubuhnya kalau dia susah dibangunkan!”


“Dasar ban—.”


“Kenapa sih ribut-ribut, ganggu orang tidur saja!” protes Lula yang terganggu dengan obrolan mereka berdua. Perlahan dia membuka matanya, disambut ekspresi tanpa berdosa dari Frans.


“Nah, kebetulan, kan dia sudah bangun!” Frans berucap penuh kemenangan. Lalu menghampiri Lula. "Ikut pulang ke rumah Daddy kan, Lula?"


Tanpa menjawab lagi, Lula berpamitan pada Rainer. Tidak ada drama di sana karena kebetulan sang bunda sudah terlelap di dalam kamar.


Dalam perjalanan menuju rumah Frans, Lula kembali memejamkan matanya. Meski dia mendengar apa yang pria itu katakan, tapi dia tidak begitu peduli dengan setiap kata yang disampaikan.


Hingga tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Frans sudah tiba di rumah mewah bernuansa classic yang sebenarnya hadiah untuk Priscilla.


“Udah sampai Lula, bangun gih! Daddy tunjukkan kamarmu!” minta Frans yang melihat Lula masih terlelap di saat mobil sudah masuk ke garasi rumah. “Lula … bangun! Nanti Daddy guyur pakai air loh!” bujuk Frans lalu keluar dari mobil, dia membuka pintu yang ada di samping Lula. "Ayo, lanjutin di kamar tidurnya!" desak Frans memaksa gadis itu untuk membuka mata.


“Gendong! Lula capek banget!” minta Lula, dengan mata yang sepenuhnya terpejam.


“Lula!”


Tanpa sadar Lula mengalungkan lengannya di leher Frans memaksa pria itu untuk menggendongnya. Beruntung Frans tipe pria penyayang, dia menggendong tubuh Lula, dan membawanya masuk ke rumah.


Setelah berhasil menghempaskan tubuh Lula ke atas ranjang. Frans berusaha mengontrol napasnya yang naik turun.


“Berat juga kamu!” keluh Frans, yang setia berdiri di samping ranjang. Tangannya berusaha menyelimuti tubuh gadis itu.


Saat Frans hendak meninggalkan kamar, langkahnya tertahan oleh bunyi pesan masuk di ponsel Lula. Sayangnya, Lula menyimpan ponsel itu di saku piyamanya. Dia tidak tahu menahu sejak kapan Lula mengantongi ponsel itu.


"Apa kamu menunggu Daddy menghubungimu tadi sampai-sampai tidur saja membawa ponsel?!" gumam Frans, mendadak merasa bersalah karena membuat Lula menunggu terlalu lama.


Saat getaran ponsel itu kembali terdengar, Frans terlihat ragu hendak mengambil atau tidak. Lantaran akan sangat tidak sopan jika menyentuh ponsel yang tepat berada di atas dada Lula yang menyembul. "Hei, ponselmu berdering!" kata Frans seraya menusuk hidung Lula.


"Angkat saja paling ayah yang menelepon!" sahut Lula, dia masih berada di alam sadarnya.