
Kehadiran Lula dengan kursi roda, menjadi pertanyaan besar bagi keluarga besar Ramones yang turut hadir di acara pengajian. Satu alasan dengan memberitahu jika kakinya retak, membuat Lula dan Frans berhasil menutupi kejadian yang sebenarnya terjadi.
Berulangkali Zahira mengeluhkan, menggerutu di depan Frans, akibat tidak becus menjaga Lula.
“Dua puluh tahun aku merawat putriku, enggak sampai-sampai dia terluka seperti ini! Kamu, nikah belum satu tahun aja, udah bikin kaki Lula retak!”
Omelan Zahira begitu menyayat dada Frans dan beruntung sahabatnya yang begitu baik itu mampu meredam kemarahan istrinya.
“Musibah itu tidak mengenal usia. Jangan begitulah—kasihan Frans, sejak menginjakan kaki di rumah sampai acara pengajian selesai, kamu omeli terus.” Rainer membujuk, jangan sampai istrinya tahu kalau Lula habis keguguran bisa-bisa Zahira langsung mengambil pisau untuk menikam menantunya itu.
Tak jauh dengan Zola, pria itu ikut memberi omelan terhadap Frans, yang notabene lebih tua darinya. “Kalau enggak bisa jagain Lula, kenapa harus dinikahin?! yang ngantre mah banyak, Om!”
Dan menyedihkannya lagi, setiap kata yang terangkai dalam bentuk kalimat pedas itu, semakin membuat Frans minder. Merasa dirinya bukanlah pria yang bijak, bukan suami yang baik dan sudah gagal menjadi seorang suami. Mungkin, karena ini lah Allah menunda jodohnya, karena dirinya belum sepenuhnya siap menjalani peran sebagai suami.
“Jangan begitulah, baik-buruknya daddy mau gimana pun dia suami Lula. Jadi, tolong hargai dia sama seperti Lula mencintainya.”
“Dasar BUCIN!” Zola meledek, lalu melenggang pergi mengambil lontong sayur yang tersaji di atas meja.
“Makanya status jomblo jangan ditambahi formalin. Awet kan jadinya!” balas Lula, selain untuk meledek Zola, dia juga ingin menghibur diri sendiri. Mereka berdua saling melempar kalimat hinaan, bahkan Lula sudah mendekatkan kursi rodanya ke meja hidangan. Guna, memukuli pria itu.
Kekhawatiran Frans melebur. Dia pikir di rumah Rainer akan terjadi drama termehek-mehek dan berakhir pada terbongkarnya kejadian kemarin. Tapi, sepertinya dia salah, Lula turut larut dalam canda dan tawa. Kesedihan yang tadi ikut serta pun, kini sirna. Istrinya bisa tertawa lepas, melihat Ben dan Zola kejar-kejaran, hingga berakhir, Zola kecemplung di dasar kolam.
Rupanya, kebahagian Frans adalah melihat orang dicintainya tersenyum lepas. Sepasang netranya tak berkedip menyaksikan bagaimana istrinya berinteraksi.
“Kira-kira dia beneran bahagia atau hanya menutupi kesedihannya?”
Pertanyaan yang diajukan Rainer berhasil mengalihkan fokus Frans. Frans menoleh menatap Rainer, berusaha mencari jawaban yang tadi dilemparkan pria itu untuknya.
“Jika kamu mengenal Lula, pasti tahu jawabannya.” Rainer memberi petunjuk.
“Aku rasa—dia tengah melakukan keduanya. Tertawa di atas Luka.”
“Kaya judul sinetron azab aja!” Rainer mengambil duduk di sofa, menemani menantunya.
Sepasang mata Rainer, kini fokus ke arah Lula yang masih setia bercanda dengan keluarga besarnya. Ada perasaan lega yang kini menghampirinya. “Aku sudah menepati janjiku, kan?”
“Hm?” Frans menoleh, melemparkan tatapan bingung. "janji apa?! aku nggak merasa kamu memiliki janji padaku."
“Memberikan Lula ke kamu. Aku sempat mengelak, sebab itu tidak akan mungkin dan bisa, tapi sepertinya aku yang harus menyerah dan wajib ikhlas memberikannya padamu.”
“Enggak ngerti aku sama maksud ucapanmu!” Frans menggeleng pelan.
“Bukankah aku pernah menyampaikan, bantu aku merawat Lula? Dulu, aku takut gagal menjadi ayah yang baik sampai kamu menyanggupi akan membantuku, dengan syarat kalau sampai dia jodohmu, aku harus ikhlas menyerahkan Lula untukmu! Dulu, saat kita hampir lulus SMA." Rainer berusaha mengingatkan kenangan masa lalunya bersama Frans.
Frans kini tersenyum cerah, ucapan yang sejujurnya hanya candaan itu sepertinya didengar oleh Allah. Jadi, 20 tahun kemudian, dia benar-benar menjadikan Lula sebagai bidadari dunianya.
“Hm—aku sudah bertekad begitu!” sambut Frans.
“Kan, sudah kuduga. Jadi kamu beneran mencintainya?”
“Kamu masih ragu?” balas Frans dengan pertanyaan.
“Aku hanya bingung, sejak kapan rasa itu ada?”
“Sejak Lula mau mengorbankan waktunya untuk menjadi istriku. Dia berani mengambil resiko, padahal tidak tahu—masalah besar apa yang akan dilewati nanti.”
“Dia hebat bukan? Aku tidak gagal mendidiknya kan?” tanya Rainer dengan mata masih menatap ke arah Lula.
“Yah, harus kuakui kamu ayah yang hebat, karena bisa mendidik Lula seperti sekarang. Tapi semua itu kan tidak luput dari campur tanganku!” kata Frans, penuh percaya diri.
Rainer akui itu memang benar, mereka berdua sering kali berdebat masalah pakaian Lula, pergaulan Lula. “Sekarang apa aku boleh nuntut ke kamu?”
Frans mengangguk, sembari membuka telinganya lebar. Siap menerima apapun yang hendak di sampaikan Rainer.
“Apapun nanti yang terjadi, ke depannya jangan pernah meninggalkan Lula sendirian. Kalau kamu merasa dia membosankan, dia menyebalkan, ingat-ingat lagi gimana proses dulu kita menjaganya. Kalau kamu ingat, kamu tidak akan berani menyakitinya.”
“Siapa juga yang berniat meninggalkan Lula?! Enggak ya?”
“Kalau begitu aku tantang kamu mengakuinya di depan umum.”
Frans menatap heran ke arah Rainer, adakah maksud tersembunyi dari permintaanya ini? Tapi sekilas kemudian dia menganggukan kepala, menyetujui permintaan pria itu. “Kamu tidak akan malu, memiliki menantu sahabatmu sendiri?” tanya Frans.
“Kalau aku balik, kamu emang tidak malu punya istri anak dari sahabat kamu?”
“Tidak, meski Lula masih 20an, tapi pikirannya jauh lebih dewasa dari rekan seusianya. Kamu pasti sudah tahu kan, kalau dia selalu membantu pasien tidak mampu? Kamu pasti juga sudah tahu dia selalu mengunjungi anak panti untuk berbagi. Dia memang tidak memiliki tabungan uang di rekeningnya, karena uangnya sudah dipakai membantu— Lula biasa menyebut mereka teman-temannya. Dia bahkan sangat bersedih saat kehilangan salah satu temannya.” Pandangan Frans masih setia, tertuju pada Lula yang tengah tertawa.
Rainer hanya tertawa kecil. “Karena itu, aku tidak ingin emas permataku jatuh ke orang yang salah! kecerdasan yang dimiliki boleh lamban. Tapi, dia memiliki kelebihan, yaitu hati yang baik.”
Kalimat Rainer terdengar seperti perintah, seolah Frans wajib menunjukan kepada Rainer, jika dirinya pantas untuk memiliki Lula.
“Dad! Ayo pulang!” Teriakan yang khas rengekan itu terdengar begitu membahana di sudut rumah Rainer. Saat dia menoleh, Frans bisa melihat Lula masih tertawa, becanda dengan mereka.
“Sepertinya aku harus pulang. Kamu tunggu waktunya tiba, aku akan mengenalkan Lula pada dunia!”
“Lebay! Enggak dunia juga keles!” Rainer menendang ke arah Frans, nyaris terkena bo kong sahabatnya yang baru saja beranjak dari sofa. "circle pertemanan Lo itu cuma sama gue!" panggilan Rainer kembali ke setingan awal.
“Tonton live di youtube channel Pagara Group!” Frans lalu berlari sebelum mendapat hadiah lemparan asbak di kepalanya.