Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Terlelap



[Om Zola, tukang ojeknya Lula yang paling tampan, jangan lupa! Lula pulang jam sebelas! Wajib datang tepat waktu. Aku akan keluar lebih awal, soalnya ngantuk berat!]


Lula mengirimkan pesan panjang itu ke nomor Zola. Berharap pria itu akan menuruti apa yang diinginkan.


Sembari menunggu balasan dari Zola, Lula memandangi tulisan di buku yang sengaja dibawa. Lula memilih menyendiri di tempat sepi, duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang, seraya membaca apapun yang bisa ditangkap memorinya.


Suasana pagi menjelang siang ini cukup tenang, sekolah sengaja meliburkan siswa kelas x dan XI, supaya siswa kelas XII bisa fokus mengerjakan. Lula meraih kembali ponselnya saat mendengar getaran. Ia lekas membuka pesan balasan dari Zola.


[Kagak bisa, Onah! Gue selesai ngampus jam 11. Jadi paling tidak, tiba di sana pukul 12.]


Lula tak terima dengan balasan Zola.[Kenapa lama sekali? Keburu mengakar gue nungguin Lo! ]


[Soalnya gue mau nganterin pesanan ayahmu ke rumah sakit!]


kali ini balasan Zola datang lebih cepat, dengan cepat pula Lula meresponnya.


[Serius? Kalau begitu gue ikut lo ke rumah sakit!]


[Tidak usah! Merepotkan saja!] Zola membalas, menolak permintaan Lula.


[Gue harus mengawal lo, supaya nggak ngomong macem-macem ke ayah Rainer!] Lula menyampaikan niatnya ikut ke rumah sakit pada Zola. Dia hanya khawatir pria itu akan mengadukan perkara semalam kepada ayah Rainer. Lula tidak ingin hubungan persahabatan mereka rusak karena dirinya.


[Ayah lo, kakak gue, nape! Serah gue mau ngomong apaan!]


Balasan Zola membuat Lula semakin kesal. Mau tidak mau dia harus mengeluarkan jurus andalannya.


[Gue aduin ke opa Abhi!] ancam Lula bibirnya tersenyum cerah selesai mengetik pesan itu.


Zola tak akan berani membantah, jika Lula menyebut nama opa alias ayah kandungnya. Bisa dicincang halus jika Lula mengadu yang bukan-bukan.


[Mendingan lo, naik gojek aja. Password apartemen, Zola ganteng!]


Meski Lula bodoh tapi dia tidak bisa ditipu oleh Zola. Jari-jarinya sibuk mengetik balasan ke Zola.


[Mana ada! enam digit Zola! Kebodohan gue tidak sekejam itu]


[Ya, sudah. Tekan angka 080808!]


[Okay. Terima kasih, jangan lupa nanti bawa makan siang. Dan satu lagi kalau sampai lo ngomong ke ayah tentang kejadian semalam. Gue juga nggak segan ngaduin lo ke opa! perkara Lo yang sering gonta-ganti pacar layaknya pakaian dallam!]


Lula tidak memeriksa lagi setelah mengirimkan pesan terakhir ke Zola. karena setelah itu, bel masuk kelas mulai terdengar. Itu artinya latihan ujian akan segera dimulai.


Dari sekian banyak siswa yang ada, hanya Lula yang terlihat santai. Berjalan seperti biasa, meski siswa yang lain tengah berlarian memasuki kelas.


Saat jarak dengan kelasnya semakin dekat, Lula justru kembali berpapasan dengan Levin. Pria itu menatapnya lekat, seperti tadi pagi saat keduanya bertemu di depan pintu gerbang.


Lula berusaha mengabaikan Levin, sudah cukup banyak masalah yang menimpanya saat ini. Dan dia tidak berniat untuk menambah lagi.


“Percaya sama gue, Lula!” bujuk Levin, dengan nada memohon.


Pandangan Lula menatap Levin, lalu bibirnya tersenyum simpul. “Iya gue percaya!” Lula tidak begitu mempedulikan tentang penjelasan Levin, jika ada seseorang yang saat ini sedang mengadu domba antara dia dan Frans. Levin bilang padanya jika itu adalah ulah Tante Priscilla.


Dan jujur Lula tidak ingin berhubungan dengan siapapun untuk sekarang ini, termasuk Levin. Biarkan mereka, menyelesaikan masalahnya sendiri.


Kalau nanti mereka berjodoh, Daddy Frans pasti akan kembali padanya. Dia tidak ingin mengambil pusing tentang Daddy. Mau dia menyembunyikan serapat apapun, pasti dan secepatnya keluarga besarnya akan tahu juga.


Bukankah sudah biasa dia direndahkan seperti tadi pagi? Nanti mereka juga akan bungkam sendiri setelah tahu fakta tentang kehidupannya. Semuanya hanya menunggu waktu. Toh percuma juga dia menjelaskan, mereka tidak akan percaya. Dan Lula tidak perlu terlihat baik di mata manusia yang mencacinya. Termasuk suaminya sendiri.


“Lo marah sama gue?” selidik Levin.


Lula menghentikan langkahnya, menatap Levin yang berjalan di sampingnya. “Kenapa bisa bilang begitu?” balas Lula.


“Lo sadar nggak udah diemin gue, La?”


“Enggak!" Lula menggeleng tegas. "Aku nggak nyadar sama sekali! Dari dulu kan hubungan kita memang seperti ini. Kita teman sekelas.” Lula melanjutkan langkahnya mendahului Levin. Saat mengingat sesuatu, Lula kembali menatap Levin. “O, ya! terima kasih dulu pernah ada disamping gue! jujur gue nggak mau punya hutang budi ke lo! Kalau ada sesuatu, katakan, berapa yang harus kubayar!” bukan berniat sombong tapi Lula tidak ingin dituntut pertanggungjawaban oleh Levin.


Lula kemudian melangkah melewati sosok wanita yang sedari tadi menatap ke arahnya dan Levin, tatapan mengerikan seakan menuntut penjelasan. Tapi Lula yang malas enggan memberikan penjelasan apapun. Karena dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Levin.


Karena semalam tidak belajar, Lula sedikit kesusahan menjawab lembaran soal yang diedarkan oleh guru pengawas. Entah benar-atau salah, yang penting dia bisa mengisi dengan jawaban yang menurutnya tepat, hingga dia mengembalikan kertas tersebut kepada guru pengawas.


Lula benar-benar pulang di urutan pertama. Dia berjalan keluar gedung sekolah, berniat memesan ojek.


Namun, saat langkahnya tiba di depan pintu gerbang, pandangannya disambut oleh sosok laki-laki yang berada di atas motor, berlari kecil menghampiri Zola.


“Katanya mau ke rumah sakit, enggak jadi?” tanya Lula.


“Nggak, udah aku kirim lewat gojek pesanan ayahmu.”


“Om Zola memang terbaik!” puji Lula, sedikit heran dengan kehadiran Zola. Padahal Zola bilang jika dirinya baru akan selesai ngampus pukul 11 tapi ini belum pukul 11 dan Zola sudah berada di depan gerbang sekolahnya.


Tak ingin membuang waktu, Lula lekas naik ke motor. Meminta Zola untuk mengantarnya ke apartemen, karena dia ingin numpang tidur.


“Jangan!”


Lula sedikit kecewa dengan jawaban Zola. “Tapi kasihan Eyang. Beliau sudah berharap banyak ke aku. Tapi aku juga khawatir daddy akan membawa tante cesil. Gue galau banget deh, Zol!”


“Ya, udah kamu datang! lakukan itu demi Eyang Ano. Dandan yang cantik, wangi, tampil beda biar dia nyesel karena kemarin sudah jalan sama mantannya.”


Lula memang belum cerita ke Zola tentang kejadian tadi pagi di dalam mobil. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Zola saat mengetahui keponakannya dituduh menjual diri.


Jual diri kok ke suami? Emang ada?! Sialan tuh Daddy! Awas aja kubuat berdiri beneran baru tahu rasa. Lula terus mengungkapkan gerutuanya, dalam hati.


Di sisa perjalanan menuju apartemen, mereka tidak lagi berbicara, sampai motor yang dikemudikan Zola sudah berhenti di area parkir motor apartemen. Lula mengajak Zola untuk segera naik ke tower unit yang dihuni Zola. Matanya sudah tidak bisa lagi dipaksa terbuka.


Tiba di apartemen Lula langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Tanpa menunggu lama, gadis itu sudah terlelap. Bahkan, di saat Zola masih sibuk membuatkan minuman.


"Dasar, Lula! ini siapa yang minum!" keluh Zola seraya mengacak rambutnya kasar.


Zola yang memiliki banyak pekerjaan memilih mengerjakannya di ruang khusus belajar. Mumpung situasinya sedikit tenang, dia harus mempergunakannya semaksimal mungkin. Sebelum pengganggunya itu bangun dan merecoh pekerjaannya.


Lula belum juga bangun di saat jarum jam sudah menunjukan pukul lima sore. Nada dering ponselnya sengaja ia senyapkan, tidak membiarkan seorangpun menganggu waktu tidurnya. Bahkan dia tidak menyadari jika suaminya tengah kebingungan mencari keberadaanya.


Lula membuka mata saat Zola berusaha membangunkannya, cahaya senja terlihat begitu indah dari posisinya sekarang ini. Lula diam sejenak, menikmati jingganya langit sore dari balik jendela apartemen.


“Ponselku mana, Zol?! Aku lupa tadi menghubungi Eyang.”


“Lo gimana sih?!” ketus Zola. “Lo, belum ngeluarin ponsel, tiba di sini lo langsung tidur di sofa!” gerutu Zola, menurutnya itu fatal, pergi tanpa pamit.


Lula menyadari pasti eyang kebingungan mencarinya saat ini. Dia berjalan gontai menuju tas ransel yang tadi dijatuhkan ke lantai.


Lula segera membuka ponselnya, begitu banyak informasi yang di dapatkan. Tak lain adalah 35 panggilan tidak terjawab dari Frans. 10 panggilan tak terjawab dari ayah Rainer. Dan 10 panggilan tak terjawab dari Eyang Ano. Pesan beruntun pun tak luput dari pandangannya. Mereka berusaha menanyakan keberadaanya saat ini.


“Apa ayahku meneleponmu, Zol?”


“Tidak.”


Saat Lula hendak menelepon ayah Rainer. Telepon dari Eyang Ano masuk terlebih dahulu ke nomornya.


“Astagfirullah, cucuku, kamu di mana?!”


Lula meringis tanpa dosa mendengar nada kekhawatiran yang ditunjukan eyang Ano. “Ketiduran, Eyang. Di apartemen Zola!”


“Lain kali kabari Eyang! Jantung Eyang mau lepas! eyang mengkhawatirkan mu!”


“Maaf Eyang. Lain kali Lula tidak akan mengulanginya.”


“Maafin Eyang juga sudah panik dan membuatku takut. Lain kali kalau mau pergi dekat atau jauh, sebaiknya izin dulu! Lula, bukan Cuma Eyang, tapi frans juga kalang kabut mencari keberadaan mu.”


“Bai—baik Eyang!” Lula merespon dengan sungguh-sungguh, dia yang salah di sini. Pergi tanpa mengabari orang rumah.


“Kamu jadi datang, ke acara peresmian, kan?”


“I—iya Eyang. Ini juga mau siap-siap.” Lula melirik ke arah Zola yang masih setia memperhatikannya. “Bolehkah Lula membawa Zola, Eyang?” imbuhnya.


“Boleh, silakan saja! kirimkan alamat Zola, ada mobil yang akan menjemput kalian!”


“Terima kasih Eyang. Tapi lebih baik Lula naik mobil Zola saja deh!” tolak Lula, halus.


"Ya, sudah yang penting kalian hadir ya!"


"Baik, Eyang!"


Setelah panggilan mereka terputus, sepertinya frans menyadari akan dirinya yang sudah bisa dihubungi. Terbukti saat ini ada pesan masuk dari pria itu.


[Aku jemput, ya! ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.]


[Tidak perlu! Kita bisa bicara setelah acara resmi selesai] Lula langsung menjawab pesan singkat yang dikirim suaminya. Lula sengaja menolak, tidak ingin bertemu Frans lebih awal apapun itu alasannya.


“Buruan mandi, temanku sebentar lagi datang! Dia akan merias wajahmu!” Zola memberi perintah, saat melihat gerakan jarum jam yang terus bergerak maju.


“Serius?”


“Ya.”


Lula melompat sambil memeluk Zola. “tahu aja kalau aku tidak bisa dandan! Terima kasih, Om Zola!”


“Tapi jangan heran dengan hasilnya. Karena temanku biasa merias mayat!”


Lula menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tiba-tiba merasa lemas mendapati fakta yang baru saja diungkap Zola.


“Udah sana, yang penting kamu cantik malam ini!”