
Bel pulang sekolah sudah mengudara sekitar lima menit yang lalu. Lula sengaja keluar paling akhir dari teman sekelasnya, karena tidak ingin melihat tatapan menghina dari mereka, akibat peristiwa memalukan kemarin.
Levin yang kemarin menatap Lula sedingin salju, kini berulangkali mencuri pandang ke arah Lula. Entah, mungkin hendak memohon supaya dia tidak membongkar kenakalannya yang telah diperbuat.
Hari ini, di dalam kelasnya Lula berperan menjadi gadis anteng, bahkan tidak berbicara pada siapapun kecuali teman sebangkunya, Elkan. Membiarkan orang terus menggunjingnya. Toh, mereka akan semakin bahagia jika dia menunjukan patah hatinya. Mereka juga tidak akan percaya jika berkata, Levin bukanlah pria baik-baik. Siapapun yang mendapat gelar good looking, sekalipun nakal akan tetap mendapat pembelaan dari para penggemar termasuk Levin, jadi lebih baik dia diam saja. Memendam apapun yang kemarin diketahuinya.
“Kamu mau pulang nggak sih, Cur?” tanya Elkan, saat ruang kelas menyisakan mereka berdua.
“Pulanglah, masa iya mau bikin tenda di sini?” Lula mengalungkan tas-nya di pundak, lalu berjalan keluar kelas.
Seperti biasa, Elkan akan berjalan di samping Lula. Jika mobil jemputan Lula sudah datang, mereka akan berpisah tapi jika belum mereka akan mampir ke warung untuk sekedar membeli es.
“Kemarin kamu bolos ke mana?” tanya Elkan, membuka obrolan.
“Tempat yang bagus banget, nggak nyesel aku bolos ke sana. Yah, walau perjalanannya lumayan jauh.”
“Di mana?” selidik Elkan mulai penasaran.
“Enggak tahu Zola yang nyetir.” Lula menjawab singkat, sembari membuka bungkus permen.
“Masa iya kamu nggak baca lokasinya,” cibir Elkan.
“Iya—ya? kenapa kemarin aku nggak baca di mana itu, kan lain kali kita bisa ke sana bareng.” sesal Lula, mengingat kebodohannya.
“Tanya ke Zola deh!” perintah Elkan, memberi solusi.
“Ck,” Lula berdecak pelan, mustahil Zola mau memberitahunya. "Kita bolosnya ke bioskop saja!"
"Ogah, mendingan nonton Drakor di rumah. Beli makanan di foodcourt bioskop mahal! Bisa kere aku terakhir kamu di sana."
Tiba-tiba saja langkah Lula terhenti ketika jarak menyisakan beberapa meter dari pintu gerbang. Pandangan Lula terpaku pada sebuah mobil mewah yang berada tepat di depan pagar. Mobil Maserati warna hitam mengkilap dengan atap yang sudah terbuka tampak begitu menarik perhatian.
Apalagi sosok sad boy yang kini duduk di balik setir kemudi, gerakan tangannya saja mampu membuat para ayam sekolah meneteskan air liurnya.
Pria itu adalah Frans, siang ini dia tampil dengan style maskulinnya. Terlihat memukau saat dua jari kirinya menaikan kaca mata hitam yang bertengger di hidung. Sedangkan jari-jemarinya yang kanan, sibuk menyentuh layar.
“Kenapa berhenti?” Elkan memprotes, saat Lula tak melanjutkan langkahnya.
“Em—em,” lidah Lula masih bingung hendak berbicara apa, dia hanya menatap sosok pria yang masih setia panas-panasan itu. Hingga tidak lama kemudian, ponsel di sakunya berdering nyaring. Membuat Lula semakin yakin jika yang menghubunginya saat ini adalah Frans.
Jujur setelah obrolannya dengan Zola kemarin. Lula jadi memikirkan tentang malam pertama yang akan mereka berdua jalani. Zola berkata, jika semua laki-laki itu sama, me-sum!
Apa kau sudah melakukannya? saat itu Lula bertanya dengan suara polos.
Menurutmu?
Menurutku kamu sudah melakukannya.
Dan Zola menjawab dengan tawa kecil. Membuat Lula menyimpulkan jika Zola memang sudah melakukan hal itu dengan sang kekasih.
“Lula! Angkat teleponmu!”
Lula seperti tersadar dari lamunan saat Elkan berteriak tepat di depan wajahnya. Tangannya segera menggeser kursor hijau untuk menerima panggilan itu.
“Hallo, Dad?”
“Udah keluar, kan?” tanya pria di seberang.
“Iya. Sudah. Tapi—
“Tapi apa? jangan bilang hari ini kamu sudah pulang,” tebak Frans suaranya terdengar begitu kesal.
“Pacar?!” suara pria itu terdengar shock, dan dari posisinya saat ini Lula bisa melihat pria itu tengah membuka pintu mobilnya, turun dari mobil Maseratinya.
“Em iya, pacar, Dad! Belahan jiwa. Bukankah Daddy yang mengizinkan aku pacaran. Ugh rasanya enak banget dapat perhatian gini!” satu kesalahan Lula hari ini, dia memulainya dengan kebohongan. Dan dari pandangan Lula, pria itu terlihat begitu gelisah.
“Berikan ponsel mu ke pa-carmu!” perintah Frans dengan nada tinggi.
“Dad!”
“Daddy bilang, berikan ponsel itu padanya!”
Lula meringis, lalu menutup lubang kecil yang ada di dekat bibirnya. “Bilang kalau kamu pacarku! Bilang saja aku diantar kamu. Dan kita sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit!” Lula memberi perintah pada Elkan, melihat pria itu mengacungkan jempol, Lula langsung tersenyum menang.
“Hall—
“Kalian di mana?”
Baru saja hendak menyapa suara protes dari Frans sudah memotong ucapan Elkan.
“Eh, kita lagi di jalan, Om.”
“Jalan apa? Eh, tidak! Tidak! Menuju ke mana? Aku harus tahu kamu membawa Lula ke mana?” tanya pria itu cemas.
“Em Lula minta diantar ke rumah sakit.”
“Dia sakit?”
“Om nanya terus kaya wartawan saja! Udah om tenang saja, secepatnya kita akan sampai di rumah sakit.”
“Awas ya kalau kamu bohong! Tinggal nama kamu nanti,” ancam Frans. “Berikan ponselnya pada Lula!” perintah pria itu, dan Elkan lekas mengembalikan ponsel itu kepada Lula.
“Apa lagi, Dad? percayakan kalau Lula pergi sama pacar Lula?”
“Dengarkan Daddy baik-baik. Ini pertama kali kamu pacaran, jadi jangan aneh-aneh! Atau kamu mau Daddy cabut perjanjian itu! kalau dia macam-macam dan ingin membawamu masuk kamar, kamu harus segera kabur! paham?!” kata Frans tegas.
Lula diam mencerna ucapan Frans. "Tapi kalau ke kamarnya untuk belajar nggak papa kan, Dad?"
“Tidak, jangan masuk kamar dengan pria. Berbahaya! ingat baik-baik ucapan Daddy!”
Lula menahan tawa, dia cukup paham kekhawatiran suaminya itu.
“Menurutlah pada Daddy, kalau kamu sampai hamil diluar nikah, daddy bisa digantung sama ayahmu.”
"Kan, Lula udah nikah, jadi nggak papa kalau hamil!"
"Lula!" teriakan Frans membuat Lula menjauhkan ponselnya dari telinga. Bibirnya tertawa lebar namun tak ada suara. Dia bisa melihat wajah murka pria di samping Maserati itu.
"Iya, ya, udah Daddy jangan terlalu memikirkan Lula!" pesan Lula, lalu segera mematikan panggilan tersebut. Namun, sialnya baru beberapa detik saja ponselnya kembali berdering, Frans kembali menghubunginya.
“Apalagi, Dad?”
“Siapa suruh mematikan telepon saat daddy lagi bicara?!”
“Iya, maaf, ada apa Daddy?”
“Nanti malam kamu jangan tidur dulu, kita akan pulang ke rumah. Aku nggak mau tidur di rumahmu lagi!”
Bibir Lula melengkung, sedih menyadari harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Sepertinya dia tidak bisa lagi menghindar, dia benar-benar harus ikut pindah ke rumah pria itu. Siap atau tidak siap.
“Ya.” Lula menjawab lemah, lalu mematikan panggilan suara dari suaminya.