
“Dad!” Lula terlihat tak terima dengan pertanyaan yang ajukan suaminya.
“Masuklah dulu, Daddy butuh bicara dengannya!” perintah Frans ketika menyadari itu benar-benar sepupu Priscilla. Pria itu tidak mungkin menyangkal lagi, karena pernah beberapa kali bertemu dengannya.
“Daddy, buruan berangkat kerja! Bisa tutup nanti perusahaan kalau atasannya aja berangkat telat!” Lula menolak pergi. Dia justru meminta pria itu untuk segera berangkat bekerja.
Lula khawatir Levin akan mengatakan pada Frans jika dia pernah mengungkapkan perasaaanya pada pria itu. Bisa habis kalau pria itu tahu jika dirinya nembak cowok duluan!
“Lula!” Frans sedikit meninggikan suaranya, membuat Lula menatapnya heran.
Namun, tetap saja gadis itu berdiri di samping Levin. Mengabaikan perintah suaminya.
“Rapikan rambutmu Lula! Tidak mungkin, kan kamu masuk kelas dengan rambut yang masih menggunakan roll?”
Lula meraba rambutnya, memang dia sempat menggunakan roll rambut saat perjalanan menuju sekolah. Dan sekarang dia justru lupa untuk melepaskannya.
“Levin!” panggil Lula, satu matanya memberi isyarat ke pria itu untuk kabur bersama. Tapi, sepertinya, Levin enggan menuruti perintahnya. Dia justru memasang wajah dingin, menanggapi sikap Frans.
“Masuklah dulu, aku juga perlu bicara dengan suamimu!”
Baik Lula maupun Frans terkejut mendengar itu. Tapi Frans dengan cepat menyadari perubahan sikapnya. Dia menebak, Priscilla sudah memberitahu keluarga besarnya, dan jadilah Levin tahu semuanya tentang Lula.
“Kamu tahu dari mana, Lev?” tanya Lula ingin tahu.
“Lula masuk!” perintah Frans tegas, wajahnya sudah merah menahan amarah.
“Daddy!”
“Masuk, LULA! Daddy bilang masuk ya masuk!” perintah Frans, suaranya begitu keras, bahkan urat di lehernya menegang.
Meski sudah sering mendengar bentakan dari Frans, tapi Lula merasa sakit hati saat ini.
“Kamu pergi bisa nggak sih!” timpal Levin, kasar. Dia juga penasaran apa yang ingin dikatakan Frans setelah kepergian Lula.
“Kalian kenapa sih!” Lula menggerutu, meski tidak terima dia tetap berjalan meninggalkan mereka berdua.
Setelah Lula meninggalkan lokasi, Levin kembali mengamati Frans. “Ada apa? Bukankah Om tahu di mana tante Cilla saat ini?” tanya Levin, memberanikan diri membuka obrolan.
“Ya. Aku tahu.”
“Syukurlah.”
“Kamu tahu alasan dia kabur, kan? tidak mungkin dia berani berbuat seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang disembunyikan dariku?”
Levin tertawa lebar. “Buat apa Om tanya tentang alasan tante Cilla kabur? Om sudah menikahi Lula! Masih mau serakah?”
“Bukankah Om senang?” Levin tertawa remeh. “Dapat daun muda, sayangnya ….” Levin menggantungkan ucapannya, menunjuk pelipisnya sendiri, mengetuknya beberapa kali. “BODOH!” Lalu kepalanya menggeleng, bibirnya mengeluarkan desakan kasar. “Aku tidak menyangka, pria yang selama ini dianggap ayah oleh Lula benar-benar menikahinya. Apa tidak ada wanita lain yang lebih layak selain si bodoh itu?!”
“Tutup mulutmu!” sentak Frans. “Kamu tidak berhak menentukan dengan siapa aku menikah!” emosi Frans meledak, ada rasa tidak terima mendengar setiap kata yang ditujukan untuk Lula. “Aku menemuimu hanya untuk menanyakan alasan Cilla kabur, bukan untuk membahas tentang pernikahanku dengan Lula!” Frans mengingatkan.
“Kalau Om ingin tahu alasannya, tanyakan pada diri Om sendiri! Kemana saja Om selama berhubungan dengan tante Cilla! Kurang peka!” kata Levin, kakinya menjauh meninggalkan Frans yang setia berdiri di depan gerbang sekolah.
“Apa dia akan mengatakan pada teman-temannya tentang status Lula?!” gumam Frans mendadak khawatir dengan status istrinya di sekolah. Tangan Frans lekas merogoh ponselnya, berusaha menghubungi Lula sebelum bel masuk terdengar.
“Hallo, Lula?” tanya Frans, mendadak blank harus bertanya apa.
“Ada apa daddy? Nyesel udah minta aku buat masuk? Apa sekerang wajah daddy butuh perawatan?” gadis di seberang panggilan terbahak, membuat Frans lega menyadari Lula dalam kondisi baik-baik saja.
“Lula, katakan pada Daddy kalau Levin melakukan sesuatu padamu!” pesan Frans.
“Mana berani dia menyakitiku, Dad. Tenang saj—
Suara Lula terhenti berganti dengan suara pria yang sepertinya tengah berjalan di samping Lula.
Sayang … dari tadi aku panggil-panggil ayang, loh! Ini centelan atau telinga sih?
Astaga Sayang … jangan cium-cium pipiku! Ini masih pagi, tempat umum pula! Malu tauuuu!
Suara obrolan dari dua sijoli itu membuat Frans berdecak kesal. Dia tengah membayangkan bagaimana dua manusia itu berinteraksi.
Nanti nonton ya? Suara si pria kembali terdengar.
Aih …aih, harus ke rumah Kakek. Jadi nggak bisa.
Suara Lula terdengar manja, dan sepertinya gadis itu belum menyadari jika panggilannya dengan Frans masih berlangsung. Dan yang bisa Frans lakukan adalah mendengarkan obrolan mereka berdua.
Terus kapan? Si pria kembali bertanya.
Seiring obrolannya terdengar jelas. Frans melangkah menuju mobilnya. Dia tetap mendengarkan apa yang sedang mereka rencanakan, seraya melajukan mobilnya menuju kantor.
Frans mendengar semua rencana Lula dengan kekasihnya. Dia tidak ingin menggagalkan rencana Lula secara terang-terangan. Tapi dia punya cara lain yang membuat kencan mereka batal.
Bibir Frans tersungging, hingga terdengar sapaan dari guru pengajar jemarinya mematikan panggilan itu. Dia menyadari jika istri kecilnya itu harus mengikuti pelajaran dengan baik.
“Kencan? Baiklah! Silakan berkencan!” kata Frans lirih diiringi pijakan gas nya yang semakin dalam, membawa Maserati mewahnya menuju kantor.
“Alasan belajar, di suruh menemui guru private aja alasan mulu!” di sisa perjalanan Frans mengomel tidak jelas, untung bibirnya tidak keriting saat tiba di kantornya.