Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Ingkar



Senyum miris terbit dari bibir Lula saat kakinya melangkah memasuki kamar utama yang ada di lantai atas. Suasana kamar itu terasa begitu tenang. Wangi parfum yang tertinggal bercampur menjadi satu dengan parfum yang dikenakan Lula saat ini, membuat perutnya terasa mual.


Lula berdiri di bawah pancaran mesin pendingin. Seketika udara dingin langsung menyapa pori-pori kulitnya.


Ngapain juga aku tidur di sini? Lula mengomeli dirinya sendiri. Jika bukan karena menghormati asisten rumah tangga yang dipekerjakan Eyang Ano, dia memilih tidur di dalam kamarnya sendiri. Lebih nyenyak dan nyaman tentunya.


Kaki Lula berjalan mendekati charge ponselnya. Sebelum kembali pulang, Lula sempat mampir ke rumah kakek Ken, untuk mengambil ponsel serta memastikan kondisi pria itu baik -baik saja. Sayangnya, ketika dalam perjalanan pulang ponselnya kehabisan baterai.


Setelah memastikan baterainya terisi, Lula lekas beranjak menuju kamar mandi. Dia tidak menyadari di saat kakinya melangkah menjauh ada puluhan pesan yang masuk ke nomornya.


Dan ketika dia keluar ingin memeriksa ponselnya, pria yang tadi mengiriminya pesan justru sudah menghapus runtutan pesan yang belum lama di kirimkan untuknya. Pesan-pesan itu gagal di baca oleh Lula.


“Maksudnya apa? Belum juga dibaca sudah dihapus.” Lula bergumam pelan, sambil mengetik pesan balasan.


[Daddy, ngirim apa ke Lula? Kaya ABG aja pakai hapus pesan!]


Meski pria itu sudah membaca pesan yang dikirim oleh Lula. Tapi dia enggan memberikan balasan.


Lula pun memilih merebahkan diri, usai tak ada respon dari Frans. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Mengingat saat ini sudah menunjukan pukul delapan malam. Dia harus beristirahat sebelum besok kembali ke sibuk dengan kegiatannya.


Meski tubuh Lula sudah siap menyambut alam mimpi, tidak dengan pikirannya. Dalam benak Lula, kini membayangkan saat nanti adiknya lahir. Pasti akan sangat menyenangkan jika bayi itu bisa diakuinya sebagai anak.


“Apa tanggapan Ben tentang ini?! Astaga apa dia juga akan menyukai.” Lula terus bermonolog sendiri. Dia ingat dengan benar, bagaimana kehidupan Ben sehari-harinya, bocah 10 tahun itu lebih suka tinggal bersama opa Abhi, karena di sana ada Tante Reina yang masih memiliki anak berusia batita. Ben dari dulu suka bayi, siapapun bayinya itu ingin dibawa pulang. Tapi sang ayah enggan memberikan entah kenapa, Lula sendiri tak paham dengan itu.


Nyaris pukul sepuluh malam, akhirnya pikiran Lula mulai kelelahan. Perlahan mata yang sedari tadi sudah terkantuk-kantuk, kini berhasil terpejam rapat. Lula mulai babak baru, memasuki dunia mimpinya.


Keesokan harinya, Lula menjalankan aktivitas seperti biasa. Saat pelajaran berlangsung, Lula jauh lebih bisa berkonsentrasi dengan guru yang berbicara.


Meskipun tempat duduk Lula dan Elkan masih bersandingan, tapi komunikasi mereka sangat buruk. Bahkan nyaris tidak ada obrolan di antara keduanya.


Lula sering memerhatikan ekspresi Elkan saat membalas pesan untuk kekasihnya. Pria itu terlihat begitu semangat saat bel pulang terdengar begitu nyaring, langsung pergi meninggalkan ruangan.


Begitu pun dengan Levin, pria itu selalu duduk di samping kekasihnya. Sepertinya cuma Lula yang merasakan hari-harinya semakin sepi. Ya, mungkin sebentar lagi dia akan merasa lebih hampa setelah pernikahannya dengan Daddy Frans kandas.


Di saat jam pulang sekolah tiba, Lula terlihat begitu semangat melangkah keluar kelas. Dia ingin menyaksikan kondisi suaminya saat ini. Pasti wajahnya berbinar cerah setelah pertemuannya dengan tante Priscilla. Seperti mendapatkan amunisi baru, setelah sekian lama tidak diisi.


Apa mereka juga melakukannya? pikir Lula, tiba-tiba saja langkahnya melambat usai pikiran kotor itu muncul. Aku yang salah juga, aku istrinya tapi tidak pernah bersikap sebagaimana peran istri.


langkah Lula sudah berhasil melewati pintu gerbang sekolah. Sayangnya, lagi-lagi bukan Daddy yang saat ini menjemputnya. Seperti dua hari yang lalu, om Ibnu kini berdiri di depan kap mobil, bersiap membuka pintu, ketika mendapati langkah Lula semakin dekat.


Langkah Lula yang tadi bersemangat kini melambat. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lula berusaha berpikir positif, dia tidak ingin dirinya terus menerus dilingkupi kekecewaan. Dia harus tahu dengan cara apa membuat dirinya sendiri bahagia.


Tanpa menyapa Ibnu yang berada di balik stir kemudi Lula memeriksa ponselnya, siapa tahu pria itu menghubunginya, dan belum sempat ia baca. Tapi rupanya tidak, tetap tidak ada pasan apapun yang disampaikan Frans untuk Lula.


“Pak Frans membatalkan penerbangan, jadi dia masih berada di Singapura.” Gerakan jemari Lula berhenti seketika saat mendengar kalimat yang diucapkan Ibnu.


“Tidak apa-apa, Om! Aku paham kok!” kata Lula, meski dalam hatinya kecewa karena Frans melupakan ucapannya semalam.


“Tapi Bapak tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Dia akan bekerja dari Singapura.”


Lula mengangguk, sangat mengerti hal itu. Mungkin, suaminya perlu waktu untuk merawat Tante Priscilla.


“Nona kecil tidak masalah?”


Lula menutupi kesedihannya dengan tawa. Dia tidak perlu bersedih selayaknya wanita yang sedang jatuh cinta terhadap prianya, lalu ditinggal pergi. Dia belum berada di tahap itu.


“Lula sangat mengerti Om! Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau Daddy masih berada di sana. Berarti dia berat untuk meninggalkan tante Priscilla.” Lula menoleh ke arah Ibnu. Pria itu terlihat begitu terkejut mendengar ungkapan hati Lula.


“Tenang saja Om ibnu. Kamu kan tahu sendiri, hubungan kami itu dalam lingkup perjanjian. Kalau Daddy sudah menemukan kebahagiaannya saat ini ... lalu apa gunanya aku? kehadiranku tidak akan mencegah mereka untuk kembali bersama.” Lula tersenyum lagi. “Mungkin tutup bukunya juga akan lebih awal.” Lula menjelaskan, memaknai jika semua ini akan segera berakhir, tidak butuh waktu lama lagi untuk melepaskan diri dari perjanjian konyol ini. Masalah uang, mungkin dia akan berkata jujur kepada ayah supaya masih bisa tetap membantu mereka.


“Apa nona kecil siap dengan akibatnya?” tanya Ibnu, penasaran kok bisa semudah ini Lula mengambil keputusan.


“Mau nanti atau sekarang? Sepertinya akan sama saja! kuputusan final nya akan ada perpisahan.” Mata Lula sudah merah menahan tangis, entah untuk apa dia merasa sesedih ini saat tahu perpisahan semakin dekat. Hal yang dianggap sepele termasuk perasaanya, rupanya bisa mengacaukan semuanya.


Beruntung mobil yang ditumpangi Lula berhasil tiba di rumah dengan cepat. Setelah mengucapkan terima kasih pada om Ibnu. Lula buru-buru berlari memasuki rumah, tanpa mempedulikan panggilan Bu Juned yang hendak mengabarkan hal penting padanya.


"Apa dia biasa seperti ini?!" tanya seorang wanita yang kini berdiri di balik tubuh Bu Juned.


"Kemarin tidak. Mungkin Mbak Lula sedang lelah!"


"Semuanya salah Frans! Karena inilah Allah menjauhkan jodohnya, karena secara mental dia belum bisa merawat istri!" gumam wanita itu, seraya menatap ke arah pintu kamar atas yang tertutup rapat.