
Frans merasa dirinya kini sedang melambung ke atas awan, usai mendapati fakta apa yang sedang dirasakan Lula, ia rasa sudah tidak perlu takut lagi, akan kehilangan gadis itu.
Frans merasa yakin, sekali saja menawarkan kata rujuk pada Lula, pasti gadis yang sebentar lagi berusia 20 tahun itu akan langsung menganggukkan kepala. Menerima dirinya kembali sebagai suaminya.
Tua-tua begini, pesonaku, kan melampaui batas! Siapa juga yang nggak kepincut?! tingkat narsisme Frans naik drastis, mendadak tabung percaya diri dalam dirinya full, meluber ke mana-mana. Hingga bibirnya tersenyum sendiri layaknya pria yang setengah gila.
“Eyang, harus makan! Lula suap, yuk! Sebentar lagi, Lula izin pulang ya! Lula mau sekolah!” kata Lula dengan nada membujuk.
Mendengar suara itu, Frans berusaha menelinga jawaban Eyang Ano. Diamnya eyang Ano membuat Frans menoleh ke arah wanita yang berbaring di atas ranjang. Tampak sang eyang hanya mengangguk lemah tanda setuju.
“Frans izin antar Lula boleh, kan Eyang?” Frans melangkah mendekati ranjang, ini kesempatan baik untuk merajut kembali hubungannya dengan Lula.
Eyang Ano mengangguk lagi. Lalu tersenyum tipis ke arah cucunya. Rona bahagia terlihat jelas, menyadari bagaimana Frans begitu perhatian dengan Lula.
“Nggak perlu, Dad! Eyang yang lebih membutuhkan teman. Jadi, Daddy lebih baik di sini!” Lula berusaha menolak, selain kasihan dengan eyang jika ditinggal sendiri, dia masih bingung harus bersikap seperti apa, saat nanti berbagi udara dalam satu mobil.
“Tidak perlu khawatir! Aku sudah menghubungi Ibnu. Dia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bentar lagi juga nongol!”
Kini Lula tidak bisa menghindar, mengalah lebih baik ketimbang membuat gaduh ruangan rawat yang ditempati eyang Ano.
Menyadari waktunya sudah mepet dengan jam masuk sekolah, Lula lekas berpamitan pada Eyang Ano. “Lula sekolah dulu ya, Eyang! Nanti setelah pulang sekolah Lula akan balik lagi ke rumah sakit.”
“Enggak perlu! Eyang mau pulang saja! Di sini panas, nanti langsung ke rumah ya!” sahut eyang Ano, tampak kesusahan saat mengatakan itu pada Lula.
“Eeee, no, no! Tidak boleh!” kata Lula, sembari menggerakan telunjuknya ke kanan dan kiri, dan leganya mata wanita itu mengikuti ke mana telunjuk Lula bergerak. “Harus menurut sama dokter! Biar kita bisa jalan-jalan ke Monas, sama ke panti jompo. Sesuai janji Lula kemarin!”
Di sela waktu mereka ngobrol, kemarin. Lula berjanji akan membawa eyang Ano jalan-jalan bertemu dengan orang-orang di panti jompo. Kebetulan yayasan yang sering didatangi ada beberapa penghuni yang sudah lanjut usia.
“Tidaak ...” tolak eyang Ano dengan suara lemah, napas wanita itu terlihat begitu berat. “Eyang minta ganti saja! Eyang akan sangat bahagia sekali jika kalian bisa tinggal bersama lagi.”
Lula keberatan. Dia tahu di hati Daddy masih ada cinta lain. Tapi, di lain pihak dia tidak akan menolak sekarang, khawatir eyang akan kepikiran dan membuatnya harus dirawat lebih lama lagi di tempat ini. “Eyang ....”
Tangan keriput itu berusaha meraih tangan Lula, setelah berhasil menggenggam tangan Lula, dia meminta Frans untuk mendekat. Menggenggam tangan keduanya erat-erat.
Lalu berkata dengan suara pelan dan berat, “Eyang tidak akan membantah takdir yang sudah ditetapkan Allah untuk kalian. Mau pisah atau lanjut kita hanya bisa pasrah pada takdir." pandangan eyang Ano berpindah ke arah Lula. "Cucu mantu, jika bukan kamu jodoh Frans, ingatkan dia untuk selalu menjaga jam makan! Harta bisa dicari, tapi nyawa tidak dijual refill di apotek! Satu lagi, seleksi jodoh yang baik untuknya! dia itu buta akan gadis baik!”
Lula justru terkekeh mendengar respon yang dikatakan eyang Ano. “Iya, Eyang! Nanti biar Lula ikut menyeleksi calon istri Daddy!”
Kini giliran Frans terbahak. “Aku akan memilih gadis yang paling sempurna lalu kubawa ke hadapanmu!”
Frans tidak menyadari, jika kalimat yang diartikan sebagai candaan itu nyatanya begitu menyiksa perasaan Lula. Sakit sekali mendengar penuturan suami, eh ... calon mantan suaminya itu. Seperti luka tapi tak berdarah, dan sakitnya jauh lebih menyiksa dari Lula fisik. “Ya, Lula akan menunggu waktu itu tiba!” Lula menantang, berharap sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi.
Mereka berdua meninggalkan ruang perawatan usai drama berpamitan itu berakhir. Tidak ada yang memecah keheningan tatkala mobil Maserati hitam yang dikemudikan Frans membelah jalanan pagi ini.
Demi mengejar jam masuk sekolah, Frans mengemudikan mobilnya cukup kencang. Berulang kali ia menekan klakson meminta pengendara di depannya untuk menepi. Lula sampai berulangkali memejamkan mata saat merasakan kejutan rem dari mobil. Dia ingin mengumpat, sayangnya pria itu masih berstatus suaminya. Baru juga jam enam pagi, tapi jantung Lula sudah bergerak lincah seperti sedang senam yang membuat rintik keringat bermunculan di keningnya.
Tiba di pekarangan rumah sang Ayah, akhirnya Lula bisa bernapas lega. “Terima kasih, Dad!” kata Lula, sebelum turun dari mobil.
Saat mereka sudah menginjakkan kaki di teras rumah, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua. Terlihat wajah merah ayah Rainer saat ini.
“Pas sekali kalian sudah sampai. Ada kabar duka. Eyang Ano meninggal dunia lima menit yang lalu!” kata Rainer, to the point.
Lula membeku, berusaha mencerna ucapan sang ayah. Setelah menyadari maknanya, dia masih tidak percaya dengan kabar duka yang baru saja di sampaikan sang ayah.
“Kau jangan membohongiku!” Frans mencengkram kerah kemeja Rainer, dengan kuat mendorong tubuh pria itu hingga menyentuh pilar bangunan rumah.
“Apaan sih! Ibnu baru saja mengabariku! Ponselmu tertinggal di ruang perawatan!” Rainer menangkis kedua tangan Frans, berbicara sedikit kasar supaya pria itu paham dan tidak membuang-buang waktu seperti ini.
Seketika Frans membeku, menyadari Rainer tidak akan membohonginya. Belum lama, bahkan belum ada tiga puluh menit mereka berpisah. Tapi kini mereka sudah berbeda alam. Secepat itu eyang meninggalkanku? Sekarang tak ada lagi yang mencintaiku dengan tulus.
“Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'un, semoga almarhumah husnul khotimah.” Mendengar Lula mengatakan itu, akhirnya Frans tersadar dari lamunannya.
“Kamu percaya Eyang meninggalkan aku?” tuntut Frans, masih berusaha menyangkal.
“Itulah ajal, tidak akan ada yang tahu, Dad!”
Tanpa berkata-kata lagi, Frans langsung berlari meninggalkan rumah Rainer. Sayangnya saat dia hendak membuka pintu mobil, gerakannya ditahan oleh Rainer.
“Biar aku yang mengemudi!” cegah Rainer, tak ingin terjadi hal buruk. Dia tahu Frans sedang kacau biasanya dia akan mengemudi dengan ugal-ugalan.
“Ayah! Lula ikut, tunggu sebentar!” teriak Lula.
Rainer menolak, dengan gelengan kepala. “Kamu bareng sama bunda. Ke rumah pak Ferdinan!” pesan Rainer sebelum memasuki mobil.
Lula menurut, dia mengamati mobil Maserati hitam itu hingga menghilang dari pekarangan rumahnya. Setelah benar benar tak terlihat, Lula melangkah gontai memasuki rumah.
Namun, ketika Lula melangkah memasuki rumah, ia justru mendapati bunda Zahira sedang mual-mual. Hamil muda memang sedikit membuat wanita itu kerepotan.
“Bunda ....”
"Hai, Lula. Kamu sudah pulang?"
"Eyang, Bunda ..." ucap Lula, terdengar jelas jika dia sedang menahan tangis, ia memeluk tubuh Zahira yang baru saja bisa berdiri tegak. "Eyang ninggalin Lula." Lula menangis dalam pelukan Zahira, meluapkan kesedihannya.
Zahira tak menjawab, dia hanya menenangkan Lula dengan tepukan lembut di pundaknya.
"Siap-siap, ya setelah ini kita akan pergi ke rumah duka," ucap Zahira saat mendengar Isak tangis Lula mereda.
Lula melepas pelukan Zahira, berjalan gontai menuju kamar. Tubuhnya mendadak lesuh saat teringat ucapan Eyang Ano terakhir kalinya. Air mata Lula menetes, rasa kehilangan mencuat, kini tak ada lagi yang memerhatikan Frans, orang yang menyayanginya sudah pergi dan tak bisa ditemui lagi.