
Kesempatan itu benar-benar sirna, Ken justru meminta Frans untuk membawa Lula pulang. Aroma gadis itu sudah tidak sedap lagi, membuat ruangan bukan lagi beraroma obat. Tapi khas parfum Lula yang sudah bercampur dengan keringat.
Dan Frans hanya bisa menuruti permintaan pria itu, membawa Lula pulang ke rumah. Sayangnya saat perjalanan pulang, gadis itu kembali terlelap di bangku penumpang. Wajah Lula terlihat begitu kelelahan saat ini.
“Lula, bangun!” pinta Frans setelah mobil yang dikemudikan berhasil tiba di rumah. Dia terpaksa menggunakan mobil Rainer, karena pria itu memaksanya.
“Nanti dulu. Aku masih mengantuk!” kata Lula, dengan mata yang masih setia terpejam.
“Daddy tinggal ya!” balas Frans, enggan menggendong Lula, khawatir saraf pinggangnya kejepit.
“Iya, turun aja!” sahut Lula, setengah mengusir, dia masih nyambung saat diajak bicara meski matanya terpejam rapat.
Frans benar-benar meninggalkan Lula, membiarkan gadis itu matang sempurna di dalam mobil karena pendingin udara sengaja dimatikan. Apalagi matahari sedang terik-teriknya pasti tanpa menunggu lama sudah siap dinikmati. Pikir Frans, mendadak bayangan menikmati zuppa sup muncul begitu saja. Mungkin karena perutnya sedikit lapar jadi pikirannya selalu mengarah ke makanan.
Begitu banyak yang sudah dilakukan Frans di dalam rumah. Bahkan pria itu sudah sempat terlelap beberapa jam, dan terbangun saat merasakan lambungnya perih. Tubuhnya kini sudah kembali segar, sayangnya saat ia tiba di lantai satu, dia tidak menemukan keberadaan Lula.
“Jangan-jangan masih nyenyak di dalam mobil.” Frans mengayunkan langkahnya menuju garasi. Saat tiba di sana, dia benar-benar melihat Lula. Gadis itu masih terlelap dalam posisi duduk. Kepalanya terkulai lemah, hampir terjatuh ke bangku kemudi.
“Lula bangun!” Frans menahan kepala Lula, menggunakan lengannya sebagai pengganti bantal saat kepala Lula hampir terjatuh. “Astaga keringatmu!” cibirnya melihat wajah Lula yang basah oleh keringat.
“Lula, bangun! Betah banget di panas-panasan! Ayo masuk! pasti kamu lapar, kan?” Frans mengguncang tubuh Lula. Kali ini cukup keras sampai gadis itu benar-benar membuka matanya. Frans membiarkan Lula menyadari posisinya.
“U—udah sampai ya? I—ini jam berapa, Dad?” tanya Lula.
“Hampir jam dua siang. Buruan mandi setelah itu makan siang.” Frans merasa bersalah, sepertinya sikapnya sudah keterlaluan, menyia-nyiakan istri kecilnya.
“Kenapa Daddy nggak bangunin Lula dari tadi, sih?” protes Lula.
“Terserah, yang penting kamu mandi lalu makan!”
“Aku mau makan dulu, lambungku sudah kosong!”
“Tidak! Daddy nggak akan bisa menelan makanan melihat dan mencium aromamu itu!”
“Ish, Daddy!” kata Lula, dengan nada protes. Dia menjauhkan tubuhnya dari Frans. Kemudian turun dari mobil milik sang ayah. Tanpa berkata lagi Lula berjalan memasuki rumah, menuruti apa yang dikatakan Frans.
Hampir tiga puluh menit, Lula baru saja keluar dari kamar. Dia menghampiri Frans yang duduk santai di kursi taman. Lula terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat pria itu sedang menghisap ujung filter rokok.
“Daddy merokok terus sih! Polusi udara ngerti nggak!” gerutu Lula.
“Perasaan, Daddy lebih duluan kenal rokok dari pada kamu. Rokok aja nggak pernah protes saat kamu dekat-dekat Daddy. Kenapa kamu cemburu?”
Ish siapa juga yang cemburu, batin Lula. “Lula curiga gara-gara tinggal dengan Lula. Otak Daddy ikutin ngesot! mana ada aku cemburu sama benda yang bisa membunuh Daddy!” Lula berbalik, kembali melangkah masuk.
Di keluarga Lula, tidak ada yang perokok active. keluarga besar Lula memiliki background yang peduli terhadap kesehatan jadi cukup tahu jika rokok itu mematikan. Sebenarnya Lula mengidamkan kekasih yang tidak merokok, tapi dapatnya malah Daddy. Lula membuang napas kasar, seraya menarik salah satu kursi yang ada di meja makan.
“Perasaan, tadi Daddy mau makan saja nungguin Lula. Kenapa sekarang jadinya kamu yang menikmati duluan.”
“Terserah aku lah, perut-perut aku, kok!” Lula membalas lirih. "Jangan bawa-bawa perasaan, nanti baper! udah makan sini!" minta Lula tapi hanya bicara, dia tidak mengambilkan makanan untuk suaminya.
“Baiklah, makan yang banyak. Setelah selesai makan ada hal yang harus kita bicarakan.”
Lula tidak merespon ucapan Frans, dia terus menikmati makanannya. Saat piringnya sudah kosong Lula lekas membawanya ke dapur.
“Letakan saja di sana, akan ada orang yang membersihkannya, besok.”
Lagi-lagi Lula tidak merespon, dia terus melanjutkan kegiatannya membaluri sabun di piring dan gelas kotor yang baru saja ia gunakan.
“Lula, tinggalkan pekerjaanmu! Nanti tidak akan bersih!” Frans mengeluarkan ultimatum ke dua.
“Bunda mengajariku melakukan ini.” Lula menyahut cepat, “Dan bu Emma, selalu memastikan jika pekerjaanku benar. Daddy jangan khawatir!”
Frans kalah telak, dia membiarkan Lula melakukan apa yang menurutnya bisa dilakukan. Hingga dia merasa risih saat melihat Lula menerima panggilan suara dari seseorang.
Suara tawa yang membuatnya terusik, membuatnya begitu penasaran tapi sayangnya tidak mampu mendengar apa yang Lula bicarakan.
Ya enggak lah masa harus ya panggilanku ke kamu diganti dengan kata Sayang …. tawa Lula pecah, merasa aneh saja ketika Elkan meminta dirinya untuk memanggil pria itu dengan sebutan Sayang.
Ya enggak nyaman, nanti kalau anak-anak tahu gimana? Lula masih berusaha menolak.
Oke-oke, jadi mulai hari ini aku panggil kamu Sayang? Lula mulai luluh, menuruti permintaan Elkan.
Sayang lagi ngapain? Aku tabak dulu, pasti kamu pasti lagi nonton drakor? ucap Lula, terlihat begitu riang saat mendapat telepon dari kekasihnya.
Kan, bener. Lula memberi waktu pada pria di seberang sana untuk berbicara.
Mau nonton di bioskop?! Lula mengulang ajakan Elkan.
Yah, aku masih di rumah Daddy, mungkin juga nggak akan diizinkan. Kamu tahu sendiri dia kan spy! Emang kamu mau, nonton film ada orang ketiga. Nanti nggak bisa kecup-kecup basah, dong!
Frans menyelesaikan acara makannya, saat mendengar Lula mengatakan itu. Tidak dia tidak cemburu sama sekali! Dia hanya merasa memiliki tanggung jawab besar atas QaiLula Suha, gadis kecil yang sudah diambil alih atas rasa bahagia dan sedihnya dari Rainer.
Melihat Frans berdiri di samping sofa, Lula mulai berpamitan dengan si penelpon. Lula meletakkan ponselnya di atas meja, dia tidak menyadari jika mata Frans tertuju ke arah layar, membaca siapa yang baru saja menelepon Lula.
“Masuk ke ruang kerja Daddy sekarang juga!” perintah Frans, ketus.
“Daddy!” rengek Lula.
“Masuklah, ini tentang pernikahan kita!”
Lula beranjak dari sofa, “gendong, ke lantai dua kan, kaki Lula pegel banget!”
“Lula, jangan kaya anak kecil, kamu berat!” peringat Frans ketika Lula tiba-tiba melompat ke punggungnya, dengan cepat melingkari lehernya dengan kedua tangan gadis itu.
“Salah sendiri harus ke lantai dua! Kenapa tidak di sini, atau kalau mau lebih privasi ke kamar Lula juga boleh.”
“Aih, anaknya Rainer ini! merepotkan sekali!” keluh Frans.
“Jangan sebut nama ayah ku dengan sembarangan! panggil profesor dokter Rainer Abiyasa Damanik spesial kelamin dan kandungan!” peringat Lula.
"Daddy!" sentak Lula, seraya menjewer daun telinga Frans, membalas apa yang dilakukan pria itu tadi pagi.
"Awh, sakit Lula! Iya, maaf, si Rainer yang berhati malaikat!" Frans kalah telak dia menuruti ucapan Lula. Sesayang itu dia sama Lula sampai-sampai selalu menuruti permintaan gadis itu.
Tiba di ruang kerjanya, Frans menjatuhkan tubuh Lula di sofa. “Hah, sapek lah!” keluh Frans. Ikut terjatuh di atas tubuh Lula.
“Daddy! Lula jadi triplek ini nanti! Tergencet tubuhku! Daddy berat!”
Frans terbahak menyadari Lula berbicara tak jelas karena kesusahan. “Baiklah sudah sampai di sini. Sekarang Daddy ingin bicara serius sama kamu.”
“Yah silakan saja, seseriusnya Daddy gimana sih?”
Lula terkekeh seraya mengikuti langkah Frans yang berjalan menuju meja kerja.
"Baca ini!" perintah Frans, menyerahkan selembar kertas berisi perjanjian bermeterai. Lulamenerima selembar kertas pemberian Frans. Dia membaca pelan, berusaha memahami, tetap saja dia tidak paham karena melibatkan ilmu IPA.
Dasar-Dasar Pernikahan :
Simbiosis Mutualisme
CCTV tetap Berjalan
Individualisme
"Dad, jelaskan apa maksud semua ini! Aku tak paham?"
“Pertama, simbiosis mutualisme, hubungan kita diawali dari pernikahan yang saling menguntungkan. Jika salah satu dari kita merasa dirugikan. Maka, salah satu di antara kita bisa membatalkan pernikahan."
"Ya, aku dapat uang lima juta perhari, sebagai imbalan aku menikah dengan Daddy!"
Frans tersenyum simpul sebagai tanda kalau dia membenarkan ucapan Lula. Lalu berucap, "Kamu akan tetap mendapatkan uang itu."
"Ya aku kan masih jadi istrinya Daddy!"
"Kamu lupa kalau kemarin kita sempat memutuskan untuk bercerai? Daddy akan mengakui di depan semua orang!"
Lula mendadak kesal dengan pengakuan Frans. Dia seperti sepah yang hilang manisnya, lalu di buang begitu saja.
"Saat kita sepakat untuk bercerai. Posisinya sekarang berbalik, Lula ... sekarang kamu yang membutuhkan bantuan Daddy. Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk Daddy?”
“Apa?” tanya Lula ketus. "Udah jangan ngasih aku uang lagi. kita tetap bercerai saja."
“Kamu mau kakek Ken kena serangan jantung lagi?”
“Enggak.”
“Makanya, kamu harus beri Daddy keuntungan.”
“Kok Lula yang rugi?”
“Kalau kamu merasa rugi balik lagi ke aturan awal. Bercerai dan membiarkan kakek Ken terkena serangan jantung.” kata Frans, ringan. Dia tidak akan rela kehilangan mainan barunya.
“Ya sudah … Lula bakal buatin sarapan Daddy setiap hari.”
"Emang masakanmu, enak?!" Frans berusaha berpikir keras. “Tapi okay! baiklah, sepertinya nasi gorengmu kemarin cukup nikmat untuk mengganjal perut,” kaya Frans.
Lula kembali melihat ke arah kertas itu. “Terus CCTV Berjalan? maksudnya apa?!”
"Kamu tetap dalam pengawasan Daddy! pacaran di rumah. Kalau mau ngedate ajak Daddy! Kalau sampai keluargamu tahu kamu kencan dengan pria lain, apa yang akan terjadi. Daddy yang kena semprot, beda kalau Daddy ikut denganmu.”
“Benar juga.” Lula menggaruk pelipisnya.
“Terus yang ketiga maksudnya gimana, individualisme?"
“Individualisme adalah, paham yang lebih mengedepankan perorangan. Daddy tidak ingin kamu mencampuri urusan Daddy. Bersikaplah, seperti telinga kanan dan kiri. Kamu boleh dekat-dekat tapi harus tahu kalau daddy hanya menganggap kamu putri Rainer Abiyasa, sahabatku sendiri. Bukan berarti Daddy mengabaikanmu, Daddy akan bertanggung jawab atas kebahagiaanmu. Dan, ini paling penting jangan jatuh cinta pada Daddy!”
Lula mengangguk paham. “Sekarang gantian Lula menambahkan. Daddy tidak boleh pegang-pegang Lula?”
Bulu mata Frans berkedip berulang kali. "Maksudnya pegang model gimana?" meraih tangan Lula, menggenggamnya erat. "Begini masih boleh kan?"
"Daddy! maksud Lula, pegang yang membuat panas!"
"Kalau mau panas nyalain api aja!"
"Iya, cocok tuh buat bakar kumis, Daddy"
"Ih, masih tipis tahu nggak!" melepas tangan Lula, berpindah meraba bibirnya.
"Maksud Lula, Daddy enggak boleh pegang bagian leher ke bawah. Harta karun Lula!"
Frans menahan tawa, gua juga kagak ada niatan Lula! “Baik-baik, sekarang Daddy paham! Kamu tidak perlu mencampuri urusan Daddy. Bahkan menentukan dengan siapa daddy akan melakukannya.”
“Lalu aku? bolehkan, aku kan sudah menikah.”
“Lula!” sentak Frans. Nyaris bunuh diri menghadapi sikap istri kecilnya itu.
“Kalau daddy saja yang bebas, kenapa Lula tidak dibebaskan?!”
“Kamu masih kecil.”
“Sembilan belas tahun Daddy!” bantah Lula membuat kepala Frans semakin nyut-nyutan. “Pokoknya tidak boleh, kamu harus memberikannya pada orang yang benar-benar kamu cintai.”
Lula diam berpikir, membiarkan hening sesaat. “Kalau nih-misal, misal nih ya? nanti aku beneran jatuh cinta sama Daddy, tapi amit-amit deh jangan sampai terjadi. Apa Daddy mau menurutinya? melakukannya denganku?”