Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Izin Pergi



Suasana meja makan di rumah Abhi tampak begitu ramai pagi ini. Gemericik air dari aquarium, aroma embun yang menguap menjadi pengiring kehangatan di area meja makan. Sepanjang mereka menikmati sarapan, Selalu saja ada candaan antara Lula dan Abhi yang membuat mereka semua sejenak melupakan masalahnya.


Pria dengan rambut putih itu tampak begitu menyayangi Lula. Sosok Lula menjadi paling dieman-eman dari cucu lain. Bukan tanpa alasan, mereka hanya khawatir Lula masih trauma dengan kejadian di masa kecil. "Enaknya kita liburan ke mana ya, La? Gimana kalau ke Singapura!" tawar Abhi setelah berhasil menelan suapan terakhir ke dalam perutnya.


"Aku nggak diajak, Opung?!" Ben yang baru berusia 8 tahun merasa iri dengan kakaknya. Keempat cucu Abhi memang memiliki panggilan yang berbeda-beda. Tapi pria itu tidak pernah protes, termasuk ketika cucu dari Reina memanggilnya dengan sebutan embah.


"Kan, Ben lagi sakit, pasti nggak dibolehin sama ayah." Abhi beralasan, dia tidak ingin keteteran menjaga dua cucunya.


"Lula pasti juga nggak diizinkan sama suami Lula!" reflek Lula menolak tawaran Abhi. Dia tidak menyadari bagaimana ekspresi penghuni meja makan. Waktu seakan terhenti, mereka menoleh ke arah Lula, menatapnya penuh curiga.


Tak lama Rainer memejamkan matanya rapat, merutuki bibir Lula yang berucap tanpa filter. Seharusnya, dia mengajak Lula breefing terlebih dahulu sebelum bocah itu bertemu dengan sang ayah. Supaya tidak mengatakan itu, hingga membuat wajah Abhi tampak begitu murka.


Menyadari kekeliruan yang tengah dilakukan Lula menunduk dalam. Merasa kesalahannya sudah teramat besar pada sang ayah. "Maaf," gumamnya tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Suami apa yang Lula maksud?!" tanya Abhi, berusaha mencaritahu.


Naura yang tengah duduk di samping Lula tampak begitu terkejut, hingga tak bisa berkata-kata lagi. Lula gadis 19 tahun yang tidak memiliki banyak kelebihan, dia mengkhawatirkan suami Lula tidak bisa menerima kekurangan Lula.


Sedangkan Zahira menggenggam telapak tangan Rainer, berusaha menenangkan ketika wajah pria itu tampak frustasi. "Kita jujur saja, percuma kita menyembunyikannya, pasti mereka juga akan tahu," bujuknya, paham, sekuat apapun mereka menyembunyikan cepat atau lambat mereka pasti akan tahu juga.


Rainer mengangguk setelah berhasil membuka matanya lebar. Ia beralih menatap Lula, yang masih menundukan kepala. "Ini salah Rainer, Yah!" ucap pria itu lirih. "Rainer yang tidak bisa mencegah hal ini terjadi," sambungnya.


"Masuk ke ruangan ayah!" titah Abhi seraya beranjak meninggalkan bangkunya.


Rainer meringis melihat raut marah yang ditunjukan Abhi, pasti akan dimarahi habis-habisan setelah ini. "Semangat, apapun itu, tetap pada keputusanmu. Ini keluarga kita! Mereka boleh memberi saran, tapi tetap kamu yang boleh mengambil keputusan." Zahira berpesan, sebelum Rainer meninggalkan meja makan.


"Ayah, Lula ikut! Aku akan membela ayah apapun yang terjadi!" Lula sudah beranjak dari kursi tapi segera dicegah Rainer.


"Duduk dan lanjutkan makanmu!" tegas Rainer, lalu meninggalkan area meja makan.


Suasana meja makan tampak begitu mencekam, tidak ada yang berani bersuara termasuk menggerakan sendok makannya. Hanya Ben Sagara yang berani membuat gaduh.


"Emang kakak sudah punya suami? Siapa suami kakak?"


Pertanyaan dari Ben membuat Lula berani menatap bocah itu. Bibirnya tersenyum tipis, segera tangannya mengusap lengan Ben. "Ada deh, pokoknya Ben harus baik sama suami kakak!" kata Lula.


"Apa kakak juga tidur bareng semalam? Dia sudah pergi? Jam berapa dia pergi!" Ben yang masih penasaran berusaha mencaritahu hingga mendapat jawaban yang memuaskan.


Zahira dan Lula saling pandang. Lula seakan meminta izin untuk mengatakan siapa suaminya.


"Jadi siapa cucu mantuku, Ra? Bisa-bisanya kalian mengizinkan Lula menikah di usia dini!" Naura yang sedari penasaran mulai angkat bicara. Nadanya terdengar ketus membuat Lula tidak tega, melihat sang bunda disalahkan seperti itu.


"Jangan marahi bunda Oma ... Ini murni kesalahan Lula kok!" Sela Lula membela sang Bunda.


"Tapi, Lula ... Jika ayah dan bundamu menolak, tentu pernikahan ini tidak akan pernah terjadi." Naura beralih menatap Zahira. "kamu sendiri tahu, gimana Rainer terpaksa menunda kuliahnya karena harus mengurusi kelahiran Lula, gimana repotnya kamu dan Rainer hari-hari itu. Apa kamu sudah lupa?! Kamu mau Lula mengalami hal serupa dengan yang kalian lewati!"


"Lula nggak akan melahirkan, Oma! Lula enggak mau!" Lula nyaris berteriak, dia teringat perjanjiannya dengan Daddy Frans. Hanya sampai dia lulus SMA.


Pandangan Naura nyalang ke arah Zahira, seakan itu kesalahan menantunya yang tak mampu mencegah hal itu terjadi.


"Kakak kenapa berteriak gitu sama Oma. Nggak sopan!" timpal Ben membuat ketegangan itu semakin menjadi.


Seketika bibir Lula terkatup rapat, usai menyadari sikapnya yang begitu kasar pada Naura. "Maaf, Oma! Tapi Lula minta jangan salahkan bunda atas keputusan Lula." Lula berkata lembut. "Ini kemauan Lula. Ayah dan bunda tidak pernah ikut campur tentang keputusan Lula yang ingin menikah dini. Mereka sudah berusaha menolak keinginan Lula. Tapi aku sendiri sudah memaksa dan membujuk mereka sampai ayah mau mengizinkan Lula menikah dengan da—daddy Frans." Lula menjelaskan panjang lebar membuat Naura semakin shock setelah mendengar pria yang sudah menikahi Lula.


Lula menjawab dengan anggukan kepala, pelan. Tidak peduli dengan reaksi yang ditunjukan Naura saat ini.


"Untung Oma nggak punya penyakit jantung Lula, kalau punya mungkin Oma tinggal nama saja! Gimana bisa ini terjadi?! Keisa saja baru akan menikah, tapi kamu mendahuluinya!"


Raut menyesal terlihat jelas di wajah Lula. Dia tidak mampu berbuat apapun saat ini selain menerima akibat dari keputusan yang sudah diambil. Oma bahkan opanya turut menyalahkan dirinya mungkin setelah ini dia bukan lagi cucu kesayangan mereka. Dia harus lebih mandiri, cuma Daddy Frans yang akan menjadi tempat berkeluh kesahnya.


"Sekali lagi salahkan Lula, Oma ... Mereka tidak tahu apapun." pesan Lula lalu beranjak dari bangku makan, dia tidak lagi menghabiskan sarapannya. Nafsu makannya melebur seketika itu juga.


Setelah tiba di dalam kamar, pendengaran Lula disambut oleh dering panggilan yang masuk ke nomornya. Saat ia menatap layar ponselnya, tertera nama Daddy Kesayangan di layar. Lula lekas menerima panggilan suara itu.


"Hallo," ucap Lula dengan nada rendah, dia masih menahan tangis akibat Omelan Oma Naura terhadap sang bunda.


"Ayahmu ke mana sih, kok ditelepon nggak diangkat?!" Protes Frans.


"Ayah lagi disidang sama opa Abhi. Dan semua gara-gara Daddy Frans."


"Begitukah?" Kekehan kecil terdengar dari ujung panggilan membuat Lula semakin kesal.


"Kalau tidak ada yang penting aku matikan panggilannya," kata Lula.


"Tunggu dulu, Lula!" Cegah Frans.


"Apa?!"


"Dengarkan Daddy! Lula ... Untuk sementara, kamu tinggal dengan ayahmu dulu, ya!" minta Frans, yang membuat Lula kegirangan.


Bukankah ini keberuntungan untuk Lula? tinggal bersama ayah dan bunda lebih lama lagi.


"Okay!"


"Daddy harus ke Singapura. Atau, kamu ingin tinggal di rumah Daddy sama Bu Sofia," jelas pria itu.


"Tidak! Tidak! Aku tinggal di rumah ayah saja. Pergi saja selama yang Daddy mau! Aku akan merasa beruntung kalau tidak ada daddy!"


"Daddy perginya enggak lama, cuma tiga hari."


"Kenapa cepat?! Tidak sebulan sekalian?!" sahut Lula.


"Ih, aku cubit pipimu ya!"


"Enak aja, pipiku bukan kue cubit!" balas Lula membuat pria di seberang tertawa lebar.


"Ingat ya, setelah tiga hari, Daddy akan menjemputmu! Kemasi barang-barangmu, Daddy akan membawamu pindah ke rumah."


Lula tidak menyahut, ternyata benar ucapan bunda Zahira. Kalau dia akan segera dibawa pergi suaminya. "Baiknya Daddy nggak buru-buru pulang, deh! Udah netap di sana sekalian saja tidak apa-apa. Tapi ingat jatah harian tetap ditransfer!"


"Dasar kamu! udah ya Daddy tutup dulu, ini mau siap-siap pergi! Kamu kalau mau oleh-oleh kirim pesan ke Daddy pasti Daddy bawakan!"


Setiap daddynya pergi pasti dia akan berkata seperti itu pada Lula, sama dengan hari ini. Dan kali, ini Lula menjawab, "aku tidak menginginkan barang dari Singapura." Ucapnya lalu menutup sambungan telepon itu saat mendengar suara pintu yang terbuka.


"Ayah!" Panggil Lula ketika melihat Rainer berjalan menuju ruang ganti. "Ayah nangis?" tanya Lula dengan suara bergetar, matanya bisa melihat dengan jelas kalau Rainer tengah berusaha menyembunyikan air matanya.